Powered By Blogger

Senin, 27 Juni 2011

Give Me a Love


Give Me` a Love


Give Me a Love-Part 1

“ Angga, gue ikut prihatin ya, tapi lo nggak boleh kayak gini dong, lo kan masih punya gue, gue itu adik lo, lo bisa mencurahkan semua isi hati lo sama gue!” Lian berusaha menghibur kakaknya yang sedang meratapi nasibnya kerena baru saja kehilangan Olive, pacarnya.  Angga berusaha tersenyum mendengar kata-kata Lian, dia mengelus-elus kayu nama yang sudah di tancapkan ke atas makam Olive, dengan tulisan Olivia Annisa Rahmah. Lian mengajak Angga pergi, kerana hari sudah mulai sore. Dengan berat hati Angga terpaksa beranjak dari tempat pemakaman Olive. Sebelum beranjak Angga tidak lupa mengecup kayu nisan itu.
 “ Gue pergi dulu, lo baik-baik ya Liv!” katanya, lalu pergi dengan dengan tangan yang terus menggandeng tangan Lian. Tatapan matanya menerawang, seakan dia melihat Olive di depannya.
“ Gue nggak nyangka Li, kalo Olive akan ninggalin gue secepat ini! Salah apa sih dia, sampai dia harus di ambil dari gue Li?” katanya, yang masih berjalan lunglai. Lian memperbaiki posisi kerudung yang menutupi kepalanya.  Dia menoleh, melihat wajah Angga yang terlihat begitu terpukul kerena kepergian orang yang sangat dia cintai, padahal tinggal selangkah lagi, Angga akan bertunangan dengan Olive.
“ Ga, lo nggak boleh ngomong kayak gitu, Yang di Atas sudah nentuin kapan seseorang lahir, kapan seseorang mati, dan mungkin besok atau detik ini kita akan mati. Nggak ada yang tahu kan?”, Angga hanya angguk-angguk kepala mendengar kata-kata adiknya itu. Ya itu juga karena guru agamanya yang memberi tahu. Angga membuka mobil Honda jazz miliknya, saat ini Angga belum bisa menyetir, karena konsentrasinya masih kurang, jadi dengan terpaksa Lian yang menyetir mobil Angga.
***
         Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Lian masih tidak percaya kalo kakaknya itu sangat terpukul atas kematian Olive. Lian duduk di balkon atas rumahnya yang bertingkat dua itu, memandang langin gelap tanpa bintang., dengan selembar foto ditangannya. Langit malam ini tidak begitu cerah sehingga Lian hanya dapat memandang langit gelap. Sesekali di lihatnya foto yang ada di tangannya, dia tersenyum tipis memandangnya.
            “ Kak Olive, kakak tahu nggak sih, kalo Angga bener-bener sedih atas kepergian kakak, kenapa kakak harus pergi secepat itu sih, Angga belum sempat bilang, kalo hanya kakak yang ada di hati Angga..” belum sempat Lian selesai mengeluh, pintu kamarnya sudah ada yang mengetuk, dengan lunglai, Lian bangkit dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Di lihatnya Angga, tersenyum miris, dan tanpa arti.
“ Gue boleh masuk nggak, Li?” tanyanya dengan nada memprihatinkan. Lian langsung menarik tangan Angga untuk segera masuk ke kamarnya. Dia mempersilakan Angga duduk di kasurnya. Dan dia sendiri duduk di samping Angga, seraya mengelus-elus pundak Angga. Tanpa sengaja, Angga melihat foto dirinya yang sedang tertawa lepas dengan tangan yang mengacak-acak rambut Olive kekasihnya yang sudah meninggalkannya, jauh.. jauh tanpa ada yang bisa menggapainya lagi. Lian hanya menatap Angga yang beranjak ke meja belajarnya, lalu meraih selembar foto itu. Dengan tatapan hampa, Angga menyerahkannya foto itu pada Lian, tangan yang sedikit gemetar menerima foto itu.
“ Kenapa lo simpen sih Li foto ini?” Tanya Angga, Lian tidak pernah menyangka kalo Angga akan bertanya seperti itu. Mungkin sebentar lagi, Angga akan memintanya untuk membuang atau merobek-robek atau bahkan membakar foto itu, pikir Lian. Lian hanya diam, tidak berkata apa-apa takul kalo kakaknya itu semakin sakit mendengarnya. “Mending lo buang jauh-jauh foto ini Li, gue nggak sanggup ngeliatnya!” kata Angga, benerkan? Batinnya lagi. Bahkan saat ini Angga tidak mau melihat foto Olive, barang hanya sekedar foto. Lian tercenung melihat tingkat Angga, menahan airmatanya yang sudah menggantung di pelupuk mata, memandang sekitar kamar Lian yang bercat biru bercorak merah muda, dengan sisi-sisi kamar di tempelnya banyak pernak-pernik berbentuk bintang. Wajar saja, Lian adalah  seorang cewek yang sangat menggemari bintang, katanya karena bentuknya unik, namanya juga memikat. Alasan yang kurang masuk akal J. Di sudut kamar Lian terdapat sofa berwarna merah muda, dengan bantal-bantal mungil tersusun di atasnya. Tepat di samping sofa itu ada sebuah kotak pernak-pernik berwarna kuning kekemasan. Didalam tempat itu Lian banyak menaruh barang yang dianggapnya sangat penting, seperti buku diary, novel, sampai laptop. Angga beranjak dan berjalan menuju kotak pernak-pernik itu, ukurannya lumayan besar, seperti meja yang berukuran ½ * ½ meter. Angga membuka kotak itu, di ikuti Lian yang hanya bisa memaku duduk di sofa kamarnya.  “Olive juga suka banget sama warna pink, sampai seluruh barang-baranganya berwarna pink, kalo ke mall, dia pasti pergi ke tempat accessories, dan membeli semua pernak-pernik yang bersangkutan dengan warna kessukaannya itu.” Katanya pelan tapi pasti. Sedikit-demi sedikit terulas senyum di wajah Angga, yang memerah karena sehari penuh menangis.
“Lo nggak boleh terpuruk dalam kesedihan lo Ga! Di luar masih banyak cewek yang suka dan cinta sama lo! Atau kalo lo mau gue bisa cariin lo cewek yang baik, perhatian, dan mungkin mirip dengan Kak Olive! Gimana lo mau nggak?” Tanya Lian, lagi-lagi Angga hanya tersenyum, mendengar perkataan adiknya yang menurutnya sok bisa menghibur dirinya. Dengan lembut, Angga membelai rambut Lian, membuat hati Lian terasa tenang, karena melihat kakaknya tersenyum.
“ Adikku sayang, gue nggak butuh itu, yang gue butuh itu hanya satu, kebahagian, gue Cuma mau bahagia, meskipun Olive udah pergi ninggalin gue , gue mau membuang semua kenangan gue sama Olive, semuanya!!” kata Angga dan kata-kata itu membuat hati Lian 180° berubah menjadi tenang.
“ Besok gue nggak masuk kampus, lagi males, jadi lo di anter pak Iman aja ya!!” kata Angga, lalu berbalik menuju pintu, sebelum keluar di membalikkan badan.
 “ Gue udah baik-baik aja, makasih udah bikin gue tersenyum lagi! Selamat tidur!” katanya, lalu brak, dia menghempaskan daun pintu, hingga Lian terperanjat dari posisi duduknya.
 “ Kebiasaan!” umpat Lian, lalu tersenyum dan dia pergi ke tempat tidurnya.
 “Angga akan baik-baik aja kok kak Olive!” katanya sebelum ia terlelap.





Give Me a Love- Part 2
Bagi Lian hari ini adalah hari yang paling buruk, dia harus naik angkot pergi ke sekolah, pak Iman lagi pulang kampung, Angga tidak masuk kuliah. Saat suasana hatinya kacau seperti ini, ternyata angkot yang dia tumpangi mogok. Belum lagi ketika di jalan, seseorang mencipratinya dengan lumpur. Lian sudah benar- benar kalang kabut menghadapi semua ini, baju seragamnya yang putih bersih sekarang bercorak warna coklat lumpur, sepatu dan kaos kakinya pun basah dan kotor. Habis-habisan Lian menyumpah pada pengendara Nissan Terrano yang mencipratinya dengan lumpur, tapi sampai mati pun dia tidak akan bertemu dengan orang tidak tahu sopan-santun itu. Lian hanya bisa menahan amarahnya karena dia sadar kalo sekarang dia sedang berada di jalan umum, jangan- jangan nanti kalo dia marah-marah sendiri dikira orang stress lagi. Iihh ogah.. batin Lian jijik. Dia menyusuri jalanan yang penuh dengan banyak orang, dari anak- anak sampai yang sudah tidak kuat berjalan. J
Dengan sangat sangat lelah dia duduk di depan gerbang sekolah, sambil berusaha membersihkan kotoran lumpur di seragam sekolahnya. Hampir 30 menit dia berjalan ke sekolahnya, untung bel sekolah belum berbunyi, seandainya dia terlambat bisa mati dia.. tidak berapa lama kemudian matanya terarah pada mobil Nissan yang membuat seragamnya kotor, dia langsung berdiri, dan berjalan setengah berlari menghampiri mobil itu. Dan dilihatnya seorang cowok tinggi, putih, berseragam rapi sama sepertinya, sedang bersandar di depan mobil Nissan tersebut.
“ Heh, lo yang punya mobil ini ya?” Tanya Lian tegas dengan nada tinggi. Cowok itu menoleh, sesaat keterdiaman menyelimuti mereka berdua, Lian terpana melihat wajah cowok itu, ganteng dengan potongan sederhana tapi menawan, rambut yang tidak berdiri, matanya bulat hidungnya mancung bibirnya tipis. Oo my God.. batin Lian tidak percaya.
 “ Kenapa?” Tanya cowok itu dingin, dan tanpa ekspresi. Lian tersadar, dia ingat cowok ini sudah membuat seragamnya kotor, dan membuat hari pertamanya sekolah berantakan. Dia langsung mengubah raut wajahnya menjadi marah dan emosi.
 “ Lo jadi orang nggak tahu sopan santun ya?” kata Lian, mendengar kata- kata Lian cowok itu melongo, dan menatap Lian dengan tatapan tidak mengerti. Ini orang ekspresif atau apa sih?  Batin Lian lagi. “ Maksud lo?” Tanya cowok itu, lagi-lagi dia membuat Lian bingung hebat.
 “Hah? Lo di Tanya kok malah balik nanya sih?” kata Lian tersinggung. Cowok itu hanya mengangkat bahunya, dan mencibir tanda tidak mengerti. Lian memalingkan wajahnya kesekitar mereka.
 “ Lo,udah bikin baju gue kotor, gara-gara mobil sialan lo itu!!” kata Lian langsung pada inti pembicaraanya. Cowok itu hanya membulatkan mulut yang membentuk huruf  ‘Oo’ dan hanya itu yang keluar dari mulutnya. Lian sudah kehabisan kesabarannya, di menggulung lengan bajunya, dan dengan sigap menarik kerah baju cowok bertubuh tinggi itu. Dengan cepat dan terburu- buru Lian menariknya ke tengah lapangan. Cowok itu berusaha melepaskan tangan putih Lian yang menggenggam kerah leher bajunya.
Melihat kejadian itu semuah warga sekolah menatap mereka dengan tatapan heran. Ada yang berkata, “Ada apa sama mereka?” atau “Ngapain ya mereka?” atau mungkin, “Hey, lihat! Akan ada pertempuran seru di lapangan utama!” atau apalah lagi. Lian menatap cowok tinggi itu setengah mendongak tepat dititik tengan mata cowok itu.
 “Lepasin! Dasar cewek aneh!” bentak cowok itu, dengan nada santai. Lian semakin menatap tajam mata cowok itu.
“Lo harus ganti seragam gue! Kalo nggak..” belum selesai Lian mengucapkan kata-katanya cowok itu langsung mencerocos tanpa menunggu lagi.
 “Kalo nggak apa? Mau di aduin sama bokap lo? Atau mau di aduin ke kepsek, atau mungkin lo mau bunuh gue? Gue nggak takut. Heh denger ya, gue nggak kenal sama lo, gue nggak tahu apa-apa soal baju seragam lo yang penuh lumpur itu! Paham lo!” bentak cowok itu, tapi Lian tidak mau menyerah begitu saja dengan keadaan seperti saat ini, karena dia sangat yakin kalo cowok ini yang sudah membuat hari pertamanya masuk sekolah dalam semester dua di kelas X ini menjadi begitu buruk. Perlahan dia melepaskan cengkramannya di kerah leher baju cowok itu, sesaat Lian terlihat tegang, menatap cowok di depannya. Tapi begitu dia melihat sekelilingnya dia langsung dapat ide cemerlang.
“SEMUANYA… DENGERIN GUE YA! COWOK INI SUDAH BIKIN HIDUP GUE ANCUR..” Teriak Lian seraya tersenyum sinis dan mengejek. Sekarang gantian wajah cowok itu yang menegang, tapi hanya sesaat, kemudian dia tertawa keras, sekeras-kerasnya. Tentu saja hal itu membuat Lian semakin tidak bisa diam. Dia juga tertawa keras, yang lebih tepatnya tertawa mengejek.
 “Kenapa Li?” Tanya seorang penonton yang kebetulan satu kelas dengan Lian. Lian kembali terdiam dan langsung berbisik pada cowok tinggi di depannya.
 “Kalo lo nggak mau tanggung jawab gue akan teriak lagi, kalo lo sudah bikin hidup gue berantakan..mau lo?” bisik Lian mengancam.
 “Coba aja!!” kata cowok itu. Lian memundurkan kepalanya sedikit kepalanya kebelakang.
 “bener nih? Gue teriak nih!” ancamnya lagi.
“Jangan ngarep cewek aneh!” cowok itu ngotot.
“ TEMEN-TEMEN hidup gue udafft…” Lian tidak bisa meneruskan kata-katanya karena mulutnya di bekap oleh tangan cowok itu.
 “Oke .. Oke … gue tanggung jawab!!” kata cowok itu akhirnya, sambil berbisik. Lian melepaskan tangan cowok itu yang membekap mulutnya. Lalu tersenyum puas. ‘akhirnya dia mau juga!’
***
            Di dalam gudang sekolah..                                                                                                    
Reza, Fredi, dan Joe sedang berpikir keras, Reza yang dipermalukan oleh adik kelasnya didepan semua warga sekolah, terpaksa harus menuruti kemauan Lian adik kelas yang belum genap setahun bersekolah di sekolahnya. Fred juga tidak habis pikir kenapa ada adik kelas yang berani pada Reza, padahal Reza adalah anak dari pemilik sekolah yang sudah bertaraf Internasional di Jakarta. Joe yang dari tadi hanya mondar mandir tidak mendapatkan ide yang bagus untuk sahabatnya.
 “Gila banget tu anak! Gue sama-sekali nggak kenal sama dia, tiba-tiba main ngancem aja!” Reza bangkit dari duduknya, sambil mengacak-acak rambutnya karena juga tidak mendapat ide untuk mambalas perlakuan Lian.
 “Gue lagi nggak bisa mikir masalah gituan, yang mana sih orang nya? Nggak kenal maka tak bisa mendapatkan ide yang cemerlang!” celetuk Fred, Joe langsung menyundul kepala Fred dengan jemarinya yang lentik. Fred hanya meng-aduh sakit. Reza menundukkan kepalanya karena bosan dan emosi, pagi-pagi udah dapet durian runtuh, kalo enak sih nggak apa-apa tapi kalo …? Uhh.. pikir Reza.            
Eits.. lihat siapa yang datang, pangeran dai XII IPA-1, David cowok tinggi, rapi, ganteng, hidung mancung, keturunan Belanda dan Malang, heran kok belanda bisa jadian sama malang ya? Haha namanya juga Jodoh.. “ Eza, gue ketemu cewek imut tadi! Lucu loh! Manis!!” katanya ketika masuk tanpa mengetuk pintu, hingga sempat ke-tiga temannya gelabakan (wajar, kan gudang adalah basecame para Penguasa sekolah!). Eza, nama panggilan akrab David dkk. Katanya biar singkat, padahal sama sekali tidak ada pengaruhnya kok. Kalo David akrabnya Dev, Fredi akrabnya Fred, kalo Joe akrabnya ya Joe juga, kan udah singkat, kalo di singkat entar dipanggilnya O’e dong? Semua mata melirik Dev, marah. Dev hanya cengengesan melihat reaksi teman-temannya. Dari ke-empat cowok itu yang paling banyak penggemarnya adalah Eza, yang kedua baru Dev, merekla adalah the handsome prince di satu sekolah itu. Eza yang paling di kenal oleh senyum dan tatapan dinginnya, dan Dev terkenal karena kehangatannya dan diantara semuanya yang paling perhatian dan penyayang hanya Dev, no body other..
“Elo kebiasaan masuk basecame nggak ketuk pintu bego!” kata Reza yang tersenyum mengejek.
“ Ulang, gue tadi ketemu sama cewek imut, manis, cantik!” ulang Dev tanpa menghiraukan ucapan Eza. Eza terbelalak, cewek imut, manis, cantik…
 “kenapa?” Tanya Eza penasaran. Dev mengangkat bahu, memberi tanda kalo dia tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Eza, Fred. Dan Joe langsung bersiul menggoda Dev. Dev memang berbeda dari cowok- cowok biasanya, dia bukan tipe cowok playboy, bukan tipe cowok matre, bukan juga tipe cowok perfectsionis. Dia adalah cowok kalem yang ganteng. Jujur, eza sendiri menyimpan rasa iri pada sahabatnya itu. Bukannya apa- apa sih, dia tidak bisa bersikap lemah lembut terhadap cewek, tidak bisa bersifat perhatian, tapi sekali dia naksir sama cewek, he’ll kept her.. dia akan menemani cewek itu, bersikap apa adanya, perhatian (kalo sudah perhatian, dia akan memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki cewek itu, hebatkan!). dan sebaliknya kalo Eza udah benci sama cewek, jangan harap cewek itu lepas dari matanya, dia akan mengawasi gerak-gerik cewek itu, dan menerkam cewek itu.
“Cuma mau ngasih tau aja kok!” kata Dev akhirnya, melihat expresi teman-temannya dia membatalkan niatnya untuk bertingkah stress.
 “Lo suka ya sama cewek itu? Siapa sih? Kelas berapa?” Tanya Joe beruntun.
 “Sabar, Mas!” celetuk Fred, menghadapkan wajahnya ke arah Joe, yang terlihat sangat penasaran. Sontak  semuanya tertawa, melihat kelakun Joe, yang salah tingkah. Ya.. Joe punya kelemahan, dia paling tidak bisa di tatap, bisa-bisa dia salah tingjag sendiri lagi.
 “Nggak tau deh, kayaknya gue jatuh cinta pada pandangan pertama deh! Dia anak kelas satu, namanya Lian!!” Eza, tergagap.
 “Si..Siapa? Lian?” Dev menganggukkan kepalanya. ‘kenapa Li?’ terngiang di telinganya kata itu, ketika pagi tadi, cewek aneh yang membuatnya tidak mempunyai nyali di hadapan semua warga satu sekolah, dia sempat mendengar seseorang berteriak seperti itu.
“Kenapa Za?” Tanya Dev, di ikuti anggukan teman-temannya.
“Nggak kok! Gue nggak apa- apa!” jawab Eza sedikit tergagap.
“Oya, ngomong-ngomong, kalian lagi bicarain apa sih tadi, kayaknya serius banget?” Tanya Dev, merangkul Eza. Eza tidak menyahut, dia selalu teringat dengan sahabatnya itu, seandainya benar kalo Dev menyukai cewek aneh itu, bagaimana? Dan seandainya lagi kalo Dev jadian sama cewek aneh itu, sedangkan dia mempunyai konflik dengan cewek itu? Eza meneguk ludahnya, seakan-akan ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya.
“ Za!!” teriak Joe, tepat di telinga Eza. Eza terperanjat, melihat tingkah eza, Dev tertawa lepas, saking lucunya kali ya? Wajah Eza langsung memerah seperti kepiting rebus. Fred menceritakan semua kejadian Eza pagi tadi di lapangan sekolah, dengan seksama Dev mendengarkannya. 
***
            Ruang kelas X-1…                                                                                                                
Lian yang sedari tadi terdiam di tempat duduknya, dengan wajah pucat pasi, tangannya yang dingin, sambil menggigit ujung bibir bawahnya, betapa terkejutnya dia setelah mendengar cerita teman-teman sekelasnya tentang cowok yang dilabraknya di lapangan sekolah pagi tadi. Dia baru tahu kalo cowok itu adalah Reza Antonio Wijaya, anak kelas XI IPA-1 seorang anak pemilik sekolahnya. Seandainya dia tahu lebih awal mungkin dia tidak akan setakut ini. Dan dia mengakui kalau tindakannya tadi salah besar. Ingat SALAH BESAR. Dia sangat takut, bagaimana kalo kakak kelasnya itu membalas perbuatannya, kalo Cuma di labrak dia tidak takut, tapi kalo sampai kakak kelasnya itu mengadu sama orang tuanya, habislah riwayatnya.. dia menepis semua pikirannya tentang semua itu. Seandainya waktu bisa terulang kembali dia akan meminta pertanggung jawaban dengan cara yang halus, maksudnya tidak memakai acara labrak-labrakan segala. Tapi sayang semuanya hanya harapan yang tak akan terpenuhi.
“ Habislah riwayat gue!” kata Lian tanpa sadar, Maiandra Agustin, teman sebangkunya langsung menoleh.
“ Hah?” Tanya Maia memastikan.
 “Hah? Apa? Apanya yang apa?” yang ditanya malah balik nanya, Maia hanya tersenyum. Mewajari tingkah temannya itu. Hari pertama masuk sudah dapat masalah.
“ Duh Mai, gimana nih? Gue beneran takut nih!” rengek Lian pada Maia. Melihat ketegangan di wajah lian, Maia tertawa.
 “ Kok ketawa, sih? Gue serius Maia!” gelisah. “Lo harus rilex Li!” maia memberi panduan, meskipun begitu tetap saja Lian lesu. Dia takut… sekarang yang ada di pikirannya hanya takut, takut, dan takut.. Di sisi lain, setelah kejadian itu, Lian bertemu dengan seorang cowok ganteng, hidung mancung dan berkulit putih. Memikirkan dia Lian bisa tersenyum, menjadi sedikit lebih tenang, nama cowok itu Andrea Davida, bukan anak dari Andrea Hirata, bukan juga adik Dimas Andrean. Tapi anak keturunan Belanda. Hebat pikir Lian. Tatapan matanya yang lembut dan hangat, kata-katanya yang menenangkan, dan senyumnya yang manis. Semuanya bisa membuat Lian tenang. Great.. Lian kembali mengingat kejadian itu..           
***
            Tak ada yang tahu betapa galau perasaan Lian pagi itu, dia berjalan lemas setelah mengetahui siapa yang dia labrak di lapangan sekolah. Dia bingung, takut, cemas dan semuanya menjadi satu. Kenapa dia begitu bodoh, dia tidak berpikir sebelum bertindak. Bodoh.. Pikirnya. Saat itu dia berjalan menuju kelasnya,dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, dia salau menggelengkan kepalanya ketika kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Dia mencoba mereka ulang kejadian ketika dia menyeret Reza ke tengah lapangan, mengancamnya dan dia mengiyakan… betapa menyeramkan. Dia berjanji akan membenci kejadian itu seumur hidupnya. Dengan wajah di tekuk, tangan yang selalu menutupi wajahnya, tanpa sengaja dia menabrak seseorang, hingga Lian terjatuh. Ketika di lihatnya, seorang cowok tinggi, berpakaian rapi, wajah tampan, rambut yang di tata serapi mungkin, namun tidak terlihat ada kata culun di sana, dia terlihat sangat tampan, bak seorang pangeran yang turun dari istana langit, yang dikirim oleh malaikat untuk menghibur dirinya yang sedang ketakutan. Cowok itu tersenyum ramah, tanpa ada sedikitpun terbersit kemarahan di wajahnya. Mengulurkan tangan, untuk membantu Lian berdiri, Lian merasa ada sebersit kehangatan di diri cowok itu, kehangatan seperti layaknya seorang kakak. Tangan yang menyentuh jemarinya terasa lembut, Lian tersenyum, dia berterimakasih. Setelah beberapa saat terdiam, cowok itu langsung memperkenalkan diri, dia terlihat sangat mudah bergaul. Dia berbicara akrab dengan Lian, seolah dia adalah seorang teman lama, yang sudah beberapa tahun tidak bertemu.
“Maaf ka, tadi aku kurang hati-hati!” kata Lian meminta maaf. Cowok itu hanya tersenyum.
 “Banyak pikiran ya?” Tanya cowok itu, Lian balas tersenyum.
 “Wajar, gue dulu juga sering, malahan hampir tiap hari, gue nabrak kakak kelas! Haha..” kata cowok itu mewajari perbuatan Lian. Lian tersipu malu, wajahnya memerah seketika, dia menunduk.  
“Oya, kelas X apa?” Tanya David seakan dia memang tahu betul kalo Lian kelas X.
“Kok, kakak tau aku kelas X?” Tanya Lian heran, dia mengangkat wajahnya menatap wajah cowok itu. Cowok itu tersenyum lembut.
”Gue kakak kelas lo, waktu OSPEK gue jadi ketua panitianya! Jelas aja gue tau wajah-wajah adik kelas gue!” katanya tertawa. Lagi-lagi lian tersipu.
“Oo..Aku kelas X-1. Kaka sendiri kelas XII apa?” tanya Lian balik. Cowok itu melongo,.
“ Kok lo tau gue kelas XII?” balik David yang bertanya.
“ Ya elah.. kakak, gantian deh, aku kan adik kelas kaka, wajar dong kalo aku tau kalo kakak kelas XII, tadi bukannya kaka sendiri yang bilang, kalo kakak ketua pantia OSPEK, siapa sih yang nggak tau sama Ketua panitia OSPEK?”Lian membalas perkataan david, terlihat sangat kalau kakak kelasnya sedang menahan tawa, sesaat wajah Lian kembali ceria, seperti tanpa ada beban pikiran di wajahnya.
“ Balas dendam nih ceritanya?Curang lo!” David mengacak-acak rambut Lian, akrab sekali. Sampai-sampai mereka tidak sadar kalo beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Lian tertawa lepas, begitu pun David. Semuanya terasa berbeda. Meraka seperti sepasang adik kakak yang begitu akrab.
***
            Pukul 14.15 wib, anak kelas X dan XI baru pulang sekolah, hari ini cukup melelahkan bagi Lian, baru hari pertama masuk setelah libur semesteran pelajarannya sudah se-full hari-hari biasanya. Hari ini terasa sangat berbeda, batin Lian. Pagi-pagi dia sudah dapat masalah, ditambah dengan beberapa kejadian aneh di kelas, belum lagi ketika pulang dia harus menunggu taksi menghampirinya. Capek ya? Dengan lunglai Lian berjalan menuju gerbang sekolahnya, tas selempangnya terasa begitu berat, pada hari pertama di tahun ajaran baru ini, dia mendapatkan dua paket buku tebal, untuk tiga mata pelajaran. Baju putihnya yang masih kotor tetap melekat di badannya, beberapa orang guru menegurnya kerana baju seragam yanag dia pakai kotor, dan sore ini kata cowok pagi tadi, akan mengantarnya ke toko baju seragam untuk membeli seragam SMA mereka yang baru untuk Lian. Tiinn..tiinn.. suara klakson itu mengagetkan Lian, dan membuat lian menoleh,  setelah akhirnya Lian tersadar kalo yang ada di dalam mobil itu adalah Reza, dia langsung memalingkan wajahnya dan kembali berjalan, tanpa menghiraukan suara klakson mobil Reza. Perasaannya tidak karuan, sebersit rasa takut, cemas kembali muncul dalam benaknya. Ketika tepat pada belokan gerbang mobil itu berhenti di depan Lian, sontak Lian menghentikan jalannya, wajahnya yang menunduk, tidak berani menatap wajah cowok yang ada di dalam mobil Nissan di depannya. Dengan kedua tangan yang menggenggam satu sama lain, jemari yang tak mau lepas dari jemari-jemarinya yang lain. Dia begitu ketakutan.
“ Cewek aneh…Masuk!” teriak Reza, dengan nada tidak nyaman didengar.
ya Ampun, gue takut…gimana kalo cowok itu balas dendam? Atau gue di tinggal di tengah jalan!gimana dong?’ Lian sudah berpikiran yang tidak-tidak terhadap cowok itu. Saking takutnya wajahnya kembali pucat pasi.
“ Cewek aneh.. gue bilang masuk! Lo itu budeg atau apa sih?” teriak reza lagi, namun semuanya tetap sama, Lian tetap diam di tempatnya. Dengan tidak sabar, Reza turun dari mobilnya, berjalan menghampiri Lian, menyadari hal itu, Lian semakin menenggelamkan wajahnya, menggenggam erat tangannya.
 “Heh, lo kenapa sih? Perasaan tadi pagi lo ngotot minta gue buat tanggung jawab, nah sekarang, gue sukarela mau tanggung jawab elonya yang lemes! Berarti pantes aja lo gue panggil cewek aneh!” kata Reza, tanpa memandang wajah cewek itu yang tenggelam dalam rambutnya yang tergerai. ‘Tolang aku …’ Lian membatin. Melihat Lian yang sama sekali tidak merespon ucapannya, dia menjejerkan wajahnya mengahadap ke wajah lian yang menunduk. Samar dia melihat, wajah Lian yang pucat, mata yang terpejam, sambil menggigit bibir bawahnya. Dari sana dia dapat menyimpulkan kalo Lian sedang ketakutan, reza tersenyum sinis, ‘akhirnya cewek ini sadar kalo ternyata cowok yang pagi tadi dia labrak itu bukan cowok sembarangan!!’ batinnya puas. Dan tiba-tiba, Reza mendapatkan ide cemerlang, agar cewek aneh di depannya itu semakin ketakutan, dia akan mengerjainya habis-habisan. Hati kecil reza tertawa.
“ Angkat wajah lo!” perintah Reza tegas, namun di paksakan. Lian menggeleng halus, tapi pasti, dia malu sama Reza dan sama dirinya sendiri. Kenapa dia harus begitu bodoh.. pikirnya.
“Angkat!!” bentak Reza pelan, Lian tersentak. Dan itu semakin membuat hati kecil Reza tertawa terbahak-bahak. Perlahan Lian mengangkat wajahnya yang pucat pasi. Masih dengan menggigit bibir bawahnya. Dari sorot mata cewek itu reza mendapatkan sesuatu yang paling memuaskan, yang artinya cewek itu meminta maaf..
“Kenapa? Takut? Malu?” Tanya Reza, seakan-akan dia merasakan perasaan Lian saat ini.
“Jawab dong, elo itu sekarang berubah jadi budeg, sama bisu ya? Perasaan pagi tadi elo baik-baik aja tuh? Oh..apa jangan-jangan lo kena sumpah gue ya?” kata Reza, kali ini membuat Lian terkejut  tapi, apalah daya? Lian sekarang benar-benar membisu, mulutnya terasa berat untuk di buka, tenggorokannya tercekat, dan semuanya berubah, dia seperti anak bawang yang tidak bisa melawan siapa pun, dia menjadi lemah dihadapan cowok ini. Hello…Lian, lo kenapa? Batinnya.
“Ckck..kasian banget sih lo? Sekarang, gue bakal maafin lo..” belum selesai Reza berbicara, lian sudah girang bukan kepalang. Membuat Reza melongo.
 “ Lo mau maafin gue?” Tanya Lian girang.
“ No..no..” seketika wajah Lian berubah menjadi kecewa lagi, “Gue maafin tapi dengan l.i.m.a syarat..” Reza melambaikan ke lima jari tangannya di depan wajah Lian.
“ lima syarat? Banyak banget sih?” Lian protes. Reza bergeming, sudah untung dia mau maafin kesalahan cewek ini, masa lima syarat aja ngeluh! Reza membatin. Sejenak Lian terlihat berpikir, sedang menimbang-nimbang keputusannya.
 “Gimana? Deal nggak?” Reza meyakinkan, belum sempat Lian mau menjawab, Reza sudah merajuk. “ Ya, terserah elo aja sih? Gue mau cabut, dan kalo lo nggak mau lo liat aja yang bakalan gue lakuin ke elo!!” Reza berbalik arah, dan berjalan menuju mobilnya, sesaat Lian bingung, tanpa pikir panjang Lian berlari menghampiri Reza yang sudah masuk ke tempat kemudi.
 “Oke..” katanya ragu, “tapi apa syaratnya!” Lian menyetujui, namun masih sedikit ada keraguan di raut wajah Lian, ya no problem, pikir Reza, acuh tak acuh. Reza tersenyum puas, thank’s God! Batinnya.
“Entar gue kasih tau, tapi yang pasti lo harus ikut gue sekarang, kalo elo emang serius dengan keputusan lo tadi!” ajak Reza, sebenarnya Lian agak risih di ajak oleh kakak kelasnya yang satu ini, tapi demi kelancaran sekolahnya, tidak apalah. Dengan lamban Lian masuk ke dalam mobil Reza, dan duduk di samping kursi kemudi yang di tempati Reza, bajunya yang masih belepotan lumpur, membuat Lian merasa sedikit illfeel berada di dekat cowok ganteng di sebelahnya saat ini. Lian hanya bisa menunduk, tak berani mengucap sepatah kata pun. Bukunya yang tebal di peluknya erat-erat, sebagian untuk menutupi bercak lumpur karena pagi tadi. Melihat ke gelisahan di wajah Lian, Reza merasa lucu, dia cengar- cengir sendiri, dan lagi-lagi itu membuat Lian salah tingkah.
“ kenapa sih lo? Gua nggak bakal ngapa-ngapain lo kok, body lo aja gitu nggak ada yang menarik, sikap sama sifat lo jelek banget, mana ada cowok yang suka sama elo!” Lian diam, sambil menatap cowok saraf di sampingnya. ‘Emangnya dia siapa? Main nyerocos aja.’ Lian kesal.
 “ Enak aja lo bilang gue kayak gitu! Emangnya elo ganteng apa? Emangnya banyak ya cewek yang suka sama lo?” balas Lian, tanpa segan lagi. Jelas saja emosinya naik dibilang kaya begitu, Reza terperangah mendengarnya, lalu tertawa. Membuat Lian seribu kali lebih bingung melihat ekspresi Reza.
“Emangnya lo nggak tau ya, kalo para cewek zaman sekarang tipenya itu kayak gue!” jawab Reza, Lian melotot kaget, untuk matanya tidak mencelat keluar.
 “Buktinya gue aja nggak suka sama lo!” balas Lian dengan senyum. Reza tersenyum sinis.
 “ emang gue pikirin, gue juga nggak suka sama lo!” balas Reza lagi, selama berada di mobil, mereka berdua selalu terlibat perang mulut, ya karena memang Cuma mereka berdua yang ada di mobil itu. Sampai akhirnya mobil Reza berhenti di depan sebuah distro berukuran lumayan besar, baju-baju yang lucu dan cantik terlihat dari luar distro itu.
 “ Ayo turun, lo harus cari baju seragam, biar gue bisa jelasin syarat-syarat yang gue kasih ke elo!” Lian mendengus mendengar perintah cowok itu. Dengan sedikit malas Lian menuruni mobil Nissan milik Reza, Reza yang sudah menunggunya di depan distro merasa kesal, dan langsung menyusul Lian, lalu menarik tangan cewek itu dengan kasar. Ingat “KASAR” dasar cowok, sukanya main kasar aja.. dengan tergopoh-gopoh Lian menjejeri langkah Reza yang lebar untuk ukuran cewek seperti Lian. Ketika di dalam distro, banyak cewek yang tersenyum manis, semanis-manisnya pada Reza dengan terpaksa Reza pun harus tersenyum manis juga pada cewek-cewek itu.
“ Kak, pacar baru kakak ya?” Tanya seorang pengunjung remaja, cantik sih, tapi make up-nya terlalu menor. Lian tersenyum mengejek mendengar pertanyaan cewek tadi. Lian tidak sadar kalo tangannya saat ini berada digenggaman Reza.
“Enak aja, dia bukan pacar gue!” jawab Reza kesal. Si cewek tersenyum menggoda.
 “Kalo bukan pacar terus apa namanya?” Tanya cewek itu lagi. “Terus apa, apanya?” Tanya Reza tidak mengerti. Cewek remaja itu memandang tangan Lian yang di genggam Reza erat. Sontak Lian dan Reza bersamaan menarik tangan mereka masing-masing. Cewek itu tersenyum, Lian mengelus-elus tangannya yang tadinya di genggam Reza, dengan maksud menghapus bekas tangan Reza. Cewek itu kemudian berlalu, meninggalkan Lian da Reza yang tercengang.
“Lo kenal sama cewek tadi?” Tanya Lian setelah cewek itu menjauh dari mereka.
 “Mantan gue!” kata Reza ketus. Mata Lian membulat mendengar jawaban Reza, gila baru jalan sekali sama cowok saraf ini, gue udah ketemu sama mantannya! Gimana kalo gue sering jalan sama cowok ini, jangan-jangan sehari ketemu 3 orang mantan ceweknya lagi!! Batin Lian, ogah-ogahan, seraya menggelengkan kepalanya, tidak mau. Lian keembali mengikuti langkah Reza yang panjang, dengan sedikit tergopoh-gopoh, dia mengikutinya. Sampai di tempat baju seragam,.
“Sono cepet cari bajunya!” perintah Reza. Lian hanya menuruti permintaan kakak kelasnya itu. Seketika Lian termangu melihat sesosok cowok tinggi, berkulit coklat, hidung mancung, mengenakan kaos hijau daun, bersama seorang cewek muda, berusia sekitar delapan belas tahun. Dia hampir tak sanggup menahan air matanya ketika cowok itu merangkul cewek itu mesra. Namun demi menjaga harga dirinya dia harus bisa, apalagi saat ini dia sedang bersama kakak kelas yang super duper menyebalkan, bisa-bisa dia dianggap murahan lagi. Lian menghampiri cowok itu. Ilham. Lian dan Ilham berpacaran sejak lima bulan yang lalu, memang pada awalnya Lian menghindar habis-habisan dari kejaran cinta Ilham, tapi mungkin karena Ilham punya jurus maut dalam hal percintaan, akhirnya Lian terjatuh juga dalam pelukan cowok itu. Kata teman sekelas Lian, Ilham itu tipe cowok matre, dan juga Playboy cap comberan, namanya juga cinta, jadi apa boleh buat, mereka jadian. Setengah mati temannya memberi tahu masalah itu, tapi sifat Lian yang keras kepala sangat sulit untuk di sembuhkan. Ketika dia sudah berada tepat di samping Ilham, Lian tersenyum sangat manis.
“ Makasih ya udah bikin aku tau semua tentang kaka! Aku udah berusaha buat bela-belain kakak dihadapan temen aku, bahkan di depan Angga, aku selalu bela kakak! Tapi kakak emang nggak ngerti perasaan orang lain, kakak matre, kakak play boy,kakak jahat tahu nggak kak!” cerocos Lian, di tengah senyum manisnya.
 “ Lian, aku bisa jelasin semuanya kok! Dia ini sahabat aku dari Bandung Li, kamu jangan salah paham sama aku ya!” jawab Ilham gelagapan. Lagi-lagi Lian tersenyum.
 “ Aku ngerti kok kak, aku bisa paham perasaan kakak, kakak Cuma nggak betah pacaran sama aku, karena aku cewek jutek, aku juga nggak bisa seperti yang kakak mau, aku bukan orang yang kakak mau kan, kakak Cuma mau uang aku bukan aku, iya kan?” kata Lian dengan nada sedikit gemetar.
“Lian, aku mohon, jangan bicara kayak gitu, aku cinta sama kamu Li!” kata Ilham, terlihat di wajah Ilham, sebersit penyesalan, tapi Lian tahu, itu hanya acting Ilham semata.
“Ham, dia siapa?” Tanya cewek yang berada di samping Ilham.
“Dia pacar aku, Dis!” jawab Ilham, tanpa ekspresi.
“Gadis!” cwek itu mnyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman, Lian menyambut tangan itu halus.