Di sela keseriusanku dalam pertanyaan heboh tiba-tiba sebuah suara membuatku tersadar, “Aku duduk di sini ya?” buru-buru aku mengangkat wajahku mengarahkan ke asal suara. Dan tercengang melihatnya.
Astagaa, aku mendengus kesal sambil menatapnya. Dia lagi, dia lagi.. kapan hidupku bisa tenang.
“Kenapa kamu...” mataku mendelik padanya.
“Iya, aku sekolah di sini dan kelasku juga di sini.”
“Aku tidak bertanya seperti itu.” aku mengelak dari jawaban yang dia ajukan.
“Ternyata kamu pintar nge-les ya? Aku pikir kamu orang nya bodoh dalam segala hal.” Aku kembali mendelik pada cowok yang satu ini.
“Kamu mau cari masalah ya?” aku menggulung lengan seragamku. Dia mundur beberapa centi.
“Weiiits, ternyata kamu galak juga..”
“Grr, bisa diam tidak..” ucapku emosi melihat cowok di depanku yang sepertinya cukup tangguh dalam masalah adu mulut.
“Aku kehilangan kunci mulutku, kemana ya..” katanya membungkukkan badannya seakan benar-benar kehilangan kunci mulutnya. Aku hanya menghela napaaas
paaannnnjaaaaaang melihat tingkah cowok bodoh di depanku.
Dengan sigap, aku berdiri dan akan meninggalkan kelas. Tapi sayangnya, bel masuk berbunyi nyaaaariiiing, sampai-sampai aku harus membatalkan niat keluar kelas. Ketika aku membalikkan badanku ‘stupid boy’ itu berdiri tepat di belakangku hingga aku menabraknya dan kehilangan keseimbangan pertahanan kaki, akhirnya aku nyaris berciuman dengan cowok itu. Dia menahan tubuhku yang melayang ke arah tubuhnya. Perhatian di kelas langsung terarah pada kami berdua. Termasuk, Dita dan.. ya ampun.. Tama juga.. sesegera mungkin aku langsung melepaskan tangan stupid boy itu dari kedua pundakku.
“Jangan cari kesempatan!” kataku tajam. Menanggapi perkataan ku tadi cowok yang menangkapku hanya tersenyum manis. Hah? Apa tadi? Manis? Ahh tidak menurutku dia sama sekali tidak manis. Tapi.. dia sangat tampan.. eits apaan lagi nih.. tampan? Oh my God, aku bilang dia tampan? Cuiiih, itu juga tidak sama sekali.
“Boleh tidak aku duduk di sebelahmu?” tanyanya lagi. Aku tak menggubris pertanyaannya kali ini. Dengan tenang yang dipaksakan, aku kembali membuka buku kimiaku dan berusaha fokus ke sana.
***
“Perkenalkan nama saya, Alfarizal Athaa Davinza. Kalian bisa memanggil saya Alfar oke.. tapi terserah lah mau manggil saya apa.. yang penting tidak melenceng dari nama saya.” Ucap cowok yang bernama ‘Alfar’ itu di depan semua murid kelasku, membuat semuanya tergelak. Tapi, tentu saja aku tidak.
Dia sama sekali tidak bisa di bilang jelek, semua orang mengakui kalau cowok itu tampan. Tapi, apa aku juga termasuk ya??
“Saya pindahan dari Jerman.” lanjutnya setelah berhenti sejenak. Tak ada yang melontarkan pertanyaan, biasanya kalau mereka melihat cowok tampan pada klepek-klepek tuh.
Dia kembali duduk di samping ku. Setelah, ibu Ema menyuruhnya duduk tentunya. Ya, itu kesialan ku untuk hari ini. Pelajaran pertama ini, Dita duduk di belakang bersama pacarnya. Tau kan siapa? Dan yang semakin membuatku bingung, Bu Ema juga
membolehkan stupid boy itu duduk disebelahku.
“Kamu sudah tahu namaku, sekarang siapa namamu?”
“Livia,” jawabku singkat.
“Oo Azkadina Livia Chandani, bagus,” dia tersenyum jail. Loh? Kenapa dia tahu namaku? “Hehe, tuh di buku tulis kamu.” Lanjut Alfar menunjuk buku tulisku. Sekali lagi aku mendengus melihat stupid boy itu.
Bu Ema memulai pelajaran kimia. Dengan hati galau dan sebal dan dengan paksaan aku mempelajari pelajaran itu. Hingga pelajaran itu berakhir dengan kegemparan seisi kelas XII atau yang lebih tepat kelasku. Ibu Ema menutup pelajarannya dengan FT―Free Tes― yang soalnya susahnya minta ampun. Kalau tidak
membuka buku, dijamin tidak akan bisa menjawab soal dari beliau.
***
“Ikut ke kantin ya..” aku bergelayut manja di lengan Dita. Ya, apa boleh buat daripada bersama dengan stupid boy di kelas lebih baik ikut Dita makan di kantin... tapi bukannya lebih baik malah tidak lebih baik. Karena aku akan menyaksikan adegan pacaran di kantin.
Seperti biasa, aku mengekor di belakang mereka. Memuakkan. Aduh, mana betah aku seperti ini. Benar-benar seperti kulit kacang, setelah kacangnya dilahap habis kulitnya ya dibuang begitu saja. Aku memohon agar ada seorang teman yang menemaniku di sini, kecuali bukan...
“Haloo, boleh gabung kan?” ya ampuuun, benar-benar sinting!! Aku minta bukan stupid boy itu, tapi kok malah...
“Eh, Alfar. Boleh kok,” jerit Dita bersemangat.
“Eh jangaan, aku tidak mau dia gabung di sini.” Protesku menggema di kantin. Dan langsung menjadi pusat perhatian.
“Ya ampun, Cha-cha ini. Rupanya cewek di sampingku ini suka sekali ya marah?”
“Eh, apa katamu? Kamu memanggilku apa?”
“Cha-cha..”
“Hah Cha-cha? Kamu benar-benar mencari masalah dengan ku ya!”
“Aku membolehkan semua orang memanggilku dengan sebutan apa saja kan? Nah kalau begitu, kamu juga begitu.” Kata-katanya itu loh yang membuatku enek. Kenapa begitu??
“Aku setuju,” timpal Dita membuatku mendelik dan menatap Dita dengan sorot tak setuju. Dita hanya mengulum senyumnya.
“Aku tidak setuju..” tandasku setajam mungkin.
“Ini makananmu,” Tama datang dan menyerahkan seporsi mie ayam padaku. Membuatku melongo karena bengong dengan tingkahnya. Jelas saja aku bengong, mangkok mie ayam itu seharusnya untuk Dita kenapa dia berikan padaku. Padahal, jelas-jelas Dita ada di sana. Aneh!!!
“Buatku?” aku menatapnya untuk memastikan. Dia mengangguk dan duduk di depanku tepatnya di samping Dita.
“Dita?” aku memandangi Dita.
“Tuh,” Tama mengarahkan dagunya pada seorang pelayan kantin yang membawakan seporsi mie ayam untuk Dita, dan tentunya semakin membuatku bingung dan aneh.
Dita tersenyum. Senyumnya juga terlihat aneh.. astagaa,,, kenapa lagi???
“Aku minta,” Alfar meraih garpu di mangkokku dan menggulung mie ayamku, dengan cepat dia masukkan mie ayam yang melilit di garpu tadi ke mulutnya, hingga aku kembali mendelik padanya.
“Ini punyaku,”
“Aku kan cuma minta, mau ku ambil semuanya?” dia malah melontarkan pertanyaan yang membuatku menjauhkan mangkok mie ayamku dari hadapannya itu.
“Kamu tidak makan?” tanya Dita. Alfar diam, kemudian menggeleng.
“Kenyang,”
“Kenyang tapi malah ngembat punya ku,” aku menggerutu kesal, kemudian memakan sesendok demi sendok mie ayam yang ada dimangkok di depanku.
***
“Kalian pacaran udah lama ya?” Alfar menatap Tama dan Dita bergantian. Bukannya menjawab mereka malah saling melempar pandang. Tak berapa lama, Dita mengangguk cepat sedang Tama, dia tidak memunculkan reaksi apa-apa. Dan yang ada malah menimbulkan sedikit kecurigaan di hatiku.
“Oh, berapa lama?”
“Tiga bulan,”
“Dua bulan,” jawab Tama dan Dita serempak. Tapi, jawabannya berbeda. Apa-apaan ini?
“Kenapa berbeda?” timpalku. Keduanya langsung saling pandang dan Tama yang menyahut.
“Dua bulan, mungkin Dita kelupaan atau kelebihan menghitung bulan.”
“Oo,” dan kali ini giliran aku dan Alfar yang mengeluarkan kata-Oo serempak. Aneh, itulah yang terbaca oleh mata dan otakku. Ada yang tidak beres diantara keduanya. Pacaran, tapi tidak kompak kan aneh tuh? Lagian Dita juga selalu cerita kalau, mereka berdua sangat kompak, tapi kenyataannya malah bertolak belakang. Ckck’
“Dia?” sekarang bodohnya Alfar kembali muncul. Telunjuknya mengarah padaku.
“Aku?”
“Siapa lagi?” susulnya cepat.
“Kalau aku bilang sudah, kamu mau apa?”
“Ooh sudah.” Dia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Benar dia sudah punya pacar?” dan kelanjutannya yang membuatku melongo, dia bertanya pada kedua orang di hadapannya. Aku langsung melemparkan wajah memelasku pada kedua teman dihadapanku. Dan, mereka.... MENGANGGUK.. dan aku... sangaaaat bahagia.. tapi...
“Sejak kapan? Sama siapa? Kenapa tidak bilang padaku?” Dita memberondongiku pertanyaan, hingga aku tak bisa menyembunyikan rona mereh wajahku.
“Ow, baru dua hari yang lalu, sama.. ehm sama itu siapa namanya aku lupa, pacaran jarak jauh sih..” jawabku gugup, buseet ketahuan banget bohongnya. Haha.
“Arkh kamu bohong ya??” giliran Alfar lagi nimbrung.
“Tidak, aku tidak bohong..” elakku cepat. Dan sekali lagi, aku mengakui kalau aku tidak pandai berbohong masalah begituan.
“Kenapa mukamu merah begitu?”
“Aku, merah?” aku mengangkat tanganku dan melihatnya dengan seksama bukan hanya tanganku tapi seluruh badanku.
“Bukan badanmu, tapi mukamu.” Timpal Tama mengulum senyum. Halah, sialan.. kenapa jadi aku yang disudutkan.
“Ahh, tidak.” bohong lagi. dasaar pembohong. Aku menggerutu dalam hati.
“Kamu mau bukti?” Alfar menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan sesuatu dilayarnya. Apa?? Foto ku? Alfar sialaan... dia membuatku benar-benar merah eh salah, marah maksudku.
“Jangan ambil gambar ku sembarang, aku tidak suka.” Aku menggebrak meja kantin, hingga ketiga orang yang berada di dekatku terperanjat. Tiba-tiba saja emosiku naik, aku membenci kameraaa.. aku tidak suka itu? itu bisa menyiksa batinku... aku mohon, jauhkan kamera ponsel itu, jauhkan. Pintaku dalam hati, dengan cepat aku meninggalkan kantin. Dita, Tama juga Alfar hanya menatapku dengan bingung.
***
Ingatanku melayang kembali melampaui waktu masa kecilku. Masa ketika seharusnya setiap anak kecil berbahagia, dengan segala benda dan orang-orang yang mereka sayangi. Dengan segala keceriaan yang bisa diabadikan. Dengan semua keindahan yang disimpan dikotak kenangan dan ketika merindukan keindahan itu, kotak kenangan pun bisa dibuka kembali. Tapi, itu bukan pada diriku. Bukan pada seorang Livia. Bukan pada seorang Cha-cha kecil yang mengharapkan hal itu terjadi padanya.
Kakakku.. pergi karena sebuah kamera.. aku membencinya!!!!
Apa kalian bisa membayangkan, jika seseorang yang amat sangat kalian sayangi dan juga menyayangi kalian pergi sangaaat jauh dan tak akan kembali, hanya karena sebuah benda yang sama sekali tak ada harganya.. sama sekali tak ada artinya.. sama sekali tak ada istimewanya.. Dia, benda itu telah merenggut seseorang yang sangat berharga, yang sangat berarti dan sangat istimewa untukku...
***
“Apa kamu baik??” Alfar melemparkan senyum padaku. Aku tak menyahut, langsung duduk di kursiku tanpa mempedulikan pandangan Alfar padaku. “Cha, kamu baik?”
Aku menatap tajam Alfar, raut wajahnya terlihat khawatir tapi itu bukan urusanku. “Berhenti memanggiku Cha-cha..” dia tertegun.
“Dita, kamu harus bertukar tempat duduk dengan cowok ini,” jeritku. Dita yang sedang asik mengobrol dengan Tama terpaksa bangkit dan menghampiriku.
“Kenapa?”
“Tapi, kalau kamu tidak mau aku yang akan pindah tempat!” aku bangkit dan menyandang tas selempangku lalu beranjak dari tempatku menuju sebelah Hendra. Sebenarnya, Hendra itu bisa di bilang lebih buruk dari Alfar, tapi.. hanya dari segi ke-Playboy-annya.
“Aku duduk di sebelahmu mulai saat ini.” Kataku menggebrak meja dan langsung duduk di sampingnya. Hendra terkejut.
“Kenapa? Kamu naksir denganku ya?”tanyanya membuat bulu kudukku langsung bergidik. Hah? Buseet dah.. mimpi apa aku tadi malam?
“Tidak,” aku sudah duduk manis di samping Hendra.
“Tidak boleh.” Jawabnya singkat.
“Kenapa?”
“Ada seseorang menunggumu...”
“Siapa?”
“Tuh...” dia mengarahkan ujung mulutnya yang sedikit dia monyongkan ke arah tempat dudukku. Apaaaa??? Alfaar??? Aku melihatnya melambaikan tangan manis pada ku. Oh my God..
“Ooh.. tapi.. aku mohooon kamu harus memperbolehkanku duduk di sini.. oke untuk sementara saja.” Aku memasang tampang memelasku. Tapi..
“Oke, tapi kamu harus mau jadi pacarku..”
“APAAA???”
“Ehem..” dia mengangguk pasti. Ya ampun.. kenapa orang disekitarku jadi foolish semua ya???
“ehm, ahh kamu bercanda... kalau begitu aku duduk di tempatku saja.” Buru-buru ku raih lagi tas selempang beserta buku dan benda-benda milikku yang lain
dan aku tinggalkan Hendra.
“hahah... kenapa tidak jadi?” Alfar mempertawakanku, hiiiiiih dasaaar Livia kenapa kamu juga ikutan bodoh!
“Dia sama bodohnya kayak kamu.”
***
“Maaaa.. sakiit...” aku berteriak sekuat tenaga.. meskipun sudah berteriak begitu tetap saja rasanya kepalaku pecah. Sepulang sekolah, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke tempat tidurku. Kepalaku nyeri, semua anggota tubuhku rasanya sama sekali tidak bisa ku kendalikan.
“Mama panggil dokter dulu,” mama berlari panik keluar kamarku menuju ruang tamu.Tuhan, tolong jangan beri aku sakit seperti ini.. aku mohon, aku tak sanggup.. air mataku sudah tak bisa keluar lagi.
“Sebentar lagi, dokternya datang. Kamu yang kuat ya sayang...” mama membelai lembut rambutku. Mama meneteskan airmatanya. Aku tak bisa melihatnya menangis seperti ini. Aku tak boleh membuat mama menangis karena mengkhawatirkanku. Aku... tapi.. apa aku bisa? Apa aku bisa bertahan.. aku mohonn Tuhan, jangan biarkan mama mengkhawatirkanku. Aku tak mau membuatnya menangis seperti ini. Aku mohon..
Aku menarik napas panjang, kemudian aku usakan senyum manis terukir di bibirku. “Aku sudah tidak apa-apa ma,” desisku pelan. Meskipun semuanya bohong. Aku harap mama mempercayaiku.
“Kamu tidak menghibur mama bukan?”
“Aku jujur,” desisku lagi. mama mencium keningku. Maafkan aku ma.. aku tak mau melihat mama lebih sedih lagi.. batinku.
***
Aku tak mungkin membuat mama semakin sedih dan sakit lagi. Aku tak mau kejadian yang dulu terjadi lagi padaku. Aku tak mau membuat mama menangis karena kehilangan kedua anaknya. Aku tak mau itu...
“Aku membenci hidupku,” bisikku di sela isak tangis yang langsung keluar dari diriku. Aku, kakakku dan tempat ini... aku tak mau mengulanginya. Cukup sekali.. dalam hidup ku juga dalam hidup mamaku.
“KAKAAAAAKK....”
Teriakan itu selalu membayangi hidupku. Penyakitku... juga perasaanku.. kenapa harus aku??
“Apa kamu selalu menangis kalau datang ke sini?” suara itu? suara seseorang yang sangat aku harapkan kedatangannya.. aku menoleh.
“Kakak...” bisikku pelan. Dia tak tersenyum juga tidak menyahut.
“Kenapa kamu selalu menangis datang ke tempat ini??” tanyanya lagi. dia duduk di sebelahku. Dengan cepat aku sambar tubuhnya. Aku merindukannya. Merindukan setiap kasih sayangnya. Merindukan semua perlakuannya padaku. Merindukan semua yang telah hilang dari hidupku.
“Aku rindu kakak..”
“Jangan menangis... buat mama tersenyum karenamu..” dia balas memelukku. Aku harap ini tak akan hilang lagi.
“Kenapa kakak per...”
“Sst,” dia menurup mulutku dengan telunjuknya, “Aku tidak pergi, aku selalu ada di dekatmu..”
“Tapi, aku tak bisa menemuimu lagi,”
“Aku akan selalu bersamamu, aku hanya ingin kamu membuat mama tersenyum bukan seperti ku yang hanya bisa membuat mama bersedih.”
“Tapi, mama akan tersenyum jika kakak bersamanya. Jika kakak ada di sampingnya membantunya..” tangisku semakin menjadi-jadi.
Dia tersenyum, “Maka dari itu, jadi lah pengganti hidupku jadilah seseorang yang membuat mama bahagia.. jadilah hidup ku yang berbeda.. jangan sepertiku.”
Tiba-tiba tubuhnya menghilang. Dia.. kembali pergi.. menghilang dari pelukanku, lagi! menghilang dari hadapanku.. kakak,bukan sebuah perpisahan lagi yang aku inginkan.. aku hanya mau kakak selalu di dekatku selalu bersamaku kapan pun, selalu menghiburku, selalu membuatku bertahan menghadapi cobaan hidupku... aku mohonn kakak.. jangan pergi lagi...
***
“Kakak..” aku tersentak. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Mama menatapku khawatir.
“Kamu kenapa sayang?”
“Aku mimpi...” mama mendekatiku. Ada kegelisahan dimanik mata mama. “Aku merindukan kakak,” mama memelukku erat dan hangat. Airmatanya membasahi rambutku. Mama menangis, karena aku, lagi!
“Kakak mu sudah bahagia sayang, dia selalu bersama kita.” Bisik mama. Aku tahu, mama sangat sedih. Aku tahu mama hanya ingin membuatku tersenyum, mama hanya ingin menghiburku. Mana mungkin kakakku selalu bersamaku dan mamam. Buktinya, dia tak pernah menemuiku.
“Aku tak bisa memeluknya lagi, aku sangat merindukannya.”
“Mama juga sayang,” mama semakin terisak. Bukan ini yang aku mau...
“Apa aku boleh menemuinya, sekali saja..” Mama tertegun, dia melepaskan pelukannya dan memandangiku. Dengan pandangan yang sangat sulit untuk ku artikan. Kepalanya menggeleng pelan.
“Kalau kamu menemuinya, kamu akan meninggalkan mama.” Aku tahu ini adalah hal yang paling bodoh yang keluar dari mulutku.
***
Seminggu yang lalu aku terpaksa tidak hadir ke sekolah. Semua karena penyakitku yang ‘katanya’ sudah semakin parah. Hari ini, aku diberi kesempatan untuk kembali menginjakkan kakiku ke sekolahku lagi. Sebuah kebahagiaan tersendiri untukku.
“Lama sekali kamu baru masuk? Wajahmu pucat, kamu baik?” Alfar memberondongiku dengan pertanyaannya yang ‘sok’ perhatian.
“Aku tidak kenapa-kenapa. Mungkin kelelahan.” Jawabku duduk di sampingnya.
“Hidung mu.” dia menunjuk hidungku, tak lama dia menyeka sesuatu di sana. Suatu cairan berwarna merah melekat di ibu jari Alfar. “Darah...” dia mendesis.
“Kamu sehat?” dia terlihat begitu khawatir. Dan itu membuatku teringat akan seseorang. Dia, yang telah pergi.
“Aku sehat,” kataku merogoh tasku dan mengambil sapu tangan. Buru-buru aku mengusapkan saputanganku ke hidungku. Dan benar saja, darah langsung melumuri sapu tanganku yang berwarna pink. Ah sial, kenapa harus di sekolah? Batinku merutuki penyakitku sendiri.
“Kamu sakit ya?” Alfar masih menanyaiku tentang kesehatanku. Dan tentu aku akan menjawabnya tidak, dan tidak akan pernah aku menjawab ‘iya’. Ingat itu!!
“Harus berapa kali aku bilang, aku tidak sakit.” jawabku nyaris setengah berteriak membuat keadaan kelasku yang ramai, menjadi sunyi seketika.
“Maaf,” kataku menunduk. Sejenak, kelas masih terlihat hening, dan sedetik kemudian semuanya kembali riuh.
“Ikut aku,” Alfar meraih sebelah tanganku. Dan membawaku ke suatu tempat yang sama sekali aku tidak tahu di mana tempat itu.
Di belakang gudang sekolah, ternyata di tempat itu mempunyai pemandangan alam yang sangat indah. Tapi, entah kenapa aku baru tahu sekarang. Padahal sudah hampir tiga tahun aku sekolah di sini. Sedangkan Alfar, sebulan pun belum genap, dia sudah tahu ada tempat seindah ini di sekolah.
Pepohonan yang rindang, bunga yang di tata rapi dan dibuat seindah mungkin. Rerumbutan yang sama ratanya, semua dipangkas hingga seperti ada hamparan karpet yang menghijau.
“Kamu tahu tempat ini?” dia menatapku dengan senyum yang saat itu juga bisa membuat tubuhku membeku. Senyum yang hangat. Entah kenapa, kali ini hatiku mengatakan kalau dia tidak sebodoh yang aku pikir. Eh salah, maksudku pikiranku bahwa dia bodoh itu tidak sepenuhnya benar. Dilihat dari postur tubuhnya saja, semua orang langsung terpesona. Matanya yang tajam tapi menenangkan. Aroma parfum yang memancarkan suatu kehangatan. Bibirnya yang tipis dan merona, pertanda kalau orang ini tidak pengguna ROKOK. Dan itu...
Heh apa-apaan aku ini??? Aku tidak memuji, tapi aku hanya mengatakan yang orang katakan..
Back to basic... aku menatap kagum keselilingku. Benar-benar pusat keindahan. Taman kota pun kalah indahnya. Ckck’
Aku menggeleng pelan. “Aku baru tahu sekarang.” Dia meluruskan pandangannya dan menghirup udara yang sejuk ditempat itu.
“Tempat ini adalah peninggalan cinta kakakku...”
Jumat, 29 Juli 2011
Rabu, 27 Juli 2011
Desain Grafis
SOAL LATIHAN TIKOM :
1. Apa yang dimaksud dengan grafis?
2. Apa yang dimaksud dengan desain grafis?
3. Apa yang dimaksud dengan:
a. Image vector
b. Image bitmap
4. Sebutkan jenis ekstensi gambar :
a. Vector
b. Bitmap
5. Sebutkan masing-masing tiga program pengolah grafis?
a. Vector
b. Bitmap
6. Sebutkan keunggulan dan kelemahan gambar:
a. Vector
b. Bitmap
7. Jelaskan istilah-istilah berikut :
a. Pixel
b. Resolusi
c. Intensitas
JAWABAN :
1. Grafis adalah adalah kombinasi antara titik, garis, bidang, dan warna untuk menciptakan suatu imitasi dari suatu obyek – biasanya obyek fisik atau manusia. Citra bisa berwujud dua dimensi, seperti lukisan, foto, dan berwujud tiga dimensi, seperti patung. (http://id.wikipedia.org/wiki/Gambar. )
2. Desain grafis adalah salah satu bentuk seni lukis (gambar) terapan yang memberikan kebebasan kepada sang desainer (perancang) untuk memilih, menciptakan, atau mengatur elemen rupa seperti ilustrasi, foto, tulisan, dan garis di atas suatu permukaan dengan tujuan untuk diproduksi dan dikomunikasikan sebagai sebuah pesan. Gambar maupun tanda yang digunakan bisa berupa tipografi atau media lainnya seperti gambar atau fotografi. Desain grafis umumnya diterapkan dalam dunia periklanan, packaging, perfilman, dan lain-lain. (http://lauthfi.wordpress.com/2008/08/21/definisi-desain-grafis. )
3. Yang dimaksud dengan :
a. Image vector adalah objek gambar yang dibentuk melalui kombinasi titik-titik dan garis dengan menggunakan rumusan matematika tertentu. (http://ahmedridho.com/post-grafis-vektor-dan-bitmap.html)
b. Image bitmap adalah objek gambar yang dibentuk berdasarkan titik-titik dan kombinasi warna. (http://ahmedridho.com/post-grafis-vektor-dan-bitmap.html)
4. Jenis- jenis ekstensi gambar :
a. Vektor : CDR, AI, SVG, EPS, dll. (http://www.mahamerubali.com/desain_grafik/vektor_vs_bitmap.html. )
b. Bitmap : BMP, PCX ,TIFF, JPEG, GIF, dll. (http://www.mahamerubali.com/desain_grafik/vektor_vs_bitmap.html. )
5. Tiga program pengoleh grafis :
a. Vector : Adobe Illustrator, Beneba Canvas, CorelDraw, Macromedia Freehand, Metacreations Expression, Micrografx Designer. (http://lauthfi.wordpress.com/2008/08/21/definisi-desain-grafis.)
b. Bitmap : Adobe Photoshop, Corel Photo Pain, Macromedia Xres, Metacreations Painter, Metacreations Live Picture, Micrografx Picture Publisher, Microsoft Photo Edito, QFX, Wright Image. (http://lauthfi.wordpress.com/2008/08/21/definisi-desain-grafis.)
6. Keunggulan dan kelemahan gambar :
a. Kelebihan Grafis Vektor
� Ruang penyimpanan untuk objek gambar lebih efisien� Objek gambar vektor dapat diubah ukuran dan bentuknya tanpa menurunkan mutu tampilannya� Dapat dicetak pada resolusi tertingi printer Anda� Menggambar dan menyunting bentuk vektor relatif lebih mudah dan menyenangkan
Kekurangan Grafis Vektor� Tidak dapat menghasilkan objek gambar vektor yang prima ketika melakukan konversi objek gambar tersebut dari format bitmap. (http://ahmedridho.com/post-grafis-vektor-dan-bitmap.html.)
� Ruang penyimpanan untuk objek gambar lebih efisien� Objek gambar vektor dapat diubah ukuran dan bentuknya tanpa menurunkan mutu tampilannya� Dapat dicetak pada resolusi tertingi printer Anda� Menggambar dan menyunting bentuk vektor relatif lebih mudah dan menyenangkan
Kekurangan Grafis Vektor� Tidak dapat menghasilkan objek gambar vektor yang prima ketika melakukan konversi objek gambar tersebut dari format bitmap. (http://ahmedridho.com/post-grafis-vektor-dan-bitmap.html.)
b. Kelebihan Grafis Bitmap
� Dapat ditambahkan efek khusus tertentu sehingga dapat membuat objek tampil sesuai keinginan.� Dapat menghasilkan objek gambar bitmap darionjek gambar vektor dengan cara mudah dan cepat, mutu hasilnya pun dapat ditentukan
Kelemahan Grafis Bitmap� Objek gambar tersebut memiliki permasalahan ketika diubah ukurannya, khususnya ketika objek gambar diperbesar.� Efek yang diidapat dari objek berbasis bitmap yakni akan terlihat pecah atau berkurang detailnya saat dicetak pada resolusi yang lebih rendah. (http://ahmedridho.com/post-grafis-vektor-dan-bitmap.html.)
� Dapat ditambahkan efek khusus tertentu sehingga dapat membuat objek tampil sesuai keinginan.� Dapat menghasilkan objek gambar bitmap darionjek gambar vektor dengan cara mudah dan cepat, mutu hasilnya pun dapat ditentukan
Kelemahan Grafis Bitmap� Objek gambar tersebut memiliki permasalahan ketika diubah ukurannya, khususnya ketika objek gambar diperbesar.� Efek yang diidapat dari objek berbasis bitmap yakni akan terlihat pecah atau berkurang detailnya saat dicetak pada resolusi yang lebih rendah. (http://ahmedridho.com/post-grafis-vektor-dan-bitmap.html.)
7. Yang dimaksud dengan istilah-istilah:
a. Pixel adalah titik terkecil (elemen) yang membentuk suatu gambar pada layer monitor, disebut juga dengan dot. (http://ilmucerdas.wordpress.com/profil/pengertian-%E2%80%93-pengertian-dasar-image-processing. )
b. Resolusi adalah Banyaknya titik ( pixel ) yang menyusun suatu gambar atau layer. Ukurannya adalah jumlah pixel horizontal dikalikan jumlah pixel vertical. (http://ilmucerdas.wordpress.com/profil/pengertian-%E2%80%93-pengertian-dasar-image-processing. )
c. Intensitas berasal dari bahasa latin yaitu intentio yang berarti ukuran kekuatan, keadaan tingkatan atau ukuran intensnya. (http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2116454-pengertian-intensitas/#ixzz1RwWjvzCB)
Sabtu, 16 Juli 2011
FEELING...? [2]
FEELING...?? [2]
Mendengar jawaban Dita sekujur tubuhku melemas, bahuku berguncang pelan, tak berapa lama airmataku tumpah.
“Apa?” Dita memelukku, dia berusaha menenangkanku. Mungkin dia tahu apa yang aku rasakan. “Kanker?” bisikku pelan. Dita mengangguk, mengiyakan. Aku tertegun, cobaan apa lagi yang menghampiriku...
“Kau harus sabar, Livia.” Ucapnya membuatku semakin tersedu-sedu. Aku menggeleng masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Dita baru saja. “Tuhan mempunyai rencana yang indah buatmu.”
Sekarang, besok dan akan datang apa aku harus bertahan dalam penyakitku? Harapanku yang kemarin belum bisa aku gapai, dan sekarang aku harus membuka harapan baru. Ini hal terlalu berat untukku. Apa aku sanggup?
“Livia, Dita.” panggil mamaku dari belakang kami. Aku menoleh dengan tatapan sendu, mama menghampiriku dan Dita.
“Mama.” Aku meluruhkan pelukanku pada mama, mama balas memeluk sambil membelai lembut rambutku. “Aku tak mau,”
“Kamu harus bertahan, anakku.”
“Apa Tuhan membenciku?”
“Ssstt,” mama menutup mulutku dengan telunjuknya. “Tuhan selalu memberikan yang terindah untuk umat-Nya.” Ucap mama.
“Tante, aku permisi, aku harus pulang.” Dita berdiri dan melemparkan senyum pada mama dan aku. Aku tak membalas, kemudian dia mengelus bahuku sejenak lalu berjalan meninggalkan aku dengan mama.
***
Aku berjalan menyusuri trotoar ditepi jalan. Pikiranku sama sekali tak terfokus pada tujuanku, yang aku pikirkan sekarang hanya penyakitku yang akan menggerogoti seluruh tubuhku.
Kakiku terus melangkah menyeberangi Zebra cross, pelan dan seperti tanpa tujuan. Mataku kembali basah, mengingat yang telah menimpa ku. Penyakit dan perasaan hampa. Dua-duanya menyiksaku.
Tiiiiiiiiiinnn.... tiiiiinnn.. suara klakson menggema di tempat sekitar aku berjalan di jalan raya. Aku merasa sangat bodoh, yang ku lakukan bukannya lari atau kabur dari jalan raya itu. Melainkan diam ditempat dan menatap kosong ke segala arah, aku menyadari ditempat itu banyak orang yang meneriakkan kata-kata menyuruhku untuk segera menjauh tapi semuanya terasa sangat pelan hingga tak sanggup menembus pendengaranku.
“Nona minggir, menjauhlah dari tempat itu!!!!” suara teriakan itu sama sekali tak terdengar olehku.
Chiiiitt... kurang setengah meter lagi, sebuah mobil akan melemparkanku ke suatu tempat. Untungnya pengemudi mobil itu lekas mengijak remnya.
“Heh kau,” teriak seseorang dari dalam mobil melewati jendela kaca mobil yang terbuka, “Kau itu bodoh atau gila?” aku tak menggubris, dan hanya diam di tempat. Ketika melihat aku diam, dia turun dengan setengah emosi. Cowok
yang berpostur tubuh tinggi sekitar 170-an keluar dan menghempaskan pintu mobil begitu saja dia menghampiriku.
“Kau gila,” ucapnya membuatku semakin terisak.
“Ya, aku gila.” Jawabku tanpa menggunakan otakku. Dia terkesima mendengar jawabanku. Setelah itu aku berlari meninggalkan tempat itu, tanpa memperdulikan tatapan mata yang menatapku dengan kesal.
***
“Dita, apa Livia ada di rumahmu?” Dita mengerutkan keningnya. Mama Livia menelponnya dan menanyakan hal seperti itu.
“Tidak tante, Livia tidak datang ke rumahku.” Jawab Dita, “kenapa tan?”
“Livia hilang, Dit.” Desis mama Livia, suaranya bergetar.
“Apa????”
***
Aku menyandarkan tubuhku di salah satu pohon di tepi jalan, rasanya aku sudah kehilangan semangat hidup. Masa depanku akan hancur, aku akan mati. Semua harapanku akan hilang begitu saja. Aku akan kehilangan seseorang yang aku cinta, aku akan kehilangan mamaku, aku akan kehilangan sahabatku, dalam jangka waktu yang tidak lama lagi.
“Ternyata aku salah,” ucap seseorang menyadarakanku, buru-buru aku menghapus airmata yang terus mengalir. “Aku salah tidak menabrakmu.” Lanjutnya. Aku mengangkat wajahku dan mendelik pada cowok yang berdiri dihadapanku. Aku mengenalnya, dia adalah orang yang hampir saja menabrakku.
“Kau?”
“Ya, aku yang tadi akan menabrakmu.” Aku tersentak. “Kaget melihat ku bisa berada di sini?”
“Tidak,” jawabku ketus. Aku berdiri tapi dia tahan, dia berjongkok di hadapanku dengan bertumpu pada lututnya.
“Aku hanya penasaran,” katanya membuatku menatapnya tajam, “Ada seorang cewek yang mau bunuh diri dengan cara yang bodoh.”
“Apa maksudmu?”
“Ternyata selain caramu yang bodoh, kau juga bodoh.” dia menyunggingkan senyuman sinisnya padaku. Hingga aku semakin menajamkan sorot mataku.
“Siapa kau? Aku tak kenal denganmu dan kau juga tidak kenal denganku. Kenapa kau berkata seperti itu?” tanyaku heran tak mengerti. Dia tidak mengenalku, dan seenaknya saja dia bilang kalau aku bodoh.
“Aku? Siapa? Kau tidak kenal dengan ku,hah?” dia merespon ku dengan kembali tersenyum sinis. eh?? Dia malah memberondongiku dengan pertanyaan seperti itu. kurang ajar...
“Apa aku harus mengenalmu?”
“What? Are you stupid girl..” balasnya. Lagi-lagi dia mengataiku bodoh.. grrr.
“Heh, aku tidak mengenalmu bukan berarti aku bodoh.” tandasku setajam mungkin. Dia kembali tersenyum. Masih sama sinis, aku berusaha menahan emosiku yang sudah memuncak. Hati batu.. geramku dalam hati.
“You’re stupid...”
Plakk.. tamparanku mengenai sasaran dengan mulus. Aku sudah kehabisan kesabaran. Dia yang bodoh bukan aku, siapa dia? Apa hubungannya denganku? Apa haknya mengatai aku dengan sebutan bodoh.
Dia meringis sambil mendesis pelan menahan perih di pipi tepat di sudut bibirnya. Ada sedikit aliran darah segar di sudut bibirnya. Rupanya, tanganku menamparnya dengan sangat keras, hingga dia terluka.
“Kau yang bodoh..”
“Hey, apa kau pikir orang yang mau bunuh diri itu pintar? Apa aksi seperti itu bisa menyelesaikan masalah? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, ibu dan keluargamu, apa yang mereka rasakan ketika kau pergi?” ucapnya dengan memberikan tekanan pada setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku tertegun. “Sekarang, kau mengerti kenapa aku mengataimu dengan sebutan bodoh?” tanyanya tanpa ada penekanan lagi, membuatku tersentak.
“Jadi, kau mengataiku bodoh karena itu? lalu apa hubungannya dengan aku tidak mengenalmu?” tanyaku, setelah tersadar oleh ketersimaan.
“Tidak ada.” Jawabnya singkat.
“Tidak ada? Artinya kau juga bodoh,”
“Hah? Kenapa?”
“Karena, pembicaraanmu melenceng. Apa kau tidak berpikir, kalau aku tidak mengenalmu dengan aksi bunuh diriku itu tidak ada kaitannya?” tanyaku, “Sama sekali..” lanjutku tajam.
Dia tersentak, “Oh tidak ada?” tanyanya kemudian, yang membuatku sebal dia mengucapkannya dengan intonasi yang santai.
“Iya,”jawabku ketus.
“Lalu?”tanyanya membuatku semakin yakin kalau cowok di hadapanku saat ini benar-benar bodoh.
“You’re stupid boy..” ucapku dengan penuh kemenangan.
Dia terdiam, dalam waktu yang cukup lama kami terdiam. Ucapan terakhirku tidak dijawabnya dan artinya aku menang. Dan terbukti, bukan aku yang bodoh tapi DIA.
***
“Aku pulang,” ucapku ketika akan memsuki rumah, tapi aku langsung menghentikan langkah kakiku tepat di depan pintu rumahku. Ada tiga orang duduk di sofa ruang tamu, Mama, Dita dan yang satu lagi...
“Mama, Dita, dan kau...” mata ku tertuju pada seorang cowok yang duduk dengan manatapku kuatir. “Kenapa kau di sini?” tanyaku menyelidik pada cowok yang masih menatapku.
“Livia,” mama berlari menghampiriku dan langsung memelukku. “mama mengkhawatirmu sayang.” Ucap mama menangis.
“Memang kenapa ma?”
“Livia, tadi mamamu menelponku, katanya kau pergi dari rumah.” Dita menjelaskan seraya berjalan menghampiriku.
“Lalu kenapa dia di sini?” tunjukku pada cowok yang masih duduk dan sebalnya dia masih menatapku.
“Aku menelpon Tama, dia bersedia membantu ku untuk mencarimu.”
Hah? Mencariku? Aku masih saja tidak mengerti maksud perkataan sahabatku yang satu itu. untuk apa mereka
mencariku, aku tidak mati, oops salah ralat.. aku tidak jadi mati.
“Oo,” mulutku hanya membentuk lingkarang dan berkata Oo..
“Kau istirahat saja, Liv.. mama kuatir padamu.” Mama melepaskan pelukannya dan menggandengku ke kamar. Aku jadi teringat dengan ucapan cowok bodoh tadi. Perkataannya ada benarnya juga, kalau aku pergi semuanya akan mengkhawatirkanku.
“Kalau mau pergi, seharusnya kau bilang dulu pada mama, biar mama bisa menemanimu.” Kata mama duduk di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum tipis kemudian mengangguk. Aku merebahkan tubuhku yang kembali terasa nyeri, setelah posisiku dalam keadaan pe-we, mama berdiri dan membuka pintu kamar untuk keluar.
“Ma,” panggilku menoleh ke arah mama. Mama balik badan, dia memandangiku dengan hangat. “maaf, sudah membuat mama kuatir.” Kemudian mama mengangguk dan keluar kamar dengan meninggalkan senyum.
Tak berapa lama setelah mama keluar dari kamarku, terdengar suara ketukan pintu, aku memerintahkannya masuk. Tama berdiri di ambang pintu kamarku.
“Boleh masuk?” tanyanya. Aku tak menyahut. Aku bingung harus menyahut apa padanya. Dia masuk dan menutup pintu. Berjalan mendekat ke tempat tidur ku.
Tak ada yang bisa kulakukan, aku bahkan tak berani menatap matanya, jangankan matanya, menyadari bahwa
aku sedang tidak bermimpi pun aku tak berani. Ini bukan sebuah khayalan ini kenyataan. Perasaanku yang dulu kembali datang dan hinggap dibenakku lagi. ingin rasanya aku manatapnya dalam-dalam, tapi aku tak bisa. Jangan-jangan nanti yang ada aku malah menangis tanpa sebab.
Dia menatapku, Tama, jangan tatap aku seperti itu, kalau memang kau tidak memberiku harapan, hentikan caramu menatapku.. aku membatin. Dia tak pernah mengerti, bagaimanapun aku meminta dia tak akan pernah memahami perasaan ku.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku tak bisa menahan.
“Aku, senang kau kembali.”
Syuuutt.. seakan ada kesejukan dihatiku mendengar ucapannya. Apa yang kau rasakan saat ini Tama??? Aku kembali bertanya tapi hanya pada hatiku. Apa kau memberiku harapan untuk bisa memilikimu? Tanyaku lagi. Tapi, percuma.. dia tidak akan mendengarnya.
“Terimakasih.” Sahutku singkat. Aku memalingkan wajahku menghadap ke arah lemari yang berada di samping kananku, menghindari tatapan itu. dia berbalik, mungkin dia akan meninggalkanku. Tama, jangan pergi dulu.. aku masih mau kau di sini.. hanya sejenak.. please.. lagi-lagi aku hanya bisa membatin. Kalian tahu, saat ini lah perasaan yang sangat menyakitkan. Ketika seseorang yang kita sukai berada di samping kita, tapi tak ada yang bisa kita lakukan. Karena, dia telah menjadi milik seseorang.
Tapi, tiba-tiba tubuhnya kembali berbalik dan dia langsung mengecup lembut keningku, kecupan yang singkat tapi mampu membuatku membeku, aku tertegun, aku kaget, hingga butiran bening menggumpal di pelupuk mataku. Tama mengecup keningku, suatu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, suatu yang ku anggap tak mungkin terjadi.
“Kau...” belum sempat aku mengeluarkan kata-kata dia sudah keluar tanpa menoleh ke arahku lagi. seketika juga, air mataku langsung tumpah. Entah perasaan apalagi yang aku rasakan sekarang. Sedih, bahagia, bahkan takut.. aku takut jika dia memberikan itu maka aku akan semakin mencintainya dan membuatku tak bisa melupakannya. Aku benar-benar takut.
“Aku membenci seseorang yang memberiku harapan..” ucapku di sela isakan tangis yang mulai membuatku berguncang.
“Apa dia bisa memahami rasa sakit hatiku hah?” gumamku lagi. “Apa dia hanya bisa memberiku sebuah harapan kosong? yang membuatku tak berdaya dan membuatku lemah menghadapi perasaanku?”
“BERHENTI MEMBERIKU HARAPAN...” jeritku menahan semua perih di hatiku.
***
“Sayang, makan ya?” mama membuka pintu kamarku dengan sebuah nampan berisi makan malam untukku. Aku menoleh.
“Ma,” panggilku. Mama duduk di tepi tempat tidurku lalu membelai kepalaku.
“Iya sayang?” mama tersenyum hangat membuatku merasa tenang.
“Kenapa waktu itu mama bilang, kalau Tama menyukaiku?”
“Karena dari sorot matanya, mama bisa melihat bahwa ada sebersit kasih sayang ketika dia menatapmu.” Jawab mama lembut membuatku tertegun.
“Lalu, apa mama yakin dengan perasaan mama?”
Mama mengangguk pelan tapi pasti hingga membuatku kembali tertegun, “Ya.”
“Tapi, dia sudah punya pacar ma” kataku tenang.
“Siapa?”
“Dita,” jawabku singkat seraya memalingkan wajahku agar mama tidak bisa mendapati kegalauan yang langsung menyergapku. Mama tidak menunjukkan raut wajah terkejut atau semacamnya.
“Kau cemburu?” aku tergagap, dan langsung menggeleng. “Mama mengandungmu selama sembilan bulan sepuluh hari. Mama yang membesarkanmu, mama yang merawatmu hingga kau beranjak dewasa seperti sekarang, sayang. Jadi,
kalau kau merasakan kesedihan yang membuatmu sakit hati.. mama juga seakan merasakan hal yang sama.”
“Aku sama sekali tidak cemburu, aku bahagia..” ucapku mengelak.
“Apa kau jujur pada perasaanmu?” mama terlihat sedang mencari kebenaran di mataku. “Jika kau membohongi hatimu, maka kau juga yang akan merasakan sakit itu sayang.” Lanjut mama.
Mama benar. Dan artinya, mama benar-benar mengerti perasaanku. Karena ikatan seorang ibu sangat berasar terhadap anaknya.
“Sekarang kau makan.” Mama menyodorkan sesendok makan nasi lembek dan sayuran pada ku. Aku pun dengan senang hati melahapnya.
“Terimakasih ma.” Kataku setelah selesai makan. Mama mengangguk dan tersenyum.
“Kau istirahat lagi, oke.”
Setelah merenung beberapa saat, akhirnya aku bisa terlelap dalam tidur malamku. Meskipun dalam keadaan galau, sedih dan bimbang aku harus bisa bertahan.
***
Embun pagi menetes membasahi dedaunan. Semburat sinar matahari membuatku terbangundari tidur malamku. Tadi malam, aku lupa menghidupkan jam beker milikku, hingga aku jadi bangun kesiangan. Apa? Kesiangan?? Buru-buru aku bangkit dan memandangi jam tanganku yang terletak di samping bantalku.
Aku langsung mendelik melihatnya, jam enam?? Astagaa.. aku telat. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan langsung mengguyur badanku. Setelah selesai, aku bergegas mengenakan baju seragam putih abu-abu sekolahku. Dan merapikan buku―kebiasaanku kalo pagi baru nyiapin buku―yang akan aku bawa ke sekolah.
“Livia, makan.” Panggil mama ketika aku membuka pintu kamarku. Mama berdiri dengan masih mengenakan celemek.
“Ma, aku telat,” ucapku memelas. “aku makan di sekolah saja,” kataku meraih tangan kanan mama dan menciumnya lalu berlari keluar rumah. Tanpa menghiraukan panggilan mama yang terdengar hingga satu kompleks rumahku.
***
Taksi yang ku naiki berhenti sepuluh meter dari gerbang sekolahku, dengan malas dan menahan perutku yang mulai keroncongan aku berjalan. Setibaku di depan gerbang sekolah, mataku langsung memanas, ralat maksudku mataku terasa sakit melihatnya. Apa-apaan coba, pacaran di tempat parkir? Bikin aku mau muntah saja melihatnya. Mereka benar-benar tidak mengerti perasaanku. Dan yang paling aku bingung, kenapa Dita bisa seperti itu. bukannya dia pernah bilang padaku kalau, Tama menyuk... ahh untuk apa aku mengingatnya. Sudah jelas-jelas Tama tidak menyukaiku, malah bilang begitu. Tapi, apa maksud kecupan kemarin sore? Apa dia... bodoh banget sih aku, cowok itu kan bermuka dua atau malah bermuka lima hmm, jadi sudah seharusnya aku mewajari perbuatan mereka..
“Benarkan, kau itu bodoh..” aku menoleh, dan aku mendelik. “hai..” katanya membuatku semakin tersadar kalau aku sekarang tidak sedang bermimpi.
“Kau lagi..” ucapku berjalan tak menggubris lambaian tangannya. Dia mengikutiku.
“Hei, kau sekolah di sini ya stupid girl?” tanyanya membuat telingaku seketika memerah. Aku menoleh lagi, sedangkan dia hanya tersenyum simpul tanpa merasa berdosa sama sekali telah mengataiku dengan sebutan ‘stupid girl’.
“Bisa berhenti mengataiku dengan sebutan itu, stupid boy??” tekanku pada cowok yang sedang berjalan mengejarku juga dengan sebutan yang sama.
“Kau itu, dari kemarin sukanya marah terus ya? Sungguh pertemuan yang buruk.” Ucapnya hingga aku merem langkah kakiku mendadak.
“Aku tidak mau bertemu dengan mu.” ucapku memberi penekanan.
“Oo, kalau beitu keputusanku kemarin ternyata masih salah.”
“Apa?”
“Untuk tidak menabrakmu.” Aku tertegun.
“Itu salahmu, kenapa kau tidak menabrakku saja?” kataku melanjutkan langkah kakiku.
“Karena, aku kasihan melihatmu.” Maksudnya??? Aku hanya bisa bengong mendengar pernyataan cowok itu. entah apa maksud dari kata-katanya. “Sekarang, aku mau kau membantuku.” Hah? Apa? Membantunya? Maksudnya?
Hah.. aku benar-benar bodddoooh.. kenapa jadi telmi begini?
“Aku tak mau.” Kataku menaiki tangga menuju kelasku.
***
Tama berjalan memasuki kelas dengan tangan kanan menggandeng tangan Dita. saat tatapan kami bertemu, buru-buru aku memalingkan kepalaku ke buku tulis Latihan Kimia yang sedang aku corat-coret mengerjakan tugas.
Aku benci tatapannya!!!
Tatapan itu membuatku sakit, aku MEMBENCINYA, kecamkan itu baik-baik...
“Livia, aku pinjam buku catatan Fisika ya.” Dita meletakkan tasnya di meja sebelahku. Aku mengangguk dan mengeluarkan buku catatan yang diminta Dita kemudian menyerahkannya dengan senyum dipaksakan.
“Ehm, sementara aku duduk di samping Tama. Aku memintanya untuk mengajariku. Nanti setelah bel berbunyi aku akan kembali.” Dia balik badan dan menghampiri Tama yang terus menunduk di kursinya.
Apa katanya? Meminta Tama untuk mengajarinya? Dia anggap aku apa? Biasanya juga aku yang mengajarinya? Kenapa sekarang tama? Apa hubungannya coba sama Tama?
“Aku duduk di sini ya?” aku mengangkat wajahku mengarahkan ke asal suara. Dan tercengang melihatnya.
Mendengar jawaban Dita sekujur tubuhku melemas, bahuku berguncang pelan, tak berapa lama airmataku tumpah.
“Apa?” Dita memelukku, dia berusaha menenangkanku. Mungkin dia tahu apa yang aku rasakan. “Kanker?” bisikku pelan. Dita mengangguk, mengiyakan. Aku tertegun, cobaan apa lagi yang menghampiriku...
“Kau harus sabar, Livia.” Ucapnya membuatku semakin tersedu-sedu. Aku menggeleng masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Dita baru saja. “Tuhan mempunyai rencana yang indah buatmu.”
Sekarang, besok dan akan datang apa aku harus bertahan dalam penyakitku? Harapanku yang kemarin belum bisa aku gapai, dan sekarang aku harus membuka harapan baru. Ini hal terlalu berat untukku. Apa aku sanggup?
“Livia, Dita.” panggil mamaku dari belakang kami. Aku menoleh dengan tatapan sendu, mama menghampiriku dan Dita.
“Mama.” Aku meluruhkan pelukanku pada mama, mama balas memeluk sambil membelai lembut rambutku. “Aku tak mau,”
“Kamu harus bertahan, anakku.”
“Apa Tuhan membenciku?”
“Ssstt,” mama menutup mulutku dengan telunjuknya. “Tuhan selalu memberikan yang terindah untuk umat-Nya.” Ucap mama.
“Tante, aku permisi, aku harus pulang.” Dita berdiri dan melemparkan senyum pada mama dan aku. Aku tak membalas, kemudian dia mengelus bahuku sejenak lalu berjalan meninggalkan aku dengan mama.
***
Aku berjalan menyusuri trotoar ditepi jalan. Pikiranku sama sekali tak terfokus pada tujuanku, yang aku pikirkan sekarang hanya penyakitku yang akan menggerogoti seluruh tubuhku.
Kakiku terus melangkah menyeberangi Zebra cross, pelan dan seperti tanpa tujuan. Mataku kembali basah, mengingat yang telah menimpa ku. Penyakit dan perasaan hampa. Dua-duanya menyiksaku.
Tiiiiiiiiiinnn.... tiiiiinnn.. suara klakson menggema di tempat sekitar aku berjalan di jalan raya. Aku merasa sangat bodoh, yang ku lakukan bukannya lari atau kabur dari jalan raya itu. Melainkan diam ditempat dan menatap kosong ke segala arah, aku menyadari ditempat itu banyak orang yang meneriakkan kata-kata menyuruhku untuk segera menjauh tapi semuanya terasa sangat pelan hingga tak sanggup menembus pendengaranku.
“Nona minggir, menjauhlah dari tempat itu!!!!” suara teriakan itu sama sekali tak terdengar olehku.
Chiiiitt... kurang setengah meter lagi, sebuah mobil akan melemparkanku ke suatu tempat. Untungnya pengemudi mobil itu lekas mengijak remnya.
“Heh kau,” teriak seseorang dari dalam mobil melewati jendela kaca mobil yang terbuka, “Kau itu bodoh atau gila?” aku tak menggubris, dan hanya diam di tempat. Ketika melihat aku diam, dia turun dengan setengah emosi. Cowok
yang berpostur tubuh tinggi sekitar 170-an keluar dan menghempaskan pintu mobil begitu saja dia menghampiriku.
“Kau gila,” ucapnya membuatku semakin terisak.
“Ya, aku gila.” Jawabku tanpa menggunakan otakku. Dia terkesima mendengar jawabanku. Setelah itu aku berlari meninggalkan tempat itu, tanpa memperdulikan tatapan mata yang menatapku dengan kesal.
***
“Dita, apa Livia ada di rumahmu?” Dita mengerutkan keningnya. Mama Livia menelponnya dan menanyakan hal seperti itu.
“Tidak tante, Livia tidak datang ke rumahku.” Jawab Dita, “kenapa tan?”
“Livia hilang, Dit.” Desis mama Livia, suaranya bergetar.
“Apa????”
***
Aku menyandarkan tubuhku di salah satu pohon di tepi jalan, rasanya aku sudah kehilangan semangat hidup. Masa depanku akan hancur, aku akan mati. Semua harapanku akan hilang begitu saja. Aku akan kehilangan seseorang yang aku cinta, aku akan kehilangan mamaku, aku akan kehilangan sahabatku, dalam jangka waktu yang tidak lama lagi.
“Ternyata aku salah,” ucap seseorang menyadarakanku, buru-buru aku menghapus airmata yang terus mengalir. “Aku salah tidak menabrakmu.” Lanjutnya. Aku mengangkat wajahku dan mendelik pada cowok yang berdiri dihadapanku. Aku mengenalnya, dia adalah orang yang hampir saja menabrakku.
“Kau?”
“Ya, aku yang tadi akan menabrakmu.” Aku tersentak. “Kaget melihat ku bisa berada di sini?”
“Tidak,” jawabku ketus. Aku berdiri tapi dia tahan, dia berjongkok di hadapanku dengan bertumpu pada lututnya.
“Aku hanya penasaran,” katanya membuatku menatapnya tajam, “Ada seorang cewek yang mau bunuh diri dengan cara yang bodoh.”
“Apa maksudmu?”
“Ternyata selain caramu yang bodoh, kau juga bodoh.” dia menyunggingkan senyuman sinisnya padaku. Hingga aku semakin menajamkan sorot mataku.
“Siapa kau? Aku tak kenal denganmu dan kau juga tidak kenal denganku. Kenapa kau berkata seperti itu?” tanyaku heran tak mengerti. Dia tidak mengenalku, dan seenaknya saja dia bilang kalau aku bodoh.
“Aku? Siapa? Kau tidak kenal dengan ku,hah?” dia merespon ku dengan kembali tersenyum sinis. eh?? Dia malah memberondongiku dengan pertanyaan seperti itu. kurang ajar...
“Apa aku harus mengenalmu?”
“What? Are you stupid girl..” balasnya. Lagi-lagi dia mengataiku bodoh.. grrr.
“Heh, aku tidak mengenalmu bukan berarti aku bodoh.” tandasku setajam mungkin. Dia kembali tersenyum. Masih sama sinis, aku berusaha menahan emosiku yang sudah memuncak. Hati batu.. geramku dalam hati.
“You’re stupid...”
Plakk.. tamparanku mengenai sasaran dengan mulus. Aku sudah kehabisan kesabaran. Dia yang bodoh bukan aku, siapa dia? Apa hubungannya denganku? Apa haknya mengatai aku dengan sebutan bodoh.
Dia meringis sambil mendesis pelan menahan perih di pipi tepat di sudut bibirnya. Ada sedikit aliran darah segar di sudut bibirnya. Rupanya, tanganku menamparnya dengan sangat keras, hingga dia terluka.
“Kau yang bodoh..”
“Hey, apa kau pikir orang yang mau bunuh diri itu pintar? Apa aksi seperti itu bisa menyelesaikan masalah? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, ibu dan keluargamu, apa yang mereka rasakan ketika kau pergi?” ucapnya dengan memberikan tekanan pada setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku tertegun. “Sekarang, kau mengerti kenapa aku mengataimu dengan sebutan bodoh?” tanyanya tanpa ada penekanan lagi, membuatku tersentak.
“Jadi, kau mengataiku bodoh karena itu? lalu apa hubungannya dengan aku tidak mengenalmu?” tanyaku, setelah tersadar oleh ketersimaan.
“Tidak ada.” Jawabnya singkat.
“Tidak ada? Artinya kau juga bodoh,”
“Hah? Kenapa?”
“Karena, pembicaraanmu melenceng. Apa kau tidak berpikir, kalau aku tidak mengenalmu dengan aksi bunuh diriku itu tidak ada kaitannya?” tanyaku, “Sama sekali..” lanjutku tajam.
Dia tersentak, “Oh tidak ada?” tanyanya kemudian, yang membuatku sebal dia mengucapkannya dengan intonasi yang santai.
“Iya,”jawabku ketus.
“Lalu?”tanyanya membuatku semakin yakin kalau cowok di hadapanku saat ini benar-benar bodoh.
“You’re stupid boy..” ucapku dengan penuh kemenangan.
Dia terdiam, dalam waktu yang cukup lama kami terdiam. Ucapan terakhirku tidak dijawabnya dan artinya aku menang. Dan terbukti, bukan aku yang bodoh tapi DIA.
***
“Aku pulang,” ucapku ketika akan memsuki rumah, tapi aku langsung menghentikan langkah kakiku tepat di depan pintu rumahku. Ada tiga orang duduk di sofa ruang tamu, Mama, Dita dan yang satu lagi...
“Mama, Dita, dan kau...” mata ku tertuju pada seorang cowok yang duduk dengan manatapku kuatir. “Kenapa kau di sini?” tanyaku menyelidik pada cowok yang masih menatapku.
“Livia,” mama berlari menghampiriku dan langsung memelukku. “mama mengkhawatirmu sayang.” Ucap mama menangis.
“Memang kenapa ma?”
“Livia, tadi mamamu menelponku, katanya kau pergi dari rumah.” Dita menjelaskan seraya berjalan menghampiriku.
“Lalu kenapa dia di sini?” tunjukku pada cowok yang masih duduk dan sebalnya dia masih menatapku.
“Aku menelpon Tama, dia bersedia membantu ku untuk mencarimu.”
Hah? Mencariku? Aku masih saja tidak mengerti maksud perkataan sahabatku yang satu itu. untuk apa mereka
mencariku, aku tidak mati, oops salah ralat.. aku tidak jadi mati.
“Oo,” mulutku hanya membentuk lingkarang dan berkata Oo..
“Kau istirahat saja, Liv.. mama kuatir padamu.” Mama melepaskan pelukannya dan menggandengku ke kamar. Aku jadi teringat dengan ucapan cowok bodoh tadi. Perkataannya ada benarnya juga, kalau aku pergi semuanya akan mengkhawatirkanku.
“Kalau mau pergi, seharusnya kau bilang dulu pada mama, biar mama bisa menemanimu.” Kata mama duduk di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum tipis kemudian mengangguk. Aku merebahkan tubuhku yang kembali terasa nyeri, setelah posisiku dalam keadaan pe-we, mama berdiri dan membuka pintu kamar untuk keluar.
“Ma,” panggilku menoleh ke arah mama. Mama balik badan, dia memandangiku dengan hangat. “maaf, sudah membuat mama kuatir.” Kemudian mama mengangguk dan keluar kamar dengan meninggalkan senyum.
Tak berapa lama setelah mama keluar dari kamarku, terdengar suara ketukan pintu, aku memerintahkannya masuk. Tama berdiri di ambang pintu kamarku.
“Boleh masuk?” tanyanya. Aku tak menyahut. Aku bingung harus menyahut apa padanya. Dia masuk dan menutup pintu. Berjalan mendekat ke tempat tidur ku.
Tak ada yang bisa kulakukan, aku bahkan tak berani menatap matanya, jangankan matanya, menyadari bahwa
aku sedang tidak bermimpi pun aku tak berani. Ini bukan sebuah khayalan ini kenyataan. Perasaanku yang dulu kembali datang dan hinggap dibenakku lagi. ingin rasanya aku manatapnya dalam-dalam, tapi aku tak bisa. Jangan-jangan nanti yang ada aku malah menangis tanpa sebab.
Dia menatapku, Tama, jangan tatap aku seperti itu, kalau memang kau tidak memberiku harapan, hentikan caramu menatapku.. aku membatin. Dia tak pernah mengerti, bagaimanapun aku meminta dia tak akan pernah memahami perasaan ku.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku tak bisa menahan.
“Aku, senang kau kembali.”
Syuuutt.. seakan ada kesejukan dihatiku mendengar ucapannya. Apa yang kau rasakan saat ini Tama??? Aku kembali bertanya tapi hanya pada hatiku. Apa kau memberiku harapan untuk bisa memilikimu? Tanyaku lagi. Tapi, percuma.. dia tidak akan mendengarnya.
“Terimakasih.” Sahutku singkat. Aku memalingkan wajahku menghadap ke arah lemari yang berada di samping kananku, menghindari tatapan itu. dia berbalik, mungkin dia akan meninggalkanku. Tama, jangan pergi dulu.. aku masih mau kau di sini.. hanya sejenak.. please.. lagi-lagi aku hanya bisa membatin. Kalian tahu, saat ini lah perasaan yang sangat menyakitkan. Ketika seseorang yang kita sukai berada di samping kita, tapi tak ada yang bisa kita lakukan. Karena, dia telah menjadi milik seseorang.
Tapi, tiba-tiba tubuhnya kembali berbalik dan dia langsung mengecup lembut keningku, kecupan yang singkat tapi mampu membuatku membeku, aku tertegun, aku kaget, hingga butiran bening menggumpal di pelupuk mataku. Tama mengecup keningku, suatu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, suatu yang ku anggap tak mungkin terjadi.
“Kau...” belum sempat aku mengeluarkan kata-kata dia sudah keluar tanpa menoleh ke arahku lagi. seketika juga, air mataku langsung tumpah. Entah perasaan apalagi yang aku rasakan sekarang. Sedih, bahagia, bahkan takut.. aku takut jika dia memberikan itu maka aku akan semakin mencintainya dan membuatku tak bisa melupakannya. Aku benar-benar takut.
“Aku membenci seseorang yang memberiku harapan..” ucapku di sela isakan tangis yang mulai membuatku berguncang.
“Apa dia bisa memahami rasa sakit hatiku hah?” gumamku lagi. “Apa dia hanya bisa memberiku sebuah harapan kosong? yang membuatku tak berdaya dan membuatku lemah menghadapi perasaanku?”
“BERHENTI MEMBERIKU HARAPAN...” jeritku menahan semua perih di hatiku.
***
“Sayang, makan ya?” mama membuka pintu kamarku dengan sebuah nampan berisi makan malam untukku. Aku menoleh.
“Ma,” panggilku. Mama duduk di tepi tempat tidurku lalu membelai kepalaku.
“Iya sayang?” mama tersenyum hangat membuatku merasa tenang.
“Kenapa waktu itu mama bilang, kalau Tama menyukaiku?”
“Karena dari sorot matanya, mama bisa melihat bahwa ada sebersit kasih sayang ketika dia menatapmu.” Jawab mama lembut membuatku tertegun.
“Lalu, apa mama yakin dengan perasaan mama?”
Mama mengangguk pelan tapi pasti hingga membuatku kembali tertegun, “Ya.”
“Tapi, dia sudah punya pacar ma” kataku tenang.
“Siapa?”
“Dita,” jawabku singkat seraya memalingkan wajahku agar mama tidak bisa mendapati kegalauan yang langsung menyergapku. Mama tidak menunjukkan raut wajah terkejut atau semacamnya.
“Kau cemburu?” aku tergagap, dan langsung menggeleng. “Mama mengandungmu selama sembilan bulan sepuluh hari. Mama yang membesarkanmu, mama yang merawatmu hingga kau beranjak dewasa seperti sekarang, sayang. Jadi,
kalau kau merasakan kesedihan yang membuatmu sakit hati.. mama juga seakan merasakan hal yang sama.”
“Aku sama sekali tidak cemburu, aku bahagia..” ucapku mengelak.
“Apa kau jujur pada perasaanmu?” mama terlihat sedang mencari kebenaran di mataku. “Jika kau membohongi hatimu, maka kau juga yang akan merasakan sakit itu sayang.” Lanjut mama.
Mama benar. Dan artinya, mama benar-benar mengerti perasaanku. Karena ikatan seorang ibu sangat berasar terhadap anaknya.
“Sekarang kau makan.” Mama menyodorkan sesendok makan nasi lembek dan sayuran pada ku. Aku pun dengan senang hati melahapnya.
“Terimakasih ma.” Kataku setelah selesai makan. Mama mengangguk dan tersenyum.
“Kau istirahat lagi, oke.”
Setelah merenung beberapa saat, akhirnya aku bisa terlelap dalam tidur malamku. Meskipun dalam keadaan galau, sedih dan bimbang aku harus bisa bertahan.
***
Embun pagi menetes membasahi dedaunan. Semburat sinar matahari membuatku terbangundari tidur malamku. Tadi malam, aku lupa menghidupkan jam beker milikku, hingga aku jadi bangun kesiangan. Apa? Kesiangan?? Buru-buru aku bangkit dan memandangi jam tanganku yang terletak di samping bantalku.
Aku langsung mendelik melihatnya, jam enam?? Astagaa.. aku telat. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan langsung mengguyur badanku. Setelah selesai, aku bergegas mengenakan baju seragam putih abu-abu sekolahku. Dan merapikan buku―kebiasaanku kalo pagi baru nyiapin buku―yang akan aku bawa ke sekolah.
“Livia, makan.” Panggil mama ketika aku membuka pintu kamarku. Mama berdiri dengan masih mengenakan celemek.
“Ma, aku telat,” ucapku memelas. “aku makan di sekolah saja,” kataku meraih tangan kanan mama dan menciumnya lalu berlari keluar rumah. Tanpa menghiraukan panggilan mama yang terdengar hingga satu kompleks rumahku.
***
Taksi yang ku naiki berhenti sepuluh meter dari gerbang sekolahku, dengan malas dan menahan perutku yang mulai keroncongan aku berjalan. Setibaku di depan gerbang sekolah, mataku langsung memanas, ralat maksudku mataku terasa sakit melihatnya. Apa-apaan coba, pacaran di tempat parkir? Bikin aku mau muntah saja melihatnya. Mereka benar-benar tidak mengerti perasaanku. Dan yang paling aku bingung, kenapa Dita bisa seperti itu. bukannya dia pernah bilang padaku kalau, Tama menyuk... ahh untuk apa aku mengingatnya. Sudah jelas-jelas Tama tidak menyukaiku, malah bilang begitu. Tapi, apa maksud kecupan kemarin sore? Apa dia... bodoh banget sih aku, cowok itu kan bermuka dua atau malah bermuka lima hmm, jadi sudah seharusnya aku mewajari perbuatan mereka..
“Benarkan, kau itu bodoh..” aku menoleh, dan aku mendelik. “hai..” katanya membuatku semakin tersadar kalau aku sekarang tidak sedang bermimpi.
“Kau lagi..” ucapku berjalan tak menggubris lambaian tangannya. Dia mengikutiku.
“Hei, kau sekolah di sini ya stupid girl?” tanyanya membuat telingaku seketika memerah. Aku menoleh lagi, sedangkan dia hanya tersenyum simpul tanpa merasa berdosa sama sekali telah mengataiku dengan sebutan ‘stupid girl’.
“Bisa berhenti mengataiku dengan sebutan itu, stupid boy??” tekanku pada cowok yang sedang berjalan mengejarku juga dengan sebutan yang sama.
“Kau itu, dari kemarin sukanya marah terus ya? Sungguh pertemuan yang buruk.” Ucapnya hingga aku merem langkah kakiku mendadak.
“Aku tidak mau bertemu dengan mu.” ucapku memberi penekanan.
“Oo, kalau beitu keputusanku kemarin ternyata masih salah.”
“Apa?”
“Untuk tidak menabrakmu.” Aku tertegun.
“Itu salahmu, kenapa kau tidak menabrakku saja?” kataku melanjutkan langkah kakiku.
“Karena, aku kasihan melihatmu.” Maksudnya??? Aku hanya bisa bengong mendengar pernyataan cowok itu. entah apa maksud dari kata-katanya. “Sekarang, aku mau kau membantuku.” Hah? Apa? Membantunya? Maksudnya?
Hah.. aku benar-benar bodddoooh.. kenapa jadi telmi begini?
“Aku tak mau.” Kataku menaiki tangga menuju kelasku.
***
Tama berjalan memasuki kelas dengan tangan kanan menggandeng tangan Dita. saat tatapan kami bertemu, buru-buru aku memalingkan kepalaku ke buku tulis Latihan Kimia yang sedang aku corat-coret mengerjakan tugas.
Aku benci tatapannya!!!
Tatapan itu membuatku sakit, aku MEMBENCINYA, kecamkan itu baik-baik...
“Livia, aku pinjam buku catatan Fisika ya.” Dita meletakkan tasnya di meja sebelahku. Aku mengangguk dan mengeluarkan buku catatan yang diminta Dita kemudian menyerahkannya dengan senyum dipaksakan.
“Ehm, sementara aku duduk di samping Tama. Aku memintanya untuk mengajariku. Nanti setelah bel berbunyi aku akan kembali.” Dia balik badan dan menghampiri Tama yang terus menunduk di kursinya.
Apa katanya? Meminta Tama untuk mengajarinya? Dia anggap aku apa? Biasanya juga aku yang mengajarinya? Kenapa sekarang tama? Apa hubungannya coba sama Tama?
“Aku duduk di sini ya?” aku mengangkat wajahku mengarahkan ke asal suara. Dan tercengang melihatnya.
Rabu, 13 Juli 2011
FEELING...? [1]
FEELING...?
Hari-hari ku yang lalu tidak akan pernah terulang lagi, begitu juga hari-hari kalian. Karena waktu akan terus berjalan maju dan bumi akan terus berputar pada satu poros. Aku bukan manusia sempurna yang setiap saat bisa tersenyum dengan hati yang penuh luka. Bukan juga manusia yang setiap saat bisa menahan amarah dan tentu saja aku juga bukan manusia yang selalu bisa menahan suatu perasaanku terhadap orang lain.
“Livia,” panggil seseorang dari belakangku. Langkah kakiku langsung aku tahan kemudian aku menoleh ke arah asal suara yang memanggilku. Tama memanggil ku. Dia teman sekelasku, pindahan dari sekolah favorit di Surabaya. Dia setengah berlari untuk menghampiriku. Aku menunggunya sampai dia berada di sampingku.
“Apa?” tanya ku sedikit ketus. Dia masih berusaha menyempurnakan napasnya yang tersengal karena berlari.
“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya membuatku mengerutkan kening. “Besok aku harus pergi ke Surabaya untuk menjenguk kakek ku. Dan besok juga aku harus mengikuti lomba cerdas cermat mewakili sekolah kita.” Dia menghela napas sejenak, “Bisa kau menggantikan ku untuk mengikutinya?” tanyanya mambuatku melongo habis-habisan.
Yang benar saja, aku harus menggantikannya dalam lomba? aku berbalik, dan itu membuatnya kembali mengikuti
langkah kakiku yang semakin cepat.
“Bagaimana Liv?” tanyanya memastikan. Aku belum berani menjawab permintaannya. Besok lomba dan sekarang aku belum belajar sama sekali untuk persiapan.
“Kenapa aku?”
“Karena, kata Hadi kau pintar dan cerdas”
“Hah?”dia mengangguk.
“Kau tau, aku tidak mungkin menghadiri keduanya dalam waktu yang sama.” Katanya, aku tetap berjalan lurus ke depan tanpa menggubris ucapannya. “Dan seandainya kau berada pada posisi ku kau juga akan melakukan hal yang sama bukan?” mendengar ucapannya, langkah kaki ku terhenti.
“Aku tidak mungkin bisa, Tama”
“Kenapa?”
“Karena, aku belum ada persiapan sama sekali,” jawabku jujur. Dia terlihat berpikir. Kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya dan itu membuatku bingung.
“Aku akan membantumu malam ini,” aku langsung melongo mendengarnya.
***
Pukul 07.23,,,
“Livia,” panggil mama dari depan kamar ku. Malas sudah menggerogoti ku, sudah hampir satu jam aku berguling-guling di tempat tidur. Pikiran ku tertuju pada permintaan Tama pulang sekolah tadi, untuk menggantikannya mengikuti lomba. Dengan gontai aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu yang ku kunci rapat.
“Teman kamu ada yang datang,” ucap mama menyadarkanku. “Laki-laki,” lanjut mama kali ini dengan tatapan menyelidik. Bulu kuduk ku sampai merinding melihat mama menatapku seperti itu.
“Dia teman sekelas ku ma,” kataku malas.
“Oya?”
“Iya,” tanpa menunggu pertanyaan yang membuatku kabur nantinya, lebih dulu aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Ternyata orang yang mama maksud itu Tama, dia sudah duduk manis di sofa ruang tamu rumahku.
Aku menghempaskan badanku di sofa dekat dinding. Kemudian menatap Tama sebal. Dia balas menatap dengan sorot mata yang lembut dan memelas.
“Baik lah” ucapku singkat, karena aku tahu dia akan memohon hal yang sama seperti di koridor sekolah tadi siang.
Senyum cerah langsung mengembang, dan dia menyerahkan sebuah buku matematika tebal pada ku. Aku hanya memandangi buku yang sudah ku pegang dengan bengong.
“Kita mulai pelajarannya,” ucapnya bersemangat...
***
Waktu mengerjakan soal sudah berjalan lebih dari separuh waktu. Dan aku baru mengerjakan tujuh puluh soal dari jumlah seratus soal. Astaga.. ini benar-benar membuatku gila. Masih ada tiga puluh soal lagi yang harus aku selesaikan. Otakku sudah buntu, sama sekali tidak ada jawaban yang masuk akal di kepalaku.
“Anak-anak, waktu kalian tinggal sepuluh menit lagi,”
“HAAAHHH???” pekik semua anak dalam ruanganku. Aku diam, aku berusaha mengerjakan lebih cepat lagi. tanganku terus mencorat-coret kertas buram yang diberikan oleh pengawas ruang tadi pagi. Otakku juga terus berputar menemukan jawaban yang paling tidak ada sedikit masuk akal dalam pertanyaan soal.
Waktu terus berjalan, tanpa memperdulikan masalah yang aku hadapi, tanpa memberiku sedikit toleransi. Menyebalkan..
“Sekarang, kumpulkan semuanya,” perintah pengawas ruang. Whaat?? Masih lima buah soal lagi pak pengawas.. batinku memekik. Aku tidak bergerak atau yang lebih tepatnya aku tetap ditempatku. Sampai akhirnya pengawas ruang menghampiriku dan mencoba menarik paksa kertas jawaban.
“Biar aku silang dulu jawaban yang tersisa.” Ucapku, dengan cepat aku menyilang jawaban yang ku anggap paling tepat. Lalu aku menyerah kertas jawabanku dan stelah itu aku berdiri kemudian berlari keluar ruangan.
***
“Bagaimana lombanya??” tanya seseorang membuatku memekik pelan. Tama berada di depanku sekarang. Bukannya dia bilang dia akan pergi ke Surabaya? Lalu kenapa sekarang dia bisa berada di sini?
“Kau?”
“Hehe, keberangkatan ku dibatalkan,” ucapnya tersenyum.
“Kau hampir membuatku mati,” ucapku ketus lalu meninggalkannya yang terus menatapku dari belakang.
“Setidaknya kau masih hidup sampai saat ini” teriaknya yang terdengar jelas oleh semua telinga ditempat itu.
Dia sudah membuatku jadi orang paling bego sedunia. Bersusah payah aku mengerjakan soal itu ternyata dia enak-enakan diluar. Sialan.. umpatku dalam hati.
Dengan penuh amarah aku berjalan menuju ruang kelas IX-IPA 6, itu kelas ku. Perasaan ku benar-benar kacau, hari ini merupakan hari yang paling sangat tidak menguntungkan untukku. Dengan cepat aku menghempaskan tubuhku di bangku kelas. Dita sudah menungguku, matanya seperti sedang menyelidik ke arahku. Jelas saja aku jadi salah tingkah sendiri ditatap seperti itu, emang aku penjahat apa?
“Masalah lagi?”
“Yup,”
“Tama?”
“Hu.umb.”
“Apa?”
“Dia seperti mengerjaiku.” Jawabku sambil menatap tajam ke arah pintu kelas. Dita menyadarinya dan tersenyum penuh arti. “Katanya dia akan berangkat ke Surabaya, dan aku disuruh menggantikannya.”
“Aku yang menyuruhnya,”
“Hah?” Dita mengangguk lalu tersenyum sambil merangkul bahuku, dia membisikkan beberapa kalimat ditelingaku dan membuatku nyaris kehilangan nyawa karena shok mendengarnya.
***
Mobil pak Manaf berhenti di depan gerbang rumah, dengan sigap aku melompat turun dan berlari ke dalam. Mama sudah menungguku di dapur, sepertinya mama akan memberondongiku dengan pertanyaan yang membuatku mati berdiri karena tadi malam.
“Livia,” panggil mama lembut selembutnya. Aku mengernyitkan dahi karena bingung dengan suara mama yang begitu lembut menyapaku. “kemari sayang.” Ucap mama lagi. dengan pertanyaan yang berkecamuk aku berjalan menghampiri mama yang duduk di salah satu kursi di depan meja makan.
“kenapa ma?”
“Tama itu anaknya pintar ya?” hah? Apa kata mama? Dia memuji Tama atau malah menyudutkanku. “Mama kagum sama dia,” lanjut mama. Aku duduk di samping mama dengan wajah bengong.
“Maksud mama?”
“Mama liat tadi malam waktu kalian belajar bersama matanya selalu tertuju padamu. Bukan bukumu.” Jelas mama. Sekali lagi yang aku lakukan hanya melongo dengan mulut menganga.
“Aku belum mengerti ma,”
“Sepertinya dia menyukaimu.”
Aku tersentak mendengarnya. Kenapa semua orang berpikiran begitu pada Tama. Kenapa semuanya berpikiran kalau Tama menyukaiku, ini dunia masih utuh kan ya?
“Mama, jangan berbicara yang aneh-aneh.” Kataku, kemudian berlalu dari hadapan mama. Mama terus menatapku sampai akhirnya aku menghilang dibalik pintu kamar.
***
Di kelas ku, aku merasa kalau ada seseorang yang memperhatikanku. Entah Cuma sekedar perasaanku atau memang kenyataan yang aku alami. Aku berusaha tidak menghiraukannya tapi selalu tidak bisa. Sepertinya, mata yang menatapku itu tajam sehingga aku tidak bisa menghindari perasaan ku.
Bel istirahat berbunyi, teman seisi kelasku sudah hampir keluar semuanya. Hanya tinggal aku dan Dita yang berada di dalam kelas. Dan satu orang lagi yang baru aku sadari kehadirannya. Tama. Setiap melihatnya rasanya aku pengen sekali menjotos hidungnya, bayangkan setiap aku bertemu dengan dia. Dia selalu memandangiku dengan pandangan yang seakan-akan aku adalah barang antik yang berada di sebuah museum. Bahkan lebih dari itu.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku ketika aku sedang memergokinya memandangku di kelas. Dia terlihat gelagapan, gugup dan wajahnya langsung memucat.
“hah? Melihat mu?” jawabnya terdengar kaget. Aku mengangguk penuh arti. Dia menggeleng cepat dan keluar kelas tanpa berani menatapku lagi.
Aku mengembalikan posisi dudukku, menghadap ke atas meja. Lalu meneruskan aktivitas membaca novel di dalam kelas.
***
Gramedia..
Kegiatan rutin mingguan yang tak pernah aku lewatkan adalah nongkrong di gramedia sambil membaca novel terbaru atau bahkan membelinya dalam jumlah yang lebih dari lima buah novel setiap minggunya. Aku berjalan memasuki gramedia dengan langkah pelan. Sambil melihat-lihat pemandangan yang sudah mulai membosankan, karena pemandangannya hanya ada lampu dan orang banyak yang berkeliaran ditempat itu. aku malah berdoa agar sekali saja aku bisa melangkah dengan tenang tanpa melihat keramaian di sekitarku. Aku membenci keramaian tapi tidak bisa menghindari keramaian. Itulah diriku.
Ketika aku sedang asyik-asyiknya mencari novel dan buku-buku fiksi lain, ternyata eh ternyata cowok tengik itu berada di sampingku. Oh My God..
“Mencari ini?” tanyanya sambil mengacungkah sebuah novel favoritku. Mataku terbelalak kaget.
“Kau lagi,” pekikku menatapnya tajam. Dia balas menatapku tapi tak ada sorot ketajaman seperti aku menatapnya.
“Ini, aku sudah membacanya.” Katanya lembut seraya menyerahkan buku itu padaku. Hanya satu kata yang bisa aku ucapkan dalam ketertegunan. “Terimakasih.” Lalu berjalan menjauh darinya.
***
Dua bulan kemudian...
Entah yang keberapa kalinya aku meneplak jidadku sendiri, menggeleng-gelengkan kepalaku, sampai memukul-mukul kepalaku. Selama satu minggu terakhir, perasaanku berasa begitu aneh. Apalagi ketika aku berpapasan dengan Tama, rasanya jantungku berdetak sangat cepat. Wajahku memancarkan rona yang membuatku harus menunduk ketika bertemu dengannya. Bahagia dan menenangkan langsung merasuk dalam jiwa ragaku. Apa kah ini perasaan...C.I.N.T.A..???
Aku berdoa semoga perasaan yang aku rasakan tidak berakhir sampai di sini. Aku ingin dia mengetahui semuanya meskipun bibirku tidak terbuka dan bersuara. Aku berharap agar perasaanku tidak hanya terjadi pada diriku sendiri tapi juga dia.
Sayangnya, semua yang aku harapkan, hancur dalam waktu kurang dari satu minggu. Aku sakit dan harus berobat keluar kota selama lima hari. Terpaksa aku tidak bisa bertemu ataupun berpapasan dengannya. Dan ketika aku datang ke sekolah, aku mendengar desas-desus para murid yang perlahan sampai ke telingaku. Tama jadian Dita sahabatku. Diam, diam dan diam itulah yang aku lakukan di dalam kelas. Aku pikir, Tama menyukaiku ternyata bukan aku yang dia sukai melainkan, Dita sahabatku. Rasanya hatiku sudah pecah menjadi kepingan kecil yang tidak bisa disatukan lagi. aku ingin menangis tapi aku tahan, aku tidak boleh mengecewakan sahabatku. meskipun aku sudah membohongi perasaanku sendiri.
Aku akui, aku memang salah. Aku tidak menceritakan semua perasaan ku pada siapapun. Just me, ya hanya aku dan Tuhan yang tahu. Selain itu no other.. aku memendamnya sendiri, menahan perasaanku sendiri dan menyembunyikan semuanya sendiri.
Oke, setelah kejadian itu hubungan ku dengan Tama merenggang. Dia tidak pernah lagi menguntitku. Aku tahu selama ini yang sering menguntitku adalah dia. Dita yang bilang padaku. Aku heran kenapa Dita memberi tahukan ku tentang masalah itu. Jujur aku merasa sangat kesepian sekarang, sangat bahkan lebih dari sangat...
Setiap waktu istirahat dimulai, yang aku lakukan mengekor di belakang keduanya (Tama dan Dita), sangat menyakitkan. Dan ketika di kantin aku seperti benar-benar IDIOT karena mereka. Tapi, setelah aku menyadari sesuatu perasaan yang menyejukkan kembali merasuk. Entah kembali itu hanya perasaanku atau bahkan...
Dia masih memperhatikanku melewati ekor matanya. Aku kaget, aku shok bahkan aku terkesima menyadarinya.
***
Mama menungguku di teras rumah, kemudian tersenyum lembut. Apa mama mengetahui masalahku? Itulah pertanyaan yang langsung muncul dikepalakuu. Aku hanya balas tersenyum simpul.
“Kamu punya masalah?” tanya mama menggandengku masuk ke dalam rumah. Aku menoleh kemudian menggeleng. Karena aku tidak mau membuatnya bingung dan kecewa. Aku harus bahagia di depannya. Dan kembali membohongi perasaanku.
“Tidak ma,”
“Lalu kenapa sorot matamu begitu sayu tadi pagi?” tanya mama lagi.
“Lagi banyak tugas sekolah, setelah aku tidak masuk lima hari yang lalu.” Jawabku berbohong. Mama mengangguk lalu memebelai kepalaku lembut.
“Kalau begitu, kau istirahat saja.” Usul mama, kemudian berjalan mendahuluiku dan masuk ke kamarnya. Aku terus memandang mama dengan tatapan meminta maaf. Dan aku juga berjalan memasuki kamarku.
Aku hempaskan tas di atas meja belajarku, memilukan adalah perasaan hatiku saat ini. Seandainya bisa memutar waktu aku akan memutarnya kembali ketika Tama belum pindah ke sekolahku. Agar aku tidak mencintainya karena tingkahnya yang aneh dengan tatapan matanya yang juga begitu aneh terhadapku.
“Why me?”
Tanyaku, kemudian membentangkan tangan lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Waktu tak akan pernah
mundur. Dan itu semakin membuatku patah hati because of love...
***
“Livia, kau tahu aku dan Tama kemarin...”
“Maaf Dit, aku lagi tidak enak badan. Nanti saja ya kau cerita!” kataku memotong ucapan Dita. Sengaja, aku bosan mendengar cerita bisunya. Cerita hampa, cerita kosong dan tanpa makna darinya. Setiap hari, setiap waktu selalu dia ceritakan tentang Tama. Apa tidak ada cerita lain yang bisa menenangkan perasaanku?
“Oh baik lah, mau ku antar ke UKS?”
“Tidak, terimakasih. Aku akan pergi sendiri.” Jawabku berdiri dari tempat dudukku. Dan berjalan menuju pintu luar kelas, tak sengaja aku berpapasan dengan Tama. Ada tatapan yang membuatku bergetar di matanya. Tapi, segera aku tepis karena sekarang Tama adalah milik Dita.
Apakah aku sanggup menahannya?
Apakah aku bisa membendungnya?
Apakah aku akan bertahan dalam keadaan seperti ini?
Apakah aku akan merasakan kebahagian dengannya seperti dia merasakannya sekarang?
Bagaimana jika aku gagal menyimpannya dan semua akan menjadi masalah besar bagiku...
***
Kenaikan ke kelas XII...
Sudah hampir setahun, perasaan itu menggantung tanpa terjatuh membentur perasaan orang lain. Sudah hampir setahun juga aku terus memendam perasaan ini tanpa ada yang tahu. Hampir setahun pula, aku selalu membohongi diriku, dirinya dan diri orang lain. Aku merasa hidup dalam kebohongan semata dalam dunia ini.
“Peringkat pertama jatuh kepada...” kata kepala sekolah yang akan mengumukan juara kelas kenaikan tahun ini. “Livia Annisa Putri.” Sorak menggema di ruang aula sekolah. Aku berdiri dan tersenyum pada semuanya yang mengucapkan selamat padaku. Dan berjalan mendekati panggung.
“Peringkat kedua jatuh kepada...” ulang kepala sekolah lagi, “Tama Rendra.” Sorak riuh kembali terjadi, setelah itu Tama berjalan menuju panggung dan berdiri di sampingku. Peringkat ketiga inilah yang membuatku sangat shok dan nyaris terhuyung. Dita Yunita. Astaga.. yang benar saja, ketika ujian semesteran dia meraih peringkat ke duapuluh dari empat puluh siswa dikelas ku.
Setelah menerima hadiah dan piagam penghargaan aku turun lebih dulu dan langsung berjalan keluar aula. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, akupun pulang ke rumah dengan hati kepenuhan kapasitas.
***
“Apa dia benar-benar tidak mengerti perasaanku?” aku menggerutu di dalam mobil. Pak Manaf menatapku lewat kaca spion mobil.
“Siapa mbak?” tanya Pak Manaf tersenyum penuh arti, aku tertegun. Aku baru sadar kalau aku tidak sendirian berada di dalam mobil.
“Orang gila pak.” Jawabku. Beliau terus menyunggingkan senyum padaku sampai aku jadi salah tingkah sendiri.
***
“Mama,” aku langsung menghampiri mama yang terduduk lemas di sofa ruang tamu. Mama menoleh, dan menyerahkan selembar surat padaku. Aku tidak mengerti dengan apa yang mama lakukan. Mama duduk di sofa dengan mata berkaca-kaca.
“Apa ini ma?”
“Surat buat mu,”
“Buat ku?” mama mengangguk lalu tersenyum miris. Perlahan tanganku membuka kertas surat yang terlipat yang mungkin saja baru mama lipat kembali setelah mama membacanya.
SURAT KETERANGAN DOKTER, membaca kalimat awalnya saja tubuhku serasa melemah. Aku tak sanggup membacanya, aku tahu itu adalah hasil diagnosa penyakitku. Aku takut jika hasilnya membuatku semakin tak bisa bertahan.
“Aku tidak bisa membacanya ma,” buru-buru aku melipatnya dan meletakkannya di atas meja. Lalu beranjak dari ruang tamu. Mama terus menatapku dengan tatapan iba dan menyakitkan.
***
“Kau baik?” tanya Dita ketika aku sedang melamun di teras belakang rumahku. Aku tersentak dan menoleh padanya. Dita tersenyum tipis.
“Ya, aku baik.” Jawabku singkat, kemudian balas tersenyum. Dita menyerahkan selembar surat yang tadi siang aku terima dari mama.
“Aku mohon, lebih baik kau baca surat ini.” Pinta Dita. Aku menggeleng, aku tidak mau membacanya. Karena aku tahu isinya. “Kenapa?”
“Aku takut,”
“Penyakitmu akan sembuh, jika kau lebih cepat membacanya,”
“Maksudmu?”
“Kalau kau tahu penyakitmu lebih awal, pasti pengobatannya akan segara di lakukan,”
“Memang kau tahu apa penyakitnya?”
“Ya, mamamu memberitahuku...”
“Apa?” aku bertanya dengan berat dan pelan tanpa berani manatap matanya.
“Kanker,”
Hari-hari ku yang lalu tidak akan pernah terulang lagi, begitu juga hari-hari kalian. Karena waktu akan terus berjalan maju dan bumi akan terus berputar pada satu poros. Aku bukan manusia sempurna yang setiap saat bisa tersenyum dengan hati yang penuh luka. Bukan juga manusia yang setiap saat bisa menahan amarah dan tentu saja aku juga bukan manusia yang selalu bisa menahan suatu perasaanku terhadap orang lain.
“Livia,” panggil seseorang dari belakangku. Langkah kakiku langsung aku tahan kemudian aku menoleh ke arah asal suara yang memanggilku. Tama memanggil ku. Dia teman sekelasku, pindahan dari sekolah favorit di Surabaya. Dia setengah berlari untuk menghampiriku. Aku menunggunya sampai dia berada di sampingku.
“Apa?” tanya ku sedikit ketus. Dia masih berusaha menyempurnakan napasnya yang tersengal karena berlari.
“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya membuatku mengerutkan kening. “Besok aku harus pergi ke Surabaya untuk menjenguk kakek ku. Dan besok juga aku harus mengikuti lomba cerdas cermat mewakili sekolah kita.” Dia menghela napas sejenak, “Bisa kau menggantikan ku untuk mengikutinya?” tanyanya mambuatku melongo habis-habisan.
Yang benar saja, aku harus menggantikannya dalam lomba? aku berbalik, dan itu membuatnya kembali mengikuti
langkah kakiku yang semakin cepat.
“Bagaimana Liv?” tanyanya memastikan. Aku belum berani menjawab permintaannya. Besok lomba dan sekarang aku belum belajar sama sekali untuk persiapan.
“Kenapa aku?”
“Karena, kata Hadi kau pintar dan cerdas”
“Hah?”dia mengangguk.
“Kau tau, aku tidak mungkin menghadiri keduanya dalam waktu yang sama.” Katanya, aku tetap berjalan lurus ke depan tanpa menggubris ucapannya. “Dan seandainya kau berada pada posisi ku kau juga akan melakukan hal yang sama bukan?” mendengar ucapannya, langkah kaki ku terhenti.
“Aku tidak mungkin bisa, Tama”
“Kenapa?”
“Karena, aku belum ada persiapan sama sekali,” jawabku jujur. Dia terlihat berpikir. Kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya dan itu membuatku bingung.
“Aku akan membantumu malam ini,” aku langsung melongo mendengarnya.
***
Pukul 07.23,,,
“Livia,” panggil mama dari depan kamar ku. Malas sudah menggerogoti ku, sudah hampir satu jam aku berguling-guling di tempat tidur. Pikiran ku tertuju pada permintaan Tama pulang sekolah tadi, untuk menggantikannya mengikuti lomba. Dengan gontai aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu yang ku kunci rapat.
“Teman kamu ada yang datang,” ucap mama menyadarkanku. “Laki-laki,” lanjut mama kali ini dengan tatapan menyelidik. Bulu kuduk ku sampai merinding melihat mama menatapku seperti itu.
“Dia teman sekelas ku ma,” kataku malas.
“Oya?”
“Iya,” tanpa menunggu pertanyaan yang membuatku kabur nantinya, lebih dulu aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Ternyata orang yang mama maksud itu Tama, dia sudah duduk manis di sofa ruang tamu rumahku.
Aku menghempaskan badanku di sofa dekat dinding. Kemudian menatap Tama sebal. Dia balas menatap dengan sorot mata yang lembut dan memelas.
“Baik lah” ucapku singkat, karena aku tahu dia akan memohon hal yang sama seperti di koridor sekolah tadi siang.
Senyum cerah langsung mengembang, dan dia menyerahkan sebuah buku matematika tebal pada ku. Aku hanya memandangi buku yang sudah ku pegang dengan bengong.
“Kita mulai pelajarannya,” ucapnya bersemangat...
***
Waktu mengerjakan soal sudah berjalan lebih dari separuh waktu. Dan aku baru mengerjakan tujuh puluh soal dari jumlah seratus soal. Astaga.. ini benar-benar membuatku gila. Masih ada tiga puluh soal lagi yang harus aku selesaikan. Otakku sudah buntu, sama sekali tidak ada jawaban yang masuk akal di kepalaku.
“Anak-anak, waktu kalian tinggal sepuluh menit lagi,”
“HAAAHHH???” pekik semua anak dalam ruanganku. Aku diam, aku berusaha mengerjakan lebih cepat lagi. tanganku terus mencorat-coret kertas buram yang diberikan oleh pengawas ruang tadi pagi. Otakku juga terus berputar menemukan jawaban yang paling tidak ada sedikit masuk akal dalam pertanyaan soal.
Waktu terus berjalan, tanpa memperdulikan masalah yang aku hadapi, tanpa memberiku sedikit toleransi. Menyebalkan..
“Sekarang, kumpulkan semuanya,” perintah pengawas ruang. Whaat?? Masih lima buah soal lagi pak pengawas.. batinku memekik. Aku tidak bergerak atau yang lebih tepatnya aku tetap ditempatku. Sampai akhirnya pengawas ruang menghampiriku dan mencoba menarik paksa kertas jawaban.
“Biar aku silang dulu jawaban yang tersisa.” Ucapku, dengan cepat aku menyilang jawaban yang ku anggap paling tepat. Lalu aku menyerah kertas jawabanku dan stelah itu aku berdiri kemudian berlari keluar ruangan.
***
“Bagaimana lombanya??” tanya seseorang membuatku memekik pelan. Tama berada di depanku sekarang. Bukannya dia bilang dia akan pergi ke Surabaya? Lalu kenapa sekarang dia bisa berada di sini?
“Kau?”
“Hehe, keberangkatan ku dibatalkan,” ucapnya tersenyum.
“Kau hampir membuatku mati,” ucapku ketus lalu meninggalkannya yang terus menatapku dari belakang.
“Setidaknya kau masih hidup sampai saat ini” teriaknya yang terdengar jelas oleh semua telinga ditempat itu.
Dia sudah membuatku jadi orang paling bego sedunia. Bersusah payah aku mengerjakan soal itu ternyata dia enak-enakan diluar. Sialan.. umpatku dalam hati.
Dengan penuh amarah aku berjalan menuju ruang kelas IX-IPA 6, itu kelas ku. Perasaan ku benar-benar kacau, hari ini merupakan hari yang paling sangat tidak menguntungkan untukku. Dengan cepat aku menghempaskan tubuhku di bangku kelas. Dita sudah menungguku, matanya seperti sedang menyelidik ke arahku. Jelas saja aku jadi salah tingkah sendiri ditatap seperti itu, emang aku penjahat apa?
“Masalah lagi?”
“Yup,”
“Tama?”
“Hu.umb.”
“Apa?”
“Dia seperti mengerjaiku.” Jawabku sambil menatap tajam ke arah pintu kelas. Dita menyadarinya dan tersenyum penuh arti. “Katanya dia akan berangkat ke Surabaya, dan aku disuruh menggantikannya.”
“Aku yang menyuruhnya,”
“Hah?” Dita mengangguk lalu tersenyum sambil merangkul bahuku, dia membisikkan beberapa kalimat ditelingaku dan membuatku nyaris kehilangan nyawa karena shok mendengarnya.
***
Mobil pak Manaf berhenti di depan gerbang rumah, dengan sigap aku melompat turun dan berlari ke dalam. Mama sudah menungguku di dapur, sepertinya mama akan memberondongiku dengan pertanyaan yang membuatku mati berdiri karena tadi malam.
“Livia,” panggil mama lembut selembutnya. Aku mengernyitkan dahi karena bingung dengan suara mama yang begitu lembut menyapaku. “kemari sayang.” Ucap mama lagi. dengan pertanyaan yang berkecamuk aku berjalan menghampiri mama yang duduk di salah satu kursi di depan meja makan.
“kenapa ma?”
“Tama itu anaknya pintar ya?” hah? Apa kata mama? Dia memuji Tama atau malah menyudutkanku. “Mama kagum sama dia,” lanjut mama. Aku duduk di samping mama dengan wajah bengong.
“Maksud mama?”
“Mama liat tadi malam waktu kalian belajar bersama matanya selalu tertuju padamu. Bukan bukumu.” Jelas mama. Sekali lagi yang aku lakukan hanya melongo dengan mulut menganga.
“Aku belum mengerti ma,”
“Sepertinya dia menyukaimu.”
Aku tersentak mendengarnya. Kenapa semua orang berpikiran begitu pada Tama. Kenapa semuanya berpikiran kalau Tama menyukaiku, ini dunia masih utuh kan ya?
“Mama, jangan berbicara yang aneh-aneh.” Kataku, kemudian berlalu dari hadapan mama. Mama terus menatapku sampai akhirnya aku menghilang dibalik pintu kamar.
***
Di kelas ku, aku merasa kalau ada seseorang yang memperhatikanku. Entah Cuma sekedar perasaanku atau memang kenyataan yang aku alami. Aku berusaha tidak menghiraukannya tapi selalu tidak bisa. Sepertinya, mata yang menatapku itu tajam sehingga aku tidak bisa menghindari perasaan ku.
Bel istirahat berbunyi, teman seisi kelasku sudah hampir keluar semuanya. Hanya tinggal aku dan Dita yang berada di dalam kelas. Dan satu orang lagi yang baru aku sadari kehadirannya. Tama. Setiap melihatnya rasanya aku pengen sekali menjotos hidungnya, bayangkan setiap aku bertemu dengan dia. Dia selalu memandangiku dengan pandangan yang seakan-akan aku adalah barang antik yang berada di sebuah museum. Bahkan lebih dari itu.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku ketika aku sedang memergokinya memandangku di kelas. Dia terlihat gelagapan, gugup dan wajahnya langsung memucat.
“hah? Melihat mu?” jawabnya terdengar kaget. Aku mengangguk penuh arti. Dia menggeleng cepat dan keluar kelas tanpa berani menatapku lagi.
Aku mengembalikan posisi dudukku, menghadap ke atas meja. Lalu meneruskan aktivitas membaca novel di dalam kelas.
***
Gramedia..
Kegiatan rutin mingguan yang tak pernah aku lewatkan adalah nongkrong di gramedia sambil membaca novel terbaru atau bahkan membelinya dalam jumlah yang lebih dari lima buah novel setiap minggunya. Aku berjalan memasuki gramedia dengan langkah pelan. Sambil melihat-lihat pemandangan yang sudah mulai membosankan, karena pemandangannya hanya ada lampu dan orang banyak yang berkeliaran ditempat itu. aku malah berdoa agar sekali saja aku bisa melangkah dengan tenang tanpa melihat keramaian di sekitarku. Aku membenci keramaian tapi tidak bisa menghindari keramaian. Itulah diriku.
Ketika aku sedang asyik-asyiknya mencari novel dan buku-buku fiksi lain, ternyata eh ternyata cowok tengik itu berada di sampingku. Oh My God..
“Mencari ini?” tanyanya sambil mengacungkah sebuah novel favoritku. Mataku terbelalak kaget.
“Kau lagi,” pekikku menatapnya tajam. Dia balas menatapku tapi tak ada sorot ketajaman seperti aku menatapnya.
“Ini, aku sudah membacanya.” Katanya lembut seraya menyerahkan buku itu padaku. Hanya satu kata yang bisa aku ucapkan dalam ketertegunan. “Terimakasih.” Lalu berjalan menjauh darinya.
***
Dua bulan kemudian...
Entah yang keberapa kalinya aku meneplak jidadku sendiri, menggeleng-gelengkan kepalaku, sampai memukul-mukul kepalaku. Selama satu minggu terakhir, perasaanku berasa begitu aneh. Apalagi ketika aku berpapasan dengan Tama, rasanya jantungku berdetak sangat cepat. Wajahku memancarkan rona yang membuatku harus menunduk ketika bertemu dengannya. Bahagia dan menenangkan langsung merasuk dalam jiwa ragaku. Apa kah ini perasaan...C.I.N.T.A..???
Aku berdoa semoga perasaan yang aku rasakan tidak berakhir sampai di sini. Aku ingin dia mengetahui semuanya meskipun bibirku tidak terbuka dan bersuara. Aku berharap agar perasaanku tidak hanya terjadi pada diriku sendiri tapi juga dia.
Sayangnya, semua yang aku harapkan, hancur dalam waktu kurang dari satu minggu. Aku sakit dan harus berobat keluar kota selama lima hari. Terpaksa aku tidak bisa bertemu ataupun berpapasan dengannya. Dan ketika aku datang ke sekolah, aku mendengar desas-desus para murid yang perlahan sampai ke telingaku. Tama jadian Dita sahabatku. Diam, diam dan diam itulah yang aku lakukan di dalam kelas. Aku pikir, Tama menyukaiku ternyata bukan aku yang dia sukai melainkan, Dita sahabatku. Rasanya hatiku sudah pecah menjadi kepingan kecil yang tidak bisa disatukan lagi. aku ingin menangis tapi aku tahan, aku tidak boleh mengecewakan sahabatku. meskipun aku sudah membohongi perasaanku sendiri.
Aku akui, aku memang salah. Aku tidak menceritakan semua perasaan ku pada siapapun. Just me, ya hanya aku dan Tuhan yang tahu. Selain itu no other.. aku memendamnya sendiri, menahan perasaanku sendiri dan menyembunyikan semuanya sendiri.
Oke, setelah kejadian itu hubungan ku dengan Tama merenggang. Dia tidak pernah lagi menguntitku. Aku tahu selama ini yang sering menguntitku adalah dia. Dita yang bilang padaku. Aku heran kenapa Dita memberi tahukan ku tentang masalah itu. Jujur aku merasa sangat kesepian sekarang, sangat bahkan lebih dari sangat...
Setiap waktu istirahat dimulai, yang aku lakukan mengekor di belakang keduanya (Tama dan Dita), sangat menyakitkan. Dan ketika di kantin aku seperti benar-benar IDIOT karena mereka. Tapi, setelah aku menyadari sesuatu perasaan yang menyejukkan kembali merasuk. Entah kembali itu hanya perasaanku atau bahkan...
Dia masih memperhatikanku melewati ekor matanya. Aku kaget, aku shok bahkan aku terkesima menyadarinya.
***
Mama menungguku di teras rumah, kemudian tersenyum lembut. Apa mama mengetahui masalahku? Itulah pertanyaan yang langsung muncul dikepalakuu. Aku hanya balas tersenyum simpul.
“Kamu punya masalah?” tanya mama menggandengku masuk ke dalam rumah. Aku menoleh kemudian menggeleng. Karena aku tidak mau membuatnya bingung dan kecewa. Aku harus bahagia di depannya. Dan kembali membohongi perasaanku.
“Tidak ma,”
“Lalu kenapa sorot matamu begitu sayu tadi pagi?” tanya mama lagi.
“Lagi banyak tugas sekolah, setelah aku tidak masuk lima hari yang lalu.” Jawabku berbohong. Mama mengangguk lalu memebelai kepalaku lembut.
“Kalau begitu, kau istirahat saja.” Usul mama, kemudian berjalan mendahuluiku dan masuk ke kamarnya. Aku terus memandang mama dengan tatapan meminta maaf. Dan aku juga berjalan memasuki kamarku.
Aku hempaskan tas di atas meja belajarku, memilukan adalah perasaan hatiku saat ini. Seandainya bisa memutar waktu aku akan memutarnya kembali ketika Tama belum pindah ke sekolahku. Agar aku tidak mencintainya karena tingkahnya yang aneh dengan tatapan matanya yang juga begitu aneh terhadapku.
“Why me?”
Tanyaku, kemudian membentangkan tangan lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Waktu tak akan pernah
mundur. Dan itu semakin membuatku patah hati because of love...
***
“Livia, kau tahu aku dan Tama kemarin...”
“Maaf Dit, aku lagi tidak enak badan. Nanti saja ya kau cerita!” kataku memotong ucapan Dita. Sengaja, aku bosan mendengar cerita bisunya. Cerita hampa, cerita kosong dan tanpa makna darinya. Setiap hari, setiap waktu selalu dia ceritakan tentang Tama. Apa tidak ada cerita lain yang bisa menenangkan perasaanku?
“Oh baik lah, mau ku antar ke UKS?”
“Tidak, terimakasih. Aku akan pergi sendiri.” Jawabku berdiri dari tempat dudukku. Dan berjalan menuju pintu luar kelas, tak sengaja aku berpapasan dengan Tama. Ada tatapan yang membuatku bergetar di matanya. Tapi, segera aku tepis karena sekarang Tama adalah milik Dita.
Apakah aku sanggup menahannya?
Apakah aku bisa membendungnya?
Apakah aku akan bertahan dalam keadaan seperti ini?
Apakah aku akan merasakan kebahagian dengannya seperti dia merasakannya sekarang?
Bagaimana jika aku gagal menyimpannya dan semua akan menjadi masalah besar bagiku...
***
Kenaikan ke kelas XII...
Sudah hampir setahun, perasaan itu menggantung tanpa terjatuh membentur perasaan orang lain. Sudah hampir setahun juga aku terus memendam perasaan ini tanpa ada yang tahu. Hampir setahun pula, aku selalu membohongi diriku, dirinya dan diri orang lain. Aku merasa hidup dalam kebohongan semata dalam dunia ini.
“Peringkat pertama jatuh kepada...” kata kepala sekolah yang akan mengumukan juara kelas kenaikan tahun ini. “Livia Annisa Putri.” Sorak menggema di ruang aula sekolah. Aku berdiri dan tersenyum pada semuanya yang mengucapkan selamat padaku. Dan berjalan mendekati panggung.
“Peringkat kedua jatuh kepada...” ulang kepala sekolah lagi, “Tama Rendra.” Sorak riuh kembali terjadi, setelah itu Tama berjalan menuju panggung dan berdiri di sampingku. Peringkat ketiga inilah yang membuatku sangat shok dan nyaris terhuyung. Dita Yunita. Astaga.. yang benar saja, ketika ujian semesteran dia meraih peringkat ke duapuluh dari empat puluh siswa dikelas ku.
Setelah menerima hadiah dan piagam penghargaan aku turun lebih dulu dan langsung berjalan keluar aula. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, akupun pulang ke rumah dengan hati kepenuhan kapasitas.
***
“Apa dia benar-benar tidak mengerti perasaanku?” aku menggerutu di dalam mobil. Pak Manaf menatapku lewat kaca spion mobil.
“Siapa mbak?” tanya Pak Manaf tersenyum penuh arti, aku tertegun. Aku baru sadar kalau aku tidak sendirian berada di dalam mobil.
“Orang gila pak.” Jawabku. Beliau terus menyunggingkan senyum padaku sampai aku jadi salah tingkah sendiri.
***
“Mama,” aku langsung menghampiri mama yang terduduk lemas di sofa ruang tamu. Mama menoleh, dan menyerahkan selembar surat padaku. Aku tidak mengerti dengan apa yang mama lakukan. Mama duduk di sofa dengan mata berkaca-kaca.
“Apa ini ma?”
“Surat buat mu,”
“Buat ku?” mama mengangguk lalu tersenyum miris. Perlahan tanganku membuka kertas surat yang terlipat yang mungkin saja baru mama lipat kembali setelah mama membacanya.
SURAT KETERANGAN DOKTER, membaca kalimat awalnya saja tubuhku serasa melemah. Aku tak sanggup membacanya, aku tahu itu adalah hasil diagnosa penyakitku. Aku takut jika hasilnya membuatku semakin tak bisa bertahan.
“Aku tidak bisa membacanya ma,” buru-buru aku melipatnya dan meletakkannya di atas meja. Lalu beranjak dari ruang tamu. Mama terus menatapku dengan tatapan iba dan menyakitkan.
***
“Kau baik?” tanya Dita ketika aku sedang melamun di teras belakang rumahku. Aku tersentak dan menoleh padanya. Dita tersenyum tipis.
“Ya, aku baik.” Jawabku singkat, kemudian balas tersenyum. Dita menyerahkan selembar surat yang tadi siang aku terima dari mama.
“Aku mohon, lebih baik kau baca surat ini.” Pinta Dita. Aku menggeleng, aku tidak mau membacanya. Karena aku tahu isinya. “Kenapa?”
“Aku takut,”
“Penyakitmu akan sembuh, jika kau lebih cepat membacanya,”
“Maksudmu?”
“Kalau kau tahu penyakitmu lebih awal, pasti pengobatannya akan segara di lakukan,”
“Memang kau tahu apa penyakitnya?”
“Ya, mamamu memberitahuku...”
“Apa?” aku bertanya dengan berat dan pelan tanpa berani manatap matanya.
“Kanker,”
Langganan:
Komentar (Atom)
