Powered By Blogger

Jumat, 16 September 2011

FEELING...? [9]

FEELING...??[9]





Cowok bertubuh tegap tinggi berdiri di depan pintu. Seulas senyum terukir dibibirnya ketika mata kami bertemu. Sekali lagi, aku teliti detak jantungku. Semuanya normal. Berdetak seperti biasa, tidak cepat juga tidak lambat. Hatiku juga tenang, tidak gelabakan dan berdesir seperti beberapa hari yang lalu saat aku masih memberinya harapan.



Aku balas menatapnya dengan senyum simpul dibibirku.



“Ya, hai juga.” Sahutku pelan.



“Mau ikut aku jalan?” ajaknya eh atau yang lebih bagus tanyanya.



“Jalan? Kemana?” dahiku mengerut. Sejenak aku berpikir. Tama mengajakku jalan? Bukankan ini impianku? Tapi, impianku yang dulu.. dulu sekali. Sekarang aku sudah punya pacar, untuk apa aku menerima tawarannya? Nanti juga Alfar akan mengajakku jalan. Pikirku panjang lebar.



“Kemana aja deh, kalau kamu mau aku bisa ngajak kamu kemana kamu mau.” Jawabnya.



“Tam,” sahutku sangat pelan. “Bukannya aku tidak mau jalan sama kamu. tapi..”



“Tapi apa Liv?” tanyanya.



“Tam, aku mau bicara sama kamu. Dan aku mohon, kamu harus ngerti keadaan aku.” Ucapku tidak melanjutkan ucapaku. Aku ingin menjelaskan semuanya pada Tama. Semua! Sejak aku menyukainya. Sampai semua perasaanku hilang padanya dan sampai aku menjalin hubungan dengan Alfar. “Masuk dulu,” ajakku membukakan daun pintu selebar-lebarnya.



Dia mengangguk dan berjalan mengikutiku. Aku menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu. Kemudian aku beranjak ke belakang sekaligus membuatkan suguhan untuknya. Setelah selesai barulah aku kembali ke ruang tamu dan menyerahkan secangkir teh hangat.



Aku mengambil tempat duduk tidak jauh darinya.



“Mau bicara apa Liv?” ucap Tama.



Wajahku yang kutundukkan, sejurus kemudian langsung mengarah padanya. Perlahan tapi pasti. Aku mulai membuka mulut.



“Tam, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?” tanyaku tanpa berani menatap matanya. Namun wajahku masih

kuarahkan ke hadapannya.



“Ya, apa?”



“Kamu tidak putus sama Dita kan?” tanyaku lagi. Dia sedikit tersentak mendengar pertanyaanku. Aku tahu itu.



Dia menghirup udara bebas di rumahku. Mengalihkan pandangannya kesemua sudut ruangan. Mungkin berusaha menetralkan perasaannya yang sedikit tersentak karena pertanyaanku.



“Liv.. kayaknya, kita harus bicara di luar lingkungan rumah kamu. Aku juga mau menyampaikan sesuatu sama kamu.” dia malah mengalihkan pembicaraan. “Ada sesuatu yang mau aku jelasin sama kamu, Liv.” Susulnya cepat.



Aku beranikan diriku manatap matanya. “Baiklah. Ke Pantai pasir putih itu lagi ya. Sepertinya, di sana tempat yang pas! Aku ke kamar sebentar. Ada yang mau aku ambil.”



Aku beranjak dari sofa. Melemparkan senyum pada sosok di depanku kemudian berlalu. Melangkah lamban

menuju kamarku. Melewati ruang keluarga, terlihat mama sedang asik menonton tv.



“Livia, Tama di tinggalin?” tanya Mama saat aku melaluinya.



“Ada yang mau aku ambil di kamar ma.” Jawabku. Aku kembali melanjutkan langkahku. Membuka pintu kamarku. Kemudian masuk dan menutupnya.



“Apa aku yakin akan jujur padanya?” aku bergumam. “Ya. Aku yakin. Untuk ku dan perasaanku.” Jawabku mantap.



Tanganku mengobrak-abrik laci meja belajarku. Mencari sebuah benda mungil berwarna perak. Setelah aku temukan, kutatap benda itu dengan seksama. Yakinlah! Begitu aku siap, segera aku pasangkan benda itu di baju yang ku kenakan sekarang.



Meskipun berat. Meskipun semua ini hanya sebagai kenang-kenangan. Meskipun benda ini hanya sebuah perantara kecil perasaanku. Aku akan mengembalikannya pada empunya. Pada seseorang yang pernah mendiami hatiku. Tanpa dia ketahui.



“Maaf, kamu harus aku kembalikan pada pemilikmu. Aku tidak mau kamu bertahan lebih lama di sisiku.” Aku bergumam lagi.



“Aku juga tidak mau mengingat sedikitpun tentangmu. Karena, walaupun aku sudah tidak ada perasaan padamu, kalau aku mengingatmu maka aku akan kembali sakit. aku tidak tahan menanggungnya.”



Dengan langkah pasti, setelah mengikat rambutku dan memoleskan sedikit bedak di wajahku, aku keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu.



Tama masih duduk di tempatnya.



“Sudah. Aku sudah siap. Kita berangkat sekarang.” Ucapku. Mungkin mengagetkannya. Karena dia seperti tersadar dari lamunannya. Tama mendongak dan berdiri. Kemudian tangannya terulur meraih sebelah tanganku. Aku tertegun.



“Tam, jangan gandeng tanganku.” Ucapku lirih. Maaf kan aku Tama, tapi inilah yang terbaik untukku. Juga untuk Kamu. Batinku.



Tama melepaskan tanganku dengan ragu dan terlihat salah tingkah.



“Maaf.” Ucapnya. Aku mengangguk. “Ayo, kita berangkat sekarang.” Ajaknya. Dia mendahuluiku.



Dia menstater motornya. Menyerahkan helmnya padaku. Aku menyambutnya.



“Naik.” Dia memberiku aba-aba. Aku menurut. Naik dengan duduk menyamping.



“Sudah.” Ucapku. Dia dengan sigap menggas motornya dan keluar dari perumahan rumahku.



Sepanjang perjalanan menuju pantai pasir putih. Tak ada yang membuka percakapan. Yang terdengar hanya suara riuhnya kendaraan yang berkeliaran di sekitar kami. Dunia terasa sangat sepi. Ikut meresapi perasaanku. Yang saat ini begitu tarasa hampa dan ketakutan. Entah kenapa, aku merasa akan kehilangan. padahal aku sudah memantapkan hatiku.



Tidak sampai lima belas menit menuju pantai itu. Entah kenapa perasaanku berkata kalau hari ini Tama memang berbeda. Dia ngebut di jalan. Bahkan tanganku harus melingkar di pinggangnya karena kecepatannya tergolong sangat cepat.



Seperti waktu itu, Tama memarkir motornya tepat di tempat yang sama, waktu aku dan dia pergi ke tempat ini. Aku turun dari motornya kemudian menyerahkan helm yang baru kulepas padanya. Dia menyambutnya.



Saat ini kami sudah berdiri di depan deburan ombak nan jernih. Kaki kami berpijak di hamparan pasir putih nan indah. Pasir yang sama sebagai permadani bumi.



“Indah ya.” Ucapku seraya mengambil napas dalam-dalam.



Tama menoleh padaku. Akupun juga menoleh padanya. Sesaat mata kami beradu. Jantungku kembali melompat-lompat tidak jelas. Kulihat mata coklatnya begitu teduh. Tapi... ada gejolak dimatanya yang membuat hatiku tidak tenang.



“Ya, sangat indah.” Sahut Tama. Dia alihkan pandangannya ke depan menuju deburan ombak. “Lalu, apa yang mau kamu bicarakan denganku?” lanjutnya. Mataku masih tertancap pada sosok ini.



“Kamu lebih dulu.” Tukasku cepat dan terdengar menuntut.



Dia tersenyum. “Aku menyukaimu Liv.” Dia berujar pelan tapi sangat nyata dan jelas. aku langsung diam. menjauhkan pandanganku sejauh mungkin. Mataku berkaca-kaca. Dia bilang menyukaiku? Apa maksudnya? Kenapa baru bicara sekarang? Kenapa baru sekarang ketika cinta dan harapanku untuknya menghilang?



“Tapi...”



“Dita bukan pacarku. Aku hanya berpura-pura dengannya!”



“Aku tidak ngerti Tam.” Cukup kaget dengan perkataannya. Dita? dia? pura-pura pacaran? Hmm..



“Liv, sejak awal aku pindah ke sekolah kita, sejak kamu marah-marah sama aku waktu kamu menggantikanku lomba. aku sudah naruh hati sama kamu.” ucapnya. “Aku yakin kamu juga punya perasaan yang sama denganku. Iya kan?” aku terdiam. Ya. Aku memang punya rasa yang sama. Tapi, itu dulu. Sebelum aku menyukai Alfar.



“Tam,”



“Liv, kamu mau kan jadi pemilik hatiku?” tanyanya.



Aku memalingkan wajahku. Menahan airmataku yang sudah bergejolak dipelupuk mataku.



Perlahan-lahan ku tarik napasku. “Maaf. Aku tidak bisa.”



“Tapi..”



“Tam, dulu sebelum hari ini. aku memang pernah menyukaimu.” Ucapku jujur. “Tapi, sejak aku tahu kamu pacaran sama sahabat aku. aku berusaha keras melupakanmu. Dan, kemunculan Alfar sangat membantuku.”



“Maksudmu?” tanyanya. Ada sedikit keraguan dalam suaranya.



“Aku sudah tidak suka sama kamu. aku bisa bilang kamu telat Tam. Kenapa? Karena, cukup lama aku memberimu kesempatan untuk ini. tapi, cukup lama pula aku menahan rasa sakitku. Kamu tahu, kalau aku juga menyukaimu? Tapi kenapa kamu baru bicara sekarang? Dan bukan diwaktu yang tepat? Kenapa harus berpura-pura pacaran dengan sahabatku dulu baru kamu mengatakannya? mau membuatku cemburu? Hah? Kamu keterlaluan tahu tidak. Kamu tidak tahu kayak apa perasaan aku? kayak apa besar harapan aku? kayak apa sakit hatiku setelah tahu itu? tidak tau kan? Dan, satu lagi...” aku kembali menghela napas panjang. Memberi sedikit kekuatan untuk diriku sendiri. Ku pejamkan mataku. Sesaat kemudian aku buka mataku.



“Aku sudah menjalin hubungan dengan Alfar! Dia, cukup membuatku berpaling darimu! Dengan segala perhatiannya, kasih sayangnya, tingkah lakunya, semuanya meyakinkan.” Jelasku panjang lebar.



“Tapi, bukankah kamu membencinya? Sejak awal, kamu selalu mengatainya dengan sebutan ‘stupid boy’. Berulang kali kamu menjauhinya, berusaha menyingkir darinya. Kenapa bisa kamu menjalin hubungan cinta dengannya?” dia merespon begitu cepat. Aku sampai bingung, bagaimana caraku menjelaskan sedetail-detailnya. Sampai dia benar-benar mengerti semuanya!



Aku meneguk air liurku dengan susah payah. Airmataku perlahan jatuh ke hamparan pasir putih. “Ya, tapi dia tidak seburukmu. Dia bersikeras mendekatiku. Apapun yang aku lakukan tidak pernah mendapat respon buruk darinya. Akhirnya aku sadar. Dia tidak pantas ku sebut stupid boy. Kenapa? Karena dia memang pintar mengambil hatiku.” Sejenak aku jeda kalimatku. “Asal kamu tahu Tam, aku punya penyakit yang sama sekali tidak bisa di sembuhkan. Maksudku hidupku sudah tidak lama lagi, artinya aku harus berhenti membohongi perasaanku sendiri.”



Dia terperangah. Dia hadapkan badannya padaku. Hening sesaat. Dia raih kedua pundakku. Mata kami kembali bertemu dengan rentetan pertanyaan yang mengambang di keduanya.



“Maksudmu?”



“Yang kamu katakan di sekolah tadi pagi benar. Waktu Alfar memintamu menggantikannya menemaniku khemo.

Dia sama sekali tidak lupa. Aku punya penyakit kanker.”



“Hei, jangan jadikan itu permainan.”



“Untuk apa aku menjadikannya permainan? Itu kenyataannya! Alfarlah yang selama ini membantuku. Sedangkan kamu, orang yang sangat ku harapkan tidak pernah mencurigaiku. Kenapa aku sering mimisan, kenapa aku sering sakit kepala, kenapa aku selama berminggu-minggu tidak masuk sekolah? Sama sekali tidak pernah terpintas dalam pikiranmu bukan?”



Hening lagi. Kini kedua tangannya yang mencengkram pundakku mulai mengendur. Matanya masih tertuju padaku. Dalam sekejap, dia memelukku. Di tempat yang sama dengan suasana yang berbeda.



“Liv, harusnya aku tahu itu.” gumamnya pelan hingga membuat tulang belakangku terasa nyeri. “Setidaknya, aku tidak melakukan hal bodoh itu.”



“Tam, jangan peluk aku.” ucapku lirih berusaha melepaskan rengkuhan kedua tangannya.



“Tolong, izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya. Sebelum semuanya menghilang.” Ucapnya lagi. Dia tenggelamkan wajahku di dadanya. Memberiku kesempatan untuk mendapatkan sedikit kasih sayangnya meskipun untuk yang terakhir kalinya. Membiarkanku ikut menyesali tindakanku. Membiarkanku untuk menjatuhkan airmataku didadanya. Aku biarkan baju hem putihnya basah karena airmataku.



Tak peduli keadaan sekitar yang selalu sepi. Tak peduli dengan matahari yang sebentar lagi akan menyemburkan cahayanya. Dia terus memelukku. Lama.. lama sekaliii... seakan sebantar lagi dia yang akan meninggalkanku.



Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Setelah membuang banyak airmataku, aku merasakan mataku berkabut entah karena apa. ku rasakan sedikit demi sedikit aliran yang keluar dari hidungku. Saat penglihatanku kembali normal, ku angkat wajahku. Baru aku sadar, ketika melihat baju putih Tama merah. Pastinya karena... aku mengusap hidungku dengan jemariku.. darahku yang mengalir lebih banyak lagi dari sebelumnya.



“Liv- k-kamu..”



“Ya, penyakitku semakin hari semakin parah. Sepertinya usaha pengobatan selama ini sia-sia saja ku lakukan. Tidak berguna sedikit pun. Walaupun ada, itu hanya memperpanjang hidupku dan menambah kesakitanku..” ucapku diikuti dengan runtuhnya airmataku.



“Tuhan punya rencana yang baik untukmu. Mungkin, Tuhan menyayangimu, tak mau membuatmu lebih banyak dosa. Dan Tuhan pasti sudah menyiapkan tempat yang indah untukmu.” Tama mengulurkan ibu jarinya, mengusap hidungku yang masih penuh dengan tetesan darah.



“Jangan buat Dita sedih. Dia sahabatku. sahabatku satu-satunya.”



“Dia yang membuat rencana ini untuk aku, bukan aku yang mau.”



“Aku titip Dita sama kamu, apapun itu. tolong jaga di-aww...” kalimatku tertahan. Aku menjerit ketika kepalaku terasa sangat sakit. Sebelah tanganku mencengkram kepalaku sendiri, sebelahnya lagi aku biarkan berpegangan pada Tama agar aku tidak limbung dan jatuh.



“Liv- kamu coleps...” Tama menahan tubuhku yang sangat lemah. Sepertinya tubuhnya juga lemah saat itu, hingga dia terduduk dengan tubuhku yang masih berada dalam rengkuhannya. Dia meraih saku celananya mengambil sebuah benda mungil dan menekan beberapa tombol. Sebelum aku pingsan, samar-samar aku mendengar untaian kata keluar dengan terbata-bata dari mulutnya. Senyum tipis terukir di bibirku dan pandanganku menghilang... aku hilang kesadaran...



Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ



Tama mencegat sebuah taksi dari area parkir pantai. Kedua tangannya menggendong tubuh Livia yang terkulai lemah tak berdaya. Bekas darah yang sudah mengering masih berbekas jelas di wajahnya. wajahnya yang molek begitu terlihat pucat. Sepucat rembulan di malam hari.



Wajah Tama tak kalah pucat dengan Livia. Dia kaget berat ketika melihat Livia kesakitan seperti tadi. Tanpa berbikir lebih panjang lagi, Tama menelpon Alfar yang notabene-nya saat ini adalah pemilih hati Livia.

Livia memang menyukainya. Dan dia juga menyukai Livia. Itu benar! Sayangnya, sekarang bukan itu keadaannya. Melaikan sudah berbalik. Tidak seperti yang dia harapkan. Harapannya juga kandas. Harapannya untuk bisa bersama cewek ini juga tak terwujudkan. Bisa dibilang Livia dan Tama... SERI.



Setelah mendapatkan taksi, dia langsung masuk dan meninggalkan motornya di area parkir pantai.



“Rumah sakit pak!” katanya keluar dengan penuh penekanan dari mulutnya. tangannya membelai lembut rambut panjang Livia yang sudah tak terikat beraturan. “Kamu harus kuat Liv, demi orang yang menyayangimu. Demi cinta yang kamu miliki, dan demi aku...” dia rebahkan kepala yang lemah itu di bahunya.



“Pak bisa tolong ngebut pak! Teman saya udah mau mati, bapak masih nyetir dengan santai begitu?” Tama berusaha memerintah supir taksi yang menyettir mobil itu dengan lambat.



“Iya mas, ini juga sudah ngebut.” Ucap pak supir dengan sedikit dikeraskan.



Tama tak menyahut lagi, pikirannya hanya terfokus untuk cewek di sampingnya yang pucat pasi.



Dia pandangi terus wajah Livia. Matanya menatap cewek itu dengan tatapan sayu. Tak bersemangat. Mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Semuanya bagaikan mimpi buruk. Menyaksikan sakit yang teramat pada seseorang yang sejak lama dicintainya namun baru tersampaikan setelah tahu kalau Livia sakit hati karenanya. Menyesal. Itu yang dia rasakan. Seandainya dia tidak berpura-pura pacaran dengan Dita―sahabat Livia―dan langsung mengatakan perasaannya pada Livia sebelum didahului oleh orang yang baru saja masuk dalam hidup Livia, pasti tidak akan sesakit ini yang Livia rasakan. Tidak seberat ini beban hidup Livia. Menanggung sakit dalam tubuhnya juga menanggung sakit hati karena cintanya.



Sakit hati tentu bukan hal yang mudah untuk dilupakan. Karena dia juga merasakannya. Sakit hati karena cinta. Apalagi, cinta itu belum sempat terwujud dalam hidupnya. Pasti sangat menyakitkan.



Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ



Tama frustasi. Dia gelisah. Matanya tak beralih dari sosok yang kini terbaring di ranjang rumah sakit dengan banyaknya alat bantu yang menempel di tubuh cewek itu. Beberapa orang perawat dikerahkan untuk membantu sang dokter yang terus berusaha memacu detak jantung Livia.



Sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya. Gadis itu. akan meninggalkannya setelah dia tau apa yang dirasakannya. Pertahanan airmatanya pun tak bisa lagi dibendungnya.



“Harusnya aku tau sejak dulu..” gumamnya lirih.



Everybody fall in love and then falls down



And I’m feeling so high, I’m feeling so high



For you...



Everybody fall in love and then falls down



And I’m feeling so high, I’m feeling for you



Boy I’m feeling for you...



Don’t let the music die



Don’t have to feel alone



You have to learn to say



Will be OK tomorrow



Don’t let the music die



Don’t have to feel alone



I got love and many reasons to love



Reasons to love..



Every step that I take brings you closer



In my dream... (Inna ft Play and Win-Feeling For You)



Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ



Alfar merogoh sakunya. Setelah menerima telpon dari Tama beberapa menit yang lalu. Pikirannya terus berkabut. Dia sedang diperjalanan menuju Bandung untuk menjemput sepupunya yang baru saja akan pindah sekolah. Setelah ponselnya dia langsung menghubungi Tama. Ingin tahu keadaan Livia saat ini.



“Tama, bagaimana Livia sekarang?” tanya Alfar masih terus berusaha fokus pada setirannya.



“Kritis Far.” Sahut suara di seberang dengan lemah. Ikut tak berdaya.



“Kamu ajak kemana sih dia? bisa-bisanya kamu membuatnya seperti itu! kamu tau, Livia itu udah masuk stadium berapa?”



Desahan kembali terdengar dari seberang. “Sorry, but I just wanna she feel better with me..”



“Tapi, kamu udah buat dia sekarat tau!” bentak Alfar tak bisa menahan emosinya. Takut kalau terjadi apa-apa, dia tepikan mobilnya di tepi jalan raya yang semakin semakin padat karena sudah mulai larut malam. “Seandainya terjadi apa-apa sama dia! orang yang pertama kali aku temui itu kamu.” ucap Alfar lagi dengan geraman emosinya yang memuncak.



Cintanya yang baru saja bersemi dihatinya dan Livia akan menghilang. Tentu dia tidak mau. Dia pejamkan matanya, kemudian dia kembali menekan beberapa nomor di ponselnya.



“Pa, aku batal ke Bandung! Livia coleps..” Alfar menghela napas panjang sebelum akhirnya memutar balik mobilnya menuju Rumah sakit tempat Livia dirawat.



Dia tak mungkin membiarkan Livia sendiri dalam hidupnya! Meskipun dia akan ditinggalkan.. sebagai janjinya, bahwa Bunganya tak akan pernah layu, dia akan selalu hidup sampai kapanpun dihatinya! Dia akan menyayangi dan mencintai cewek itu selama cewek itu belum meninggalkannya dan terus menyayanginya sampai maut tiba untuk memisahkannya.



“Livia, I will be there for you know! You must be survived for me...” gumamnya dengan runtuhnya airmata dari pelupuk matanya...

FEELING...? [8]

FEELING...??[8]



Meskipun aku sudah berusaha memfokuskan pikiranku pada pelajaran, aku selalu tidak bisa. Pikiranku tertuju pada satu orang yang besok dan besoknya laginya menjauh dari hidupku. Beberapa kali guru pengajarku menegurku karena tertangkap basah sedang melamun. Alfar yang duduk di sampingku juga menegurku. Tapi, aku hanya menjawab aku tidak apa-apa. sepertinya mulutku terkunci untuk mengatakan kalau dia jangan menyerahkan tugasnya pada Tama. Aku sedih. Kenapa aku tidak bisa mengatakannya langsung.



Waktu istirahat tiba, tidak sengaja aku mendengar Alfar mengajak Tama bicara di depan ruang kelas. Kakiku terasa berat. Ingin rasanya aku beranjak dari situ. Sayangnya tidak bisa. Mungkin, Tuhan memang ingin aku mendengar pembicaraan mereka.



“Bisa kamu membantuku?” Alfar memulai pembicaraannya. Jantungku berdegup. Takut. Aku tidak melihat reaksi Tama. Dia hanya diam. ku rasa dia hanya memberikan jawaban lewat anggukan.



“Mulai besok, kamu gantikan aku menemani Livia khemo. Bisa?”



Alfar ternyata benar-benar serius dengan ucapannya pagi tadi. Aku tertunduk lemah mendengar permintaannya barusan. Hatiku sepertinya terluka. Karena saat ini aku merasakan perih yang teramat sangat sakit. Apa Alfar tidak akan menemaniku lagi?



“Hah? Kamu serius?” Tama terkejut.



Lagi-lagi aku harus berharap. Semoga.. Tama tidak menerima tawaran Alfar!



“Ya aku serius..”



“Kenapa?” tanya Tama.



“Aku tidak bisa menyebut alasanku. Apa kamu mau?” ucap Alfar terdengar ragu.



“Tapi...”



“Demi Livia...” Alfar memotong kalimat Tama. Apa-apaan dia? kenapa demi aku? Aku tidak suka. Bukannya tadi dia bilang karena sepupunya datang, makanya tidak bisa menemaniku khemo? Ah, apa maksudnya?



Aku merasakan mataku mulai perih. Pasti sebentar lagi, akan turun hujan lokal yang bakal membuat teman-temanku heboh. Aku benar-benar tidak mengerti maksud Alfar.



Jangan terima Tama, aku mohon, Tama jangan terima tawaran itu! itu hanya membuatku sedih. Aku membatin. Benar, hujan lokal sudah turun dengan mulusnya!



“Ehm, baiklah.. sampai kapan?” ohh tidak.. Tama menerimanya. Aku tidak mau! Sumpah! Aku tidak mau, aku hanya mau dengannya! Dengan Alfar, kalian tahu?



“Sampai mana kamu bertahan,” jawab Alfar. Apa maksud kalimatnya untuk selama-lamanya? Alfar, kenapa? Apa kamu bosan menemaniku? Aku tahu aku selalu kasar, aku tidak pernah bersikap lembut denganmu. Tapi.. kenapa kamu tidak jujur padaku?



“Apa maksudmu?”



“Jangan tanya apa maksudku, yang penting kamu mau sudah membuatku merasa tenang.” jawab Alfar.



“Baiklah, aku bersedia...”



Dadaku sepertinya tersumbat bebatuan hingga membuatku sesak napas dan terasa sakit seperti terhimpit dua beton. Oh, Liviaa bukanka harusnya kamu bahagia karena impianmu dulu akan tercapai. Bukankah waktu itu kamu mencintai Tama? Kamu berharap agar Tama selalu bersamamukan? Sekarang semuanya terjadi, harapanmu, impianmu dan obsesi mu akan bersamamu Livia...



Aku terus berusaha memikirkan hal positif. Tapi, itulah aku. Semuanya sia-sia. Alfar tidak akan menemaniku khemo lagi. harapanku beberapa detik yang lalu musnah. Hilang. dan bahkan bisa tidak kembali. Aku menarik napas panjang. Astagaa.. bukankah Tama tidak mengetahui penyakitku? Bagaimana bisa dia menemaniku khemo, dia saja bahkan tidak tahu aku punya penyakit seganas itu.



“Alfar, kamu bilang tadi khemo? Bukannya itu pengobatan untuk penyakit kanker?” tanya Tama seolah tersadar dari tidur panjangnya. Dia baru menyadari, ya Tuhan.



Alfar terlihat gugup. Dia menggigit bibir bawahnya. Hah, apa dia lupa kalau Tama tidak tahu masalahku? Ceroboh dasar Stupid boy. Ku seka airmataku yang masih membasahi pipiku. Kemudian berjalan mendekati Alfar.



“Kamu benar-benar stupid boy! Minta bantuan pada dia, dia kan tidak tahu masalahku, dasar bodoh.” bisikku setelah tepat berada di sampingnya. Dia menghela napas panjang, kemudian tersenyum dipaksakan untuk Tama.



“Ehm, Tam tidak jadi. Aku lupa kalau Livia sudah sembuh. Hehe kemaren dia memang sempat khemo katanya kepalanya sering sakit jadi aku bawa saja ke dokter spesialis -kanker, ternyata dia tidak mengidap penyakit kanker. Maaf, ingatanku akhir-akhir ini sedikit terganggu.” Jelas Alfar panjang lebar. Bahkan nyaris tanpa titik koma. Membuatku mengulum tawa yang ketika Alfar menarik tanganku, tawaku pecah.



“Kamu ceroboh Alfar,” celotehku. Dia menoleh dan merangkul pundakku. Menyunggingkan senyum manisnya. Yang bisa melumpuhkan saraf-saraf yang berkerja di tubuhku. Jalanku pun dibuatnya terhenti.



“Sepertinya kamu bahagia, aku tidak jadi menyerahkan tugasku.” Gumamnya.



“EH?”



“Tadi kamu memata-mataiku kan?” Alfar mengedipkan sebelah matanya padaku.



“Hiiy, untuk apa?”



“Buktinya kamu tahu kalau aku membicarakan hal itu pada Tama?”



Bagus. Ternyata dia mengetahui keberadaanku tadi. Aku mendesah pelan. “Oke, aku memang memata-mataimu. Tapi, kalau tadi aku tidak begitu, mungkin semua orang akan tahu penyakitku.” Kataku dengan suara serendah-rendahnya.



Dia kembali tersenyum dan sekali lagi mengedipkan matanya. Kali ini dengan tanda kutip, ‘genit’.



“Mmm.. apa ada alasan lain? Mungkin kamu sedih kalau aku menyerahkannya pada Tama?”



“Yaaaa... sejujurnya tidak ada alasan lain selain yang tadi ku ucapkan, tapi untuk membuatmu senyum meringis

lagi, ada.”



“Haha, kenapa tidak bilang saja kalau kamu menyukaiku?”



Ucapannya membuat aliran darahku semakin cepat. Degup jantungku tidak bisa kukendalikan lagi. Aku memang menyukainya... aku langsung salah tingkah. Tanganku menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak terasa gatal. Kemudian menggigit bibir bawahku. Heh ketahuan sekali groginya.



“Hah?? Mimpi apa aku semalam jadi aku mengatakan aku menyukaimu?” tukasku cepat. Wah, pasti sekarang wajahku seperti cabe rawit lagi. ditambah dengan sedikit tatapan matanya yang menjurus padaku. Aku jadi semakin

gugup.



“Ternyata tamu cantik ya!” gumamnya seraya memiringkan kepalanya dengan mata yang terus tertuju padaku. Aku meneguk ludahku. Mataku tak bisa berkedip lagi.



“Baru sadar?” tanyaku berusaha bersikap biasa tapi yang ada aku malah gugup sangat luar biasa.



“Tidak, sudah lama aku sadar. Sejak pertama kali aku mau menabrakmu waktu itu aku sudah sadar kalau kamu...” dia menggantungkan kalimatnya, dan ketika dia akan melanjutkannya, terdengar teriakan seseorang...



“Livia, Alfar...!!” teriak seseorang dari belakang kami. Hatiku menggerutu karena Alfar benar-benar menghentikan kalimatnya setelah orang itu memanggilnya. Kecewaa! Aku kan mengaharapkan kelanjutannya. Beberapa saat setelah orang yang memanggilku dan Alfar berhenti di depanku, aku hanya menatapnya bingung. Dan tentu saja kesal.



“Ada apa, Dit?” Tanyaku pada oarang yang kini berdiri di depanku. Sahabatku. Dita.



“Hehe, mau makan siomay bersama kami?”tanyanya menyeringai lebar. Hah? Cuma mau menyampaikan itu? dasar Dita, tidak bisa apa dia melihatku bahagia sekali saja?



Aku mendesah pelan, sebelum menjawab ajakannya. “Aku kenyang Dita,”



“Boleh, aku mau.” Jawab Alfar. Aku menoleh. Mengernyitkan keningku. Dia, menerima ajakan Dita.



“Ehm, cuma makan bertiga? Livia, kamu beneran tidak mau ikut?” tanya Dita sekali lagi. aku mengangguk ragu. Dengan senyum masam menghiasi wajahku. “Oke baiklah, bertiga juga tidak masalah.” Ucap Dita.



“Liv, aku antar kamu ke kelas ya.” Alfar kembali merangkulku.



“Al, tidak usah. Kamu makan saja, nanti kalau kamu mengantarku ke kelas dulu keburu bel lagi.” tolakku.



“Liv, kamu sekarang tanggung jawabku. Ibumu menyuruhku untuk menjagamu, kalau aku tidak menjalankan perintah ibumu aku tidak akan diizinkan lagi untuk menemuimu.” Alfar menjelaskan alasannya. Tak pernah terpintas di pikiranku kalau dia begitu tulus membantuku. Tapi di balik semua ini ada ibuku. Ibuku yang menyuruhnya. Dia melakukannya juga demi aku, ‘kalau aku tidak menjalankan perintah ibumu aku tidak akan diizinkan lagi untuk menemuimu.’ Suaranya terngiang ditelingaku.



“Alfar,” panggilku.



“Mmm..”



Apa yang kamu rasakan saat bersamaku? Tanyaku dalam hati. Aku tidak berani menanyakannya. Apa demi aku kamu melakukan semua ini?



“Terimakasih. Dan Maaf..”



“Terimakasihmu aku terima, tapi maaf? Untuk apa?” dia menarikku perlahan menuju kelas.



“Maaf sudah merepotkanmu,” jawabku.



“Tidak perlu, aku ikhlas melakukannya.” Ucapnya. “aku ikhlas, karena aku menyukaimu...” lanjutnya.



Aku mematung. Apa yang baru saja dia katakan padaku? Dia... dia menyukaiku? Airmataku seketika kembali meluncur. Aku yakin dari tadi mataku sudah tertutupi oleh butiran itu.



“Hah?”desahku tidak percaya.



“Ya, aku menyayangimu Liv...” ucapnya lembut, dia mengerti keherananku. “Apa kamu juga punya perasaan yang sama?” tanyanya. Langkahnya dia hentikan, dia hadapkan badannya ke arahku kemudian meraih kedua pundakku. Matanya yang tajam menatap mataku. Mencari jawaban di mataku. Karena... cinta bisa dilihat dari tatapan mata seseorang!



Aku tersenyum. “Tapi... hidupku tidak lama lagi Al,”



Dia membelai rambutku yang kukucir kuda. “Izinkan aku menyayangimu selama kamu masih ada di hidupku.” dia menghapus airmataku. “Jangan menangis, aku akan ada untukmu.” Ucapnya lagi. dia sunggingkan senyumnya, “Bunga hidupku, adalah kamu.”



“Terimakasih. Apa kamu tidak malu punya bunga yang sebentar lagi akan layu dan meninggalkanmu?”



Dia menggeleng, “Bungaku tidak akan layu. Selamanya, dia selalu ada di sini!” katanya seraya menepuk-nepuk pelan dadanya. “Selalu ada, Liv. Dan aku tidak akan pernah malu punya bunga setegar kamu, meskipun kamu akan meninggalkanku.”



Aku kembali tersenyum, “Apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu?” tanyaku lagi, kembali diiringi dengan tetesan lembut airmataku.



“Kamu juga menyayangiku pun sudah cukup untuk membalas semuanya.”



“Baiklah, aku akan menyayangimu selamanya. Meskipun aku sudah...”



“Tidak ada kata mati dalam menyayangi, kamu tahu?” dia memotong kalimatku. “Sudah, bungaku jangan lagi

bersedih di depanku. Jangan juga bersedih di belakangku. Kita akan selalu bersama, jadi selamanya aku tidak akan mengizinkanmu bersedih. Mengerti??”



“Oke, baiklah pangeran. Aku tidak akan bersedih lagi.” candaku. Alfar tertawa.



“Janji?” dia mengulurkan telunjuknya di depan wajahku. Aku mengerutkan dahiku. Maksudnya dengan telunjuk

apa? “Kata orang, telunjuk mampu mengaitkan segala sesuatu termasuk janji. Seperti ini!” dia mengaitkan kedua telunjuknya. Memberikan permisalan agar aku melakukannya padanya.



“Oh,, aku janji.” Ucapku tersenyum riang. Dan mengulurkan telunjukku di depan wajahnya. dia tertawa lagi, kemudian mengaitkan telunjuknya di telunjukku yang terulur padanya.



Janji ku dan dia. semua perasaan tidak akan pernah mati sampai sang pemilik pun pergi meninggalkannya. Perasaan, harapan, impian.. akan selalu ada sampai kapan pun!!



***



Hari ini cukup membuatku melompat kegirangan di tempat tidurku. Aku mendapatkannya.. yaa aku mendapatkannya.. senang rasanya. Diharapkan orang yang aku harapkan! Itu yang aku inginkan sejak dulu. Kali ini, tanganku tidak lagi sendiri, jika dia ingin bertepuk maka ada yang menyambutnya! Tidak ada istilah bertepuk sebelah tangan untuk hari ini! yeeaayy!!!



When my hope becomes a true and my reality becomes a hope



I just can only hope continues on and on...



Until the time came and on my side..



And until my time came pick me up, and took me into your embrace again!!



Aku tenggelamkan wajahku di balik selimut. Menahan tawa dan jeritan histeris kebahagiaan yang akan keluar sebelum waktuku tiba. Masih tidak bisa ku percaya, aku dan Alfar... oh aku sama sekali tidak akan pernah bisa melupakan dia. Aku begitu bahagia. Lebih bahagia dari sebelumnya. Apapun tidak akan bisa menghapus kebahagiaanku selain maut yang akan menjemputku.



Aku sudah merasa jengah dengan bibir yang selalu tersungging dimanapun aku berada. Mama sudah mulai menaruh curiga padaku. Jelas saja, sejak pulang sekolah Mama membukakan pintu untukku, aku sudah cengengesan, yang menurut mama tanpa sebab. Tapi, sebagai seorang Mama, Mama selalu tahu apapun yang terjadi pada sang buah hati. Sudah menjadi hukum alam. Tidak bisa dipisahkan. Mama kandung dan anak kandung itu seperti pohon dangan tanah. Tanpa tanah, pohon tidak akan ada. Begitu pula, tanah tanpa pohon tak akan berguna.



Aku duduk di samping mama. Sesekali mama melihatku dari ekor matanya. Sesekali pula mama menyesap air minumnya yang sudah tertinggal sedikit.



“Liv?” panggil mama sehabis mengusap mulutnya. Aku menoleh.



“Iya ma?” sahutku pelan seraya meneguk makanan yang dimulutku.



“Sepertinya kamu bahagia hari ini.” Mama menghadapkan wajahnya padaku.



Aku tersenyum simpul. Mengangguk kecil.



“Kenapa?”



Aku mengangkat bahuku kecil. Masih dengan senyum simpul di bibirku. “Tidak tahu.” Jawabku.



“Kamu punya pacar?”



Sesaat tenggorokanku terasa ada yang mengganjal. Aku tersedak. Mama dengan cepat menyodorkan segelas air putih untukku. Aku menyambutnya kemudian meneguk seteguk dan meletakkannya di depan piring makanku yang sudah

hampir habis.



Perlahan aku usah mulutku yang nyaris belepotan dengan sisa air putih. Kemudian mengembalikan wajahku

menatap mama di sampingku.



“Sudah baikan?” tanya mama seraya mengulurkan tangannya mengelus tengkukku. Aku tersenyum simpul. Menandakan kalau aku sudah merasa baikan.



“Sekarang cerita sama mama. Kamu punya pacar?” tanya Mama kembali menyunggingkan senyum menggoda padaku.



Pikiranku berkecamuk. Mereka berdebat. Apakah aku harus jujur atau... berbohong? Jujur bohong? Jujur bohong? Ah pusing. Tiba-tiba aku merasa ada sebuah benda yang tiba-tiba mendarat dikepalaku. Rasanya sakiiiit.. dan membuatku harus mendesis sakit di hadapan mama.



Mama menatapku khawatir. Senyumnya seketika hilang entah kemana. “Kepalamu sakit lagi?” tanya mama. Mama ulurkan lagi tangannya. Memijat-mijat kepalaku.



“Sedikit ma,” jawabku lirih.



“Kamu lagi memikirkan apa sayang? Kamu tidak lagi merenakan kebohongan untuk mamakan?”



Ughh.. kenapa mama bisa tahu?



“Ahh tidak ma, buat apa?” jawabku mengelak. Masih dengan pelan dan ragu dan juga gagal.



“Artinya, kamu mau menghindari pertanyaan mama, bahwa kamu sudah punya pacar kan sayang?” tebak mama. Tepat sekali! Mama benar-benar mengetahui ujung rombak pikiranku.



“Hehe...” aku hanya nyengir dengan polosnya mendengar tebakan mama yang sama sekali tidak salah dari

kenyataan.



“Kenapa mesti bohong sayang?”



Lagi-lagi yang aku tunjukkan hanya cengiran polos yang tidak ada artinya.



“Takut mama marah? Atau...”



“Iish.. tidak mama. Sama sekali bukan itu penyebabnya. Aku hanya malu kalau mama tahu aku sudah punya

pacar.”sanggahku cepat sebelum mama mengeluarkan prasangka buruknya untukku.



“Hahaha..” aku terdiam. Tawa mama menyentakku. Dan membuatku tertegun.



“Kenapa mama? Lucu ya kalau aku malu?” aku mulai memajukan mulutku beberapa senti kedepan karena ulah mama yang terbahak ketika aku mengungkapkan kejujuran kalau aku malu mengakuinya.



Mama menghentikan tawanya. Tercenung. Menunjukkan mata yang penuh dengan semburat kasih dan cintanya padaku.



“Mama hanya mengingat kala waktu mama berumur sepertimu. Sama persis!” kata mama. Senyum masih terlihat dikulumnya. Mungkin.. takut membuatku negative thinking..



“Sama persis? Maksud mama?” aku belum bisa mencerna ucapan mama tadi. Kepalaku masih pening.



Mama usap rambutku dengan lembut penuh kasih sayang. Senyum mama terukir manis di bibirnya. “Mama juga sama sepertimu, waktu eyangmu menanyai mama seperti mama menanyaimu tadi, mama juga berniat bohong padanya. Sayang, pikiran seorang ibu begitu peka pada anaknya. Jadi, mama gagal merahasiakannya.” Sejenak mama menghentikan cerita masa lalunya. Memberiku ruang untuk bertanya atau bereaksi lain tentang cerinya. Tapi, aku hanya diam.



“Eyang menebaknya dengan sangat tepat. Mama pikir kamu tadi juga punya pikiran yang sama dengan mama dulu. Dan benar! Tebakan mama ternyata tidak meleset.” Lanjut mama setelah yakin kalau aku akan diam dan tidak bereaksi sebelum beliau melanjutkan ceritanya.



Wajahku bersemu. Cerita mama membuatku sadar kalau memang kita tidak bisa berbohong pada orang tua.



“Ya, aku juga tahu mama akan sangat mudah menebak perasaanku.”



“Lalu, sekarang kamu mau menceritakan pada mama?”



“Tentu. Tapi...” aku menggantungkan kalimatku. “Tapi.. jangan tertawakan aku ya.”



“Mama akan mentertawakanmu kalau kamu berkata seperti itu.” ancam mama. Aku terkekeh pelan. “Cepat ceritakan!” desak mama seraya mengguncang bahuku pelan.



“Ma,”



“Mm..”



“Aku punya...”



“Pacar.. iya mama tau. Siapa?” potong mama. Aku melengos. Mama kalau sudah tidak sabaran selalu memotong pembicaraanku.



Senyum protesku ku keluarkan sejurus kemudian langsung ku arahkan pada mama. “Mama..” rengekku seperti anak kecil yang minta dibelikan balon.



“Oke.. mama diam. sekarang mulai.” Mama mengariskan jemarinya didepan bibirnya mengisyaratkan kalau bibirnya akan dia kunci dan tidak akan berbicara sebelum aku menyelesaikan topikku.



“Dia...” aku menggantungkan perkataanku karena ketika aku melirik mama, mama sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu atau yang lebih tepatnya memotong pembicaraanku, lagi!



Aku tersenyum lagi. senyum kali ini rada dipaksakan. Aku nyaris menyerah untuk menceritakan kisahku pada mama.



Aku melipat kedua tanganku di depan dada. “Dia..”



Terdengar suara bel didepan rumahku. “Dia.. ada tamu ma!”



“Huff.. kamu.. biar mama yang buka. Kamu tetap di sini. Oke.” Mama berdiri dan berjalan setelah aku menganggukkan kepalaku. Aku menghela napas lega. Aku masih bingung bagaiamana aku menagatakan nama pacaraku.



“LIVIAAA!!!” teriakan mama mengagetkanku.



“IYAA!!” balasku teriak. Aku malas kalau harus menyusul mama yang berteriak di depan tamu. Malu-maluin!



“SAYANG ADA TAMU BUAT KAMU...!!” teriak mama lagi. aku membuka otakku. Mencari jawaban siapa tamu yang membuat mama tidak berhenti untuk berteriak. Atau yang lebih tepatnya, siapa tamu yang membuat mama tidak mau beranjak dari depan pintu utama?



“Ah.. pasti dia!” gumamku seraya berjalan gontai meninggalkan ruang makan. Mama tersenyum penuh arti ketika aku berada di sampingnya. Aku balas dengan senyum yang sangaaat tidak maniiis!



“Sayang, dia mau ngajak kamu jalan!” ucap mama menarikku tepat di depan pintu rumah. Tubuhku menegang. Hanyut dalam ketidak sadaran.



“Hai Liv...” sapanya. Aku tercenung. Benar dugaanku... pasti dia yang sudah membuat mama tidak mau beranjak dari depan pintu. Aku hanya tersenyum kecut, kecewa atas kedatangannya...