Pagi hampir menjelang, mataku sama sekali tidak bisa lagi kupejamkan. Terlalu sakit jika aku memejamkannya. Jarum jam masih berdetak, semuanya masih terpintas dibenakku tentang semua kejadian yang pernah menimpaku. Hingga aku bertemu dengan seseorang yang kuanggap dia bodoh. tapi, dia orang yang cukup bisa membuatku tenang.
“Liv, kenapa tidak tidur lagi?” tanyanya. Aku mengangkat wajahku menatapnya yang kini begitu dekat denganku. Semenjak, aku terbangun dari mimpi burukku, aku memintanya membawaku duduk di sofa ruangan VIP-ku. Dia menurut saja, dia merebahkan kepalaku di bahunya, merengkuh kedua pundakku dalam sebelah tangan kirinya. Dan kembali membuatku merasa bersama seseorang yang membawaku dalam sejuta ketenangan.
Aku menggeleng pelan, “Aku takut,” jawabku lirih.
“Tidurlah di sini, aku akan menemanimu sampai kamu terbangun lagi,” Alfar mengeratkan rengkuhannya.
Aku kembali menenggelamkan wajahku dibalik bahunya. “Terimakasih,”
“Sudah berapa kali kamu mengucapkan satu kata itu?”
“Kalau tidak mau aku bisa mengambil ucapanku tadi.”
“Oke, baiklah.. aku mau!” senyum tipis nan sendu terukir perlahan di kedua sudut bibirku.
Perlahan kelopak mataku kupejamkan, dan setelah itu aku tertidur dengan lelapnya direngkuhan Alfar.
Tidak pernah ku sangka, seseorang yang pernah tidak kuanggap kini begitu dekat denganku. Banyak pertolongan yang dia berikan padaku. Sejak hari itu, hari dia membawaku dengan paksa ke taman Rahasianya, dengan selalu menyudutkanku dengan pertanyaannya dan pikirannya yang keras kepala. Tidak ada lagi, kata stupid boy yang keluar dari mulutku, dia hanya tersenyum dan tidak pernah membantah setiap ucapan dan kemauanku. Tidak seperti ketika aku baru pertama kali bertemu dengannya. Selalu tercurah kemarahan, egoisme masing-masing, dan semua yang menjurus ke arah api kebencian.
Setiap kali aku memikirkan semuanya, ada pertanyaan yang belum bisa ku jawab dengan pasti..
Apa orang ini adalah malaikat yang diciptakan Tuhan untukku? Atau dua makhluk berbeda yang menjadi satu dalam jasad malaikat?
***
Jarum jam, sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mataku masih terasa berat untuk kubuka. Mungkin salah-satu efek khemo kemarin. Aku merasakan tangan Alfar masih merengkuhku. Dia ternyata menemaniku sampai aku terbangun, seperti janjinya.
Aku buka mataku dengan susah payah, tersenyum melihat orang itu masih mendekapku. Aku lepaskan tangan kirinya yang memegangi bahuku, secara pelan agar tidak membangunkannya. Tapi, tetap saja usahaku gagal, rupanya tidurnya tidak terlalu nyenyak.
“Eh Liv, sudah bangun?” tanyanya dengan mata masih separuh terpejam.
Aku hanya tersenyum simpul. “Tidur saja lagi,” kataku.
“Aku kan harus sekolah, bagaimana sih kamu.”
“Oh, iya. Lupa.” Jawabku sumringah.
“Heh, masih muda jangan pelupa!”
“Hehe maaf,”
“Sekarang jam berapa?” tanyanya seraya melepaskan pelukannya dan mencari-cari jam tangannya. “Hah? Jam tujuh? Wow aku telat Liv. Kamu sudah makan?”
“Kamu berangkat saja, aku bisa makan sendiri. Nanti Tama juga datang kan?”
“Ehm, meskipun Tama datang tapi aku merasa tidak enak denganmu, tugasku mengawasimu makan dan
membantumu dalam masalah pengobatan!”
“Oke.. oke.. aku makan, tapi kamu harus pergi. Nanti guru-guru malah marah lagi sama kamu.”
“Ciie.. perhatian sekali kamu? Suka sama aku ya?”
“Heh, benar begitukan keadaannya, nanti kalau kamu telat terus kena marah. Kamu kasih alasan jagain Livia bu,
kan akhir-akhirnya aku juga yang kena! Stupid boy!!” aku mendesah, mulai kan virusnya??
“Ya elah, sama calon pacar sendiri ngomelnya panjang banget!”
Aku mendelik, “Hah? Calon pacar? Ih siapa juga yang mau jadi pacar kamu, calonnya saja aku sudah tidak mau, apalagi pacar kamu?”
“Santai non Chandani..”
“Dasar stupid boy!” wajahku mulai menekuk. Sewot, tapi bahag..ooh tidak, aku tidak bahagia...
“Aku pulang ya, kamu harus makan dan minum obatnya, biar cepat pulih lagi!” katanya, perhatian sekali dia.
“Iya Tuan Devin...” jawabku sok manis. Dia tersenyum, dan terdiam sesaat tidak berapa lama, dia kembali melayangkan kecupan hangat di keningku―untuk kedua kalinya.
“Daah..” dia berdiri dan meninggalkanku.
Aku kembali tersenyum, senyum yang aku sendiri tidak mengerti artinya. Mungkin, senyum bahagia dan senyum perasaan yang masih dalam tanda tanya???
***
Siang ini, yang kurasakan hanya kesepian. Setiap detik. Setiap saat. Aku hanya bisa berharap agar hari ini menjadi hari yang sama indahnya dengan hari kemarin. Aku selalu berharap kalau waktu bisa kembali, kembali membuatku melayang. Kembali membuatku terbuai dalam keindahan. Sayangnya, itu hanya sebuah harapan yang tak akan bisa untuk di penuhi. Salahnya aku, semuanya telah ku sia-siakan. Kasih sayang, cinta dan semua rasa berusaha ku abaikan. Namun, semuanya tetap menghantuiku. Perasaan yang dulu, harapan yang pernah ku miliki, kebahagiaan yang dulu sempat ku gapai semuanya akan hilang dalam hitungan bulan, hari bahkan detik...
Mencintai.. sebuah perasaan yang berawal dari tatapan mata dan perasaan sayang kepada seseorang. Percayakah kamu akan satu hal yang di miliki cinta? Aku rasa aku percaya. Suatu hal yang begitu menyakitkan apabila kita memilikinya... apa lagi, kalau bukan harapan dan bayang-bayang. Perasaanku selalu berkata, berhentilah berharap karena itu hanya bisa menyiksa dirimu. Tapi tetap saja rasanya aku tidak bisa untuk membuatnya memudar dari kehidupanku. Karena bagiku, harapan akan menjadi sebuah kenyataan.. entah itu di dunia atau mungkin di tempat lain. Tempat di mana semuanya menjadi kekal.. tempat di mana semua impian menjadi nyata, tempat di mana sebuah harapan akan menemuimu dengan cintamu..
Memang, awalnya berharap sangat menyakitkan.. terlebih ketika seseorang yang kita beri harapan tidak peduli atau bahkan mengabaikan kita.. itu lebih dari menyakitkan.. sangat menyiksa diri bahkan batinku. Tapi, aku yakin dengan berharap maka artinya kita masih memiliki kesempatan untuk sesuatu yang kita harapkan.
Jika kalian di hadapkan dengan dua pilihan yang berbeda, mana yang kalian pilih? Orang yang mencintai kita kah? Atau orang yang kita cintai?
Aku akan memilih orang yang mencintai ku.. dengan begitu aku tidak akan merasa sakit hati... dia akan selalu bersama kita kapanpun dan apapun keadaan kita. Sedang ketika kita memilih pilihan kedua, aku yakin hal itu hanya akan membuatmu tidak betah dengan keadaanmu. Yakinlah!!
Tama... seseorang ku cintai tapi mungkin tidak mencintaiku... dia berpacaran dengan sahabatku. Setiap kali aku melihatnya bersama dengan Dita―sahabatku sekaligus pacarnya―jujur aku merasa sangat cemburu. Karena aku yang mencintainya... apalagi, ketika aku menatap matanya, dia seperti memberiku harapan... maka dari itu aku bisa berharap padanya... sayangnya, harapanku sampai saat ini belum terpenuhi. Meskipun, selama aku berada di rumah sakit, dia juga mengunjungiku dengan jadwalnya.. memperhatikanku, tapi aku hanya menganggap perhatiannya itu hanya sebatas perhatian kepada sahabat atau adiknya.
Alfar... seseorang yang selalu membuatku kesal, karena tindakannya yang kadang terlewat bodoh―meskipun itu sama sekali tidak bodoh, mungkin hanya anggapanku karena dia terlalu berlebihan―berlebihan dalam artian suka seenaknya. Dan karena kekeras kepalaannya yang membuatku tidak bisa berkutik ketika aku bersamanya, selalu membuatku tersudutkan dengan kalimat paksaan dan kalimat ancaman. Karena kekeras kepalaannya pula, akhirnya aku berkata jujur tentang diriku. Bahwa aku mengidap kanker... sejak itu.. perhatiannya padaku memuncak, setiap saat selalu ada untukku, menghiburku, membantuku, menenangkanku dengan caranya sendiri. Tapi, aku tidak tahu apa maksud di balik semua perilaku baiknya padaku? Mencintaiku kah? Atau juga perhatian sebatas teman? Belum bisa terjawab. Tapi.. cukup untuk membuatku beralih hati padanya...
Seringkali aku disergap oleh kebimbangan dengan adanya dua teman cowok ku. Berbeda tapi sama... entah dimana kesamaannya, aku tidak tahu! Mungkin sama-sama tampan, sama-sama baik, sama-sama perhatian.. tapi hatiku bilang bukan itu, jadi aku mengalah dengan perasaanku.
Sebuah bros terpampang di atas lemari makanan ruanganku, aku menjalankan kursi rodaku mendekati lemari makanan yang terletak di samping tempat tidur. Aku meraihnya, menggenggamnya di telapak tanganku dengan segenap jiwa ragaku. Bros ini selalu bersamaku, sesuai permintaan empunya.
“Apa maksudnya memberiku bros kecil ini?” aku bergumam pelan sambil tersenyum hambar. “Adakah dia mempunyai perasaan yang sama padaku?” aku tidak bisa menyembunyikan semua pertanyaan itu di dalam hatiku. Jadi, ku keluarkan saja. “Atau hanya sebuah kenang-kenangan karena aku akan meninggalkannya?”
Ooh Tuhan, Engkau adalah sutradara terhebat sejagad raya ini, penulis skenario kehidupan terbaik sealam semesta... bisakah Engkau memberiku sedikit kepastian tentang hidupku? Sediikiit saja... hanya tentang kisah hidupku, agar aku bisa menjalaninya dengan baik dan mudah.
Aku pasangkan bros yang ada di tanganku ke kemeja biru khusus patien yang menempel di tubuhku. Ku biarkan bros ini bersamaku, sampai aku tidak kuat lagi.
“Jangan menjauh....Tetaplah disini... bersamaku...” gumamku mengulang ucapan Tama ketika aku akan beranjak meninggalkannya di Pantai pasir putih nan indah.
***
Waktu memang tak pernah mau mengalah, dia tetap berjalan maju meskipun kita memintanya untuk berhenti sejenak untuk menghilangkan sedikit rasa lelah dan gundah yang menyelinap di hati.
Hari ini, hari pertamaku kembali masuk ke sekolah. Seperti biasa, Alfar lah yang selalu menjemputku. Dia terlewat baik untukku. Sangat baik. Aku tidak bisa menafsirkan kebaikannya. Terlalu sulit untukku.
“Selamat pagi, Azkadina Livia Chandani...” sapanya bersemangat. Aku tersenyum tipis.
“Pasti banyak tugas ya di sekolah?” tanyaku tidak bergairah.
“Em bagaimana ya? Kalau buatku sangat banyak tapi untuk mu―sangat sedikit―guru-guru memberimu keringanan dalam hal tugas.” Jelasnya. Aku termangu mendengan pernuturannya.
“Maksudmu?”
“Ya, aku memberi tahu guru-guru secara pribadi...”
“APA?” jeritku kaget dan setengah berteriak.
“Tenang dulu, ini demi kebaikanmu.”
“Tapi bukan untuk kebaikanku, kenapa kamu melakukannya?” adrenalinku mulai terpacu, aku tidak mau orang tahu tentang penyakitku, dia malah memberi tahu orang lain. Terlebih yang dia beritahu para guru-guru.
“Aku melakukannya untukmu, semuanya untuk kesehatanmu! Tidak lebih.”
“Tapi aku tidak butuh itu semua! Paham?” emosiku nyaris tak terkendali.
“Kamu membutuhkannya Liv,”
“Aku bilang tidak!! aku lebih suka hidupku tidak diketahui orang lain,” suaraku meninggi.
“Kenapa?” dia balas dengan suara yang setara dengan suaraku.
Aku terdiam. Entah kenapa kelimat itu mengalir dari mulutku. “Itulah aku,” jawabku singkat.
“Kalau begitu, aku mau hidupmu sekali saja diketahui orang lain!”
“Aku tidak mau!”
“Kalau aku mau?”
Sikap kekeras kepalaannya keluar. Sudah berapa kali dia memaksaku? Ini hidup yang buruk, sejak aku bertemu dengannya hidupku benar-benar berubah. Bukan dalam segi fisik ataupun batin. Bukan pula materi. Tapi semua yang bersangkutan dengan hal yang ada dalam diriku. Aku menjadi seseorang yang terbuka karena paksaan. Bukan keinginanku sendiri.
“Berapa kali kamu memaksaku?”
“Berapa kalipun itu tidak penting bagiku, yang penting semua ini demi kebaikanmu.”
“Harus kah aku selalu memenuhi kekeras kepalaanmu?”
“Ya,”
“Kenapa?”
“Sudah aku bilang, karena aku tidak mau kehilangan seseorang karena sesuatu yang sama dengan kakakku!”
Kepalaku kembali terasa pening mendengar kalimatnya. Dia sering berkata seperti itu. dan aku juga sering mendengar kata itu, tapi lebih sering dibanding dengan dia mengatakannya.
“Livi, kamu tidak kenapa-napakan?” suaranya merendah ketika matanya menangkap wajahku yang kurasa sudah mulai pucat.
“Aku tidak apa-apa,” jawabku singkat. Kerap kali sesuatu berputar di kepalaku. Tapi aku tidak tahu apa. rasanya, seperti kalimat yang barusan diucapkan Alfar padaku. Alfar menatapku seolah aku kembali sekarat.
“Kita berangkat sekarang,” dia membantuku berjalan mendekati mobilnya yang terparkir manis di depan rumahku. Dia bukakan pintu mobilnya untukku. Aku jadi merasa bersalah, sudah berkata kasar padanya. Kenapa tidak aku turuti permintaannya kali ini, aku akui dia benar dalam masalah pelajaran kalau aku terlalu banyak pikiran penyakitku akan semakin memburuk. Tapi, meskipun tidak tetap saja penyakitku juga akan memburuk dan tidak berbeda akhir-akhirnya aku juga akan mati.
Alfar masuk ke tempat kemudi, dia pasangkan selfbelt untukku. Beberapa saat dia memandangi wajahku yang memang pucat untuk kali ini.
“Kamu sakit lagi?” tanyanya penuh perhatian.
“Aku tidak apa-apa, sudahlah aku tidak mau meninggalkan pelajaran lagi. cukup sepuluh hari!” jawabku. Aku
yakin, seandainya aku tidak berkata seperti itu dia menyuruhku pulang dan istirahat di kamar.
“Kamu yakin, wajahmu pucat Liv?” tanyanya lagi, suaranya melemah bahkan nyaris tidak terdengar olehku. Dia uraikan jemarinya menyentuh wajahku. Jantungku kembali terpacu, perasaanku tidak menentu. Tuhaan.. ada apa ini? kenapa aku merasakan getaran itu? getaran yang dulu pernah aku rasakan ketika bersama Tama.
Aku tepis jemarinya pelan, “Ayolah Alfar, aku tidak apa-apa, aku yakin aku akan baik-baik saja.” Jawabku menenangkannya. Ya meskipun begitu aku memang merasa aku tidak akan baik-baik saja... karena kepalaku, perut begian bawahku kembali merasa nyeri. Persis sama seperti waktu aku akan khemo pertama kali.
“Liv...”
“Alfar.. cepatlah, sudah telat! Kamu mau diliburkan Pak Deni gara-gara telat?” susulku cepat sebelum Alfar benar-benar mengeluarkan jurus kekeras kepalaannya dalam hal menanganiku. Dia mengangkat bahunya kecil, kemudian menyalakan mesin dan langsung tancap gas.
Sebelumnya, pak Deni itu guru pelajaran Sosiologi. Dari jaman jahiliah mungkin beliau sudah dikenal dengan guru yang disiplin bahkan super duper disiplin. Apalagi kalau beliau lagi jaga alias piket jaga gerbang. Muridnya telat, pulang! Di liburkan―dengan catatan alfa―sama dengan bolos. Padahal beliau sendiri yang meliburkan dan melarang muridnya masuk!
“Oya Liv, besok kamu Khemonya di temani Tama saja ya.” Alfar membukakan pintunya untukku.
“Hah? Kenapa?” tanyanyaku spontan. Kaget. Kenapa Tama?
“Mm itu, soalnya besok sepupu aku mau datang jadi aku disuruh jemput dia.” jawabnya. Hmm.. aku tidak khemo sama Alfar dong besok? Aku membatin. Kenapa aku jadi sedih Alfar tidak menemaniku khemo? Harusnya aku bahagia, apalagi khemonya di temani oleh Tama. Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasakan bahagia atau kegirangan atau yang semacamnya ya? Aku merasa kehilangan! Hah? Apaan kehilangan? Tidak.. tidak.. kehilangan siapa? Alfar maksudku? Huaa ada apa dengan ku?
“Liv?” Alfar menyapaku. Aku masih bergeming di tempatku berdiri. Telingaku lagi error mungkin, karena aku tidak menjawab sapaan Alfar. “Helooo.. Chan!” sapanya lagi. di ikuti oleh lambaian tangannya di depan wajahku.
Aku tersentak. Wajahku terasa panas. Pasti sekarang warnanya kayak cabe rawit. Merah. “Eh, mm ada apa?” tanyaku.
Dia terlihat sedang mengulum tawanya. “Kenapa jadi gelagapan seperti itu?” tanyanya seraya melemparkan pandangannya ke wajahku.
“Seperti apa?”
“Seperti tadi? Sepertinya kamu tidak suka kalau bukan aku yang menemanimu khemo besok.” Tebaknya.
Aku mendelik padanya. “Eh enak saja, aku senang bukan kamu yang menemaniku khemo besok, jadi aku tidak lagi harus menuruti kamauan bodohmu seperti kemarin-kemarin!” aku berusaha mengelak tebakannya. Karena kalau sampai ketahuan, MATI lah aku!
“Oh begitu? Kalau begitu aku akan menyerahkan tugasku untuk menemanimu berobat pada Tama!!”
“Hah? Kenapa begitu?” tanyaku. Lagi-lagi dengan spontan. Dan terlihat sangat jelas kalau aku sangat terkejut. Ooh My God, sepertinya aku akan mati hari ini...
“Kenapa bertanya seperti itu? bukannya kamu senang kalau bukan aku yang menemanimu?” susulnya dengan tersenyum yang mampu memacu detak jantungku.
Pesonanya. Aku akui pesonanya begitu kuat! Dia mempunyai kharisma yang mendalam. Senyumnya. Tatapan matanya. Perhatiannya. Semuanya bisa membekukan sekaligus menghangatkan perasaanku. Mataku seolah menempel pada satu titik saat ini. satu titik yang terlihat jelas di mataku. Tapi... dia juga seakan menjadi semu untukku! Apa maksudku? Apa aku sudah berpindah hati? Secepat inikah? Apa dia pilihan hatiku? Yang benar saja? Oh tidak..tidak..
Tidak mungkiiiin!!!!
Aku tidak boleh berharap lagi.. cukup pada satu orang. Tama. Oke fokuskan hatimu pada harapan dan impianmu Livia!! Jangan ke lain lagi, jangan sampai! Ingat itu!!
“Oh tentu, aku senang bukan kamu, kapan kamu akan menyerahkan tugasmu?” tanyaku secepat mungkin.
“Besok.”
Secepat itukah, dia menyerahkan tugasnya? Apa aku kecewa?
“Mm.. besok?” tanyaku ragu.
“Ya. Dengan begitu, kamu bisa bahagia bukan? Dan dengan begitu juga, aku bisa menghabiskan masa kelas tigaku bersama sepupuku!” dia sepertinya senang melepas tugasnya. Asiiik..” serunya.
Bingung. Takut. Sedih. Bukan bahagia. Sekarang ada dalam hatiku. Apa dia serius dengan ucapannya? Kenapa tiba-tiba rasanya hatiku merapuh, apa memang hanya sebentar aku bahagia dengannya setelah hari-hari yang aku lalui di rumah sakit kemarin? Tertawa, tersenyum, bercanda, bahkan menangis dipelukannya. Apa itu hanya bisa ku rasakan kemarin?? Tidur di sofa seperti saat itu? bersama Alfar...
Mendengar kegirangan yang diucapkannya barusan. Aku hanya mengangguk dan membuang pandanganku ke jendela di sampingku. Mencoba menafsirkan isi hatiku. Mencoba memberikan setikit ketenangan pada perasaanku yang baru saja terasa menusuk karena di tusuk!
Well... sepertinya benar, aku sudah beralih hati...
Rabu, 17 Agustus 2011
Selasa, 09 Agustus 2011
FEELING...? [6]
Minggu pagi...
Ini hari pertama aku akan menjalani khemoterapy di rumah Alfar. Pagi-pagi sekali aku sudah dibangunkan oleh mama. Aku bercerita pada mama, kalau minggu ini aku mulai menjalani khemo ditemani Alfar. Mama sepertinya tidak keberatan dengan keputusan yang aku ambil, ya meskipun dengan sedikit paksaan dari Alfar. Jadi, Alfar cukup untuk membuatku takut ketika dia mengeluarkan jurus andalannya padaku tentang penyakit ini. apalagi jurusnya kalau bukan, jurus ‘keras kepalanya’.
Meskipun begitu, dia lebih sering bersikap bodoh didepanku. Berbeda ketika dia mengeluarkan jurusnya.
Bel rumahku berbunyi cukup keras, dengan tergopoh-gopoh aku berlari menuju pintu depan rumahku. Begitu pintu dibuka, seorang cowok yang sudah lumayan aku kenal berdiri. Sosoknya yang mempunyai postur tubuh cukup tinggi, ya sekitar 178cm itu berdiri dengan kaos berwarna coklat polos, kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana jeans-nya yang berwarna hitam.
Dia tersenyum, “Sudah siap?” tanyanya.
Aku mengeluarkan sedikit anggukan kecil, “Ya, semoga.” Jawabku lemah. “Masuk dulu,” ujarku lagi dengan melebarkan sedikit pintu yang sudah aku buka setengah dari ukurannya.
Dia mengangguk dan berjalan masuk, “Sudah pamit dengan Mama-mu?”
“Aku akan ke kamarku, kemudian aku akan pamit dengan Mamaku.” Jawabku. Buru-buru aku berjalan meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarku. Aku terduduk sebentar. Degup jantungku rasanya aneh, tapi segera aku tepis semua itu sejauh mungkin. Menarik napas panjang dan kembali berdiri. Tak lama, aku pun mengetuk pintu kamar Mama. Mama keluar dengan senyum tersungging di kedua sudut bibirnya. Aku meraih tangan kanan Mama dan pamit untuk pergi khemo bersama Alfar.
Mama terlihat bingung, “Kenapa tidak sama Tama?”tanya Mama, aku terdiam. Rasanya, perasaanku jadi aneh lagi.
“Dia sibuk ma,” elakku berbohong. Tentu saja aku tidak tahu kenapa bukan dia yang mengantarku, dia bukan siapa-siapa ku, meskipun aku menyukainya tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk kebahagiaanku dan untuk perasaanku.
“Ya sudah, hati-hati ya.” Mama ikut berjalan seraya merangkul pundakku menuju ruang tamu.
Terlihat Alfar sedang sibuk dengan ponselnya. Kemudian langsung memasukkannya ke dalam saku celananya ketika melihat kami berjalan ke arahnya. Dia berdiri dan menyalami mamaku.
“Siang tante.” Sapanya. Mama tersenyum simpul.
“Siang,” jawab mama simple.
“Ma, aku berangkat dulu ya.”
“Iya sayang, hati-hati. Alfar, jaga Livia baik-baik ya.”
Alfar mengangguk patuh, “Baik tante, permisi.”
***
You know this.. my feeling nd my heart...
Land Cruiser milik Alfar melaju memecah kepadatan kota. Pagi minggu yang cerah terasa sangat panas entah apa penyebabnya. Aku merasakan aura aneh ketika berada di samping Alfar. Hari ini, dia terlihat lebih banyak diam dibanding hari-hari biasanya. Mungkin sedang berkonsentrasi penuh menyetir mobilnya.
Aku pun tidak mau mengambil pusing, aku juga ikut diam dari pada terkena virus bodohnya. Anehnya lagi, jurus keras kepalanya juga tidak keluar, dan itu jadi salah satu beban pikiranku. Ahh aku apa-apaan sih? Sejak kapan aku peduli dengannya?
Biasanya, kalau sifat bodohnya tidak keluar pasti dia mengeluarkan jurus keras kepalanya. Karena bagiku, kalau dia sedang bersifat bodoh, malah bisa membuatku sedikit rileks ketika aku bersamanya. Tapi kali ini... aku merasa tegang dan tidak bisa bersikap seperti biasa. Aku malah mengharapkan agar dia bisa mengajakku bicara, tidak lebih. Uuggh.. apa jangan-jangan aku merindukan sifat bodohnya ya? Oo My.. please, what happen with him?? Aku menunggu dirinya bicara atau sekedar mengerjaiku seperti biasa.
Liviaaa.. kamu juga kenapa sih? Pikirkan Tama, fokuskan pikiran mu pada orang yang kamu sukai Liv.. come on.. aku menghela napas panjang, rasanya dadaku jadi sesak. Kemudian menghembuskannya kuat-kuat, begitu seterusnya selama beberapa menit. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhku. Kepalaku pening, dan rasanya perutku terasa kram.. kenapa ini..
“Livia, kamu tidak apa-apa kan? Sakit lagi ya?” Alfar menepikan mobilnya. Dia menatapku seolah aku akan sekarat detik ini juga.
Aku kembali menarik napas, kemudian menoleh ke arahnya, “Aku baik,” jawabku singkat. Dia menyentuh jemari tanganku, hangat menjalari disekujur tubuhku yang terasa sangat dingin.
“Badanmu panas Liv, kita ke rumah sakit ya.” Ujarnya terdengar panik.
Aku tersenyum tipis, “Jangan ke rumah sakit, aku tidak apa-apa Al,” aku berusaha menenangkannya. Meskipun aku tidak yakin dengan ucapanku sendiri.
“Liv, hidungmu..” bisiknya. Seraya mengusapkan ibu jarinya tepat di bawah
hidungku. Merah.. lagi! segera, aku merogoh tas selepang yang selalu ku bawa ke mana-mana, sapu tangan abu-abu langsung aku usapkan ke hidungku.
Tenggorokanku tercekat, darah yang mengalir kali ini lebih banyak di banding hari-hari sebelumnya. Aku menundukkan kepala, berusaha menahan tangisku yang sudah tidak bisa ku tahan. Sakiiiit sekali, rasanya aku ingin menjerit sekencang mungkin... tapi, tidak bisa.. tangan kiriku meraba perut bagian bawah, semakin sakit, Tuhan.. apa semakin hari penyakit ini akan benar-benar membuatku tersiksa?
“Liv, jangan membual lagi, sekarang juga kita ke rumah sakit!” dengan gesit Alfar menginjak pedal gas Land Cruiser-nya hingga membuatku terlonjak dari tempat dudukku.
Aku memejamkan mataku, airmataku akhirnya menetes juga. “Sakiit...” jeritku dengan menggigit bibir bawahku. “Aku tidak kuat Al, please.. tolong aku..”
Alfar tercenung tapi masih berkonsentrasi penuh dengan kecepatan mobilnya yang melonjak semakin cepat. Seperti denyut nadi dan detak jantungku saat ini.
“Livia tenang, tahan ya.. sebentar lagi kita sampai rumah sakit,” ucapnya tegang. Matanya serta seluruh anggota tubuhnya tercurah penuh untuk kondisi jalan pagi minggu ini. jalanan yang penuh membuatnya terlihat kesulitan menghindari rentetan mobil dan kendaraan lain.
“Auuuggghh..” aku meremas perut bagian bawahku yang terasa seperti tertindih benda yang berukuran sangat besar.
“Apanya yang sakit Liv?” tanyanya panik dan menoleh padaku sekilas, kemudian kembali pada jalan raya. Aku tak bisa menjawab, terlalu sakit untuk hal ini. tanganku melemah, begitu pula dengan anggota tubuhku yang lain. Tiba-tiba pandanganku buram, semuanya terlihat samar. Sama sekali tidak jelas, hingga akhirnya menjadi hitam semua... dan akupun tidak sadarkan diri...
***
Ku rasakan aliran hangat yang menjalar disetiap pori kulitku yang juga bisa membuat jantungku berdegup lebih cepat. Aku merasa ada seseorang yang menggenggam tanganku, perlahan dengan susah payah aku berusaha membuka mataku. Kembali kepalaku dibuatnya pening. Ruangan bercat biru mudah berpadu dengan wallpaper berwarna yang sama dengan motif bunga-bunga mungil. Pendingin ruangan yang terletak disamping tempatku berbaring. Mataku mengitari ruangan itu, sampai akhirnya aku menyadari ada seseorang yang tertidur lelap di sampingku dengan kepala ditengkulupkan menyamping menghadap kearahku. Tangannya menggenggam tanganku.
Aku berusaha duduk dari posisi rebahan, tapi tubuhku sepertinya masih terlalu lemah. Jarum infus terpasang di punggung tangan kiriku. Dengan ragu aku menarik tanganku yang digenggam orang yang belum bisa aku kenali siapa orang itu. dan ternyata dengan menarik tanganku orang itu malah terbangun. Aku langsung kembali pura-pura tidur. Saat ini mungkin dia mengangkat wajahnya memandangiku. Kembali aku merasa tangan seseorang membelai lembut pelipis hingga kepala bagian atasku.
“Cepat sadar, Liv.” Gumamnya. Aku terkejut mendengar suaranya.. suara itu...aku mengenal suara itu.. siapa.. ayoo Livia. Auugh.. sakitt.. jeritku dalam hati sambil mendesis pelan menahan rasa sakit yang kembali menjalari tubuhku.
“Livia..” panggilnya terdengar takut. Aku membuka mataku. Aku terejut dengan seseorang yang kini sedang menatapku khawatir.
“Tama...”
***
Sudah hampir seminggu aku berdiam di rumah sakit. Diam di tempat tidur dan sesekali keluar dengan ditemani Alfar maupun Tama yang bergantian menengokku. Tama sempat bertanya aku sedang sakit apa, tapi aku selalu bilang hanya demam biasa. Aku tidak mau dia tahu penyakitku. Cukup Alfar, Dita dan mama yang tahu aku sakit apa.
Mereka sudah membuat jadwal untuk membesukku. Dan hari ini giliran Alfar, karena dia sudah berjanji padaku untuk membawaku khemo untuk ke tiga kalinya. Akhir-akhir ini aku malah lebih dekat dengan Alfar di banding Tama, orang yang aku sukai. Bahkan, untuk seminggu terakhir perasaan ketika aku berdekatan dengan Tama biasa-biasa saja, tidak seperti waktu aku sangat antusias menyukainya.
“Hay Chandani,” Alfar masuk dengan membawa bunga-bunga segar. Dia ternyata punya kebiasaan yang sama sekali tidak aku duga. Setiap hari dia punya kebiasaan membeli dan mengganti bunga yang layu di kamarnya ataupun ditempat yang dianggapnya
nyaman.
“Jangan panggil aku Chandani, Al,” tegurku lemah.
“Aku akan membawamu ke taman tengah, tapi setelah aku mengganti bunga-bunga ini ya,” ucapnya sumringah. Semangat sekali dia?
“Okelah..” sahutku pasrah.
Tidak berselang waktu lama, dia mengambil kursi roda di depan lemari makanan ruanganku. Dan dengan segera membantuku berdiri. Lalu, aku sudah duduk di kursi roda yang sudah menjadi temanku.
Alfar menjalankan kursi roda secara pelan, “Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanyanya disela mendorong kursi rodaku.
Aku mendongak, “Tumben peduli.” Aku tersenyum. Entah kenapa, perasaanku ketika bersamanya jadi terasa berwarna. “Biasanya juga enggan kamu peduli dengan ku?” lanjutku setengah bercanda.
“Heh, aku membawamu ke rumah sakit seminggu yang lalu, dan membesukmu setiap dua hari sekali bahkan satu hari sekali, itu karena aku peduli. Kalau aku enggan mempedulikanmu, mana mau aku membantumu, menemanimu sampai mendaftarkanmu menjadi patien khemoterapy ayahku.”
Aku tertawa mendengar ocehan panjangnya.
“Oya Liv, kenapa kamu tidak marah-marah lagi padaku?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak, “Kamu mau aku marah padamu ya? Heh, kalau aku memarahimu, jangan-jangan nanti biaya pengobatanku tidak gratis lagi..” candaku. Dia tertawa mendengar ucapanku.
“Kamu matre juga ya ternyata?”
“Haha, jaman sekarang cewek kan modelnya pada matre semua. Jadi kalau aku tidak mengikuti model cewek kayak gitu, aku bisa ketinggalan jaman dong.”
“Cielaah.. kamu sekarang pinter bikin lelucon ya? Perasaan sebelum kamu berteman denganku, kamu cuek, jutek, suka marah-marah tidak jelas, dan banyak hal yang bikin aku jadi bertanya-tanya, ‘apa cewek ini stress??’ haha” aku menatapnya sambil mendongakkan kepalaku, “Dan setelah kamu berteman denganku―yang kamu bilang ‘stupid boy’―kamu malah sering bikin aku senyum. Jangan-jangan kamu tertular virusku ya?” lanjutnya. Aku melongo, serya mencubit pergelangan tangannya sampai dia menjerit.
“Virus? Pantatmu ireng!!” seruku kembali membuatnya tertawa. “Eh, nama panjang kamu siapa kemarin? Aku lupa,” dia menatapku, mata kami bertemu. Hening. Kemudian saling melempar ke tempat yang nan jauh di sana entah dimana...
“Kenapa jadi menanyakan namaku? Mau memanggilku dengan sebutanmu sendiri ya?” aku tertawa lagi, entah kenapa setiap kali aku bersamanya aku lebih sering tertawa dibandingkan ketika aku hanya sendirian yang lebih banyak membuang waktu dengan meratapi nasibku.
Alfar membelokkan kursi roda menuju taman tengah. “Ya, kamu juga memanggilku dengan sebutanmu sendiri kan?”
“Haha, copas nih ceritanya?”
“He.eh.”
“Ahh tidak mutu,”
“Terserahku dong, ayo sebutkan siapa namamu?” paksaku.
“Oke, dari pada dapat tendangan maut.. aku kasih tahu tapi dengan imbalan! Mau?”
Aku mendengus. “Heh, kamu mau jadi kurirku ya? Imbalan terus?”
“Kapan aku minta imbalanmu? Baru sekali ini.” protesnya. “Ayolah, imbalan untuk semuanya. Mau ya.. pliiis..” bujuknya lagi.
“Mau berapa? Satu juta? Lima juta? Atau berapa?”tantangku.
“Hmm, kalau uang sepertinya kamu tidak bisa membayarnya.” Dia tampak berpikir keras. Kemudian menatapku dengan mata berbinar-binar. “Ini..” katanya setelah tiba di taman tengah. Dia berlutut di samping kursi rodaku. Lalu menepuk-nepuk pipinya dengan jemarinya.
“Mau minta jotos?” tanyaku.
Dia mendengus, “Hah? Bodoh ya kamu? Benarkan kataku kalau kamu tertular virusku?”
Aku tertawa kecil, dia menatapku lekat-lekat. Aku jadi terdiam dan entah kenapa rasanya aku tidak bisa memalingkan wajahku. Aku hanya balas menatap matanya.
Dia menyentuh pipiku kemudian menyelipkan helaian rambutku yang menutupi separuh wajahku ke sela-sela telingaku. Dia usap wajahku dengan penuh perasaan. Lembut. Takut membuatku merasa sakit karena sentuhan tangannya. Sedikit demi sedikit dia dekatnya wajahnya, aku pejamkan mataku sejenak, dia tundukan kepalaku lalu setelah itu kecupan hangat melayang dikeningku. Aku tertegun. Lama dia mengecup keningku, hingga hanya ada diam diantara kami dan hanya terdengar degupan jantungku yang semakin cepat. Perasaan apa ini? Tama, maafkan aku..
Kemudian dia mulai menjauhkan wajahnya, aku mengembalikan posisi wajahku. Dia masih menatapku. Kedua sudut bibirnya menyunggingkan senyum hangat yang baru dua kali aku lihat. Aku hanya tersenyum simpul, dan membuang wajahku agar tidak terlihat semburat kemerahan karena malu di kedua pipiku.
“Sesuai janji, aku akan menyebutkan namaku didepanmu sendiri secara pelan dan perlahan, jadi jangan buang kesempatan ini!” ucapnya. Aku memutar bola mataku, melihat tingkahnya yang mampu membuatku terjatuh ke dalam jurang cintanya.
“Dengar baik-baik...” dia memberiku aba-aba, aku mulai memfokuskan pendengaranku, “Alfarizal Athaa Davinza,” ucapnya diiringi oleh semilir angin.
“Oke, aku mendengarnya! Terimakasih..” kataku tersenyum jahil seraya menepuk-nepuk bahunya. “Sepertinya, aku akan memanggilmu Devin.."lanjutku tanpa menatapnya. “Kalau saja boleh huruf ‘n’ di belakang nama Devin itu aku rubah, pasti sudah aku rubah!Dan huruf 'D' di depannya aku hilangkan, pasti sangat mengerikan!!” gumamku lagi diikuti deraian tawaku. Dia menatapku jengkel dan mengacak-acak rambutku dengan kasar tapi tidak menyakitkan. Aku semakin mengeraskan tawaku.
***
Khemo hari ini berjalan lancar.. ya sangat sakit untuk ukuran cewek berusia 17 tahun sepertiku. Alfar dengan sabar menunggu bahkan menemaniku di dalam ruangan. Aku kagum padanya.
“Sekarang kamu wajib istirahat! Besok, giliran Tama yang membesukmu. Good night!!” katanya menutupi badanku yang terbaring ditempat tidur dengan bad cover yang dia bawakan untukku dari rumahnya.
“Alfar,” panggilku pelan. Dia menoleh. Dan tersenyum. “Terimakasih lagi, untuk hari ini,” ucapku tulus.
“Sama-sama,” sahutnya dan meninggalkanku sendiri dalam ruangan VIP-ku. Aku tersenyum lagi melepas kepergiannya. Dia terlihat begitu tulus. Selamat Malam Alfar! Aku membatin kemudian memejamkan mataku untuk beristirahat menghilangkan penat di hati dan penat di sekujur tubuhku.
***
“Dia meninggal karena penyakit ganas itu!!”
“Dia meninggal karena penyakit ganas itu!!”
Suara itu menggema di telingaku. Kakak... kakakku.. berhenti mengucapkan kalimat itu..
“Dia akan baik-baik saja kak.. dia akan baik-baik saja!”
“Aku akan mati.. aku akan menyusulnya, Cha..”
“Jangan Kak.. jangan pergi, aku tidak mau kakak pergi!”
“Selamat tinggal, adikku sayang...”
“Tidaaaaak.. kakaaaaaaaaaaakk...”
Jeritanku, tangis kakakku.. bunuh diri itu, tempat itu...! aku membenciinya.. kameraa, kilatan kamera, semuanya.. membuat ku sakit dan sedih.. orang itu, yang membuat kakakku meninggalkanku.. jangan pergi kakak.. aku sayang kakak...!! kak Andin... aku menyayangi kakak...
***
“Kakak...” aku terbangun dari mimpi burukku. Mimpi itu selalu membayangiku. Kakakku...
“Livia, kamu tidak apa-apa?” tiba-tiba suara itu menyadarkanku. Lampu ruangan dinyalakan. Alfar. Ya dia disini..
“Alfar...” bisikku. Dia menghampiriku yang duduk di tempat tidur. Pipiku basah, aku mengigau lagi..
“Tadi malam, aku tidak yakin meninggalkanmu sendiri disini, jadi aku tidur di sini.” Katanya. Perlahan tangannya terulur memelukku. “Jangan menangis,” bisiknya.
“Aku takuut,”
“Jangan takut, aku ada disini...” katanya. Aku terisak sambil menenggelamkan wajahku didadanya.
“Kakakku.. aku merindukannya,”
“Kamu punya kakak?” tanyanya tidak mengerti. Aku mengangguk pelan.
“Dia meninggal,”
“Sstt.. aku juga senasib dengan mu, jangan menangis lagi. karena itu bisa membuat kakakmu sedih di sana.”
Dia eratkan rengkuhannya padaku. Aku balas memeluknya. Kemudian berkata dengan sangat pelan dan lirih.
“Jangan tinggalkan aku, aku takut sendiri...”
Senin, 08 Agustus 2011
FEELING...? [5]
“Jangan menjauh... tetaplah di sini... bersamaku...”
Bisikan itu, membuatku terdiam dan tak berani memberontak pelukannya lagi. Sebelah tangannya terangkat, kemudian membelai rambutku. Aku masih tak percaya dengan perlakuannya padaku. Tak mengerti apa maksud pelukannya, tak mengerti maksud perkataannya, tak mengerti dengan semua yang ada pada dirinya...
“Boleh aku bertanya?” tanyanya, masih memelukku. Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa. “Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Buusshh...
“Aku tidak tahu...”
Dia melonggarkan pelukannya, kemudian meraih wajahku dengan kedua telapak tangannya, dia arahkan wajahku untuk menatap matanya. Keteduhan ada dikedua sorot mata pemiliknya, bola matanya yang coklat, alis matanya yang tebal menghiasi wajahnya.
“Apa kamu bohong?” tanyanya, seakan tak percaya dengan semua yang aku katakan. Aku menggeleng. Dan memang benar aku tidak berbohong dengannya, karena saat ini, detik ini aku benar-benar tidak mengerti dengan perasaanku. Sama sekali, tidak bisa aku pahami...
Dia melepaskan tangannya dari wajahku, merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
“Untukmu,” katanya menyerahkan sebuah benda mungil berbentuk seperti salju yang ukurannya diperbesar. Berwarna perak, dan banyak mutiara kecil menempel di sana.
Keningku berlipat, tak mengerti. “Apa?”
“Bros,” jawabnya seraya melemparkan senyum. Aku tertegun. Kemudian ikut
tersenyum. Apa lagi maksudnya?
“Untuk?”
Dia tersenyum kemudian meletakkan tangan kanannya diatas dadanya, menandakan bahwa bros yang dia berikan untuk dipasang di baju. “Pakai terus ya...” pintanya kemudian. Aku menerima bros yang dia berikan dan memasangkannya di bajuku, di dadaku. Tempat jantungku berdetak.
“Hanya sebuah kenang-kenangan kan?” tanyaku lagi. berusaha mencari sesuatu yang tersembunyi di balik tingkahnya. Berharap mendapatkan jawaban ‘tidak’ tapi mungkin bukan jalanku kalau dia mengatakannya.
“Nanti kamu akan tahu..”
Jawabannya diluar perkiraanku. Lega. Akhirnya, meskipun bukan itu yang aku mau tapi, dengan begitu bisa memberiku sedikit harapan lagi. Aku aneh ya.. kemarin aku memintanya untuk berhenti memberiku harapan, tapi kenapa sekarang aku malah memintanya untuk kembali memberiku hal itu. padahal jelas-jelas, menunggu harapan dan berharap itu sangat menyakitkan.
Melewati senja bersama seseorang yang aku sukai, cukup membuatku bahagia dan melupakan semua masalahku untuk saat ini. Dia sudah membuatku terbang ke tempat yang paling indah di dunia ini. Membawaku melayang bersamanya menuju sebuah impian. Impian yang sekarang belum bisa untuk diwujudkan menjadi sebuah kenyataan, tapi impian yang kelak semoga bisa menjadi sebuah kenyataan yang membahagiakan.
Dia duduk dibentangan pasir putih mengahadap ke barat. Wajahnya tampak memerah karena terkena pancaran matahari senja. “Tama,” panggilku membuatnya menoleh dan tersenyum tanpa suara. “Apa Dita tahu kamu membawaku jalan-jalan?” tanyaku. Dia kembali memalingkan kepalanya ke tempat semula.
Kemudian menggeleng, dan lagi-lagi tersenyum. “Tidak,” jawabnya santai dan lebih terdengar tanpa beban ataupun terkejut. Aneh.. dia kan punya pacar, pacarnya sahabatku lagi.. awas saja kalau dia berani mempermainkan perasaan Dita. Pikiranku sudah melayang ke hal-hal negatif ini, feeling ku bilang kalau Tama begitu.
Dahiku berlipat, “Eh jangan macam-macam sama sahabatku ya.. awas kamu..”
ancamku. Dan senyumnya itu loh yang membuat aku kesal, bukannya panik kek, terkejut kek apa kek. Ini malah senyum tanpa beban.
“Aku tidak macam-macam,” jawabnya.
“Terus?”
Dia melongo, “Terus apa Liv?”
“Terus apa maksudnya? Kamu kan pacaran sama dia. Harusnya kalau memang kamu sayang sama dia, kamu jangan mengajakku jalan-jalan tanpa izin darinya. Gitu-gitukan dia juga cewek yang punya perasaan. Lagipula apa susahnya bilang sama dia, izin bentar mau ngajak Livia jalan-jalan liafftt...” penjelasan panjang lebarku terhenti. Jari telunjuknya menempel dibibirku hingga aku tidak bisa lagi melanjutkan.
“Livia bisa tidak sehari saja kalau aku lagi sama kamu jangan bawa-bawa nama Dita??” katanya mentapku. Aku jadi salah tingkah, nah apa maksudnya coba? Aku lagi telmi banget nih sekarang. Aku bengong sendiri akhirnya.
“Kenapa? Diakan pacar kam..” lagi-lagi kalimatku dia hentikan. Dasar Tama, kebiasaan apa ya? Kali ini dengan melemparkan jari telunjuk tangan yang sebelahnya lagi ke mulutnya sendiri. “Jangan bicara lagi.. okee Livia? Jadi cewek itu jangan bawel. Kalau bawel nanti cowok tidak ada yang naksir sama kamu lagi!!” huaaaaahhh... Tama.. kamu jago ya buat aku gondokan.
Aku melepaskan jari telunjuknya yang sekarang sedikit menjauh dari bibirku, “Bisa tidak jangan pakai cara nempelin telunjuk ke bibir orang??” tanyaku sambil menatapnya tajam.
“Tidak bisa, itu sudah jadi kebiasaan kalau lagi sama cewek bawel!”
“Heh, aku bukannya bawel tap...”
Cup.. kecupan hangat kembali melayang dikeningku. Aku kembali tertegun, tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku langsung bungkam seribu bahasa.
Tubuhku membeku (lagi!). ini yang kedua kalinya aku mendapatkan sesuatu yang tidak terduga. Pikiranku kembali ketika aku berada di kamarku dan Tama mengecup keningku.
Kecupan yang sama dari orang yang sama. Hanya saja, kecupan kali ini terasa lebih lama dan tidak mengejar waktu. Tepat ketika itu, matahari menenggelamkan dirinya, hingga kami berdua terkena pantulan sinarnya.
***
Kakiku berjalan memasuki ruang kelas, seperti biasa Tama diam ditempat duduknya. Yang aku benci, dia tidak menyapaku sama sekali seakan kemarin tidak terjadi sesuatu antara aku dengannya. Aneh sih jelas sangat terlihat, bahkan orang yang tidak tahu menahu pun akan tahu bahwa dia terlihat aneh hari ini. Entah apa yang ada di pikirannya. Andai saja waktu bisa di undur aku mau kembali ke waktu kemarin sore, aku ingin bertanya dengan apa yang dia rasakan padaku. Aku ingin tahu tentang perasaannya. Aku ingin tahu tentangnya, tentang semua yang ada pada dirinya.
“Hai Chandani..” suara itu melenyapkan semua keingintahuanku. Ya siapa lagi kalau bukan Alfar―stupid boy yang punya hobi manggil nama orang seterah dia eh salah terserah dia, yang menurutnya bagus dan menarik. Dia hempaskan tasnya di meja sebelahku. Aku hanya menoleh dan mentapnya geram. “Pagi Chan,” sapanya lagi.
Tuh kan, namaku kayak nama orang China. Masa aku dipanggil ‘Chan’. Kemarin dia sudah bikin ribut di koridor utama, gara-gara manggil nama cewek yang naksir dia―belum sampai sebulan dia sekolah di sekolahku sudah bejibun cewek yang daftarin diri buat jadi ceweknya―pakai sebutan Frog―Fero Gracia―siapa coba yang tidak gondokan dipanggil Frog. Bodoh banget kan dia?
“Masih belum jera rupanya kamu,” sindirku. Dia tidak menoleh. Tangannya merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa buah buku. Kemudian menyerahkan buku-buku itu padaku.
Aku menatapnya tidak mengerti, “Apa ini?” tanyaku tanpa menyambut buku-buku yang dia sodorkan padaku.
“Buku pengobatan tradisional penyakit Kanker,” jawabnya berbisik. “Buku milik kakakku.” Lanjutnya, dengan suara yang kembali normal.
Aku terkejut mendengar kalimatnya, “Hah? Kanker?”
Dia mengangguk, “Yup.”
Tiba-tiba tubuhku langsung menegang, entah kenapa aku juga tidak tahu. Mungkin karena perkiraannya benar. Tanganku gemetar meraih buku-buku yang Alfar sodorkan. Meskipun ragu tapi aku harus membukanya. Karena itu memang aku butuhkan.
“Benarkan dugaanku?” lagi-lagi aku menunjukkan bahwa dugaannya benar.
Rasanya mataku sudah dipenuhi oleh genangan air mata.
“Itu,” jawabku ragu, “Tidak benar.”
Dia menggidikkan bahunya, dan meraih sebelah tanganku. “Ikut aku,” katanya.
Aku tahu dia akan membawaku kemana. Ke tempat rahasia yang sangat rahasia!
“Aku tidak mau,” sergahku menarik tangan kiriku dari genggaman tangan Alfar.
“Kalau kamu tidak mau, semua akan tahu penyakitmu!” katanya pelan tapi langsung menembus ulu hatiku. Dia mengancamku atau apa sih? Tangannya kembali meraih tangan kiriku. Kemudian berdiri dan menarikku keluar kelas.
Aku tidak bisa menghindari tatapan aneh teman sekelasku, mungkin Tama juga menatapku. Karena dari ekor mataku aku bisa melihat dengan jelas kalau Tama melirikku.
“Bisa tidak jangan menggandeng tanganku?” pintaku pada Alfar yang masih mencengkram pergelangan tanganku. Alfar tidak memperdulikan permintaanku, tanganku yang dicekalnya cukup erat berusaha memberontaknya tapi nihil. Alfar semakin mengencangkan cekalannya. Dan akhirnya aku hanya pasrah dengan tanganku yang memerah karena sakit.
***
Begitu bel pulang berbunyi, aku langsung berdiri dan membenahi buku-bukuku yang berserakan di atas meja. Setelah itu memasukkannya ke dalam tasku. Sejenak aku memaku di tempatku, merasakan aliran rasa sakit yang menyebar di sekujur tubuhku. Kakiku sampai gemetar karena nyaris tidak kuat dengan rasa sakit yang aku rasakan. Alfar berdiri memandangiku.
“Sakit lagi ya?” tanya Alfar dipenuhi dengan nada kekhawatiran. Aku mendesis pelan sambil menahan rasa sakit yang sudah dua kali menyerangku hari ini. Dia menyentuh pundakku pelan, kemudian tanpa aba-aba aku langsung kembali terduduk lemas di bangkuku.
“Jangan bilang ini pada ayahmu,” pintaku serak. Dia tertegun. “Juga jangan bilang pada ibuku.” Lanjutku lirih.
Kelasku sudah sunyi senyap. Hanya ada aku dan Alfar di dalam. Tama dan Dita sudah pulang lebih dahulu, begitu juga dengan anak-anak yang lain.
“Kamu bercanda,” Alfar tertawa sinis, “Leukimia akut, kalau tidak segera di kemo bisa menyebar dengan cepat!” lanjutnya. Matanya yang tajam menatapku dalam.
“Kalau kamu bicara hal ini pada mamaku, beliau pasti mengkhawatirkanku lagi.” tambahku. Seraya memegangi kaki ku yang sakitnya semakin menjadi-jadi.
“Aku tidak mau tahu masalah itu, yang penting kamu harus secepatnya menjalani khemotherapy,” ujarnya tegas. Aku tertegun. Sebesar itukan perhatian Alfar padaku?
“Kenapa kamu begitu ngotot menyuruhku mengikuti pengobatan itu?” tanyaku pelan. Matanya terus menatapku dengan sorot yang tidak bisa aku lukiskan maknanya.
“Karena aku tidak mau ada seseorang yang meninggal karena penyakit yang sama dengan kakakku...” jawabnya lirih. Aku merinding mendengarnya. Sesuatu kembali berkelebat di benakku. Ada sesuatu yang pernah di ucapkan seseorang persis sama
seperti yang di ucapkan Alfar barusan. Tapi, kembali kepalaku terasa sangat sakit
ketika aku berusaha menjelajahi pikiranku.
“Livi,” panggilnya. Memastikan kalau aku baik-baik saja. Aku menoleh. “Aku antar kamu pulang,” lanjutnya kemudian. Dia berdiri dan berusaha membantuku berdiri dan berjalan. Kenapa ada seseorang yang sama sekali tidak aku sangka datang secara tiba-tiba dan secara tiba-tiba pula dia memberikan perhatian lebih padaku. Aku sama sekali tidak menaruh rasa padanya, tapi kenapa dia memperlakukanku seperti ini? bahkan orang yang aku sukaipun tidak pernah memperhatikanku sajauh ini.
Alfar menuntunku dengan sabar menuju parkiran mobil. Tidak seperti biasa, kerjanya Cuma membuatku sebal. Tapi kali ini, dia begitu lembut hingga membuatku semakin yakin kalau cowok ini tidak bodoh. dia malah begitu pintar dan cerdas.
Meskipun kadang-kadang ada tingkah yang membuatku naik darah, salah satunya dia terlalu keras kepala.. seperti pagi tadi, tiba-tiba memberondongiku dengan pertanyaan, kemudian memaksaku untuk jujur dengan tiba-tiba dia menarikku ke taman Rahasianya. Dan di sanalah awal aku mengerti kenapa dia begitu keras dan tegas terhadap penyakitku. Dari sanalah aku berkata jujur padanya, karena dia memang mengetahui seluk beluk gejala penyakitku, bagaimanapun aku membohonginya dia tahu saja kalau aku berbohong. Karena penyakit ini adalah penyakit yang sama dengan penyakit yang di derita kakaknya. Hingga dia tidak mau ada orang terdekat kedua-nya―entah sejak kapan Alfar menganggapku sebagai orang terdekatnya―yang meninggal karena penyakit yang sama. Mungkin karena itu juga aku merasa nyaman di dekatnya. Tapi, bukan berarti aku menyukainya, aku hanya kagum dengannya yang begitu antusias menasehatiku tentang penyakit leukimia yang aku derita. Satu kata yang ku ucapkan untuknya dengan tulus dari lubuk hatiku, terimakasih Alfar!!
Dia membukakan pintu mobilnya untukku. Kemudian mendudukkanku dengan penuh perasaan hati-hati. Setelah itu, dia pun mengelilingi mobilnya dan masuk ke tempat kemudi.
“Alfar,” panggilku. Dia menoleh dan tersenyum hangat, senyum yang selama ini tersembunyi dibalik semua perilakunya padaku. “Terimakasih,” lanjutku tersenyum. Dia mengangguk dan kembali berkonsentrasi pada jalan raya yang begitu padat.
“Besok, aku akan mendaftarkan namamu di daftar patient ayahku,” ucap Alfar. Aku tercenung. Lagi-lagi dia menunjukkan sifat keras kepalanya untuk penyakitku.
“Bagaimana kalau tidak berhasil?” tanyaku menerawang. Alfar menoleh terkejut, kemudian menggeleng pelan.
“Kalau tidak berusaha bagaimana mau berhasil? Kamu terlalu pesimis,” jawabnya. Aku tertawa mendengar tuturannya. Dibalik semua sikapnya padaku yang terlalu sering membuatku marah ternyata dia mempunyai sifat dimana bisa membuatku tertawa. Baru kali ini aku merasa nyaman di dekat sang Stupid boy.
“Tapi...”
“Apa lagi?” tanyanya memotong kalimatku.
“Biayanya?” tanyaku ragu. Dia kembali tersenyum.
“Itu masalah kecil, aku bisa bilang pada ayahku kalau kamu pacarku, trus biayanya gratis deh!” heh? Tuh kan mulai lagi..
“Hah? Pacarmu? Aku tidak sudi..” tandasku cepat.
“Mau gratis tidak??”
“Kalau pakai cara begitu lebih baik aku mati saja,” aku memalingkan wajahku keluar jendela. Alfar tertawa melihat reaksiku. Selalu begitu, disaat aku serius pembicaraannya selalu melenceng dari maksud kalimatku.
“Benar ya? Tidak menyesalkan sudah bilang begitu? Bagaimana kalau tiba-tiba kamu jatuh cinta padaku?” tanyanya. Aku kembali menoleh padanya, kemudian mendelik. Lagi-lagi dia tertawa... Alfaaaaar.. dasaar stupid boy!!
“Berhenti bilang seperti itu padaku, ahh apa jangan-jangan kamu ya yang sudah menyukaiku?” susulku cepat. Dia menoleh dan hahahah... lucu sekali, wajahnya jadi benar-benar kayak orang bodoh. Dia salah tingkah dan merubah suasana hatiku menjadi bahagia karena aku menaaang.. yiiihaa...
Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya. Tapi tiba-tiba dia melemparkan ciuman kecil dipipiku. Hingga aku terdiam sambil menatapnya tak mengerti.
“Kamu..” aku mengerutkan keningku tidak mengerti. Dia tersenyum dan menggidikkan bahunya. Dia kembalikan posisinya menghadap jalan raya. Dan kemudian diantara kami hanya dikabuti oleh diam dan aku tidak berani angkat biara lagi.
Herannya, Alfar kenapa dia tahu rumahku? Dia menghentikan mobilnya tepat di depan rumahku. Aku kembali melemparkan tatapan tak mengerti padanya.
“Bisa turun sendirikan?” tanyanya lembut. Aku mengangguk. “Jangan heran kalau aku tahu rumahmu, waktu kecil ayahku kan sering mengajakku ke sini? Lagian, mungkin kamunya aja yang lupa..” katanya seakan mengerti maksud tatapan mataku.
“Livi,” panggilnya ketika aku akan membuka pintu mobilnya. Aku menoleh. “Terimakasih untuk hari ini di sekolah,” aku mengerutkan keningku. Kata-katanya hari ini cukup membuatku jadi orang bodoh. “Terimaksih sudah mau menjadi temanku hari ini.” lanjutnya. Aku tertegun. Apa lagi maksudnya, okke, aku terima kata permintaan terimakasihnya meskipun aku masih tidak mengerti maksudnya.
Aku hanya menganggukkan kepala dan berusaha tersenyum. “Terimakasih juga,” sahutku. “Terimakasih sudah membuatku sadar arti kekeras kepalaanmu hari ini.” lanjutku dengan deraian tawa yang tiba-tiba keluar dari mulutku.
“Mumpung besok libur, aku akan menemanimu khemo seharian.” Ujarnya.
“Terimakasih,” ucapku lagi tanpa menghiraukan ajakannya untuk besok minggu. Kemudian aku turun dan masuk ke dalam rumahku.
***
Aku mengambil surat dokter di dalam laci meja belajarku. Surat itu sempat aku baca sekilas, hanya untuk memastikan penyakitku. Dan hari ini, aku akan membacanya dengan cermat. Di sana di jelas beberapa macam jenis kanker darah atau yang sering disebut dengan leukimia dalam kedokteran.
Yang pertama adalah Leukimia Limfositik Akut―suatu penyakit yang berakibat fatal, dimana sel-sel yang dalam keadaan normalberkembang menjadi limfosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang―biasanya leukimia jenis ini sering terjadi pada anak-anak, dan jenis ini merupakan 25 persen dari semua jenis kanker yang mengenai anak-anak di bawah 15 tahun.
Yang kedua adalah jenis Leukimia Mieloid Akut―penyakit ini juga berakibat fatal, dimana mielosit yang dalam keadaan normal berkembang menjadi granulosit dan berubah menjadi ganas―penyakit ini bisa menyerang segala usia, tetapi yang lebih serang menyerang orang dewasa. Dan menurut diagnosa dokter, leukimia jenis inilah yang menyerang tubuhku. Entah bagaimana cara menyembuhkannya yang jelas menurutku penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa menunda waktu kematian saja.
Selanjutnya, ada jenis LeukimiaLimfositik Kronik―jenis ini ditandai dengan adanya sejumlah limfosit matang yang bersifat ganas dan pembesaran kelenjar getah bening―dan jenis ini menyerang lebih dari ¾ penderita berumur lebih dari 60 tahun dan 2-3 kali lebih sering menyerang laki-laki.
Yang terakhir yang tertera di brosur ini adalah jenis Leukimia Mielositik Kronik―suatu penyakit dimana sebuah sel di dalam sumsum tulang berubah menjadi ganas dan menghasilkan sejumlah besar granulosit yang abnormal―penyakit ini bisa mengenai semua kelompok umur, baik laki-laki maupun perempuan, dan jarang ditemukan pada anak-anak yang berumur kurang dari 10 tahun.
Aku menghela napas panjang membacanya, kali ini aku benar-benar takut dengan penyakitku. Tapi, aku hanya seorang manusia biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa, berusaha dan pasrah dengan keadaanku.
Aku membentangkan kedua tangaku di tempat tidurku, aku teringat sesuatu tentang Alfar. Ketika dia menceritakan tentang keluarganya yang benar-benar lemah, ketika kakaknya di serang penyakit yang sama denganku, ayahnya yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis kanker gagal menyelamatkan nyawa kakaknya. Ayahnya sempat frustasi karena menyesal atas keterlambatannya mengobati anaknya, hingga akhirnya Alfar berhasil membangkitkan semangat ayahnya untuk membayar semua hutang keterlambatan ayahnya dengan cara harus berhasil menyelamatkan nyawa orang lain. Mungkin itu menjadi semangat tersendiri bagi ayah Alfar yang telah kehilangan satu anak sulungnya. Dengan begitu, dia berhasil memulihkan keadaannya dan bangkit dari penyesalannya. Karena, penyesalan memang selalu tidak berguna, bukan?
Oya, aku juga teringat dengan ucapannya di mobil tadi. Dia sering ke rumahku waktu dia kecil? Itu artinya kalau dia pernah kenal dengan ku, tapi kenapa aku sama sekali tidak ingat hal itu ya? Apa ini pengaruh penyakitku yang sudah menjalar ke pusat ingatanku hingga aku menjadi blank seperti sekarang?
Atau, ayahnya pernah mengenal papa dan mamaku? Tapi kapan?? Ah lebih baik aku tanyakan saja pada mamaku, pasti beliau tahu lebih banyak tentang masa-masa ketika dr. Zakky Armany Sp.K, ayahnya Alfarizal Athaa Davinza teman sekelasku sering datang ke sini.
Aku bangun dari tempat tidurku, kemudian berdiri dan membuka pintu kamarku. Terlihat mama sedang berjalan mendekatiku. Mama tersenyum, kemudian menyerahkan beberapa bungkus pil dan obat-obatan herbal lainnya padaku.
“Mama dari rumah dr. Zakky, dia menyerahkan ini untukmu, di minum yang teratur ya,” jelas mama. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Iya ma,” jawabku sopan. Mama kembali hendak meninggalkanku, tapi segera aku cegat mama. “Ma,” panggilku. Mama menghentikan langkah kakinya dan menoleh.
“Ada apa sayang?” tanya Mama lembut.
“Boleh aku bicara sama mama?” tanya ku pelan dan ragu. Mama mengangguk.
“Bicara tentang apa?” tanya mama.
“Di kamar aku, boleh ya ma.” Aku bergelayut manja dipergelangan tangan Mama. Beliau hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang segera beranjak dari usia 17 tahun.
Setelah masuk ke kamarku, aku pun segera duduk di tepi tempat tidurku begitu pula mama. Aku menarik napas panjang, kemudian memaksakan bibirku untuk tersenyum.
“Ma,” aku mulai membuka percakapan. “Apa mama dan dr. Zakky sudah lama berteman?”
Seketika, setelah mendengar pertanyaanku raut wajah mama berubah sendu. Entah apa penyebabnya. Mama masih diam, aku jadi semakin bingung.
“Ma,” aku mencoba menyadarkan mama dari ketertegunannya.
Mama tersentak, “Ya,” tanya Mama refleks. Aku semakin tidak mengerti dengan tanggapan yang mama berikan.
“Mama tidak apa-apakan?” tanyaku khawatir.
Mama menggeleng, kemudian tersenyum tipis dan terlihat menyakitkan. “Mama capek, bicaranya nanti saja ya sayang,” ucap mama, kemudian berdiri. Aku mengerutkan kening, dan langsung mengangguk pelan dengan penuh pertanyaan yang bergelayut di pikiranku. Mama keluar dengan meninggalkan sesuatu yang mengganjal di hatiku. Kenapa mama jadi seperti tegang ketika mendengar pertanyaanku, apa masalah mama sesungguhnya, dan ada hubungan apa sih mama sama dr. Zakky, ayahnya Alfar. Ahh pertanyaan itu, membuat kepalaku pusing tiba-tiba!!
Rabu, 03 Agustus 2011
FEELING...? [4]
“Tempat ini adalah peninggalan cinta kakakku...” ucapnya datar. Aku tidak terkejut, hanya sedikit aneh mendengar pengakuan yang sedikit tidak asing ditelingaku. Bayangan wajah kakakku, seorang perempuan cantik dan begitu murah hati membahana dikepalaku.
Tempat yang begitu indah, rumput hijau yang membentang, bunga seperti sedang berada pada musim semi.
Aku menghirup udara disana. “Cinta?” bisikku memastikan. Benar saja, Alfar mengangguk. Kenapa harus ada cinta?
“Kamu sakit?” katanya tiba-tiba mengembalikan topik pembicaraan kamu semula yang membuat semua urat ditubuhku menegang. Liv, kamu tidak akan memberi tahu siapa pun tentang penyakitmu bukan? Batinku mulai mengingatkan.
Aku menatapnya tajam, “Aku tidak sakit,”
“Oya?”
Aku mengangguk, dan berkata singkat dan berbohong tentunya (lagi!), “Ya.”
“Lalu?” katanya pelan tapi cukup membuat bulu kudukku bergidik semua. “Mimisan, muka pucat, dan rambut...” dia menyebutkan semua yang terjadi padaku lalu jemarinya meraih beberapa helai rambutku yang menempel diseragam sekolahku dengan menggantungkan kalimatnya. Apa??? Rambutku... aku segera merebut paksa helaian rambutku disela jemari tangannya.
“Itu...” aku mulai gemetar, tapi aku tidak akan pernah mengakui penyakit gila yang akan menggerogoti hidupku. “Itu rambut rontok, karena aku belum keramas dua hari..” ah jelas sekali bohongnya.
“Belum keramas dua hari?” tanyanya sama sekali tidak memunculkan reaksi terkejut atau bahkan menyindir. Sedikit menimang jawabanku, dan “Rambutmu basah begitu, masa belum keramas dua hari?” GUBRAAKK.. Livia bodoh.. ternyata kamu benar-benar bodoh seperti yang Alfar bilang!!
“Oke, dan kamu berbohong padaku..” telak. Aku kalah sangat telak. Dia mengetahui kebohonganku. “Kamu pikir aku tidak tahu gejala penyakitmu itu?” tanyanya membuatku membeku. “Kakakku meninggal, karena penyakit yang mempunyai ciri yang sama seperti mu!!” plaakk.. tepat sasaran. Dia menghujam seluruh tubuhku dengan perkataannya.
“Menginggal?”
“Iya, penyakit jahat itu sudah mengambil kebahagiaannya!!” jawabnya pelan dan tajam. Lagi-lagi aku seperti pernah mendengar penjelasan yang sama, tapi mendadak kepalaku sakit sehingga otakku tidak bisa berpikir jernih untuk mengingatnya.
“Apa hubungannya dengan ku?” aku berusaha tidak menghiraukannya. Acuh tak acuh. Tapi, aku sangat ingin mendengarnya.
“Aku hanya minta kamu mengakuinya.” Ucapnya memandangiku dengan seksama hingga aku harus menundukkan kepalaku kalau tidak mau ketahuan berbohong. Sampai kapanpun aku tidak akan mengakuinya, dasar bodoh. Mana ada minta pengakuan dengan cerita yang menakutkan, aneh!
“Apa aku harus mengakui hal yang tidak terjadi padaku?” aku bertanya santai, seolah benar-benar penyakit itu tidak ada pada diriku.
Dia terdiam, kemudian “Oke, kamu tidak harus mengakuinya.. tapi aku akan mencari tahunya sendiri,” hah?? Dia membuatku mati. Apa haknya? Dia bukan kakakku, bukan temanku, bukan saudaraku dan bukan siapa-siapaku? Tanpa mengajakku pergi dari tempat itu, dia berlalu meninggalkanku yang tercenung sendirian.
Cukup lama. Sampai akhirnya aku teringat tentang... “Obatku.. astaga!” secepat mungkin aku berlari meninggalkan tempat itu, menuju pintu belakang gudang dan segera melesat keluar gudang sekolah. Itu tempat memang beneran aneh, masuk gudang sekolah yang terletak di samping kantor kepala sekolah, lalu di dalam gudang itu terdapat pintu tepat di belakang, kemudian keluar barulah kita bisa sampai ke tempat yang begitu indah. Aneh kan?? Bukan tempatnya yang aneh, tapi orang yang membuatnya begitu rahasia hingga aku pun yang sekolah di sana selama hampir tiga tahun, baru tahu ada tempat seindah itu di sekolahku. Aku yakin, selain dia dan aku tidak ada yang tahu lagi. karena tempat itu benar-benar rahasia!!
Aku merogoh tasku, dan benar saja.. obatku!! Dan aku langsung menoleh ke arah Alfar yang menatapku tajam. Apa-apaan ini? Dia menatapku tajam dan menghunus.. seakan ingin membunuhku.
“Kau minum obat ini?” tanyanya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku mendelik dan ingin merebutnya. Itu obatku, botol kecil dengan label berwarna hijau. Itu obat herbal yang diberikan karyawan pada mama, untuk meredakan rasa sakitku.
Beberapa saat hening, kemudian ponselku bergetar menandakan ada SMS masuk. Dilayar bertuliskan, Luvly Mom..
Syg, obtmu ketinggalan,mama akan segera mengantarnya.
Sedikit kelegaan akhirnya menghampiriku, meskipun sedikit terkejut dengan adanya obat yang sama persis dengan obat milikku.
Secepat mungkin aku membalas SMS mama, yang berisi satu kalimat singkat, yang cukup menyerukan bahwa aku tidak perlu. “Tidak usah ma” singkat bukan. Dan kemudian mama kembali membalas, “Nanti penyakitmu kambuh bagaimana?” rupanya mama sangat mengkhawatirkanku. Tak kalah cepat aku kembali membalas, dengan kalimat yang mungkin tidak menjamin kekhawatiran mama akan mereda. Sampai bel masuk berbunyi nyaring, aku masih berdebat SMS dengan mama. Anak bandel! Itu kalimat terakhir yang tertera dilayar ponselku dan tertanda, Luvly Mom. Halaah..
***
“Berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak meminum obat itu?” darahku sudah mendidih gara-gara mendengar pertanyaan yang membuatku sakit kepala. Dasar Alfar, dia orangnya benar-benar pantang menyerah.
“Hai sayang...” terdengar teriakan dari belakangku, biasa Dita. Dia menyelami hobi barunya dengan berteriak sekeras-kerasnya pada Tama. Dengan menyerukan kata yang membuat telingaku memerah seketika. Apa tidak bisa, volume suaranya itu dikecilkan sediiikit saja, biarkan aku menuju jalan hidupku tanpa mendengar dan menyebut nama Tama lagi.
“Haai..” Tama pun ku pikir sudah mempunyai hobi baru, selain duduk di perpustakaan dengan buku tebal ditangan ternyata dia juga ‘punya’ hobi baru. Sama seperti Dita. membosankan.. Mereka saling melempar senyum dan setelah berhadapan mereka saling merengkuh satu sama lain. Kecuali, kalau Tama sedang bad mood, mungkin jadi seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Jadi, malas melihatnya.
“Ayolah, apa susahnya untuk berkata jujur Liv,” Ampun deh, ni orang beneran cari ribut sama aku tahu tidak. Seharian di sekolah, sampai pulang les tambahan menyongsong Ujian dia masih saja memaksaku untuk berkata jujur tentang penyakitku.
“Apa susahnya? Hey, aku sudah Jujur, kenapa masih kamu paksa untuk berkata jujur?” timpalku sebal. Ubun-ubunku rasanya sudah mengeluarkan alarm kebakaran. Panas! Dan berasap! “Kamu mau aku menjawabnya berbohong ya?” susulku cepat. Dia menggidikan bahunya dan menggeleng. “Ya sudah kalau begitu, jangan tanya lagi.” aku segera meninggalkannya. Dan setengah berlari menuju taksi yang terparkir di tepi jalan raya. Kemudian masuk.
***
Sepertinya doaku yang waktu itu, terkabul. Aku meminta agar Tama berhenti memberiku harapan. Dan.. setelah dua minggu terakhir, juga setelah kejadian pertanyaan Jujur paksa itu lewat tentunya. Tama benar-benar meninggalkan harapan itu... dalam artian, dia sudah tidak terlalu menimbulkan harapan yang semu untukku tapi dia sudah membuatku gila. Karena, dia tidak pernah menyapaku lagi. dan kalian tahu apa yang dia lakukan di kelas? Dia hanya duduk dan bergurau dengan Dita seorang. Dan ternyata itu semakin membuat aku tersiksa olehnya! Lebih menyakitkan dari yang ku bayangkan. Aku pikir setelah Tama berhenti memberikan respectnya padaku aku akan merasa nyaman dan tenang. Ternyata pemikiranku salah total, aku malah pusing sendiri memikirkannya. Tidak ada tegurannya, tidak ada senyumnya, tidak akan makan mie ayam bersama... dan tidak ada belajar bersama lagi!
Miss U Tama..
“Hyaaaaaaaaa... aku muak dengan semuanya!!!” teriakku menggema di dalam kamarku. Mama langsung membuka pintu kamarku dan mendapatiku yang menyeringai ketika menyadari kedatangannya.
“Kenapa Livia??” tanya Mama mengelus dadanya, mungkin terkejut mendengar teriakanku yang sumpah, nyaring banget!
Aku kembali menyeringai lebaar, lalu menggeleng. “Tidak,”
“Fiuuh,” Mama mengusap keningnya yang mulai basah karena keringatnya, “Jangan ulangi teriakan itu, kamu bikin mama khawatir!” Braak, pintu ditutup keras. Hoh, aku hanya ingin melepas kegalauanku ma!! Please, biarkan aku sedikit menenangkan perasaanku.
Ponselku berdering, dan namanya membuatku terlonjak karena kegirangan, Tama. Tamaaa.. Tamaaa menelpooon ku.. aku tidak sedang bermimpi kan?? Plaak, tamparan melayang dipipiku, “Adoowh..” sesegera mungkin aku mengelusnya. Dan memencet tombol hijau, aku diam. Dia juga diam. Aku mau bilang haloo, malah dia juga mau bilang halooo..
“Ada apa?” tanyaku tanpa basa basi.
“Ee, kamu ada di rumah?” haaa.. aku melompat ke tempat tidurku. Mendadak jantungku dag dig dug tidak karuan. Aku jauhkan ponselku sejenak dari telingaku, kemudian tertawa tentu saja tidak menggunakan volume tinggi. Kalau pakai volume tinggi bisa ketahuan nanti! Ogaah! Gengsii dong?? “Liv..?” terdengar samar suara diseberang memanggil namaku. Kembali aku dekatkan ponsel ke telingaku. Berdehem menahan tawa sejenak. Menarik napas.
“Iya? Eem ada, kenapa Tam?” tanyaku, terdengar jelas kalau aku sedang gugup. Hembusan napas yang menyejukkan terdengar dari sana.
“Aku mau ke rumah mu bol..” aku menjauhkan ponselku lagi tanpa mendengarkan kalimat lanjutannya.. hyaaaaaaa... aku kembali melompat kegirangan. Yes yes yes,, belum juga satu jam aku mengharapkan hal ini, eh udah kejadian. Senangnya!!
“Ehm, gimana ya? Kenapa ke rumahku?” ahh sok jual mahal banget ya?? Ahh tidak apa lah, yang penting aku harus tahu alasannya dulu untuk apa dia ke rumahku? Betul??
“Engg.. mau minta bantuan tugas Fisika,”
Yahh.. tugas lagi.. kenapa sih setiap kali dia ke rumahku harus ada kata TUGAS di sela pembicaraannya? Apa tidak ada kata lain yang lebih nyaman di dengar di telingaku?
“Oo, boleh.. tapi jangan lama-lama ya, aku harus ke rumah temanku masalahnya!” gedubrakk.. bohong, yah apa boleh buat, rupanya gengsiku sama sekali tidak bisa di tawar lagi harganya!
“Oke, lima menit lagi aku sampai!” suaranya terdengar kegirangan. Apa? Kegirangan? Ya ampun, artinya dia.. dia bahagia aku mengizinkannya datang ke rumahku. Wkwkwk senaaaangnya hatiku..
“Oo, lima menit? Oke.. baiklah..” klik.. sambungan terputus. Aku beranjak ke kamar mandi dan mandi dengan speed yang terhitung sangat cepat untuk ukuran cewek berumur 17 tahun. Sekitar tiga menit aku sudah siap dengan celana jeans dan baju kaus berwarna merah marun berlengan pendek. Menyisir rambut, memoleskan sedikit bedak dan let’s going to living room..
Satu menit, satu setengah menit dan dua menit.. teng.. lima menit sudah berlalu. Dan suara sebuah motor yang sudah sangat ku kenal terdengar dari halaman rumahku. Aku memandangi diriku, rasanya aku terlalu berlebihan.. kayak orang mau jalan-jalan aja, padahalkan Cuma mau mengerjakan ‘tugas’. Ah masa bodoh, emang sekarang otakku lagi rada bodoh-bodohnya..
Oo God.. dia melepas helm yang bertengger dikepalanya, kemudian turun dan melangkah menuju pintu gerbang rumahku. Setelah, membuka pagar rumahku dia maju dan siap-siap Livi, sebentar lagi dia akan mendekat.. jreng jreng.. gedebak gedebuk.. aduuh, jantungku manis, bisa tidak kalau menendang dadaku tidak usah kencang-kencang nanti Tama dengar lagi suara kamu..
Sumpah, Sweaar dan benar deh nih, aku merasa sangat tidak karuan di rumahku sendiri. Beberapa detik kemudian dia melempar senyum ke arahku. Aku tertegun, terpana, terenyuh.. buseet gila.. aku benar-benar seperti di dalam mimpi langkaku.
Seorang pangeran datang dan memancarkan senyuman maut untukku, hingga aku terbuai ke dalam mimpi yang terlalu membuatku berbunga-bunga. Seandainya, aku di Jepang.. aku mau kejadian ini terjadi di bawah keteduhan pohon Sakura, ketika dia tersenyum tiba-tiba tubuhku melayang ke arahnya karena tidak bisa menahan degup jantungku dan menahan keseimbangan kakiku, dia menangkapku dan kemudian bunga-bunga sakura berjatuhan ke arah kami.. Ooo soo Sweeet..
Terlihat olehku bayang-bayang lima jari seseorang melambai tepat di depan wajahku, dengan cepat aku mengedipkan mata dan kembali ke kenyataan. Tama melambaikan tangannya padaku. Aku tersentak. Dan tak bisa menyembunyikan rona merah wajahku.
“Hai.. Liv, kamu baik?” tanyanya. Ya ampun, berapa lama aku menghayal?
“Ehm ba.. baik.. o kamu sudah datang rupanya,” jawabku refleks. “Masuk,” aku mengajaknya masuk ke ruang tamu. Dan ketika aku balik badan, mama ternyata sudah berada di belakangku. Dia tersenyum yang sangat sulit tuk dimengerti, tapi dibalik senyum mama terdapat suatu kebahagiaan yang tersirat di matanya. Entah apa maksud kebahagiaannya itu..
“Nak Tama, sama siapa?” mama membuatku tertegun mendengar pertanyaannya. Lembut dan hangat, lagi-lagi aku tidak bisa menangkap signal kebahagiaan mama.
Tama berjalan menghampiri mamaku, dia menyalami mamaku dengan adab sopan santunnya, membuat keyakinan hatiku semakin bertambah kalau dia adalah cowok yang benar-benar baik. Maksudku, bukan sembarang cowok.
“Sendiri Tan,” jawabnya. “Tante apa kabar?” lanjutnya bertanya. Perhatian sekali dia sama mamaku?
Mama masih menyunggingkan senyumnya, “Baik, kamu?” eh kok malah mereka berdua yang ngobrol?
Tama balas tersenyum, “Baik Tan,” oooh.. mungkin aku sudah tidak terlihat rupanya, ckckck badanku sebesar ini mereka anggap apa? Huh aku kan masih hidup, umurku masih panjang, kecuali kalau penyakitku memintaku untuk mati, barulah aku mati..
“Ehem..” aku berdehem memecah keheningan yang menyelimuti batinku, seperti suara drum rasanya... “Tugas yang mana?” tanyaku to the point pada Tama. Mama mengerlingkan mata menatapku ketika Tama memandangiku ‘heran’.
Tama menatapku, dan menjawab, “Yang itu, ehm tugas yang kemarin di berikan Pak Mahmud, masa kamu lupa??” eh, bukannya tugas pak Mahmud sudah dikumpulkan tadi siang ya? Wah ada yang aneh sama cowok ini, atau akunya yang tidak ‘ngeh’ ya??
“Hah? Pak Mahmud kan memberikan tugasnya sudah tiga hari yang lalu, dan perasaan tadi siang sudah dikumpulkan.” Aku mengernyitkan keningku karena ternyata aku yang kurang ngeh.
“Hah? Sudah dikumpulkan? Kapan? Kenapa aku belum? Kamu sudah ngumpul?” tiba-tiba pertanyaan yang bertubi-tubi keluar dari mulutnya. Arkkh, dia yang salah sangka dan untungnya bukan aku yang kurang ngeh!! Yihaa...
Aku mendelik ke arahnya, tidak mengerti melihat reaksi pertanyaannya. Apa jangan-jangan dia sudah tertular virus Foolishia milik Alfar lagi.. heleeh, membingungkan.
“Jangan bertanya banyak begitu, aku pusing mendengarnya!”
“Oke maaf, aku ulangi satu-satu,” dia menghela napas panjang, dengan perlahan dia mengutarakan pertanyaannya padaku. Sampai aku mencerna dengan baik apa yang dia tanyakan. Ternyata dia belum mengumpulkan tugasnya karena dugaanku yang itu, dia tertular virus Alfar. Gara-gara Alfar bilang mengumpulnya minggu depan, dan Tama belum bisa menalar maksud Alfar makanya dia menurut. Padahal maksud Alfar, dia hanya bercanda.. benarkan kataku, dia juga ikutan stupid kan...
“Salah sendiri, sudah tahu Alfar begitu masih saja bertanya padanya...” aku mengumpat. Dia hanya melemparkan senyuman miris karena sudah terjebak oelh gombalan Alfar.
Alhasil, belajar mengerjakan tugas Fisika kami batal. Dan aku sama sekali
tidak keberatan, karena dengan batalnya tugas kami maka...
“Aku boleh mengajakmu jalan-jalan??” itulah pertanyaan yang membuat hatiku melompat kegirangan untuk yang kesekian kalinya. Dan tanpa memperdulikan statusnya yang sudah punya ‘pacar’, aku pun menyetujuinya.
***
Bukan harapan yang semu, tapi sebuah impian yang suatu saat akan terwujud...
Aku mengalaminya, awalnya dia hanya sebuah harapan untukku. Tapi, entah kenapa hari ini aku merasa harapan itu menjadi sebuah mimpi yang menandakan bahwa dia bukan hanya sebuah harapan tapi akan menjadi sebuah mimpi yang terwujud kelak. Meskipun aku tidak tahu kapan mimpi itu akan menjadi nyata.. yang pasti aku akan menjalani hidupku, melewatinya dengan segala perasaan.
Aku membonceng di belakang Tama, duduk berhimpit naik motor.. memang aku sedikit tidak menyukai naik yang namanya motor. Terlalu menyiksa untukku. Rambutku rusak karena angin, kalaupun pakai helm akan semakin rusak karena rambutku bisa jadi seperti ekor bebek yang mencuat naik pada bagian ujungnya. Selain itu, kalau terjadi kecelakaan―hanya sebuah perumpamaan bahaya naik motor―tubuh pengendara bisa langsung terlempar dan bisa-bisa dia harus.. ahh tidak hanya perumpamaan.. lalu, kalau naik motor juga bisa mengakibatkan masuk angin, apalagi kalau tidak pakai jaket karena sekarang rasanya perutku bergejolak, sepertinya isi perutku minta dikeluarkan.
Belum juga sampai ditempat tujuan, aku malah minta turun. Mau tau alasanku? Dan menurutku tidak usah tahu, karena cukup memalukan! Masa orang naik motor mabuk?? Kan aneh??
“Kamu tidak kenapa-kenapa kan?” Tama menghentikan motornya di tepi jalan raya. Dia bertanya dengan nada khawatir yang sangat menusuk tulang rusukku. Apa dia benar-benar mengkhawatirkanku? Apa hanya sebuah perhatian karena dia temanku? Ahh bodoh, sekarang perutku mual―hanya mual karena masuk angin.. hueekss..
“Aku tidak kenapa-kenapa, kamu bawa air?” tanyaku mengelus tenggorokanku yang rasanya tercekat sebuah cairan. Sepertinya aku mau muntah...
Tama membuka jok motornya dan mengeluarkan sebotol air mineral, “Ini,” dia menyerahkannya padaku.
Gleekk.. legaaa, aku bernapas dengan tenang, tak berapa lama, aku merasa hidungku mulai basah.. aku usap dengan telunjukku. Dan benar saja, lagi-lagi kenapa harus dilingkungan luar.. darah menetes lagi. Dengan cepat aku merogoh saku celanaku dan mengambil sapu tangan berwarna abu-abu yang aku bawa selagi di rumah tadi.
“Liv, wajahmu pucat..” Tama membuyarkan lamunanku. Apa yang harus aku katakan, aku tidak mau berbohong pada orang yang aku sukai, tapi aku juga tidak mungkin berkata jujur padanya. “Kamu baik?” dia meraih kedua pundakku, menghadapkan badanku ke arahnya. Matanya sepertinya terfokus pada wajahku, langsung ku tundukkan kepalaku menhindari tatapan matanya yang membuatku bergidik.
“Aku baik, bisa antar aku pulang?” kata-kata itu meluncur dari mulutku, aku menyesal telah mengatakannya, bukannya apa.. tapi ini suatu kesempatan langka yang akuu dapatkan dari seseorang aku sukai. Benarkan?
“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang..”
“Eehm Tam, tidak jadi.. lebih baik kita lanjutkan perjalanannya, aku mau tahu kamu akan mengajakku kemana?” ralatku. Suaraku sedikit parau mungkin karena sedikit dari darah yang mengalir di hidungku kembali ke tenggorokanku.
Dia menatapku khawatir,“Tapi wajahmu pucat begitu, aku tidak yakin aku bisa membawamu dengan aman,”
“Sudahlah, aku tidak apa-apa, hanya mimisan kecil..” terpaksa aku berbohong. Lebih baik aku sakit dari pada melihat yang orang itu tersakiti karena aku.
Dia masih belum yakin, “Tapi..”
“Tama, please.. aku tidak apa-apa.” kataku memotong kalimatnya, dengan sedikit nada paksaan yang tersirat dikalimatku. Dia menghela napas panjang dan mengangguk. Akhirnya, aku tidak jadi membuang kesempatan langkaku...
***
Sepanjang perjalanan menuju keindahan, Tama selalu memegangi tanganku dengan tangan kirinya, tanganku aku lingkarkan dipinggangnya. Bukan kemauan ku, dia yang menyuruhku. Dia takut terjadi sesuatu padaku. Apa dia mempunyai perasaan yang sama sepertiku? Ahh tidak, dia sudah punya pacar, mana mungin dia menyukaiku...
Dia menghentikan motornya, entah dimana tempat itu. “Sampai, ayo turun,” perintahnya lembut. Aku turun, dan melepas jaket Tama yang menyelimuti tubuhku. Aku kembalikan jaketnya. Dia menyambut dan tersenyum. Itulah, sebuah kenangan manis yang tidak akan aku lupakan.
“Dimana?” tanyaku seraya melemparkan pandangan ke seluruh sudut ditempat itu.
Dia tersenyum, “Pantai.” Jawabnya. Pantai?? Hehe mataku yang salah lihat apa telingaku yang salah dengar??
Tama meraih tanganku, dia menarikku halus menuju tempat yang katanya ‘pantai’, yang aku lihat dan aku rasakan sekarang hanya pepohonan rindang, dan hembusan angin yang bersemilir lembut menerpa rambutku. Selain itu, tidak ada lagi...
Setelah beberapa langkah ke depan, baru aku tersadar... ternyata, tempat ini benar-benar pantai.. sangat indah. Meskipun sepi, tapi tidak mengurangi keindahannya. Pantai itu terletak sekitar seratus meter dari tempat Tama memarkir motornya. Hanya terdapat jalan setepak menuju Pantai sesungguhnya. Setelah melewati pepohonan rindang, dan melewati jarak yang bisa dibilang cukup dekat itu, aku baru percaya bahwa tempat ini adalah pantai...
“Wow,”sorot kekaguman memancar dari mataku, begitu juga mulutku. Ombaknya, warnanya, dan pemandangannya begitu menawan.
“Suka?” tanya Tama membuyarkan kekagumanku. Aku hanya menganggukkan kepala, dan berkata dalam hati, “Sangat indah Tama, seperti hatiku saat ini...”
Tak berselang waktu lama, dia kembali menarik tanganku. Aku sempat terkejut, tapi sepertinya dia tidak menyadari keterkejutanku. Entah apa sekarang yang ada dipikiran cowok di sampingku. Wajahnya lebih terlihat tenang dan bahagia. Tidak setenang ketika kami berada di sekolah. Juga tidak ada sorot kebohongan ketika aku melihatnya di sekolah. Mataku tak lepas dari sosok yang berjalan lurus menuju deburan ombak putih.
Pasir di pantai itu putih, bebas dari sampah dan kotoran kuda. Air lautnya juga membiru. Ah tidak bisa dilukiskan dengan tulisan kata-kata... sangat indah!!
Tama menghentikan langkahnya, hingga aku juga ikut berhenti, “Kalau kamu mau lebih lama di sini, kamu bisa melihat matahari terbenam,” Tama berujar. Matanya tertuju pada ujung pantai, di mana tempat biasa terbenamnya matahari.
Ya, sepertinya kata Tama benar. Dari sini kami bisa melihat matahari terbenam. Langit pun sudah mulai memerah. Tanda bahwa sebentar lagi penghuninya akan segera kembali dari hunian sementaranya. Seperti menyemburatkan rasa malu, atau karena dia sedang bahagia dan tersenyum padaku. Seakan langit sore juga merasakan bahagiaku, dia mengucapkan selamat atau terimakasih sudah berkunjung dengan seseorang yang aku sayangi. Haha khayalanku tinggi sekali ya..
Aku tersenyum padanya, “Boleh,” jawabku. “Tapi, kamu harus meminta izin dulu pada mamaku,” lanjutku membuat sepasang matanya menatapku dan terkekeh.
“Seperti anak kecil saja,”
Aku mendelik, “Eh, kalau tidak mau, kita pulang sekarang,” ancamku akan berbalik badan.
“Tidak bisa,” susulnya cepat sambil mencekat tanganku. “Baiklah, aku akan minta izin pada mamamu, mana ponselmu?” dia mengulurkan tangannya padaku memintaku untuk menyerahkan ponselku.
Aku menatapnya bingung, “Ponsel ku?”
“Ya, ponsel siapa lagi?”
“Tidak bisa begitu, kamu yang mau minta izin kenapa harus pakai ponselku?” aku mengeluarkan jurus protes yang sering aku pakai atau yang lebih tepatnya jurus protes andalanku.
“Kalau bukan ponselmu, aku dapat nomor rumahmu dari mana?” ya ampun.. bener juga. Ah Livia lagi-lagi kamu mengeluarkan kebodohanmu di depan orang yang kamu sukai.
“Kan bisa langsung minta nomornya padaku!!” jawabku menjerit karena kesal.
Tama memalingkan wajahnya, “Kalau tidak mau, ya tidak usah!” huaaa.. cepat banget dia menyerah, kenapa tidak menggunakan ungkapan yang ada di lagu D’masiv yang judulnya ‘Jangan Menyerah’ huh dasar Tama, dari dulu sukanya begitu!!
“Baik, aku pulang saja kalau begitu.” Aku balik badan dan...
Tama menarik tanganku, seketika tubuhku sudah berada dipelukannya. Aku terkejut, aku shok, aku takut... perasaanku tak karuan sama persis ketika Tama mengecup keningku waktu itu. Jantungku berdegup sangat kencang, darahku serasa mengalir sangat deras. Aku mengedipkan mata beberapa kali, untuk memastikan ini bukan mimpi atau khayalanku.
Harapan itu.. apa harapan itu kembali menjemputku? Apa perasaanku saat ini? Bagaimana dengan perasaannya? Hah.. kenapa terjadi lagi??
“Aku akan meminta izin pada mamamu,” bisiknya tepat ditelingaku. Bulu kudukku langsung bergidik. Hangat, lembut dan err.. membuat sekujur tubuhku membeku.
“Tama, lepas...” desisku mendorong lembut tubuhnya agar melepaskan pelukannya. Dia tak menggubrisku, malah semakin mengeratkan pelukannya. Apa maksudmu Tama?? Kenapa kamu memelukku?
“Jangan menjauh... tetaplah di sini... bersamaku...”
Tempat yang begitu indah, rumput hijau yang membentang, bunga seperti sedang berada pada musim semi.
Aku menghirup udara disana. “Cinta?” bisikku memastikan. Benar saja, Alfar mengangguk. Kenapa harus ada cinta?
“Kamu sakit?” katanya tiba-tiba mengembalikan topik pembicaraan kamu semula yang membuat semua urat ditubuhku menegang. Liv, kamu tidak akan memberi tahu siapa pun tentang penyakitmu bukan? Batinku mulai mengingatkan.
Aku menatapnya tajam, “Aku tidak sakit,”
“Oya?”
Aku mengangguk, dan berkata singkat dan berbohong tentunya (lagi!), “Ya.”
“Lalu?” katanya pelan tapi cukup membuat bulu kudukku bergidik semua. “Mimisan, muka pucat, dan rambut...” dia menyebutkan semua yang terjadi padaku lalu jemarinya meraih beberapa helai rambutku yang menempel diseragam sekolahku dengan menggantungkan kalimatnya. Apa??? Rambutku... aku segera merebut paksa helaian rambutku disela jemari tangannya.
“Itu...” aku mulai gemetar, tapi aku tidak akan pernah mengakui penyakit gila yang akan menggerogoti hidupku. “Itu rambut rontok, karena aku belum keramas dua hari..” ah jelas sekali bohongnya.
“Belum keramas dua hari?” tanyanya sama sekali tidak memunculkan reaksi terkejut atau bahkan menyindir. Sedikit menimang jawabanku, dan “Rambutmu basah begitu, masa belum keramas dua hari?” GUBRAAKK.. Livia bodoh.. ternyata kamu benar-benar bodoh seperti yang Alfar bilang!!
“Oke, dan kamu berbohong padaku..” telak. Aku kalah sangat telak. Dia mengetahui kebohonganku. “Kamu pikir aku tidak tahu gejala penyakitmu itu?” tanyanya membuatku membeku. “Kakakku meninggal, karena penyakit yang mempunyai ciri yang sama seperti mu!!” plaakk.. tepat sasaran. Dia menghujam seluruh tubuhku dengan perkataannya.
“Menginggal?”
“Iya, penyakit jahat itu sudah mengambil kebahagiaannya!!” jawabnya pelan dan tajam. Lagi-lagi aku seperti pernah mendengar penjelasan yang sama, tapi mendadak kepalaku sakit sehingga otakku tidak bisa berpikir jernih untuk mengingatnya.
“Apa hubungannya dengan ku?” aku berusaha tidak menghiraukannya. Acuh tak acuh. Tapi, aku sangat ingin mendengarnya.
“Aku hanya minta kamu mengakuinya.” Ucapnya memandangiku dengan seksama hingga aku harus menundukkan kepalaku kalau tidak mau ketahuan berbohong. Sampai kapanpun aku tidak akan mengakuinya, dasar bodoh. Mana ada minta pengakuan dengan cerita yang menakutkan, aneh!
“Apa aku harus mengakui hal yang tidak terjadi padaku?” aku bertanya santai, seolah benar-benar penyakit itu tidak ada pada diriku.
Dia terdiam, kemudian “Oke, kamu tidak harus mengakuinya.. tapi aku akan mencari tahunya sendiri,” hah?? Dia membuatku mati. Apa haknya? Dia bukan kakakku, bukan temanku, bukan saudaraku dan bukan siapa-siapaku? Tanpa mengajakku pergi dari tempat itu, dia berlalu meninggalkanku yang tercenung sendirian.
Cukup lama. Sampai akhirnya aku teringat tentang... “Obatku.. astaga!” secepat mungkin aku berlari meninggalkan tempat itu, menuju pintu belakang gudang dan segera melesat keluar gudang sekolah. Itu tempat memang beneran aneh, masuk gudang sekolah yang terletak di samping kantor kepala sekolah, lalu di dalam gudang itu terdapat pintu tepat di belakang, kemudian keluar barulah kita bisa sampai ke tempat yang begitu indah. Aneh kan?? Bukan tempatnya yang aneh, tapi orang yang membuatnya begitu rahasia hingga aku pun yang sekolah di sana selama hampir tiga tahun, baru tahu ada tempat seindah itu di sekolahku. Aku yakin, selain dia dan aku tidak ada yang tahu lagi. karena tempat itu benar-benar rahasia!!
Aku merogoh tasku, dan benar saja.. obatku!! Dan aku langsung menoleh ke arah Alfar yang menatapku tajam. Apa-apaan ini? Dia menatapku tajam dan menghunus.. seakan ingin membunuhku.
“Kau minum obat ini?” tanyanya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku mendelik dan ingin merebutnya. Itu obatku, botol kecil dengan label berwarna hijau. Itu obat herbal yang diberikan karyawan pada mama, untuk meredakan rasa sakitku.
Beberapa saat hening, kemudian ponselku bergetar menandakan ada SMS masuk. Dilayar bertuliskan, Luvly Mom..
Syg, obtmu ketinggalan,mama akan segera mengantarnya.
Sedikit kelegaan akhirnya menghampiriku, meskipun sedikit terkejut dengan adanya obat yang sama persis dengan obat milikku.
Secepat mungkin aku membalas SMS mama, yang berisi satu kalimat singkat, yang cukup menyerukan bahwa aku tidak perlu. “Tidak usah ma” singkat bukan. Dan kemudian mama kembali membalas, “Nanti penyakitmu kambuh bagaimana?” rupanya mama sangat mengkhawatirkanku. Tak kalah cepat aku kembali membalas, dengan kalimat yang mungkin tidak menjamin kekhawatiran mama akan mereda. Sampai bel masuk berbunyi nyaring, aku masih berdebat SMS dengan mama. Anak bandel! Itu kalimat terakhir yang tertera dilayar ponselku dan tertanda, Luvly Mom. Halaah..
***
“Berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak meminum obat itu?” darahku sudah mendidih gara-gara mendengar pertanyaan yang membuatku sakit kepala. Dasar Alfar, dia orangnya benar-benar pantang menyerah.
“Hai sayang...” terdengar teriakan dari belakangku, biasa Dita. Dia menyelami hobi barunya dengan berteriak sekeras-kerasnya pada Tama. Dengan menyerukan kata yang membuat telingaku memerah seketika. Apa tidak bisa, volume suaranya itu dikecilkan sediiikit saja, biarkan aku menuju jalan hidupku tanpa mendengar dan menyebut nama Tama lagi.
“Haai..” Tama pun ku pikir sudah mempunyai hobi baru, selain duduk di perpustakaan dengan buku tebal ditangan ternyata dia juga ‘punya’ hobi baru. Sama seperti Dita. membosankan.. Mereka saling melempar senyum dan setelah berhadapan mereka saling merengkuh satu sama lain. Kecuali, kalau Tama sedang bad mood, mungkin jadi seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Jadi, malas melihatnya.
“Ayolah, apa susahnya untuk berkata jujur Liv,” Ampun deh, ni orang beneran cari ribut sama aku tahu tidak. Seharian di sekolah, sampai pulang les tambahan menyongsong Ujian dia masih saja memaksaku untuk berkata jujur tentang penyakitku.
“Apa susahnya? Hey, aku sudah Jujur, kenapa masih kamu paksa untuk berkata jujur?” timpalku sebal. Ubun-ubunku rasanya sudah mengeluarkan alarm kebakaran. Panas! Dan berasap! “Kamu mau aku menjawabnya berbohong ya?” susulku cepat. Dia menggidikan bahunya dan menggeleng. “Ya sudah kalau begitu, jangan tanya lagi.” aku segera meninggalkannya. Dan setengah berlari menuju taksi yang terparkir di tepi jalan raya. Kemudian masuk.
***
Sepertinya doaku yang waktu itu, terkabul. Aku meminta agar Tama berhenti memberiku harapan. Dan.. setelah dua minggu terakhir, juga setelah kejadian pertanyaan Jujur paksa itu lewat tentunya. Tama benar-benar meninggalkan harapan itu... dalam artian, dia sudah tidak terlalu menimbulkan harapan yang semu untukku tapi dia sudah membuatku gila. Karena, dia tidak pernah menyapaku lagi. dan kalian tahu apa yang dia lakukan di kelas? Dia hanya duduk dan bergurau dengan Dita seorang. Dan ternyata itu semakin membuat aku tersiksa olehnya! Lebih menyakitkan dari yang ku bayangkan. Aku pikir setelah Tama berhenti memberikan respectnya padaku aku akan merasa nyaman dan tenang. Ternyata pemikiranku salah total, aku malah pusing sendiri memikirkannya. Tidak ada tegurannya, tidak ada senyumnya, tidak akan makan mie ayam bersama... dan tidak ada belajar bersama lagi!
Miss U Tama..
“Hyaaaaaaaaa... aku muak dengan semuanya!!!” teriakku menggema di dalam kamarku. Mama langsung membuka pintu kamarku dan mendapatiku yang menyeringai ketika menyadari kedatangannya.
“Kenapa Livia??” tanya Mama mengelus dadanya, mungkin terkejut mendengar teriakanku yang sumpah, nyaring banget!
Aku kembali menyeringai lebaar, lalu menggeleng. “Tidak,”
“Fiuuh,” Mama mengusap keningnya yang mulai basah karena keringatnya, “Jangan ulangi teriakan itu, kamu bikin mama khawatir!” Braak, pintu ditutup keras. Hoh, aku hanya ingin melepas kegalauanku ma!! Please, biarkan aku sedikit menenangkan perasaanku.
Ponselku berdering, dan namanya membuatku terlonjak karena kegirangan, Tama. Tamaaa.. Tamaaa menelpooon ku.. aku tidak sedang bermimpi kan?? Plaak, tamparan melayang dipipiku, “Adoowh..” sesegera mungkin aku mengelusnya. Dan memencet tombol hijau, aku diam. Dia juga diam. Aku mau bilang haloo, malah dia juga mau bilang halooo..
“Ada apa?” tanyaku tanpa basa basi.
“Ee, kamu ada di rumah?” haaa.. aku melompat ke tempat tidurku. Mendadak jantungku dag dig dug tidak karuan. Aku jauhkan ponselku sejenak dari telingaku, kemudian tertawa tentu saja tidak menggunakan volume tinggi. Kalau pakai volume tinggi bisa ketahuan nanti! Ogaah! Gengsii dong?? “Liv..?” terdengar samar suara diseberang memanggil namaku. Kembali aku dekatkan ponsel ke telingaku. Berdehem menahan tawa sejenak. Menarik napas.
“Iya? Eem ada, kenapa Tam?” tanyaku, terdengar jelas kalau aku sedang gugup. Hembusan napas yang menyejukkan terdengar dari sana.
“Aku mau ke rumah mu bol..” aku menjauhkan ponselku lagi tanpa mendengarkan kalimat lanjutannya.. hyaaaaaaa... aku kembali melompat kegirangan. Yes yes yes,, belum juga satu jam aku mengharapkan hal ini, eh udah kejadian. Senangnya!!
“Ehm, gimana ya? Kenapa ke rumahku?” ahh sok jual mahal banget ya?? Ahh tidak apa lah, yang penting aku harus tahu alasannya dulu untuk apa dia ke rumahku? Betul??
“Engg.. mau minta bantuan tugas Fisika,”
Yahh.. tugas lagi.. kenapa sih setiap kali dia ke rumahku harus ada kata TUGAS di sela pembicaraannya? Apa tidak ada kata lain yang lebih nyaman di dengar di telingaku?
“Oo, boleh.. tapi jangan lama-lama ya, aku harus ke rumah temanku masalahnya!” gedubrakk.. bohong, yah apa boleh buat, rupanya gengsiku sama sekali tidak bisa di tawar lagi harganya!
“Oke, lima menit lagi aku sampai!” suaranya terdengar kegirangan. Apa? Kegirangan? Ya ampun, artinya dia.. dia bahagia aku mengizinkannya datang ke rumahku. Wkwkwk senaaaangnya hatiku..
“Oo, lima menit? Oke.. baiklah..” klik.. sambungan terputus. Aku beranjak ke kamar mandi dan mandi dengan speed yang terhitung sangat cepat untuk ukuran cewek berumur 17 tahun. Sekitar tiga menit aku sudah siap dengan celana jeans dan baju kaus berwarna merah marun berlengan pendek. Menyisir rambut, memoleskan sedikit bedak dan let’s going to living room..
Satu menit, satu setengah menit dan dua menit.. teng.. lima menit sudah berlalu. Dan suara sebuah motor yang sudah sangat ku kenal terdengar dari halaman rumahku. Aku memandangi diriku, rasanya aku terlalu berlebihan.. kayak orang mau jalan-jalan aja, padahalkan Cuma mau mengerjakan ‘tugas’. Ah masa bodoh, emang sekarang otakku lagi rada bodoh-bodohnya..
Oo God.. dia melepas helm yang bertengger dikepalanya, kemudian turun dan melangkah menuju pintu gerbang rumahku. Setelah, membuka pagar rumahku dia maju dan siap-siap Livi, sebentar lagi dia akan mendekat.. jreng jreng.. gedebak gedebuk.. aduuh, jantungku manis, bisa tidak kalau menendang dadaku tidak usah kencang-kencang nanti Tama dengar lagi suara kamu..
Sumpah, Sweaar dan benar deh nih, aku merasa sangat tidak karuan di rumahku sendiri. Beberapa detik kemudian dia melempar senyum ke arahku. Aku tertegun, terpana, terenyuh.. buseet gila.. aku benar-benar seperti di dalam mimpi langkaku.
Seorang pangeran datang dan memancarkan senyuman maut untukku, hingga aku terbuai ke dalam mimpi yang terlalu membuatku berbunga-bunga. Seandainya, aku di Jepang.. aku mau kejadian ini terjadi di bawah keteduhan pohon Sakura, ketika dia tersenyum tiba-tiba tubuhku melayang ke arahnya karena tidak bisa menahan degup jantungku dan menahan keseimbangan kakiku, dia menangkapku dan kemudian bunga-bunga sakura berjatuhan ke arah kami.. Ooo soo Sweeet..
Terlihat olehku bayang-bayang lima jari seseorang melambai tepat di depan wajahku, dengan cepat aku mengedipkan mata dan kembali ke kenyataan. Tama melambaikan tangannya padaku. Aku tersentak. Dan tak bisa menyembunyikan rona merah wajahku.
“Hai.. Liv, kamu baik?” tanyanya. Ya ampun, berapa lama aku menghayal?
“Ehm ba.. baik.. o kamu sudah datang rupanya,” jawabku refleks. “Masuk,” aku mengajaknya masuk ke ruang tamu. Dan ketika aku balik badan, mama ternyata sudah berada di belakangku. Dia tersenyum yang sangat sulit tuk dimengerti, tapi dibalik senyum mama terdapat suatu kebahagiaan yang tersirat di matanya. Entah apa maksud kebahagiaannya itu..
“Nak Tama, sama siapa?” mama membuatku tertegun mendengar pertanyaannya. Lembut dan hangat, lagi-lagi aku tidak bisa menangkap signal kebahagiaan mama.
Tama berjalan menghampiri mamaku, dia menyalami mamaku dengan adab sopan santunnya, membuat keyakinan hatiku semakin bertambah kalau dia adalah cowok yang benar-benar baik. Maksudku, bukan sembarang cowok.
“Sendiri Tan,” jawabnya. “Tante apa kabar?” lanjutnya bertanya. Perhatian sekali dia sama mamaku?
Mama masih menyunggingkan senyumnya, “Baik, kamu?” eh kok malah mereka berdua yang ngobrol?
Tama balas tersenyum, “Baik Tan,” oooh.. mungkin aku sudah tidak terlihat rupanya, ckckck badanku sebesar ini mereka anggap apa? Huh aku kan masih hidup, umurku masih panjang, kecuali kalau penyakitku memintaku untuk mati, barulah aku mati..
“Ehem..” aku berdehem memecah keheningan yang menyelimuti batinku, seperti suara drum rasanya... “Tugas yang mana?” tanyaku to the point pada Tama. Mama mengerlingkan mata menatapku ketika Tama memandangiku ‘heran’.
Tama menatapku, dan menjawab, “Yang itu, ehm tugas yang kemarin di berikan Pak Mahmud, masa kamu lupa??” eh, bukannya tugas pak Mahmud sudah dikumpulkan tadi siang ya? Wah ada yang aneh sama cowok ini, atau akunya yang tidak ‘ngeh’ ya??
“Hah? Pak Mahmud kan memberikan tugasnya sudah tiga hari yang lalu, dan perasaan tadi siang sudah dikumpulkan.” Aku mengernyitkan keningku karena ternyata aku yang kurang ngeh.
“Hah? Sudah dikumpulkan? Kapan? Kenapa aku belum? Kamu sudah ngumpul?” tiba-tiba pertanyaan yang bertubi-tubi keluar dari mulutnya. Arkkh, dia yang salah sangka dan untungnya bukan aku yang kurang ngeh!! Yihaa...
Aku mendelik ke arahnya, tidak mengerti melihat reaksi pertanyaannya. Apa jangan-jangan dia sudah tertular virus Foolishia milik Alfar lagi.. heleeh, membingungkan.
“Jangan bertanya banyak begitu, aku pusing mendengarnya!”
“Oke maaf, aku ulangi satu-satu,” dia menghela napas panjang, dengan perlahan dia mengutarakan pertanyaannya padaku. Sampai aku mencerna dengan baik apa yang dia tanyakan. Ternyata dia belum mengumpulkan tugasnya karena dugaanku yang itu, dia tertular virus Alfar. Gara-gara Alfar bilang mengumpulnya minggu depan, dan Tama belum bisa menalar maksud Alfar makanya dia menurut. Padahal maksud Alfar, dia hanya bercanda.. benarkan kataku, dia juga ikutan stupid kan...
“Salah sendiri, sudah tahu Alfar begitu masih saja bertanya padanya...” aku mengumpat. Dia hanya melemparkan senyuman miris karena sudah terjebak oelh gombalan Alfar.
Alhasil, belajar mengerjakan tugas Fisika kami batal. Dan aku sama sekali
tidak keberatan, karena dengan batalnya tugas kami maka...
“Aku boleh mengajakmu jalan-jalan??” itulah pertanyaan yang membuat hatiku melompat kegirangan untuk yang kesekian kalinya. Dan tanpa memperdulikan statusnya yang sudah punya ‘pacar’, aku pun menyetujuinya.
***
Bukan harapan yang semu, tapi sebuah impian yang suatu saat akan terwujud...
Aku mengalaminya, awalnya dia hanya sebuah harapan untukku. Tapi, entah kenapa hari ini aku merasa harapan itu menjadi sebuah mimpi yang menandakan bahwa dia bukan hanya sebuah harapan tapi akan menjadi sebuah mimpi yang terwujud kelak. Meskipun aku tidak tahu kapan mimpi itu akan menjadi nyata.. yang pasti aku akan menjalani hidupku, melewatinya dengan segala perasaan.
Aku membonceng di belakang Tama, duduk berhimpit naik motor.. memang aku sedikit tidak menyukai naik yang namanya motor. Terlalu menyiksa untukku. Rambutku rusak karena angin, kalaupun pakai helm akan semakin rusak karena rambutku bisa jadi seperti ekor bebek yang mencuat naik pada bagian ujungnya. Selain itu, kalau terjadi kecelakaan―hanya sebuah perumpamaan bahaya naik motor―tubuh pengendara bisa langsung terlempar dan bisa-bisa dia harus.. ahh tidak hanya perumpamaan.. lalu, kalau naik motor juga bisa mengakibatkan masuk angin, apalagi kalau tidak pakai jaket karena sekarang rasanya perutku bergejolak, sepertinya isi perutku minta dikeluarkan.
Belum juga sampai ditempat tujuan, aku malah minta turun. Mau tau alasanku? Dan menurutku tidak usah tahu, karena cukup memalukan! Masa orang naik motor mabuk?? Kan aneh??
“Kamu tidak kenapa-kenapa kan?” Tama menghentikan motornya di tepi jalan raya. Dia bertanya dengan nada khawatir yang sangat menusuk tulang rusukku. Apa dia benar-benar mengkhawatirkanku? Apa hanya sebuah perhatian karena dia temanku? Ahh bodoh, sekarang perutku mual―hanya mual karena masuk angin.. hueekss..
“Aku tidak kenapa-kenapa, kamu bawa air?” tanyaku mengelus tenggorokanku yang rasanya tercekat sebuah cairan. Sepertinya aku mau muntah...
Tama membuka jok motornya dan mengeluarkan sebotol air mineral, “Ini,” dia menyerahkannya padaku.
Gleekk.. legaaa, aku bernapas dengan tenang, tak berapa lama, aku merasa hidungku mulai basah.. aku usap dengan telunjukku. Dan benar saja, lagi-lagi kenapa harus dilingkungan luar.. darah menetes lagi. Dengan cepat aku merogoh saku celanaku dan mengambil sapu tangan berwarna abu-abu yang aku bawa selagi di rumah tadi.
“Liv, wajahmu pucat..” Tama membuyarkan lamunanku. Apa yang harus aku katakan, aku tidak mau berbohong pada orang yang aku sukai, tapi aku juga tidak mungkin berkata jujur padanya. “Kamu baik?” dia meraih kedua pundakku, menghadapkan badanku ke arahnya. Matanya sepertinya terfokus pada wajahku, langsung ku tundukkan kepalaku menhindari tatapan matanya yang membuatku bergidik.
“Aku baik, bisa antar aku pulang?” kata-kata itu meluncur dari mulutku, aku menyesal telah mengatakannya, bukannya apa.. tapi ini suatu kesempatan langka yang akuu dapatkan dari seseorang aku sukai. Benarkan?
“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang..”
“Eehm Tam, tidak jadi.. lebih baik kita lanjutkan perjalanannya, aku mau tahu kamu akan mengajakku kemana?” ralatku. Suaraku sedikit parau mungkin karena sedikit dari darah yang mengalir di hidungku kembali ke tenggorokanku.
Dia menatapku khawatir,“Tapi wajahmu pucat begitu, aku tidak yakin aku bisa membawamu dengan aman,”
“Sudahlah, aku tidak apa-apa, hanya mimisan kecil..” terpaksa aku berbohong. Lebih baik aku sakit dari pada melihat yang orang itu tersakiti karena aku.
Dia masih belum yakin, “Tapi..”
“Tama, please.. aku tidak apa-apa.” kataku memotong kalimatnya, dengan sedikit nada paksaan yang tersirat dikalimatku. Dia menghela napas panjang dan mengangguk. Akhirnya, aku tidak jadi membuang kesempatan langkaku...
***
Sepanjang perjalanan menuju keindahan, Tama selalu memegangi tanganku dengan tangan kirinya, tanganku aku lingkarkan dipinggangnya. Bukan kemauan ku, dia yang menyuruhku. Dia takut terjadi sesuatu padaku. Apa dia mempunyai perasaan yang sama sepertiku? Ahh tidak, dia sudah punya pacar, mana mungin dia menyukaiku...
Dia menghentikan motornya, entah dimana tempat itu. “Sampai, ayo turun,” perintahnya lembut. Aku turun, dan melepas jaket Tama yang menyelimuti tubuhku. Aku kembalikan jaketnya. Dia menyambut dan tersenyum. Itulah, sebuah kenangan manis yang tidak akan aku lupakan.
“Dimana?” tanyaku seraya melemparkan pandangan ke seluruh sudut ditempat itu.
Dia tersenyum, “Pantai.” Jawabnya. Pantai?? Hehe mataku yang salah lihat apa telingaku yang salah dengar??
Tama meraih tanganku, dia menarikku halus menuju tempat yang katanya ‘pantai’, yang aku lihat dan aku rasakan sekarang hanya pepohonan rindang, dan hembusan angin yang bersemilir lembut menerpa rambutku. Selain itu, tidak ada lagi...
Setelah beberapa langkah ke depan, baru aku tersadar... ternyata, tempat ini benar-benar pantai.. sangat indah. Meskipun sepi, tapi tidak mengurangi keindahannya. Pantai itu terletak sekitar seratus meter dari tempat Tama memarkir motornya. Hanya terdapat jalan setepak menuju Pantai sesungguhnya. Setelah melewati pepohonan rindang, dan melewati jarak yang bisa dibilang cukup dekat itu, aku baru percaya bahwa tempat ini adalah pantai...
“Wow,”sorot kekaguman memancar dari mataku, begitu juga mulutku. Ombaknya, warnanya, dan pemandangannya begitu menawan.
“Suka?” tanya Tama membuyarkan kekagumanku. Aku hanya menganggukkan kepala, dan berkata dalam hati, “Sangat indah Tama, seperti hatiku saat ini...”
Tak berselang waktu lama, dia kembali menarik tanganku. Aku sempat terkejut, tapi sepertinya dia tidak menyadari keterkejutanku. Entah apa sekarang yang ada dipikiran cowok di sampingku. Wajahnya lebih terlihat tenang dan bahagia. Tidak setenang ketika kami berada di sekolah. Juga tidak ada sorot kebohongan ketika aku melihatnya di sekolah. Mataku tak lepas dari sosok yang berjalan lurus menuju deburan ombak putih.
Pasir di pantai itu putih, bebas dari sampah dan kotoran kuda. Air lautnya juga membiru. Ah tidak bisa dilukiskan dengan tulisan kata-kata... sangat indah!!
Tama menghentikan langkahnya, hingga aku juga ikut berhenti, “Kalau kamu mau lebih lama di sini, kamu bisa melihat matahari terbenam,” Tama berujar. Matanya tertuju pada ujung pantai, di mana tempat biasa terbenamnya matahari.
Ya, sepertinya kata Tama benar. Dari sini kami bisa melihat matahari terbenam. Langit pun sudah mulai memerah. Tanda bahwa sebentar lagi penghuninya akan segera kembali dari hunian sementaranya. Seperti menyemburatkan rasa malu, atau karena dia sedang bahagia dan tersenyum padaku. Seakan langit sore juga merasakan bahagiaku, dia mengucapkan selamat atau terimakasih sudah berkunjung dengan seseorang yang aku sayangi. Haha khayalanku tinggi sekali ya..
Aku tersenyum padanya, “Boleh,” jawabku. “Tapi, kamu harus meminta izin dulu pada mamaku,” lanjutku membuat sepasang matanya menatapku dan terkekeh.
“Seperti anak kecil saja,”
Aku mendelik, “Eh, kalau tidak mau, kita pulang sekarang,” ancamku akan berbalik badan.
“Tidak bisa,” susulnya cepat sambil mencekat tanganku. “Baiklah, aku akan minta izin pada mamamu, mana ponselmu?” dia mengulurkan tangannya padaku memintaku untuk menyerahkan ponselku.
Aku menatapnya bingung, “Ponsel ku?”
“Ya, ponsel siapa lagi?”
“Tidak bisa begitu, kamu yang mau minta izin kenapa harus pakai ponselku?” aku mengeluarkan jurus protes yang sering aku pakai atau yang lebih tepatnya jurus protes andalanku.
“Kalau bukan ponselmu, aku dapat nomor rumahmu dari mana?” ya ampun.. bener juga. Ah Livia lagi-lagi kamu mengeluarkan kebodohanmu di depan orang yang kamu sukai.
“Kan bisa langsung minta nomornya padaku!!” jawabku menjerit karena kesal.
Tama memalingkan wajahnya, “Kalau tidak mau, ya tidak usah!” huaaa.. cepat banget dia menyerah, kenapa tidak menggunakan ungkapan yang ada di lagu D’masiv yang judulnya ‘Jangan Menyerah’ huh dasar Tama, dari dulu sukanya begitu!!
“Baik, aku pulang saja kalau begitu.” Aku balik badan dan...
Tama menarik tanganku, seketika tubuhku sudah berada dipelukannya. Aku terkejut, aku shok, aku takut... perasaanku tak karuan sama persis ketika Tama mengecup keningku waktu itu. Jantungku berdegup sangat kencang, darahku serasa mengalir sangat deras. Aku mengedipkan mata beberapa kali, untuk memastikan ini bukan mimpi atau khayalanku.
Harapan itu.. apa harapan itu kembali menjemputku? Apa perasaanku saat ini? Bagaimana dengan perasaannya? Hah.. kenapa terjadi lagi??
“Aku akan meminta izin pada mamamu,” bisiknya tepat ditelingaku. Bulu kudukku langsung bergidik. Hangat, lembut dan err.. membuat sekujur tubuhku membeku.
“Tama, lepas...” desisku mendorong lembut tubuhnya agar melepaskan pelukannya. Dia tak menggubrisku, malah semakin mengeratkan pelukannya. Apa maksudmu Tama?? Kenapa kamu memelukku?
“Jangan menjauh... tetaplah di sini... bersamaku...”
Langganan:
Komentar (Atom)
