Powered By Blogger

Selasa, 21 Februari 2012

© Always Loving You © Prolog

© Always Loving You ©

Prolog Siang hari seperti biasa, panas, gerah dan penuh polusi menghiasi kota Jakarta. Kemacetan merajalela di sepanjang jalan. Arga sudah berada di dalam mobilnya yang sedang terjebak macet sejak kurang lebih satu jam yang lalu. Penuh dan sesak, itulah yang tergambar kian jelas di matanya. Beberapa kali, Arga menguap karena mulai bosan dan mengantuk. Tapi, tetap saja jalanan itu tidak akan pernah lenggang sampai kapanpun, sekalipun itu sudah larut malam. Detak jarum jam terdengar dari pergelangan tangannya. Dia melirik jam tangan stainless-nya yang baru saja ia dapat dari kerja kerasnya sendiri selama tiga bulan ini bekerja part time di perusahaan Ayahnya. Berhubung Ayahnya lagi keluar kota untuk mengadakan rapat tahunan, jadi dia terpaksa mau menggantikan posisi Ayahnya untuk sementara waktu, padahal usianya baru saja menginjak 17 tahun dua minggu yang lalu. Arga kembali fokus pada jalanan yang padat. Lagi-lagi dia menguap. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 20.12 wib. Biasanya, jam-jam seperti itu ia gunakan untuk kursus gitar dan piano. Tapi, akhir-akhir ini dia jadi membolos gara-gara bekerja sampai larut malam. sebenarnya bukan membolos, tapi meminta izin pada guru privatnya untuk tidak mengajar musik selama beberapa bulan ini. “Bisa mati di jalan kalo kayak gini.” Gumamnya sambil menyalakan tape mobilnya. Istrumental Kenny G—Loving You mengalun lembut memenuhi ruang mobil. “Yaah.. lumayanlah. Berasa ada yang nemenin gue kalo kayak gini.” Ucapnya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
 ©©©Ω©©©
 “Mas Avyn nggak tidur? Udah jam sembilan loh.” Seorang gadis kecil berumur sekitar 8 tahun masuk ke dalam kamar Avyn, seorang cowok ganteng yang dikenal pendiam itu. Avyn menoleh pada adik semata wayangnya itu. Riris biasa ia dipanggil. “Mas Avyn belum ngantuk, Ris. Riris sendiri nggak ngantuk?” Avyn menanyai balik adiknya sambil meletakkan kameranya dia atas tempat tidur. Riris tersenyum lalu naik ke atas tempat tidur sebelum ia duduk di sebelah Avyn, kakaknya. Riris merebahkan kepalanya dipangkuan Avyn, meminta Avyn untuk mengelus-elus kepalanya seperti kebiasaan yang memang sudah lama ia sandang. “Riris boleh tidur, sama Mas Avyn, nggak?” tanya gadis cilik itu sambil mendongakkan kepalanya menatap sang kakak yang terlihat sedang berfikir. Tak lama kemudian, Avyn tersenyum dan mengangguk. Riris tersenyum sumringah karena telah diizinkan tidur bersama kakak kesayangannya itu. Riris memang gadis kecil yang kian manja. Dia paling suka bermanja-manja dengan kakaknya, sejak kecil ia memang hidup bersama kakaknya. Sedangkan orang tua mereka sudah menetap lama di Pranciss. Mereka ingin anak mereka tumbuh dan besar di Indonesia, meskipun mereka hanya datang setengah tahun sekali, tapi tidak akan merubah keadaan kalau putra-putri mereka bisa tinggal dengan kehidupan yang sangat berkecukupan. “Mas Avyn lagi sibuk apa?” tanya Riris saat ia melihat Avyn mengutak-atik kameranya. “Riris boleh lihat?” tanya Riris lagi ketika Avyn tidak menjawab pertanyaannya. “Boleh. Tapi, sebentar ya. Mas perbaiki dulu gambarnya. Soalnya agak kusam, jadi kurang jelas.” Tanpa diminta Riris langsung bangun dari pangkuan Avyn. Dia duduk di samping Avyn sekarang. Kepalanya sedikit ia longokkan ke arah kamera yang masih berada di tangan Avyn. “Dia pacar Mas Avyn?” Riris terbelak ketika melihat foto seorang cewek seusia kakaknya terpampang di sana. Di fotonya, cewek itu sedang tertawa lepas dan terlihat sangat natural. Mata Riris kembali terbelak ketika melihat sebuket mawar putih di tangan cewek itu. “Pasti mawar itu kakak yang kasih ya?” tebak Riris yang membuat Avyn tertawa seketika seraya menenggelamkan kepala adiknya di bawah lengannya. Kadang Avyn merasa sangat geregetan ketika melihat Riris yang sok tahu. “Kok Riris tau, hah? Riris ngintip Mas pas beli itu bunga ya???” greget Avyn sambil terus mengacak-acak rambut adiknya. Riris tertawa diperlakukan seperti itu. ini yang ia sukai dari Avyn. Avyn yang memang sangat peyayang padanya, Avyn yang selalu membuatnya merasa bahagia meski tanpa kehadiran orang tuanya. “Hihihihi.. hahahaha.. nggak Mas.. ampuun.. Riris kan Cuma nebak aja hahaha..” jawabnya sambil terbahak ketika tangan Avyn menjalar menggelitik pinggangnya. Setelah itu, Avyn mengangkat tubuh mungil Riris ke pangkuannya, sambil memeluknya, Avyn meraih lagi kameranya. Mereka melihat banyak foto-foto di sana, terlebih foto cewek yang tadi. Sangat banyak! “Riris kalo udah besar, pengen punya pacar kayak Mas Avyn, yang penyayang, yang perhatian, dan yang selalu bikin Riris bahagia.” Harapan Riris keluar dari bibir mungilnya. Avyn menatap adiknya dalam diam. “iihhh.. Riris masih kecil kok udah bilang pacaran siiiih???” lagi-lagi Avyn menggregeti adiknya sampai Riris kembali terbahak. “Hahahahah... ampuuuun massss Avyyyyn...” jeritnya ditengah tawanya.
 ©©©Ω©©©
 “Gilaaaaa.... cowok emang BRENGSEK!” jerit seorang cewek dengan keras. Dia sudah mengurung dirinya di kamar sejak pulang sekolah tadi. Sudah tiga kali dia pacaran, tapi nggak pernah ada yang beres. Semuanya kacau dan berakhir dengan kata PUTUS tanpa alasan yang jelas. “Cowok terkutuk! Gue sumpahin lo jadi monyet biar nggak ada cewek lagi yang suka sama lo!” teriaknya lagi. “Rai... Rai.. kamu kenapa sayaang??” saking kesalnya sama mantan pacarnya itu, cewek yang kerap di sapa dengan Rai itu tidak mau membukakan pintu kamarnya untuk Mamanya. Padahal sejak beberapa jam yang lalu, mamanya sudah menggedor-gedor pintunya. “Hikss.. mamaaaa... Rai nggak apa-apa kok. Rai Cuma lagi kesel karena banyak tugas.” Sahutnya berbohong sambil menahan napasnya yang masih sesenggukan. “Kalo kenapa-kenapa kamu cerita aja sama Mama. Kali aja, Mama bisa bantu kamu, sayang.” Tawar Mamanya. Rai mengangguk tanpa suara. Tapi, Mamanya segera paham, kalau diam-diam Rai mengiyakan. Mamanya langsung beranjak dari depan kamar Rai yang terkunci rapat. Dan kembali bersendawa dengan suaminya, Papa Rai. “Niatnya pengen mutusin cowok duluan, eh taunya malah gue yang diputusin duluan. Geblek emang tu cowok...” dumelnya lagi sambil terus terisak.
 ©©©Ω©©©
 Arga melepas satu persatu kancing kemejanya, kemudian melemparkannya begitu saja ke atas tempat tidur. Setelah sampai di rumahnya, ia langsung masuk ke kamar tanpa menyapa Mamanya terlebih dahulu yang sudah menunggunya pulang sejak sore tadi. Cowok itu beranjak ke kamar mandi untuk membasuh badannya yang gerah. Setelah selesai mandi, Arga mengenakan t-shirt biru malam dan celana selututnya, kemudian berbaring di tempat tidurnya. Sambil rebahan, ia kembali mengingat-ingat kejadian di sekolah tadi, untuk seminggu ke depan, ia dipilih menjadi ketua ekskul Musik di sekolahnya. Mala petaka bagi Arga karena ia belum terlalu bisa dalam hal musik. Dia hanya bisa bermain Piano dan Gitar. Selebihnya, dia mana bisa. “Kalo gue tolak. Sayang juga kan? Tapi, kalo gue terima... gue udah kelas 3. Jam belajar gue terbagi dong?” gumamnya dengan mata menatap kosong ke langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda. “Tapi lagi... musikkan dunia gue. Kendalanya, gue nggak terlalu bisa nyanyi. Bisa-bisa adek kelas gue, kabur lagi.” “Arrghh... bodo. Yang penting gue tetep bergelut pada dunia musik. EGP sama kabur-kaburan.” Putusnya akhirnya. Semoga saja pilihannya untuk menjadi ketua ekskul musik sementara di sekolahnya adalah keputusan yang benar dan membawa keberuntungan untuknya. Seharian penuh Arga tidak ada beristirahat. Dan perlahan lahan ia mulai menutup matanya dan terlelap dalam hitungan detik.
 ©©©Ω©©©
 Ririn sudah terjaga dalam mimpinya. Sementara Avyn masih belum bisa memejamkan matanya. Dia masih ingin terus melihat wajah “pacarnya” yang tak pernah menganggapnya. Rasanya, ia tak akan pernah puas menatap wajah elok nan anggun yang ada di layar kameranya. Sudah beratus-ratus foto cewek itu ada di kameranya, tapi, dia masih saja ingin memotretnya dan mengabadikan wajah elok itu dalam benda kesayangannya. Mungkin, Avyn sudah menganggap kameranya itu adalah album hatinya. Setiap gerak-gerik cewek itu terekam jelas di sana—di hatinya maupun di kameranya. Dia enggan mematikan kameranya walau hanya sedetik. Karena baginya, kamera itu adalah bagian hidup “pacarnya”. Dia tersenyum-senyum sendiri ketika tangannya dengan perlahan menekan tombol-tombol kecil mengganti foto yang satu dengan yang lain. Berbagai macam pose tergambar di sana. Dari yang sedang merenung, menangis, tertawa, melompat, merangkul temannya, sampai berlari-larian. “Sampai kapan gue nggak berani nyamperin lo langsung?” tanyanya pada sunyi. Ia tersenyum lagi. “Sampai lo sadar kalo gue selalu ada bersama lo.” Ujarnya dengan yakin. Avyn meletakkan kameranya di atas meja lampu, dengan layar menghadap ke arahnya. Dia ingin, ingin, dan ingin terus menatap wajah cewek itu, sampai dia tak sadarkan diri lagi. anggap saja, cewek yang ada di dalam kameranya sedang menidurkannya.
 ©©©Ω©©©

Kamis, 17 November 2011

FEELING...??[11] (ENDING)

Lemah. Sakit. Dingin. Kaku. Penat. Membaur jadi satu dalam jiwa ragaku. Tak ada yang dapat kulihat di sini. Putih. Terang. Silau. Menghiasi pandanganku. Sepi. Tak ada suara. Itulah yang terekam erat dalam kepalaku.
Tapi, tiba-tiba saja aku merasakan kehangatan di sekujur tubuhku. Entah dari mana itu berasal. Semilir angin berhembus terasa disekitar wajahku. Seperti ada yang meniupkan udara segar. Ingin rasanya aku membuka kelopak mataku. Melihat siapa dia. tapi tenagaku untuk itu tak cukup, maka terpaksa aku urungkan kehendakku. Tak lama, ku rasakan ada sesuatu yang basah mengalir kepermukaan kulitku. Apakah ini? airmata kah?
Tuhan, biarkan aku membuka mataku walau hanya sedetik. Melihat siapa dia? apakah Alfar... tanganku ada yang menggenggam. Tak salah lagi. ini Alfar. Aku kenal tangannya. Walaupun baru beberapa hari menjalin hubungan tapi, aku bisa mengenalnya dengan baik. Terlebih aku sudah mengenalnya belasan tahun lalu.
Ku kuatkan keinginanku untuk balas menggenggamnya. Berharap.. dan terus berharap. Akhirnya Tuhan memberikan kesempatan itu. meskipun dengan susah payah aku balas menggenggam tangan orang itu. tak lama, terdengar suara wanita yang sudah sangat aku kenal.. mama.. itu suara mama. Mama menyerukan nama itu. Alfar. Ternyata dia sudah disini sejak lama? Mama berkali-kali menyuruhnya keluar dan pergi menjauhiku, aku tak bisa. Aku tak mau jauh darinya. Pliis.. Tuhan, beri aku kekuatan lagi untuk menggenggam dan memberitahu Mama kalau aku tidak bisa berpisah dari Alfar. Aku juga mau, kalau Alfar tahu aku masih bisa bertahan sampai detik ini. tapi, tak bisa untuk detik berikutnya...
‘jangaan pergi, please.. katakan pada mama kalau kamu tidak bisa meninggalkanku...’ jeritku dalam hati. Sayangnya, kalimat yang kuinginkan tak dikeluarkannya. Dia malah akan pergi, dan akan meninggalkanku. Tak ayal, aku semakin mengeratkan cengkraman tanganku yang masih terlalu lemah untuk keadaanku.
‘Kamu mencintaiku, tolong.. aku mohon, jangan pergi.’ Aku terus menjerit meskipun dia tak bisa mendengarnya. Mustahil. Karena secara teori, mulutku masih tak bergerak. Ragaku mungkin akan menghilang, tapi.. hatiku dia masih merasakannya. Hati perasaan pikiran adalah tiga hal yang menjadi sebuah acuan hidup.
Tapi, kekuatanku justru tidak sebanding dengan kekuatan mama. Mama menarik Alfar hingga nyaris saja tubuhku terjatuh dari ranjang. Untungnya, Alfar memberi tahu mama kalau tangannya sekarang tengah aku genggam.
‘Thank’s..’
***
Hawa dingin menusuk menyeruak masuk ke dalam tubuhku. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku. Langit siang ini begitu indah. Pemandangan taman inipun tak berubah semenjak beberapa minggu yang lalu. Waktu pertama kali aku pergi ketempat ini ketika aku sedang bersama Alfar. Dia yang memperkenalkanku dengan pepohonan rindang di sini, hamparan rumput bak permadani, juga udara yang menyejukkanku.
Beberapa waktu lalu, setelah aku sadar dari tidur panjangku yang kulihat pertama kali adalah wajah mama, dan dia. Rupanya perasaanku yang semakin lama semakin besar ini kian tak terlepaskan dari hatiku. Aku memang akan pergi untuk selamanya mungkin, tapi sepertinya cintaku akan tetap disini. Cintaku tak akan ku biarkan ikut bersamaku. Bersama jasadku yang akan terpendam dalam kehangatan bumi dan dinginnya malam.
“Sayang, mau sarapan apa pagi ini?” aku menoleh keasal suara. Kulihat cowok itu sedang berjalan ke arahku lalu meraih pegangan kursi roda yang ku duduki saat ini. Ya, aku tidak lagi bisa berjalan seperti dulu. Aku hanya bisa duduk dalam diam di atas kursi roda bersama pacarku. Dia tersenyum hangat padaku, lalu memberikan kecupan diubun-ubunku.
Aku balas tersenyum pada Alfar. Dia tidak berubah. Tetap sama seperti yang dulu. Setelah kelulusan, dia memutuskan melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Hampir setiap hari dia menemaniku. Entah itu menemaniku yang masih rutin menjalani perawatan, menemaniku makan, bahkan ketika aku mengantuk pun dia masih setia menemaniku. Katanya sih, dia ingin selalu berada di dekatku sampai maut memisahkan. Sok romantis ya? Padahal mana pernah dia mengajakku ke tempat yang romantis. Kecuali, Pantai Pasir Putih itu dan taman cinta.
Oya, setelah hari kelulusan, aku dengar Tama dan Dita memutuskan untuk menjalin hubungan ke jenjang yang lebih tinggi. Taulah.. cinta itu kadang tidak bisa di tebak.. awalnya Dita memang tidak pernah punya rasa suka pada Tama, tapi.. setelah aku memutuskan untuk melupakan Tama dan usahaku tentunya berhasil, lama kelamaan Dita terpikat juga. Hahah, aku pikir dia tidak akan menjalin hubungan lagi eh ternyata..
“Mau Burger?” Alfar menyodorkan setangkup roti.
“Apanya yang Burger? Ini mah, roti selai!” aku terkekeh geli ketika Alfar memasukkannya ke mulutku hingga mulutku penuh dengan roti. Ah Alfar. Kalau soal kejahilan, dia tetap yang dulu. Si Stupid boy. Pacarku!
“Ini buatan kekasihmu, jadi kamu harus menghabiskannya.” Ucap Alfar sambil membusungkan dadanya. Kepala besarnya mulai lagi. Dasar! Aku menjitak kepalanya. “Eh sayang, kamu kok tegaan banget sih sama calon suami sendiri!” dia mendengus sembari mengelus-elus kepalanya yang sakit setelah aku menjitaknya.
“Mana mau aku jadi calon isterimu. Kamu jahilnya nggak ketulungan! Stupid Boy!” balasku. Aku tertawa pelan. “Oya, ngomong-ngomong, kok rotinya kayak ada rasa hangus ya?” tanyaku masih sambil mengunyah sisa-sisa roti yang masih menggumpal di mulutku. Dia mengernyitkan dahi.
“Masa iya?” dia menggigit satu gigitan roti yang berada ditangannya. “Nggak kok, perasaan kamu aja kali Yang.” Elaknya. Yee, jelas-jelas rotinya hangus malah dibilang perasaan aku. Ini nih yang tidak aku suka dari Alfar, dia sering kali tidak mau mengalah denganku.
“Ih, nggak lah. Ini tuh hangus, Alfar?” tandasku tak mau kalah. Enak saja kalau aku disuruh mengalah dengannya.
Dia memanyunkan bibirnya. “Masa sih yang?” lanjutnya. Ah ya, sekarang panggilannya berubah untukku. Aku geli mendengar penggilannya yang menurutku norak! Sayang lah, ayang lah, Yang, cintalah bla bla bla.. sumpah aku geli mendengarnya memanggilku dengan sebutan seperti itu. Errr~
“Coba deeh, di makan lagi. Eeh jangan-jangan indra perasa kamu gangguan lagi!”
“Yeee, nggak lah yang. Aku normal. Buktinya aku masih bisa merasakan indahnya cintaku bersamamu.” Gubrak! Gombal deh si Alfar... hueeks, masa pacarku segombal ini sih? Ini mah bukan pacarku Alfar yang dulu. Dulu dia malah dingin sama aku, kok sekarang gombal banget sih? Mana pake kata-kata begitu pula.
Aku bergidik. Lalu tertawa. “Kamu norak. Perasaan, dulu kamu nggak senorak ini deh Al.”
“Aku pengen berubah buat kamu, Cinta. Aku mau bikin kamu senyuuuum terus. Biar kita bahagia.” Ucapnya terdengar tulus. Aku tersenyum lagi. Kali ini senyumku ku usahakan semanis mungkin. “Ohya?” tanyaku pura-pura tidak percaya. Dia mengangguk beberapa kali.
“Iya dong, Cinta. Aku kan selalu cinta sama kamu, aku nggak mau cintaku sama kamu jadi sedih karena aku nggak berubah.” Nah loh? Kata-kata apalagi ini.
“Emang ada hubungannya?” aku mengernyitkan keningku.
“Ohh jelaaas. Pastinya ada dong sayang, cintaaku.” Eheeleeh, ini dia. Pacar gombalku.
“Apaan?”
“Adaa deeh, mau tau ajah kamu cintah.” Ih, gaya Syahrini pula. #Alhamdulillah yah?
“Udaahan deh, Al, gombalan mu itu basi, nggak berasa tau!” ucapku. Aku asik terkekeh dengan lelucon gombalan Alfar. Sampai terpingkal-pingkal aku tertawa. Dia malah memberengut memperhatikanku.
“Kenapa ketawa, Yang? Kamu suka yaah, sama gombalan aku? Katanya basi? Nggak berasa? Kok malah ngakak sih, yang?” hyaah... cukup Alfar. Sakit perut tauk akunya. Aku masih tak bisa menghentikan gelak tawaku.
Senyumnya perlahan merekah. Entahlah.. dia dengan lekat memperhatikanku. “Boleh minta sun, nggak?” tanyanya membuatku refleks menghentikan tawaku. Kali ini giliran dia yang terbahak! Sial, apa coba?
“Nah, berhentikan ketawanya. Oh jadi gitu toh cara menghentikan tawa si Cha-chaku ini?” ucapnya ditengah gelak tawanya yang masih terdengar. Aku manyun. Dasar Alfar!
“Udaaaah deeh, Al. Stop ketawanya...” rengekku seperti anak kecil. Ngambek.
“Eciee, ngambek nih, ayangku.. iyee, aku berhenti ketawa.” Dia mengulum tawanya. Aku tahu, dia bersusah payah menahan mulutnya agar tidak tertawa. Aku tersenyum puas telah berhasil membuatnya menahan tawanya yang jelas saja untuk mengejekku. Rasakan itu Alfar!!
***
Seperti biasa (kebiasaan baru) setiap malam, Alfar lebih memilih duduk-duduk di sampingku. Menatap langit malam yang cerah malam ini. Indah. Sangat indah malam ini. Berdua. Memandangi sang rembulan berbentuk sabit itu. Persis seperti tersenyum. Jaket yang membalut tubuhku ku eratkan. Aku memeluk kedua tanganku sendiri. Hawa dingin merasuk menusuk-nusuk tulangku. Sedangkan Alfar, dia terlihat santai, rileks. Wajahnya yang cerah bisa menerangi hatiku yang mungkin sedikit gelisah.
Sebelah tangan Alfar menggenggam erat tanganku. Erat sekali, seakan dia tak akan membiarkanku pergi. Ada kalanya, dia seperti ini. Menutupi semua kegombalannya yang sewaktu-waktu akan keluar seperti siang tadi. Ada pula kalanya ketika dia bersikap dingin dan membuatku hangat bersamanya.
Kepalaku kurebahkan dibahu kanannya. Dia menikmati saja. Sesekali dia menoleh dan menatap lekat wajahku. Sembari tersenyum, kemudian tangan kirinya terangkat menyelipkan sebagian rambutku yang terjatuh menutupi wajahku. Rambutku semakin menipis.
“Bagaimana rasanya?” ucapnya, masih dengan menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum. Kemudian menggeleng. “Kamu merasa lebih enakan?” aku mengangguk. Dia tersenyum lagi.
“Alfar,” sapaku setelah beberapa detik hanya diam yang menyelimuti kami.
“Mmm,”
“Kamu sayang aku?” tanyaku tanpa berani menatap matanya. Dia mengangguk. “Seberapa sayang?” lanjutku.
“Seluas samudera.”
“Bisa diukur dong?” tanyaku lagi. Kali ini kuberanikan menatap wajah tampannya. Dia menggeleng. “Terus?”
“Apa kamu bisa mengukur luas samudera?” dia bertanya balik padaku. Aku terdiam.
Hening.
“Nggak bisakan?” lanjutnya. Aku mengangguk.
“Apa benar?”
“Hmm..” dia mengangguk sekali lagi. “Kalau kamu?”
“Seluas jagat raya.” Jawabku sembari melemparkan pandanganku ke langit malam yang hitam kelabu dengan pantulan sinar rembulan.
“Sebesar itu?” tanyanya memastikanku. Aku mengangguk.
“Nanti, kalau kita ketemu lagi, aku akan kasih semuanya ke kamu.”
Alfar mengernyitkan keningnya. “Kenapa nanti?”
Aku diam. Sejenak aku menghela napas panjang. “Karena hidup aku nggak akan lama lagi.” Jawabku lemah. Dia menoleh ke arahku. Menatap mataku selekat-lekatnya, hingga aku bisa melihat guratan merah di matanya. Maafkan aku, Al, aku memang sangaat mencintaimu tapi, apalah sudah. Takdir sudah menentukan jalanku, jalanmu, jalan kita berdua. Kita memang tidak bisa bersama di sini, tapi yakinlah kalau kita akan bertemu lagi nanti. Di masa yang lebih kekal. Di tempat dimana kita bisa berkumpul dengan tawa, dengan keabadian, dengan senyum, tanpa perpisahan lagi. Kalau kamu percaya, maka hatiku akan semakin mencintaimu.
“Kenapa berkata seperti itu? Kamu tahu, Cha-cha yang dulu nggak pernah bilang kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Cha, yang tahu umur kita hanya Tuhan. Bukan aku, bukan kamu, bukan kita. Kalau Tuhan memang memanggilmu, aku tidak akan bisa membantah semuanya, karena itu takdir. Tapi, kalau kamu yang menginginkannya, aku akan membantah semuanya!”
Matanya yang hitam pekat itu, terlihat mulai bergelombang. Menangiskah dia?
“Al, kamu yakin akan takdir, bukan? Kalau kamu yakin, berarti kamu juga yakin kalau suatu saat nanti kita akan bersama.” Ucapku sembari berusaha mengukirkan senyum. Dia tak menjawab, kemudian memalingkan wajahnya menatap halaman rumahku yang lumayan luas. Tak jarang dia seperti menghela napas panjang, mungkin berusaha agar airmatanya tidak luruh ke permukaan wajahnya.
Aku melepaskan pelukanku yang merengkuh tanganku sendiri, kemudian ku ulurkan tanganku meraih wajah Alfar yang sedang menghindari tatapanku. Dia terus mengelak ketika tanganku mulai menghadapkan wajahnya untuk melihatku. “Alfar, lihat aku.” Ucapku penuh penekanan. Akhirnya dia menuruti penuturanku.
Aku tersenyum miris ketika mendapati matanya sudah basah. Dia menangis? Jangan bilang kalau aku yang sudah membuat pacarku sendiri menangis. Aku tidak mau kalau aku yang membuatnya lemah. Airmata itu menyakitkanku!
“Hmm. Kamu nangis? Kenapa? Sedih? Hey, kamu nggak melihatku di sini? Aku masih di sini, Al.” Ucapku dengan senyum lirihku yang ku usahakan agar terlihat tulus.
Dia tidak menjawabku. Matanya masih terlihat berkaca-kaca. Dia mendesah lalu menghapus airmatanya. Tiba-tiba, dia langsung memelukku. Aku terkesiap! Karuan saja, aku juga ikut menangis.
“Please, jangan bicara seperti itu lagi. Kamu yang sudah membuatku jatuh cinta, Cha. Kamu yang sudah membuatku merasakan segala keindahan cinta. Tapi, jangan buat aku merasakan kehilangan cinta itu. Sekali ini, aku mohon. Jangan biarkan aku terlihat lemah di depanmu. Jangan pernah, Cha.”
Aku tidak membalas pelukannya. Hanya diam mematung dalam pelukannya. Airmataku ikut terurai jatuh bersama tangis Alfar. Aku tidak pernah melihatnya menangis seperti ini. Ini adalah hal tersakit ketika aku melihat orang yang kucintai menangis di depanku. Aku tidak pernah menginginkan ini.
Tubuhku berguncang, ikut terbawa akan isakanku yang semakin menjadi. “Al, apa aku pernah bicara kalau aku akan meninggalkanmu? Aku hanya bilang kalau hidupku nggak akan lama lagi. Kamu mendengarnyakan, Al?” tanyaku. Sebisa mungkin agar suara tetap datar.
Kemudian dia melepaskan pelukanku. Dengan menyentuh pundakku, dia hadapkan wajahku untuk menatapnya. Menatap matanya yang masih terlihat sembab. Bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu untukku.
“Kamu memang bilang kalau hidupmu nggak akan lama lagi, tapi apa maksud terdalam dari kata-katamu itu? Kalau memang kamu ingin cepat pergi, pergilah! Jangan semakin membuatku sedih karena mendengar perkataanmu itu.” Dia menghela napas. “Kamu tahu bagaimana rasanya ketika kamu bilang seperti itu? Sakit. Sakit banget Cha.” Lanjutnya, tatapan matanya semakin menajam padaku. Menusuk-nusuk setiap helaan napasku. Melahirkan beribu tancapan luka di hatiku.
Aku tertunduk mendengar ucapannya. Begitukan sakitnya, Al? Baiklah, anggap ini yang terakhir aku mengatakan itu. Aku janji. Batinku. Lama kami saling diam. Tanpa tatap. Tanpa adanya tawa. Tanpa ada semuanya.
Masing-masing diantara kami sibuk dengan hati dan pikiran kami. Ingin menenggelamkan segala cemas, resah, gelisah yang menyeruak masuk dalam diri kami. Tapi, itulah takdir. Inilah jalanku. Jalan Alfar, jalan kami berdua. Siapa yang bisa mengubahnya?
Tak lama, aku merasakan pening di kepalaku. Pening yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Lebih sakit dari sebelumnya. Rasa itu menjalar ke semua saraf-saraf yang menyelimuti tubuhku. Semuanya tiba-tiba terasa sangat sakit. Aku sampai tak bisa mengeluarkan suaraku.
Alfar mungkin menyadari semua yang ku rasakan. Dia menoleh ke arahku yang tetap menunduk. Perlahan kurasakan ada tangan yang meraih daguku. Menghadapkan wajahku padanya. Setelah itu, terlihat matanya membulat melihatku. Entahlah, mungkin...
“Cha, kamu mimisan lagi?” ucapnya dengan suara bergetar, sembari mengusapkan ibu jarinya ke bawah hidungku. Benar! Aku mimisan lagi. Tuhan... apakah ini hari terakhirku bersamanya??
“Cha, ada yang sakit?” tanyanya dengan penuh rasa kekhawatiran. Terlihat lagi olehku matanya yang mulai berkaca-kaca. Seakan-akan aku memang tak punya kekuatan lagi, aku hanya bisa mengangguk sangat pelan. Dia langsung meluruhkan kedua tangannya untuk memelukku. Dia mengusap rambutku. Darah mimisanku mungkin sudah banyak menempel di kemeja kasualnya.
“Al-far.. sa-kit..” ucapku lirih. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Tanpa bisa kucegah, airmataku kembali luruh. Antara menahan sakitnya seluruh tubuhku dengan menahan perih hatiku. Tuhan.. jangan jadikan ini hari terakhirku. Aku mohon! Pintaku dalam hati. Aku menggigit bibir bawahku. Tanganku seakan sudah benar-benar mati rasa. Tak bisa digerakkan sedikitpun!
“Cha, kita ke kamar ya. Kamu harus istirahat sekarang!” Alfar melepaskan pelukannya. Kemudian menggendongku. Aku tak membantah. Bukannya tak mau, tapi tak bisa.
Setiba kami di kamarku. Mama masuk menyusul. “Livia kenapa, Al?” tanya Mama panik. Dan langsung berlari mendekatiku yang sudah terbaring di ranjang. Alfar duduk ditepi ranjang. Tangannya memegang obat-obat herbal yang digunakan untuk penahan rasa sakit. Dengan cepat dia memerintahkan padaku untuk segera meminumnya. Aku menurut saja. Tapi sepertinya obat-obat itu tak berfungsi lagi untuk tubuhku. Lantas aku masih saja merasakan sakit yang teramat sangat itu.
“Kamu istirahat sayang, tidurlah. Besok kamu akan merasa lebih baik.” Ucap mama seakan tak peduli lagi dengan keadaanku. Aku tahu, mungkin dia sudah tak sanggup melihatku kesakitan seperti ini. Sedang Alfar, dia masih terus berada disampingku. Mengusap hidungku yang masih meneteskan darah-darah segar dengan sapu tangan abu-abunya. Sesekali dia tersenyum miris ke arahku. Mengelus kepalaku, keningku, mataku... membisikkan kata-kata penguat untukku agar terus bertahan.
“Livia...” ada satu suara yang ku kenal memanggilku. Ku arahkan pandanganku ke ambang pintu, di sana ada Dita yang tengah menatapku dengan mata yang sembab. Di sampingnya ada Tama. Aku tersenyum tipis menyadari kehadiran mereka. Sahabatku. Terimakasih sudah menjengukku..
“Liv, kamu harus bertahan, okey..” ucap Dita. Dia langsung memelukku dengan derai airmatanya. Tama berjalan ke arah kami. Dia cowok yang dulunya adalah harapanku. Harapan semuku. Harapan yang tidak pernah ku gapai...
Dia tersenyum ke arahku. Tak perlu ditanya, akupun sudah tahu kalau senyum itu bukan senyum yang tulus. Melainkan senyum sakit yang di tahannya agar tak terlihat sakit! Dia mengangguk beberapa kali. Pertanda menyuruhku agar terus kuat. Jangan menyerah menentang penyakitku.
Aku mengangguk kecil. Semakin lama waktu berjalan, semakin sakit pula yang kurasakan.
“A-ku...i-ngi-n ti-dur...” ucapku terbata. Sungguhlah sudah, aku tak sanggup menahannya. Bagaimanapun mereka memberiku semangat, tetaplah aku tidak bisa. Sangat sakiit...
Alfar tak membantah lagi kali ini. “Istirahatlah, Cha, sayang..” balasnya. Namun tetap bergeming di sampingku. Sekuat tenaga, aku berusaha menggenggam tangannya. Aku tak mau meninggalkannya. Melihatku yang kesusahan menggenggam tangannya, dia membantuku. Dia balas menggenggam tanganku. Aku tersenyum, airmataku jatuh.
“Al-..”
“Iya, sayang?” balasnya. Ku dengar beberapa kali dia menarik napas panjang. Menahan sesak didadanya.
“A-ku.. men-cin-tai-mu..” ucapku lirih. Dia mengangguk. “Aku juga. Sudah, kamu istirahat saja, besok kita akan ke taman lagi. Kamu sehat ya!” pintanya. Aku tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Tam..” ucapku memanggil Tama dengan lirih. Dia mengangguk. Seakan tahu apa yang akan ku katakan dia mengagguk dan merengkuh Dita yang berada di sampingnya. Menenggelamkan tangis Dita yang sudah merebak. Aku ingin dia menjaga Dita, mencintai Dita sebagaimana dia pernah mencintaiku, bahkan lebih.
Aku tersenyum lagi. Senyum termanisku untuk semua yang mencintaiku. Aku mencintai mereka. Sangat mencintai mereka. Alfar mengangkat selimutku menutupi separuh tubuhku. Tangannya masih ku genggam erat. Erat sekali. Setelah itu... gelap. Mataku terpejam...
***
Alfar menunduk dalam diam. Dengan segala sesak yang menyeruak di dalam dadanya. Tama menepuk-nepuk pundak Alfar. Berusaha menabahkan temannya itu. Sedang Dita, dia langsung keluar. Tak tega melihat sahabatnya pergi meninggalkannya. Meninggalkan semuanya. Meninggalkan apapun yang pernah mereka jalin.
Perlahan, tangan Livia yang menggenggam tangannya dilepaskan. Ditatapnya wajah elok Livia yang baru siang tadi tertawa bersamanya. Bersenda gurau dengannya. Yang baru tadi, beberapa menit yang lalu duduk bersamanya menatap sang bulan sabit. Menangis bersama. Memeluknya. Mengatakan sesuatu yang tak mau di dengarnya... dan kenyataan memang dia tidak akan pernah mendengarnya lagi.
Senyum itu mengembang di wajah Livia. Senyum kelegaan yang selama ini tak pernah dilihat Alfar. Wajah pucatnya terlihat cerah malam ini, seperti cerahnya yang rembulan. Di wajahnya seperti tak pernah terlihat sakit seperti sebelumnya. Tak ada guratan yang menggambarkan kalau dia menderita meninggalkan semuanya. Dia malah terlihat bahagia melepasnya. Rupanya rasa sakit yang diterimanya selama ini adalah beban yang berat untuknya. Maka dari itu, dia memelih cepat pergi untuk menanggalkan semua bebannya.
Dan secepat itukan dia meninggalkannya?
“Kamu harus bahagia, Cha. Bukankah kamu ingin bersama kak Andine di sana? Tersenyumlah, Cha bersama mereka. Bersama kakakmu yang sangat kamu sayangi...”
***
Dengan segenap raga, seutuhnya jiwa. Cowok itu terus memandang luasnya tanah lapang yang menghijau. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantung celananya. Sesekali dia menarik napas. Lalu menghembuskannya.
Ada satu penyesalan yang masih menyesakkan perasaan cowok itu, seandainya dia tahu lebih awal kalau Livia mengidap penyakit mengenaskan itu setidaknya dia bisa membantu untuk mencarikan transplantasi sumsum tulang belakang untuk kekasihnya. Sayangnya, semaunya terlambat! Livia telah pergi meninggalkannya setelah semuanya menyebar ke aliran darah serta saraf-saraf dalam tubuh Livia. Livia pergi dengan satu janji yang akan ditagihhnya pada kehidupan kedua yang kekal dan abadi tanpa ada perpisahan lagi!
“Entah kapan, kita bisa bertemu lagi. Yang pasti, aku akan merindukan dan akan menunggu janjimu untuk memberikan semua cintamu kelak. I Love You, Cha-cha-ku.” Ucapnya lirih. Lalu berbalik dan meninggalkan taman cintanya.
Tak lupa secarik kertas yang ditemukannya di bawah bantal Livia tadi malam di lipatnya kembali dan dimasukkannya ke dalam saku celananya.
Surat Livia untuk Alfar :
Dear My Lovely Stupid Boy >u<
Taukah kau, kalau airmatamu itu menyakitkanku? Makanya, kau tak boleh meneteskannya untukku. Taukah kau, kalau senyum pahitmu itu menyiksaku? Makanya, kau harus tersenyum bahagia untukku. Taukah kau, kalau tawamu adalah kabahagiaanku? Makanya, teruslah warnai hari-harimu dengan tawa yang merekah untukku.Taukah kau, kalau hatimu juga tak mau kau bersedih? Makanya, buatlah hatimu bahagia, buatlah hatimu tersenyum, karena dihatimu ada aku!
Yakinlah, kalau suatu saat nanti kita akan bertemu, dan di saat pertemuan kita itu aku akan memberikan semua cintaku. Perasaan tak pernah luput. Meski tak bisa bersama di dunia, tapi kau harus tau kelak kita akan bersama.. selamanya! Tanpa ada perpisahan lagi. Aku sudah tersenyum untukmu. Sekarang giliranmu, tersenyum untukku!
Sampai Jumpa Alfar sayang.. you always become my Stupid Boy ^^

^^END^^

FEELING...??[10]

Alfar bergegas turun dari mobilnya. Langkah kakinya yang lebar terus berjalan cepat bahkan nyaris berlari. Kedua tanganya mengepal. Dia merasakan perih yang mendalam di hatinya. Sesak yang memenuhi dadanya hampir tak tertahankan saat kakinya berhenti di depan sebuah ruangan yang berada jauh di lorong samping rumah sakit.
Matanya tak lepas dari sosok yang kini sama sekali tak menyadari kehadirannya. Tengah bertarung melawan maut. Untuk hidup yang sedikit lebih lama. untuk melihat indahnya dunia di kemudian hari. Untuk melihat harapan masa depan. Her feeling.. untuk tersenyum pada semua orang. Dan untuk kebahagiaannya.
“Ingat Livia, cinta kita tidak akan pernah hilang. Jadi, untuk cinta kita.. bertahanlah! Temui aku sebentar saja, ucapkan satu kata penguat untukmu. Satu kata yang membuat kita bersatu. Aku mohon Livia... listen to me, please!” gumam Alfar selirih-lirihnya. Berikut hatinya yang terasa sangat perih.
“Far, aku minta maaf.” Suara dari belakangnya menyentakkan lamunannya bersama gadis itu. Tama berdiri tak jauh darinya. Matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.
“Kenapa kamu bawa Livia?” tanya Alfar geram.
Tama terdiam. Tak mungkin dia mengatakannya pada cowok di depannya. “Sorry,”
“Apa satu kata maaf cukup untuk membuat Livia kembali?” susul Alfar cepat. Dia marah. Sangat marah bahkan. Wajahnya merah padam.
“Aku tau, kata maaf pun tidak bisa mengubah keadaan. Tapi, saat itu...”
“Stop it! Jangan bicara lagi, kalau kamu masih mau bernapas, pergi dari sini. Tinggalin Livia.” Bentakan lantang Alfar menggelegar.
Tama terenyah. Matanya beralih pada sosok yang terbaring di dalam ruangan saat ini. Hatinya mengucapkan beribu-ribu bahkan berjuta-juta maaf pada orang itu.
“Pergi, Tam!” Bentak Alfar kembali dengan suaranya yang lantang.
“Aku pergi, sampaikan salamku buat Livia kalau dia sadar nanti.” Ucapnya. Kemudian berlalu dengan gontai.
Alfar membalikkan badannya menghadap ke arah pintu dengan senyum tipis nan menyakitkan dibibirnya. Kembali mengarahkan matanya pada sosok gadis yang teramat ia cintai. Mungkin sejak kematian kakaknya, yang punya penyakit sama dengan gadis itu. Leukimia. Menyesal telah gagal menjaga gadis itu, harusnya tidak seperti ini alur hidupnya. Seharusnya alur ini terus maju tanpa ada masa lalu dalam dirinya. Sayangnya, lagi-lagi itu hanya harapan kecil yang tak mungkin bisa untuk dipungkiri selama hidupnya.
“Mas Wisnu, aku minta maaf tidak bisa menjaga orang ini dengan baik. Aku gagal, sama seperti mas menjaga mbak Andine...” Alfar menyentuh kaca bening didepannya dan menghembuskan napasnya dalam-dalam hingga terbuat uap di kaca bening itu. tangannya menuliskan sesuatu yang terlihat jelas namun tampak buram.
You’re my Flower Heart.. my Feeling is all about you!!
Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ
Ayahnya Alfar yang notabene adalah salah satu dokter spesialis kanker di rumah sakit itu segera menghubungi ibunya Livia yang pasti sudah mengkhawatirkan puterinya karena sudah larut malam begini dia tak kunjung pulang.
Mama Livia berjalan-jalan dengan gelisah. Pikirannya tak tenang. hatinya gelisah. Jemarinya bertaut satu sama lain, saling meremas.
“Sayang, kamu dimana?” gumamnya penuh dengan nada keprihatinan.
Tak lama setelah itu, telepon rumahnya berbunyi. Dengan segera dia mengangkat telepon rumahnya yang menjeritkan deringan nyaring hingga membuat dirinya terlonjak kaget.
“Ya, h-halo,” suara Mama Livia bergetar mengangkatnya.
Tak ada jawaban dari seberang. “M-maa-f, siapa ya?” tanya Mama Livia tak sabaran.
“De, Livia coleps lagi..” ucap suara dari seberang. Telepon yang digenggam Mama Livia terjatuh. Bibirnya gemetar hebat. Jantungnya seakan terpacu. Darahnya berdesir dengan sangat deras. Sesaat dia mematung tak percaya. Airmatanya seketika runtuh saat dia tersadar kalau penyakit Livia kambuh lagi.
Napas Mama Livia tersengal. Dalam hitungan menit Mama Livia sudah berada di rumah sakit dengan diantar supir pribadinya.
Kakinya berlari cepat menuju ruang rawat inap Livia. Saat tiba di sana, dia mendapati tubuh anaknya terkulai lemah dengan semua alat bantu pernapasan menempel di tubuh sang putri. “T-tidak m-mung-kin,” ucapnya terputus-putus.
Alfar yang sedang duduk di bangku di depan ruangan Livia mengangkat wajahnya dan langsung melihat Mama Livia terduduk lemah di lantai dengan kepala tertunduk. Alfar berdiri menghampirinya, sebelah tangannya menyentuh pundak wanita separuh baya tersebut dengan pelan.
Mama Livia mengangkat wajahnya. Mata Mama Livia nyaris bengkak. “Alfar,” bisiknya pelan masih dengan suara bergetar. Alfar membantunya berdiri. Membopong Mama Livia menuju kursi yang tak jauh darinya.
“Maaf tante, saya gagal menjaga Livia.”
Plakk... satu tamparan melayang dipipi kanannya. Alfar meringis saja setelah mendapatkan tamparan mulus dari wanita itu. dia pantas mendapatkan ganjarannya. Ini salahnya, dia tidak menjaga Livia dengan baik sesuai dengan janjinya dengan Mama gadis itu. Atas keteledorannya dalam menjalankan tugasnya menjaga Livia, akhirnya Livia jadi coleps dan harus melewati masa kritisnya.
“Tante, biar saya jelasin dulu. Tadi pas saya mau ke Bandung buat jemput sepupu saya Tama menelepon saya, dan dia bilang Livia coleps.. Livia tidak bersama saya waktu itu Tante, dia sama Tama. Tama yang udah bikin Livia koma.” Alfar berusaha membela dirinya meskipun sebenarnya dia tahu itu nggak guna sedikit pun untuknya.
“Tapi, ini juga karena kamu. seandainya kamu tidak membuat janji sama Tante untuk menjaga Livia, pasti tidak akan seperti ini kejadiannya.”
Alfar menghela napas panjang. “Maafin saya tante. Saya lalai.”
“Mulai sekarang.. lebih baik pergi dari Livia. Tante tidak mau masa lalu buruk itu terulang lagi.” ucap Mama Livia dengan nada rendah disetiap kalimatnya. Wajahnya tak dia arahkan pada Alfar yang tertunduk karena menyesali semuanya.
Flashback>>
Wisnu berjalan menuju sebuah taman nan indah. Hamparan rumput hijau bak permadani yang menghiasi dunia. Pepohonan nan rindang berdiri tegak dan kokoh memperlihatkan keindahannya pada seluruh alam semesta. Angin nan sejuk bertiup menerpa sebagian dedaunan kering yang berjatuhan. Keindahannya bagaikan surga dunia. Bunga-bunga mekar juga ikut mengiasi taman indah itu.
Sebelah tangannya bertaut dengan jemari seorang gadis berusia 18 tahun. Senyum manis mengembang di bibir keduanya. Kepala gadis itu bersandar pada bahu Wisnu.
“Din, seandainya kelak aku tidak bisa bersamamu lagi seperti saat ini, apa yang akan kamu lakukan?” suara Wisnu memecah keheningannya. Yang sebelumnya hanya terdengar hembusan lembut angin.
Andine mengangkat wajahnya menatap Wisnu. Mata Wisnu menerawang jauh. Senyum manis dibibir gadis itu lenyap seketika. “Aku akan ikut denganmu, dengan begitu bukankah kita akan selalu bersama?” ucap gadis dan kembali menyandarkan kepalanya dibahu Wisnu.
Wisnu bergeming. Dia menoleh pada sosok di sampingnya.
“Tapi, seandainya aku pergi jauuh sekali, apa kamu bisa ikut?”
“Hmm..” gadis itu hanya mengeluarkan suara lembutnya. “Lagipula, kenapa kamu harus pergi?” tanyanya.
Wisnu menariknya ke salah satu bangku panjang di taman itu. mereka berdua duduk di sana. Menatap indahnya langit siang yang berwarna biru menawan. Tangan kanan Wisnu merangkul pundak gadis di sebelahnya.
Wisnu diam. sadar kalau seharusnya dia tidak berkata seperti itu pada kekasihnya.
“Wisnu..” suara lembut itu menyadarkan Wisnu. Dia menoleh pada gadis disebelahnya. “Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Desaknya.
“Ah tidak, hanya bertanya saja.” elak Wisnu langsung mengalihkan wajahnya tadi tatapan gadis yang di sapanya dengan ‘Din’ tadi.
Andine terenyuh. Dia merasa ada yang berbeda dengan kekasihnya itu. sebelumnya, dia tak pernah mendengar pertanyaan bodoh seperti tadi.
“Wisnu, mau berjanji denganku?” tanya Andine seraya menegakkan tubuhnya menghadap Wisnu. Wisnu menoleh lagi. keningnya bertaut karena heran.
“Apa?”
“Janji jangan meninggalkanku.. bisa?” tanya Andine dengan penuh harap.
Wisnu tersenyum dengan sedikit nada ejekan. “Buat apa sayang?”
“Untuk sesuatu yang baru sekali kurasakan saat bersama orang yang ku cintai.” Jawab Andine serius. “Kebahagiaan.”
Senyum di bibir Wisnu mendadak hilang mendengarnya. Jika saja kamu tau, kalau waktu ku akan habis apa kamu bisa merasakan bahagia bersamaku? Batin Wisnu. Matanya kembali menerawang jauh.
“Wisnu.. kamu melamun lagi? kenapa? di kelas aku sering mengamatimu melamun akhir-akhir ini. kamu baik-baik saja kan?” Andine meraih wajah Wisnu yang berpaling dari hadapannya. Dia hadapkan wajah itu menghadapnya. Tapi, seketika matanya terbelalak mendapati wajah Wisnu yang pucat pasi. “Wis, kamu sakit?” tanya Andine khawatir kedua keningnya mengerut.Wisnu menggapai tangan Andine yang menempel sisi kiri wajahnya. Menggenggamnya. Andine terkejut saat tangan mereka bertaut. Dia merasakan tangan yang menggenggamnya terasa panas. Hingga menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.
“Andine, aku sangat menyayangimu. Bahagialah untukku.” Ucap Wisnu dengan raut wajah serius. Mendengarnya mata Andine mulai menggambarkan gelombang-gelombang halus. Pandangannya buram karena matanya dipenuhi oleh genangan airmata.
“Jangan teteskan itu di depanku jika kamu ingin bahagia untukku. Karena, itu tandanya kamu bersedih untukku.” Ucap Wisnu. Tangan kirinya menyeka buliran bening yang menetes dengan mulusnya di pipi putih Andine.
Andine tersenyum. “Wisnu, aku tidak mau mendengar ucapanmu tadi. Aku ingin, kita bersedih dan bahagia bersama. Seandainya, kamu sedih aku akan ada disampingmu. Bukankah itu arti cinta? Saat bahagia maupun bersedih selalu ada untuk satu sama lain?”
“Aku tak mau. Aku hanya ingin bahagia bersamamu. Aku.. tidak mau melihatmu bersedih. Ingat itu! bukankah seharusnya cinta selalu bahagia?” wajah pucat Wisnu memancarkan sedikit kebahagiaan untuk gadis di sampingnya.
Andine terdiam. Matanya masih berkaca-kaca. Tak mungkin dia bahagia kalau Wisnu pemuda yang dicintainya tak terlihat seperti itu. Love will be there, with us!
Cinta terlahir untuk membahagiakan orang yang memilikinya.
Cinta tercipta untuk menghapus semua airmata di dunia.
Cinta ada karena aku dan kamu ada!
Cinta akan selalu ada karena kita bahagia..
Wisnu merasa kepalanya pusing tiba-tiba. Dia mengerjapkan beberapa kali matanya mencoba memperbaiki penglihannya yang buram. Perlahan tangan yang menggenggam tangan Andine melonggar. Andine kaget. Terdengar suara rintihan dari mulut Wisnu. Tangannya memegang kepalanya, mencengkram kuat seakan menahan rasa yang teramat sakit. Andine bergeming. tak tahu apa yang akan dia lakukan.
Andine terperangah ketika menyadari ada cairan merah keluar dari hidung Wisnu.
“W-wisnu.. W-wis-nu..” panggilnya terbata-bata. “Wisnu, kamu kenapa?” tanyanya dengan suara kepanikan bercampur khawatir.
Wajah Wisnu semakin terlihat pucat. Andine menyentuh bahu Wisnu, posisi Wisnu terperosot hingga dia terduduk di hamparan hijaunya rumput. Seketika Andine langsung memeluk Wisnu yang masih mengerang kesakitan. Airmatanya kembali mengalir. Bibirnya bergetar hebat. Matanya nyaris tak berkedip.
“Wisnu, kamu sakit apa? kamu kenapa Wis? Wisnu please jawab aku! Wisnu, jangan begini. Kalau mau bercanda jangan begini. Ini keterlaluan Wisnu!!” Jerit Andine sekeras mungkin. Sejanak suara rintihan Wisnu menurun, dia terengah-engah. Senyum tipis dan menyedihkan terukir di sana. Andine sesegukan.
“An-ndi-ne..” Sapanya terputus-putus. “Bis-a.. t-tol-ong a-ku.. am-bilkan b-botol keci-l d-di d-da-lam dd-asbbor..”
“Oke, sebentar ya. Kamu tahan dulu. Aku ke sana!” Andine segera berlari cepat menuju mobil Wisnu yang terparkir tak jauh dari tempatnya. Dia membuka pintu mobil itu dan mengambil botol kecil berwarna hijau di dalam dasbor. Dengan segara pula dia kembali berlari menuju Wisnu yang bersandar di bangku.
Andine merebahkan kepala Wisnu dibahunya. Memeluknya. Tangan Wisnu mengambil beberapa butir obat dari dalam botol yang baru saja di ambilkan Andine untuknya. Menelannya dengan kalap. Andine hanya bisa terisak di sana.
Setelah agak tenang. Wisnu kembali duduk bersandar pada bangku.
“Wisnu, kamu sakit apa?” Andine sengaja langsung menanyakan itu. karena baginya percuma saja kalau dia bertanya kenapa pada Wisnu. Andine yakin, penyakit yang di derita Wisnu bukanlah penyakit kecil. Jika penyakit itu kecil tak mungkin Wisnu kesakitan seperti tadi. Di depan matanya.
Wisnu bergeming. wajahnya terus terarah pada Andine yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Dia ingin terus menatap gadis itu seperti ini. tapi bukan dalam suasana sedih. Dia hanya ingin melihat Andine tertawa, tersenyum di sampingnya. Bersamanya. Selamanya. Tapi, itu hanya sebuah harapan yang akan jatuh nantinya.
“Ndin, tersenyumlah.” Ucap Wisnu. Tapi yang dia dapat bukan senyuman dari bibir tipis Andine, melainkan getaran bibir Andine ketika dia menahan airmatanya yang akhirnya tak terbendung. Wisnu kembali menghapus airmata itu. semakin dia menghapusnya semakin deras pula tetesan itu meluncur. “Andine, kenapa kamu menangis?” Wisnu menenggelamkan kepala Andine di dadanya yang bidang. Membuat gadis itu semakin tenggelam dalam airmatnya. Tangan Wisnu membelai rambut sebahu Andine yang tergerai.
“Bisakah kamu jangan berbohong padaku? Bisakah kamu tidak merahasiakan apapun dariku? Bisakah kamu bahagia terus bersamaku?” Tanya Andine dengan suara yang lirih. Wisnu tak menjawab. Dia mendengar pertanyaan itu dengan saksama. Airmatanya juga tak terbendung. “Kamu sayang sama akukan Wisnu? Jawab aku?”
Wisnu diam lagi. tangannya masih membelai rambut hitam Andine. Dia hanya mengangguk tanpa Andine melihatnya. Aku amat sangat menyayangimu Ndin..batinnya.
“Apa kamu sudah lama sakit? apa kamu tidak mau tau bagaimana perasaan aku setelah tau kamu begini? Apa kamu bahagia melihatku menangis seperti ini? apa kamu selalu tertawa saat aku meneteskan airmataku? Apa kam...” Andine terus melontarkan pertanyaan yang membuat sesak. Tapi, saat dia ingin terus berucap, tangan Wisnu mengangkat wajahnya. Hingga membuat Andine menghentikan pertanyaannya.
“Andine, aku bahagia kalau kamu tersenyum. Bukan saat kamu menangis. Aku sangat tidak menyukai airmata itu meluncur dari matamu. Kamu tahu itu, jadi bagaimana mungkin aku bahagia kalau kamu seperti ini.” jawab Wisnu. Dia tersenyum. Senyum terhangat dari selama ini yang pernah dilihat Andine. Senyum bahagia tapi juga senyum yang menyakitkan ulu hatinya..
“Kalau kamu ingin aku bahagia, please.. jangan bohongi aku, ceritakan semuanya padaku, buat aku mengerti keadaanmu. Buat aku menangis saat kamu menangis.. buat aku menjatuhkan airmataku ketika kekasihku bersedih.. buat aku tersenyum saat kamu bahagia.. buat aku tertawa saat kamu sangat bahagia!!”
Wisnu mulai menceritakan semua keadaannya. Sejak umur 16 tahun, dokter memvonisnya terkena penyakit ganas. Sel darah merahnya digerogoti oleh banyaknya sel darah putih yang memang kadar produksinya sangat tinggi. Setiap dua hari sekali dengan rutin dia melakukan terapi khusus kanker. Namun, itu hanya memperlambat kematiannya. Bukan untuk menyembuhkannya. Selama satu tahun setengah dia rutin dengan kegiatannya. Sampai akhirnya dia tidak kuat dan memilih berhenti dari terapinya. Dan dia hanya diberi obat-obatan herbal untuk memperkecil kemungkinan umurnya untuk terus berkurang. Setiap harinya dia terpaksa mengonsumsi obat-obat itu lebih dari sepuluh butir perhari.
Wisnu memilih merahasiakannya dari Andine karena tak mau membuat gadis itu menangis untuknya. Mereka jadian sejak 3 tahun yang lalu. Awalnya Andine memang merasa aneh dengan kegiatan Wisnu. Tapi, setelah mendengar jawaban bohong Wisnu, Andine percaya saja. Hingga sampailah saat ini..
“Aku terlahir untuk membuatmu bahagia, bukan untuk membuatmu sedih Andine. So, don’t be sad because me.. but smile for me, cause that is my happiness.” Ucapan Wisnu menenangkannya tapi tetap saja airmatanya tak berhenti mengalir.

I don’t know how to live without your love,
I was born to make you happy
‘cause your only one with in my heart..
I was born to make you happy
always and forever you and me... (B.S)

“Andine, tempat ini indah. Aku mau menjadikan tempat indah ini sebagai tempat berseminya cinta kita. Kelak, aku akan menurunkan taman rahasia ini untuk adikku. Kamu tau, adikku Alfar pernah bercerita padaku kalau dia menyukai adikmu.” Ucap Wisnu. Andine yang tengah bermain dengan jemarinya menghentikan permainannya. Dia mendongakkan wajahnya pada sosok yang duduk berselonjor kaki di depannya. Andine merebahkan kepalanya di kaki Wisnu.
“Hah? Alfar menyukai Cha-cha?” Andine bangun dari posisinya karena kaget. Lalu dia tertawa diikuti oleh Wisnu yang mengangguk cepat. “Ya ampun,” gumamnya tak menyangka.
“Kamu tau, aku menyukaimu sejak aku berusia 14 tahun. Waktu itu, kita masih SMP. Aku paling senang pas liat kamu malu karena di godain sama anak-anak cowok. Menggemaskan!” Tangan Wisnu mencubit pipi Andine yang keterlaluan chubby-nya.
“Hahaha, artinya Alfar punya sifat keturunan darimu.” Ucap Andine kembali tertawa.
“Yah, kalau itu karena kami saudara.” Wisnu berujar pelan.
Hening. Hanya terdengar hembusan angin yang menyejukkan.
“Andine.” Panggil Wisnu.
“Ya,”
“Boleh aku memelukmu lagi?” Wisnu tersenyum tipis.
“Bukan untuk yang terakhir kalinya kan?”
Wisnu tersenyum. Dia tenggelamkan kepala Andine di dadanya lagi. agar bisa merasakan setiap detak jantungnya. Wisnu membelai kepala Andine dengan lembut dan penuh perasaan. Membuat Andine merasakan ketenangan yang sangat sangat nyaman disisinya.
“Wisnu, aku akan selalu mencintaimu. Aku akan tersenyum untukmu, bahagia untukmu dan melewati hari-hari indah bersamamu. Aku juga ingin menangis bersamamu, merasakan setiap sakit yang kamu rasakan. Melihatmu tersenyum seperti ini, dan akan terus tersenyum...” Andine terus berbicara panjang lebar. “Maukah kamu selalu bersamaku? Selalu tersenyum kalau aku tersenyum?” tanya Andine.
Wisnu tak menjawab. Tangannya masih membelai kepala gadis itu.
“Aku juga mau, adikku, Cha-cha. Kelak merasakan bahagia bersama orang yang dicintainya. Seperti aku bersama dengan orang yang aku cintai. Kalau kamu Wis? Kamu maukan kalau Alfar juga bersama orang yang dia cintai?”
Lagi-lagi Wisnu tak menjawab. “Aku tau, kamu pasti mau. Iya kan?” Andine bertanya. Tapi, sekali lagi Wisnu tak menjawab. “Wisnu... wisnu kamu dengar aku kan?” saat itu, Andine merasakan tangan yang membelai kepalanya sudah sejak tadi berhenti. Dia tajamkan pendengarannya di dada bidang Wisnu. Napasnya memburu. Detak jantungnya semakin cepat. Dia angkat wajahnya menatap orang yang memeluknya. Betapa terkejutnya dia. Wajah itu pucat pasi. Mata itu tertutup rapat. Tangan Wisnu yang bertengger di bahunya langsung lunglai. Andine segera menegakkan tubuhnya. Dia sentuh telapak tangan Wisnu. Dingin dan putih. Andine memejamkan matanya. Dia menutup mulutnya menahan isak tangisnya agar tak semakin mengeras. Napasnya kembali sesegukan. Pipinya sudah basah kuyup dengan airmatanya. Kembali dia dekatkan telinganya ke dada Wisnu, agar dia sadar kalau ini hanya mimpinya. Hanya sebuah bunga tidurnya. tapi, dia sama sekali tak mendengar detakan itu.
“Wisnu... wisnu.. wisnu bangun.. kamu bisa dengar akukan sayang! Aku mohon, dengar aku!!” ucapnya berusaha tenang dan lembut dengan terbata-bata. Dia angkat wajahnya. dia ulurkan tangannya yang gemetaran menyentuh pipi Wisnu. Dia pandangi wajah pucat itu. suara isakannya mengeras.
“Wisnu, kamu sudah berapa kali hari ini bercanda denganku? Cukup bercandanya Wisnu, kalau kamu memang tidak mau melihat airmataku jatuh, aku mohon banguun, sadar wisnu. Bilang sama aku kalau kamu hanya pura-pura.. BILANG WISNU!!!” teriaknya dengan tangannya yang terulur memeluk tubuh tak berdaya di depannya. “Jangan tinggalin aku Wisnu, jangan pergii, untukku.. katanya kamu mau melihatku bahagia? Mana buktinya Wisnu! Mana???” jeritnya masih mendekap tubuh Wisnu. “Katamu, kamu mau aku tersenyum, katamu kamu mau melihatku selalu tertawa bahagia, katamu kamu mau aku bahagia bersamamu! Tapi kenapa... Wisnu kenapa tidak menjawabku?? Jawaab aku! Aku m-mohon sayang jawab aku!” teriaknya tak tertahankan, tangannya meraih wajah Wisnu yang lemah menghadapnya, tapi hanya diam yang dia terima. Tak ada jawaban sama sekali. Wisnu sudah tak bernyawa. Wisnu meninggalkannya. Meninggalkannya ke tempat yang sulit untuk digapai. Meninggalkannya ke tempat yang sangaaat jauh. Wisnu meninggalkan kenangannya di Taman ini, meninggalkan cintanya di tempat yang sangat indah ini. meninggalkan Taman Rahasianya. Taman peninggalan cintanya... “WISNUUUUUU.....” suara Andine menggema di taman nan sepi itu. kedua tangannya memeluk tubuh Wisnu yang sudah kehilangan nyawa dengan eratnya...
Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ
Andine mengurung dirinya di kamar. Mengunci rapat kamarnya. Setelah pemakaman Wisnu dua hari yang lalu, Andine hanya bisa menangis-menangis dan menangis.. semangat hidupnya seakan ikut menghilang dengan kepergian Wisnu. Hari terakhir Wisnu yang paling sangat dia sesali. Dia melihat dengan matanya sendiri kepergian Wisnu. Mengingatnya Andine hanya bisa terisak lagi. kebahagiaannya seakan begitu cepat diambil Yang Maha Kuasa. Selama tiga tahun dia bersama Wisnu, selama tiga tahun pula dia melihat kejanggalan pada pemuda itu. seandainya dia tahu lebih awal kalau penyakit ganas itu menggerogoti tubuh Wisnu, dia tak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk bersama Wisnu.
“Dia jahat.. dia mengingkari janjinya, kenapa Tuhan mengambilnya begitu cepat? Kenapa harus dia? kenapa bukan orang lain? Kenapa harus orang yang ku cintai yang diambil-Nya? Kenapa?” suara serak Andine memecah keheningan ruang kamarnya. Dia melipat kakinya dan mendekapnya seakan dia sedang memeluk orang yang meninggalkannya.
“Kenapa harus dengan penyakit itu? kenapa Tuhan?”
Airmatanya terus menetes tak henti-hentinya. Tak peduli dengan perutnya yang tidak pernah dia isi dengan makanan sejak hari itu. Mamanya sudah menyuruhnya. Tapi, Andine tak pernah merespon. Dia memojokkan dirinya sendiri.
“Kak Andine...” seru suara seorang gadis berusia 12 tahun. Andine tak menyahut. “Kak, Cha boleh masuk?” ucap gadis itu lagi. tangannya meraih gagang pintu. Masih tak ada jawaban dari dalam. “Kak Andine, Cha kangen sama kakak yang dulu. Cha mau jalan-jalan sama kakak, Cha mau main boneka ditemani kakak, Cha pengen makan bareng kakak, Cha pengen ketawa sama kakak, Cha pengen liat senyum indah kakak...” gadis itu ikut terisak dibalik pintu kamar Andine yang terkunci.
Di dalam kamar..
Seperti mendapat pencerahan, ketika mendengar suara gadis itu Andine berdiri dari duduknya yang memojok di sudut ruangan. Kakinya melangkah pelan dan gemetar. Saat di ambang pintu, tangannya meraih gagang pintu, membuka perlahan. Ketika dibukanya, gadis berusia 12 tahun itu tengah duduk bersandar di dinding samping pintu.
“Cha...” suara Andine membuat Cha-cha menoleh. Dia berdiri dan menatap kakaknya penuh haru. Diamatinya keadaan kakaknya, matanya yang bengkak, sembab, merah. Wajahnya yang terlihat pucat menambah suasana isak tangis membahana di rumah itu. Cha-cha langsung menghambur kepelukan kakaknya. “Kak Andine laper?” tanya gadis imut yang memeluk Andine.
Andine menggeleng. “Tidak Cha.”
“Kak, Cha belum makan dari kemarin karena kakak tidak makan. Cha mau makan sama kakak, boleh?” tanya adiknya lagi. Andine mengembangkan senyum tipisnya. Kemudian mengangguk pelan. Cha tersenyum melihat kakaknya akhirnya tersenyum meskipun tipis dan nyaris tak terlihat.
Cha-cha menarik tangan kakaknya menuju dapur. Dilihatnya mamanya sedang duduk di salah satu kursi di depan meja makan.
“Andine?”
“Ma..” ujar Andine. Suaranya masih serak.
Mamanya berdiri dan menghampiri Andine, dalam sekejap tubuh lemah Andine sudah berapa didekapan hangat mamanya. “Makan ya, Mama khawatir sama kamu sayang!”
“Kak Andine mau nemenin Cha makan Ma..” ucap suara halus dari samping Andine. Mamanya menoleh dan tersenyum hangat.
“Iya ma, Andine mau makan bareng Cha-cha..” ucap Andine.
Mamanya tersenyum bahagia mendengar Andine akan makan. Dengan segera mamanya menyiapkan dua piring nasi untuk kedua putrinya. Mereka makan. Sesekali Andine tertawa melihat tingkah manja adiknya yang minta disuapi. Kadang dia melamun saat makan. Bahkan sampai meneteskan airmatanya. Mungkin, dia teringat dengan kenangan manisnya bersama Wisnu. Tapi, berkat Cha-cha, Andine akhirnya bisa tertawa hari ini, hari pertama dia tertawa tanpa adanya Wisnu!
Flashback off>>
Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ
Hari ini, hari pertamanya menjenguk Livia setelah dia diusir paksa oleh Mama Livia. Sudah hampir dua minggu Livia drop. Dia koma. Ayahnya yang menangani Livia nyaris menyerah karena penyakit Livia sudah masuk stadium lanjut. Kini, tubuh itu telah kurus. Sudah seperti orang tak bernyawa. Hanya saja, jantungnya masih berdetak dengan normal.
Alfar duduk dikursi samping tempat tidur Livia. Cewek yang dikenalnya dulu, dulu sekali. Dia mengenal cewek ini dari kakaknya, Wisnu. Cinta pertamanya. Cinta monyetnya yang sempat dia tinggalkan karena keluarganya pindah keluar negeri. Rambut Livia sudah menipis. Tapi, masih terlihat sama. Dia masih cantik. Apapun keadaannya.
“Kamu tidak merindukanku Liv? Apa kamu sudah sangat ingin meninggalkan cinta kita? Kamu mau seperti kakakku yang meninggalkan cintanya? Kamu mau membuatku mati bunuh diri seperti kakakmu karena kehilangan cintanya?” Alfar meraih tangan kiri Livia. Dingin. Itulah yang dirasakannya. “Livia, ingat awal kali kita bertemu di Jalan raya? Saat mobilku akan menabrakmu? Bukankah aku sudah bilang jangan mudah putus asa? Pikirkan perasaan orang yang akan kamu tinggalkan Liv, ibumu, aku, Dita.. teman-teman, guru-guru yang sangat menyayangimu, kakakmu yang sudah berada di sisi-Nya juga tidak akan mau kamu menyusulnya.” Suara Alfar melemah.
Dia ulurkan tangannya mengusap lembut kening Livia. “Cha...”
Livia bergeming. tak menyahut sama sekali. “Aku yakin kamu mendengarku Cha, ingat taman rahasia kita? Nanti kalau kamu sadar, aku akan mengajakmu ke sana. Di tempat dulu kakakku meninggalkan cintanya. Kamu tau itukan?”
“Cha, Mas Wisnu sama Mbak Andine pasti sedih liat keadaan kamu koma begini,” lanjut Alfar tanpa meminta ataupun menunggu suara Livia menyahut. “Oya Cha, aku sudah memanggilmu ‘Cha’ berapa kali kenapa kamu tidak marah?” tanya Alfar berusaha menghangatkan suasana. Dia teringat kalau Livia paling benci dirinya di panggil Cha-cha setelah kakaknya pergi meninggalkannya. Menyusul kekasihnya.
Flashback>>
Cha-cha gadis berusia 12 tahun itu tengah asik bermain dengan kamera kecilnya. Hadiah ulang tahunnya yang ke 12 beberapa minggu yang lalu. Hadiah dari kakaknya, Andine. Ketika sedang asik mengabadikan semua keindahan di sekitar rumahnya yang penuh dengan tanaman dan nuansa hijau berpadu dengan beberapa warna bunga. Tiba-tiba, suara kakaknya terdengar dari belakangnya. Andine tersenyum hangat pada adik semata wayangnya. Cha-cha balas tersenyum.
Lima hari setelah kepergian Wisnu, Andine memang terlihat sangat terpuruk. Dia begitu terpukul. Cha-cha berusaha menghiburnya, membawanya bermain di taman samping rumahnya. Berkejar-kejaran, membuat lelucon yang sebenarnya sangat garing untuk Cha-cha sendiri. Tapi, walau begitu, Andine tetap tertawa. Padahal lelucon itu tak ada lucu-lucunya bagi Cha-cha. Cha-cha sedih melihat kakaknya seperti itu.
“Kak, lagu apa yang tidak bisa turun?” Cha-cha memandang wajah sayu kakaknya. Berusaha menghibur lagi. sesekali airmatanya turun tanpa sebab ketika Cha-cha tak ada disampingnya. Sesekali pula dia seperti terhibur, entah apa dan siapa yang menghiburnya. Kadang dia bisa tertawa tanpa sebab. Cha-cha sangat prihatin, tapi apa boleh buat... dia tak bisa berbuat apa-apa untuk kakaknya selain terus berusaha menghiburnya.
Andine terlihat berpikir. “Ehm.. apa ya Cha? Kalo menurut Cha-cha apa??” tanya Andine tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
Cha-cha manyun berat ketika kakaknya tak menjawab pertanyaan leluconnya.
“Haha, oke oke, kakak jawab.. lagu naik terus ndak turun-turun..” jawab Andine seraya merangkulkan tangannya pada adiknya. Cha-cha tersenyum. “Bukaaan, salah kak!” pekiknya setengah berteriak. “Trus apa dong?” tanya Andine dengan tampang polosnya. Cha-cha tersenyum kemudian, dia berteriak keras membuat Andine menutup kedua belah telinganya.
“NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG TINGGI-TINGGI SEKALI... (lanjutkan sendiri ya readers)” teriakan itu ternyata sebagai jawaban leluconnya. Andine tertawa keras mendengar suara fals dari adiknya.
“Chaaa.. sudah, kakak sakit perut denger kamu nyanyi.” Ucap Andine berikut kedua tangannya yang refleks memegangi perutnya memperagakan kalau dia benar-benar sakit perut!
Cha-cha langsung diam, dia memeluk kakaknya erat. “Kak Andine ketawa terus ya, jangan nangis lagi..” Andine tercenung mendengar kalimat yang keluar dari bibir tipis Cha-cha. Tawanya terhenti seketika, dia tatap adiknya dalam diam. “Kak Andine harus selalu semangat! Jangan putus asa, Mas Wisnu pasti sedih kalo liat Kak Andine sedih terus...”
Andine tak menyahut. Dia masih diam seraya balas memeluk adiknya. “Kak, Cha tidak mau liat kakak sedih lagi, Cha sayang banget sama kakak. Kak Andine bisa cerita sama Cha kalo kakak sedih.”
Mata Andine kembali bergelombang. Dia jadi teringat dengan kalimat Wisnu yang dikatakannya sebelum dia menutup mata. “Kamu harus bahagia untukku..”
“Cha, kak Andine tidak akan nangis lagi, kak Andine akan tersenyum buat Cha, dan kak Andine akan bahagia buat Mas Wisnu. Cha mau bantu kakak kan?” Andine menatap manik mata adiknya.
“Cha mau bantu kak Andine, asal kakak janji tidak akan sedih lagi.” jawab Cha dengan serius.
Andine menarik napas panjang. Tangan kanannya terulur membelai rambut panjang Cha-cha. “Kak Andine mau pergi jauuh banget, Cha mau kan selalu ingat sama kakak?”
Cha-cha tercenung mendengarnya. Dia tidak sepenuhnya mengerti maksud omongan kakaknya. “Kakak tidak boleh pergi jauh dari Cha, Cha mau sama-sama terus sama kakak.” Ucap Cha polos.
“Kak Andine kan selalu ada sama Cha-cha,” Andine kembali memeluk adiknya. “Mau foto bareng kakak ndak Cha?” Andine mengambil Kamera di tangan Cha-cha. Cha mengangguk. Dia tersenyum sendu diikuti oleh airmatanya yang jatuh untuk kakaknya.
“Fotonya harus senyum ya, harus ekspresi bahagia..” ucap Andine seraya mengulurkan sebelah tangannya yang memegang kamera untuk membekukan kenangan dirinya bersama Cha-cha. Cha tersenyum manis seraya mencubit sebelah pipi kakaknya yang chubby. Sedang Andine merangkul hangat adiknya serta mencium kepala adiknya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Setelah itu terlihat kilatan kamera pertanda foto mereka telah tercetak di dalamnya.
“Sudah! Cha simpan foto itu baik-baik ya. Cha pajang dalam figura berwarna cerah. Kalo melihat fotonya Cha harus selalu tersenyum. Ndak boleh nangis. apapun keadaannya...” ucap Andine penuh semangat. Matanya menggambarkan kebahagiaan yang sarat akan kesedihan dan keputusasaan.
“Ntar Cha pajang di kamar Cha ya Kak.”
Andine mengangguk dan tersenyum. Senyum yang sangaat hangat. Cha hanya balas tersenyum. Tak mengerti ucapan kakaknya yang terdengar sangat asing ditelinganya. Perasaannya terasa tidak nyaman. Ucapan kakaknya telah terpajang di lubuk hatinya, seakan dia tak akan mendengar ucapan itu lagi besok-besok. Senyum indah kakaknya. Suara lembut kakaknya. Belaian hangat kakaknya. Dan sebuah kecupan yang menenangkan dari kakaknya seakan telah menyatu dalam jiwanya. Dia benar-benar sedih melihat senyum bahagia kakaknya, tak tau alasannya kenapa...
2 hari kemudian...
Cha-cha berlari kecil mencari kakaknya di taman samping. Kedua belah tangannya memegang hasil ‘jepretan’ yang baru saja di cetaknya. Namun, setelah sampai di sana dia tak menemukan kakaknya. Dia kembali berlari kecil ke dalam rumahnya untuk menemui mamanya yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Ma, kak Andine mana?”
“Loh bukannya kak Andine mau ngajak Cha jalan-jalan ya tadi?” mamanya malam balik bertanya. Kedua keninganya bertaut.
“Ndak ada ma,” Cha menggeleng cepat. “Tadi di taman samping juga ndak ada.” Lanjut Cha.
“Tunggu sebentar ya Cha sayang, mungkin lagi di kamarnya.” Mamanya menenangkan.
Sudah lebih setengah jam Cha menunggu Andine di ruang keluarga bersama mamanya. Tapi tak ada tanda-tanda kalau Andine akan datang. Cha berdiri dari duduknya. “Cha mau ke kamar kak Andine dulu ma,” ucap Cha seraya berlari menuju kamar yang terletak tak jauh dari ruang keluarga. Kedua tangannya masih memegang lembaran-lembaran foto dan sebuah kamera kecil miliknya.
“Kak, Cha udah cuci fotonya pulang sekolah tadi. Kakak mau lihat tidak?” panggil Cha-cha dari luar kamar Andine yang tertutup rapat. Dia angkat sebelah tangannya untuk mengetuk pintu kamar kakaknya. Namun tak ada jawaban. “Kak Andine, kakak mau lihat foto kita kemarin tidak?” kali ini suara Cha terdengar setengah berteriak. Masih hening. Tak ada tanda-tanda ada orang di dalam kamar kakaknya. Akhirnya, Cha penasaran. Dia menyentuh gagang pintu dan terdengarlah suara ‘kleeek’ tanda kalau pintu kamar kakaknya tak dikunci.
Perlahan, gadis itu mendorong pintu yang sudah terbuka. Kakinya melangkah masuk. Tapi, yang hanya di dapatinya hanyalah sebuah kamar kosong. Rapi. Tak terlihat kalau kakaknya berada di dalam kamar. Belum berhenti di sana pencarian Cha-cha. Dia masih melangkah mendekati kasur kakaknya. Semakin kakinya mendekat ke tempat tidur itu semakin gundah perasaannya.
“Kak Andine...” panggil Cha-cha dengan suara pelan. Cha-cha menghela napas panjang ketika dia masih tak mendengar kalimat sapaannya dibalas oleh kakaknya. Dia duduk di atas kasur kakaknya yang empuk. Sesekali matanya melirik ke lembaran foto ditangannya. Melihat foto kakaknya sedang mengecup kepalanya. Dengan dirinya sedang mencubit sebelah pipi kakaknya. Dia tersenyum miris. “Kak Andine kemana sih? Bukannya dia mau lihat foto ini.” desisnya. Lalu dia berdiri, ingin keluar dari kamar kakaknya. Sebelah kakinya terasa berat untuk digerakkan melangkah keluar kamar itu. Dia kembali duduk di kasur kakaknya. Tapi, matanya tertumpu pada butiran-butiran pil yang ada persis di samping kakinya.
“Obat?” gumamnya. Dia raih pil itu dengan ragu. Kemudian, dia berjongkok di sisi depan kasur kakaknya. Tak di sangkanya, dia menemukan banyak pil berserakan di sana. Tangannya yang mungil, mengambilnya butir perbutir. Di berdiri setelah selesai memungut beberapa butir pil yang berserakan di sana. Betapa terkejutnya dirinya setelah mendapati pecahan botol di samping kasur kakaknya. Yang lebih mengejutkan lagi ketika matanya tertumpu pada sosok gadis yang sangat dikenalnya. Matanya membulat. Wajahnya pucat setelah mendapati gadis itu terkapar di sisi samping berikut butiran pil disampingnya.
“K—kakak..” desisnya. Seketika, kamera yang dipegangnya terhempas ke lantai. Napasnya sesak seakan ada yang menahannya untuk bernapas. Dia berjalan menghampiri tubuh kakaknya yang tergeletak di sisi samping tempat tidur. Cha mengulurkan tangannya untuk menyibakkan rambut kakaknya yang menutupi sebagian wajah orang yang disayanginya itu. Betapa terkejutnya dirinya mendapati keadaan kakaknya. Wajahnya pucat, mulutnya dipenuhi busa putih yang masih basah. Terlihat sangat jelas, kalau kakaknya baru saja menelan pil-pil yang tadi berserakan di lantai sekitar tempat tidur besar kakaknya.
“Ya Tuhan... ka-kak..” desahnya tak percaya. Sejanak dia hanya mematung disamping tubuh kakaknya yang sama-sekali tak bergerak. “Kak An-dine..” bisiknya selirih hembusan angin. Matanya hanya terfokus pada satu obyek, bagai terkunci pada sosok itu. Butiran kesedihan juga tak mampu lagi dia keluarkan. Saat ini, dia hanya merasakan rasa hampa yang sangat memilukan. Sedih? Pasti! Sakit? pasti! Terpukul? Ya tentu saja! Tapi, semua itu sudah tak bisa tergambarkan di raut wajahnya. dia seakan tak bisa merasakan semuanya. Hatinya seperti telah menjadi batu... keras, kaku, beku dan tak berasa.
Seperti sadar bahwa sekarang bukanlah mimpi, kakinya langsung luruh ke lantai. “Maaaaa..” suara datar Cha menggema di ruang kosong. ingin dia menangis. Menangisi kakaknya... menangis, membuang semua rasa sesak yang mengganjal napasnya hingga terasa sangat berat. “Kak An-dine... kakak bahagia? Kakak bahagia? Hah? Apa kakak bahagia membuat Cha kayak gini? Kakak memang mau pergi ninggalin Cha kan? Iya kan kak? Jawab Cha-cha kak.. kak An-dine Jahat tau tidak!!” Cha menghambur memeluk tubuh kaku kakaknya. Dia berusaha menangis, namun tak bisa. Dia berteriak keras.
Teriakan keras dari ruang kamar Andine membuat mamanya yang sedang terlena dengan adegan kesedihan di ruang keluarga, terkejut. Mamanya langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kamar Andine yang berjarak sekitar sepuluh meter dari ruang keluarga. Tepat di depan pintu kamar Andine yang terbuka lebar, terdengarlah suara rintihan dari dalam kamar.
“Kenapa hidup kakak harus berakhir seperti ini? kenapa hidup kakak harus berakhir dengan sebuah kepahitan kak? Seharusnya, hidup itu kita lewati bersama! Seharusnya kakak tidak sendirian saat ini, apa kakak sengaja ingin membuat Cha mati, hah? Kalau begitu, Cha akan menyusul kakak! Kakak mau Cha mengikuti jejak kakak, bukan? Oke kak, Cha akan minum semua pil ini! Cha tidak bisa hidup kak, kalau kakak pergi ninggalin Cha...”
Tangan Cha yang gemetar mengambil butiran pil yang dia letakkan di atas kasur setelah tadi dia memungutnya. “Kakak mau liat ini kan? Liat ini kak! Liat!” teriak Cha lagi seakan mata kakaknya terbuka lebar untuk menyaksikan Cha menelan pil-pil itu. Dengan satu sentakan, tangan mungil Cha-cha sudah menggenggam butiran kecil yang menyebabkan kakaknya pergi.
“Cha!!!” Pekik Mamanya segera menghempaskan tangan mungil Cha yang sudah akan memasukkan pil itu ke mulutnya. Pil itu kembali berserakan. Mamanya menyentak Cha-cha. Dengan gerakan cepat, sang mama sudah merengkuhnya dalam kehangatan. Cha langsung terisak di sana. Napasnya yang awalnya terasa sesak sekarang menghilang. Matanya yang sedari tadi tersumbat akan batu-batu kepedihan sekarang bisa mengeluarkan kesesakan airmatanya yang sudah menggumpal.
“Ma, kak Andine.. kak Andine tidak pergi kan ma? Kak Andine masih ada kan Ma? Kak Andine masih hidup kan Ma? Ma Jawab Cha..” tanya Cha pada Mamanya yang mematung melihat pemandangan di depannya. Tangan lembut Mamanya membelai kepala Cha yang berada di dalam lingkaran kehangatannya. Cha dapat merasakan tangan sang Mama gemetar.
“Tidak Cha, kak Andine tidak akan meninggalkan kita.”
“Mama Bohong... kak Andine pergi ma, kalau tidak.. Kak Andine pasti akan memeluk Cha sekarang, bukannya tidak menjawab semua pertanyaan Cha... kak Andine jahat sama kita ma, dia jahat sama Cha, dia bilang dia tidak akan ninggalin Cha. Dia... jahat ma..” Cha meronta. Semakin gadis kecil itu meronta, semakin erat tangan Mamanya merengkuhnya. Mamanya tak akan membiarkan Cha terlepas dari pelukannya. Cukuplah Andine yang dia lepaskan sekarang... ya.. dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah membiarkan Cha sendirian. Tidak akan membuat Cha terpuruk seperti Andine, tidak akan pernah melepaskan pelukan kasih sayangnya terhadap Cha.. tidak akan pernah!!
Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ
Rupanya kepergian kakak semata wayangnya itu berdampak besar bagi Cha. Seperti ketika Andine kehilangan Wisnu. Seperti itulah keadaan Cha. Setiap hari, setiap jamnya, setiap detiknya Cha selalu berdiam diri. Tanpa senyum, tanpa tawa, tanpa canda, tanpa lelucon garingnya untuk sang kakak. Semuanya bagai hilang ditelan kesedihannya. Kesedihan yang begitu mendalam. Seandainya dia bisa meminta dan permintaannya itu akan dikabulkan, satu permintaannya saat ini... biarkan dia hidup bersama orang yang disayanginya.
Sayangnya, itu adalah sebuah harapan yang selamanya tak akan terkabul... bukankah seharusnya hidup itu berakhir dengan kata bahagia? Seperti pada cerita dongeng? Seperti pada cerita para putri yang hidup bahagia selamanya bersama sang pangeran? Mereka bahagia selamanya bersama orang yang dicintainya... tapi, kenapa pada kehidupan nyata akhir cerita begitu sangat memilukan? Apa karena itu nyata? Apa karena dia tak boleh merasakan akhir kisah yang bahagia? Atau karena skenario hidup itu memang rumit?
Flashback Off>>
Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ
Alfar menenggelamkan wajahnya sendiri di balik kedua tangannya yang terlipat sambil menggenggam tangan Livia yang semakin lama semakin terasa dingin. Tak henti-hentinya cowok itu menggumamkan satu baris nama yang terukir indah di hatinya. Satu nama yang sangat dia harapkan untuk bisa mendengar ucapannya. Ucapan lirih. Ucapan sakit. Ucapan pahit yang terus menghantuinya.
“Harusnya kamu tidak seperti ini. aku tau Cha, kamu seperti ini karena kakakku yang pergi meninggalkan kakakmu. Sehingga kakakmu pun ikut pergi meninggalkanmu. Tapi... akankah kamu juga akan pergi menyusul mereka dan meninggalkanku di sini?”
“Cha, bisakah kamu mendengarku? Mendengar setiap kalimat yang mengalir dari bibirku?”
“Cha, kamu tau serapuh apa aku tanpamu? Aku seperti orang yang akan meninggalkan dunia ini Cha. Aku seperti daun yang berguguran di musim semi, tak berdaya melawan musim. Juga tak sanggup melewati musim itu. Kamu tau Cha, seberapa parah sakit hatiku? Ya, aku yakin kamu tahu. Karena apa? karena kita senasib Cha..” Alfar terus bergumam. Tak peduli orang yang sedang diajaknya bicara mendengar atau tidak, sadar atau tidak. Yang penting dia bisa bicara sesuai dengan hatinya. “Aku juga kehilangan kakakku. Sama seperti mu.” sesekali dia angkat wajahnya menatap Livia yang masih belum sadar. “Mana Liviaku? Mana orang yang sering mengataiku ‘stupid boy’? apa dia melupakanku?” Alfar mendesah, menghela napas panjang dan sesak. “Aku harap tidak. Karena aku tau Livia ataupun Cha-cha-ku tak akan pernah lupa dengan ku. Benarkan? Buktikan Cha, buktikan kalau itu benar!! Aku mohon... jangan membuatku berharap lebih Cha... setidaknya beri aku tanda-tanda kalau kamu tidak meninggalkanku.”
Alfar mencium punggung tangan gadis itu dengan penuh perasaan. Berkali-kali dia meneteskan kesedihannya ditangan itu hingga tangan pucat Livia menjadi lembab. Berharap agar terjadi sebuah keajaiban seperti di dongeng-dongeng. Ketika sang pangeran mencium ataupun meneteskan airmatanya pada tuan Putri yang tengah berjuang melawan maut, tuan Putri itu pun bangun...
“Love You My Flower... don’t leave me, like them leaved me alone.” Dia tempelkan tangan Livia di pipinya. Sesekali dia kembali mencium tangan itu.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.42 malam, namun Alfar terus menggenggam tangan Livia. Sepertinya, sebentar lagi Mamanya Livia akan datang untuk menjenguk anaknya. Itu artinya dia harus pergi agar tidak ketahuan kalau dia menyelinap masuk ke dalam ruangan itu. “Cha, aku harus pergi sekarang. Mamamu akan datang, dan kalau aku tertangkap menyelinap ke sini, aku tak akan bisa lagi melihatmu. Good Nigth sweetest, my hopeless always to you..”
Suara langkah kaki mulai terdengar dari luar ruangan. Alfar tau, itu pasti Mama Livia. Dia sudah akan melepaskan tangan Livia yang dingin. Tapi tiba-tiba dia merasa tak bisa melepaskannya. Alfar mematung. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia terkejut. Tak menyangka Rupanya, tangan gadis itu balik menggenggamnya. Alfar menatap wajah polos nan pucat yang terbaring tak berdaya.
“Cha...” bisiknya tak percaya. “K-ka-mu menggenggam tangan-ku? Kamu tau kalau aku disini? Cha.. kamu mendengarku kan? Cha ka...” gumamnya lirih. Tapi, tersirat sejuta kebahagiaan dimatanya yang bergelombang.
“ALFAR...” suara yang sudah tak asing baginya menggema di ruangan itu. Alfar terlonjak kaget. Dia balikkan badannya menuju asal suara.
“Tan...”
“Untuk apa kamu ke sini lagi? bukankah saya sudah bilang, jauhi Livia!!” perkataan mamanya Livia menghantam ulu hatinya. Setiap katanya dia berikan penekanan yang begitu menandakan kalau dia sangat tidak mau kalau adik dari ‘pembunuh’ anak sulungnya itu dekat-dekat dengan Livia.
“Maaf Tan, saya janji... saya tidak akan ke sini lagi. Ini...” Alfar menarik napas panjang. “Untuk yang terakhir kalinya..” ucapnya. Dia langsung menundukkan kepalanya untuk menahan semua perihnya yang akan jatuh. Dia hendak melangkah meninggalkan sisi tempat tidur Livia. Tapi, dia seakan teringat kalau tangan pucat itu kini masih menggenggam tangannya. Bahkan, ketika Alfar akan melepaskannya, tangan pucat milik gadis itu semakin erat menggenggamnya. Membuat Alfar tak bisa menunda jatuhnya keperihan itu ke puncak rasa sakitnya.
“Liv, maaf.. aku harus pergi sekarang..” bisiknya tanpa menatap wajah pucat dengan mata masih terpejam rapat. “Tolong, jangan kecewakan mamamu. Aku yakin, kamu bisa bertahan tanpa aku. Aku sadar, keluargaku sudah membuat kalian sakit.”
“Alfar! Cepat keluar dari sini!” bentak Mama Livia dengan lantang. Tak peduli dengan Livia yang sedang sakit yang membutuhkan ketenangan lebih.
“Iya Tante.” Alfar kembali akan melangkah. Namun, lagi-lagi tangan dingin itu masih mencengkram tangannya, malah semakin bertambah kuat.
Tak sabar, Mama Livia mendekati Alfar yang masih bergeming ditempatnya. Dia tarik sebelah tangan Alfar untuk segera menjauh, sayangnya ketika tangan wanita paruh baya itu menarik tangan Alfar, langkah kakinya juga tak bisa berlanjut. Sadar seperti ada yang menahan langkahnya. Dia menoleh dan menatap Alfar dengan tajam.
“Ayo..” Bentakannya membuat Alfar kembali terlonjak dan segara ingin melangkah.
“Tan, tangan Livia...” gumam Alfar cukup keras. Mama Livia melepaskan tangannya yang menarik tangan Alfar dengan satu hentakan kasar, kemudian berjalan mendekat pada gadis yang kini masih terbaring.
Dia tercenung. Mendapati tangan puterinya tengah menggenggam tangan kanan Alfar. Bahkan hanya dengan melihatnya, dia bisa tau sekeras apa cekalan tangan puterinya pada Alfar. Kulit putih Livia yang pucat membuat urat-urat saraf di tangannya terlihat.
“Sa-yang.. Livia, kamu sadar sayang... dengar Mama kan? Kamu dengar Mama kan sayang?” butiran bahagia langsung meluncur dari kelopak mata Mamanya. Satu gerakannya langsung memeluk tubuh Livia yang lemah...

Jumat, 16 September 2011

FEELING...? [9]

FEELING...??[9]





Cowok bertubuh tegap tinggi berdiri di depan pintu. Seulas senyum terukir dibibirnya ketika mata kami bertemu. Sekali lagi, aku teliti detak jantungku. Semuanya normal. Berdetak seperti biasa, tidak cepat juga tidak lambat. Hatiku juga tenang, tidak gelabakan dan berdesir seperti beberapa hari yang lalu saat aku masih memberinya harapan.



Aku balas menatapnya dengan senyum simpul dibibirku.



“Ya, hai juga.” Sahutku pelan.



“Mau ikut aku jalan?” ajaknya eh atau yang lebih bagus tanyanya.



“Jalan? Kemana?” dahiku mengerut. Sejenak aku berpikir. Tama mengajakku jalan? Bukankan ini impianku? Tapi, impianku yang dulu.. dulu sekali. Sekarang aku sudah punya pacar, untuk apa aku menerima tawarannya? Nanti juga Alfar akan mengajakku jalan. Pikirku panjang lebar.



“Kemana aja deh, kalau kamu mau aku bisa ngajak kamu kemana kamu mau.” Jawabnya.



“Tam,” sahutku sangat pelan. “Bukannya aku tidak mau jalan sama kamu. tapi..”



“Tapi apa Liv?” tanyanya.



“Tam, aku mau bicara sama kamu. Dan aku mohon, kamu harus ngerti keadaan aku.” Ucapku tidak melanjutkan ucapaku. Aku ingin menjelaskan semuanya pada Tama. Semua! Sejak aku menyukainya. Sampai semua perasaanku hilang padanya dan sampai aku menjalin hubungan dengan Alfar. “Masuk dulu,” ajakku membukakan daun pintu selebar-lebarnya.



Dia mengangguk dan berjalan mengikutiku. Aku menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu. Kemudian aku beranjak ke belakang sekaligus membuatkan suguhan untuknya. Setelah selesai barulah aku kembali ke ruang tamu dan menyerahkan secangkir teh hangat.



Aku mengambil tempat duduk tidak jauh darinya.



“Mau bicara apa Liv?” ucap Tama.



Wajahku yang kutundukkan, sejurus kemudian langsung mengarah padanya. Perlahan tapi pasti. Aku mulai membuka mulut.



“Tam, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?” tanyaku tanpa berani menatap matanya. Namun wajahku masih

kuarahkan ke hadapannya.



“Ya, apa?”



“Kamu tidak putus sama Dita kan?” tanyaku lagi. Dia sedikit tersentak mendengar pertanyaanku. Aku tahu itu.



Dia menghirup udara bebas di rumahku. Mengalihkan pandangannya kesemua sudut ruangan. Mungkin berusaha menetralkan perasaannya yang sedikit tersentak karena pertanyaanku.



“Liv.. kayaknya, kita harus bicara di luar lingkungan rumah kamu. Aku juga mau menyampaikan sesuatu sama kamu.” dia malah mengalihkan pembicaraan. “Ada sesuatu yang mau aku jelasin sama kamu, Liv.” Susulnya cepat.



Aku beranikan diriku manatap matanya. “Baiklah. Ke Pantai pasir putih itu lagi ya. Sepertinya, di sana tempat yang pas! Aku ke kamar sebentar. Ada yang mau aku ambil.”



Aku beranjak dari sofa. Melemparkan senyum pada sosok di depanku kemudian berlalu. Melangkah lamban

menuju kamarku. Melewati ruang keluarga, terlihat mama sedang asik menonton tv.



“Livia, Tama di tinggalin?” tanya Mama saat aku melaluinya.



“Ada yang mau aku ambil di kamar ma.” Jawabku. Aku kembali melanjutkan langkahku. Membuka pintu kamarku. Kemudian masuk dan menutupnya.



“Apa aku yakin akan jujur padanya?” aku bergumam. “Ya. Aku yakin. Untuk ku dan perasaanku.” Jawabku mantap.



Tanganku mengobrak-abrik laci meja belajarku. Mencari sebuah benda mungil berwarna perak. Setelah aku temukan, kutatap benda itu dengan seksama. Yakinlah! Begitu aku siap, segera aku pasangkan benda itu di baju yang ku kenakan sekarang.



Meskipun berat. Meskipun semua ini hanya sebagai kenang-kenangan. Meskipun benda ini hanya sebuah perantara kecil perasaanku. Aku akan mengembalikannya pada empunya. Pada seseorang yang pernah mendiami hatiku. Tanpa dia ketahui.



“Maaf, kamu harus aku kembalikan pada pemilikmu. Aku tidak mau kamu bertahan lebih lama di sisiku.” Aku bergumam lagi.



“Aku juga tidak mau mengingat sedikitpun tentangmu. Karena, walaupun aku sudah tidak ada perasaan padamu, kalau aku mengingatmu maka aku akan kembali sakit. aku tidak tahan menanggungnya.”



Dengan langkah pasti, setelah mengikat rambutku dan memoleskan sedikit bedak di wajahku, aku keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu.



Tama masih duduk di tempatnya.



“Sudah. Aku sudah siap. Kita berangkat sekarang.” Ucapku. Mungkin mengagetkannya. Karena dia seperti tersadar dari lamunannya. Tama mendongak dan berdiri. Kemudian tangannya terulur meraih sebelah tanganku. Aku tertegun.



“Tam, jangan gandeng tanganku.” Ucapku lirih. Maaf kan aku Tama, tapi inilah yang terbaik untukku. Juga untuk Kamu. Batinku.



Tama melepaskan tanganku dengan ragu dan terlihat salah tingkah.



“Maaf.” Ucapnya. Aku mengangguk. “Ayo, kita berangkat sekarang.” Ajaknya. Dia mendahuluiku.



Dia menstater motornya. Menyerahkan helmnya padaku. Aku menyambutnya.



“Naik.” Dia memberiku aba-aba. Aku menurut. Naik dengan duduk menyamping.



“Sudah.” Ucapku. Dia dengan sigap menggas motornya dan keluar dari perumahan rumahku.



Sepanjang perjalanan menuju pantai pasir putih. Tak ada yang membuka percakapan. Yang terdengar hanya suara riuhnya kendaraan yang berkeliaran di sekitar kami. Dunia terasa sangat sepi. Ikut meresapi perasaanku. Yang saat ini begitu tarasa hampa dan ketakutan. Entah kenapa, aku merasa akan kehilangan. padahal aku sudah memantapkan hatiku.



Tidak sampai lima belas menit menuju pantai itu. Entah kenapa perasaanku berkata kalau hari ini Tama memang berbeda. Dia ngebut di jalan. Bahkan tanganku harus melingkar di pinggangnya karena kecepatannya tergolong sangat cepat.



Seperti waktu itu, Tama memarkir motornya tepat di tempat yang sama, waktu aku dan dia pergi ke tempat ini. Aku turun dari motornya kemudian menyerahkan helm yang baru kulepas padanya. Dia menyambutnya.



Saat ini kami sudah berdiri di depan deburan ombak nan jernih. Kaki kami berpijak di hamparan pasir putih nan indah. Pasir yang sama sebagai permadani bumi.



“Indah ya.” Ucapku seraya mengambil napas dalam-dalam.



Tama menoleh padaku. Akupun juga menoleh padanya. Sesaat mata kami beradu. Jantungku kembali melompat-lompat tidak jelas. Kulihat mata coklatnya begitu teduh. Tapi... ada gejolak dimatanya yang membuat hatiku tidak tenang.



“Ya, sangat indah.” Sahut Tama. Dia alihkan pandangannya ke depan menuju deburan ombak. “Lalu, apa yang mau kamu bicarakan denganku?” lanjutnya. Mataku masih tertancap pada sosok ini.



“Kamu lebih dulu.” Tukasku cepat dan terdengar menuntut.



Dia tersenyum. “Aku menyukaimu Liv.” Dia berujar pelan tapi sangat nyata dan jelas. aku langsung diam. menjauhkan pandanganku sejauh mungkin. Mataku berkaca-kaca. Dia bilang menyukaiku? Apa maksudnya? Kenapa baru bicara sekarang? Kenapa baru sekarang ketika cinta dan harapanku untuknya menghilang?



“Tapi...”



“Dita bukan pacarku. Aku hanya berpura-pura dengannya!”



“Aku tidak ngerti Tam.” Cukup kaget dengan perkataannya. Dita? dia? pura-pura pacaran? Hmm..



“Liv, sejak awal aku pindah ke sekolah kita, sejak kamu marah-marah sama aku waktu kamu menggantikanku lomba. aku sudah naruh hati sama kamu.” ucapnya. “Aku yakin kamu juga punya perasaan yang sama denganku. Iya kan?” aku terdiam. Ya. Aku memang punya rasa yang sama. Tapi, itu dulu. Sebelum aku menyukai Alfar.



“Tam,”



“Liv, kamu mau kan jadi pemilik hatiku?” tanyanya.



Aku memalingkan wajahku. Menahan airmataku yang sudah bergejolak dipelupuk mataku.



Perlahan-lahan ku tarik napasku. “Maaf. Aku tidak bisa.”



“Tapi..”



“Tam, dulu sebelum hari ini. aku memang pernah menyukaimu.” Ucapku jujur. “Tapi, sejak aku tahu kamu pacaran sama sahabat aku. aku berusaha keras melupakanmu. Dan, kemunculan Alfar sangat membantuku.”



“Maksudmu?” tanyanya. Ada sedikit keraguan dalam suaranya.



“Aku sudah tidak suka sama kamu. aku bisa bilang kamu telat Tam. Kenapa? Karena, cukup lama aku memberimu kesempatan untuk ini. tapi, cukup lama pula aku menahan rasa sakitku. Kamu tahu, kalau aku juga menyukaimu? Tapi kenapa kamu baru bicara sekarang? Dan bukan diwaktu yang tepat? Kenapa harus berpura-pura pacaran dengan sahabatku dulu baru kamu mengatakannya? mau membuatku cemburu? Hah? Kamu keterlaluan tahu tidak. Kamu tidak tahu kayak apa perasaan aku? kayak apa besar harapan aku? kayak apa sakit hatiku setelah tahu itu? tidak tau kan? Dan, satu lagi...” aku kembali menghela napas panjang. Memberi sedikit kekuatan untuk diriku sendiri. Ku pejamkan mataku. Sesaat kemudian aku buka mataku.



“Aku sudah menjalin hubungan dengan Alfar! Dia, cukup membuatku berpaling darimu! Dengan segala perhatiannya, kasih sayangnya, tingkah lakunya, semuanya meyakinkan.” Jelasku panjang lebar.



“Tapi, bukankah kamu membencinya? Sejak awal, kamu selalu mengatainya dengan sebutan ‘stupid boy’. Berulang kali kamu menjauhinya, berusaha menyingkir darinya. Kenapa bisa kamu menjalin hubungan cinta dengannya?” dia merespon begitu cepat. Aku sampai bingung, bagaimana caraku menjelaskan sedetail-detailnya. Sampai dia benar-benar mengerti semuanya!



Aku meneguk air liurku dengan susah payah. Airmataku perlahan jatuh ke hamparan pasir putih. “Ya, tapi dia tidak seburukmu. Dia bersikeras mendekatiku. Apapun yang aku lakukan tidak pernah mendapat respon buruk darinya. Akhirnya aku sadar. Dia tidak pantas ku sebut stupid boy. Kenapa? Karena dia memang pintar mengambil hatiku.” Sejenak aku jeda kalimatku. “Asal kamu tahu Tam, aku punya penyakit yang sama sekali tidak bisa di sembuhkan. Maksudku hidupku sudah tidak lama lagi, artinya aku harus berhenti membohongi perasaanku sendiri.”



Dia terperangah. Dia hadapkan badannya padaku. Hening sesaat. Dia raih kedua pundakku. Mata kami kembali bertemu dengan rentetan pertanyaan yang mengambang di keduanya.



“Maksudmu?”



“Yang kamu katakan di sekolah tadi pagi benar. Waktu Alfar memintamu menggantikannya menemaniku khemo.

Dia sama sekali tidak lupa. Aku punya penyakit kanker.”



“Hei, jangan jadikan itu permainan.”



“Untuk apa aku menjadikannya permainan? Itu kenyataannya! Alfarlah yang selama ini membantuku. Sedangkan kamu, orang yang sangat ku harapkan tidak pernah mencurigaiku. Kenapa aku sering mimisan, kenapa aku sering sakit kepala, kenapa aku selama berminggu-minggu tidak masuk sekolah? Sama sekali tidak pernah terpintas dalam pikiranmu bukan?”



Hening lagi. Kini kedua tangannya yang mencengkram pundakku mulai mengendur. Matanya masih tertuju padaku. Dalam sekejap, dia memelukku. Di tempat yang sama dengan suasana yang berbeda.



“Liv, harusnya aku tahu itu.” gumamnya pelan hingga membuat tulang belakangku terasa nyeri. “Setidaknya, aku tidak melakukan hal bodoh itu.”



“Tam, jangan peluk aku.” ucapku lirih berusaha melepaskan rengkuhan kedua tangannya.



“Tolong, izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya. Sebelum semuanya menghilang.” Ucapnya lagi. Dia tenggelamkan wajahku di dadanya. Memberiku kesempatan untuk mendapatkan sedikit kasih sayangnya meskipun untuk yang terakhir kalinya. Membiarkanku ikut menyesali tindakanku. Membiarkanku untuk menjatuhkan airmataku didadanya. Aku biarkan baju hem putihnya basah karena airmataku.



Tak peduli keadaan sekitar yang selalu sepi. Tak peduli dengan matahari yang sebentar lagi akan menyemburkan cahayanya. Dia terus memelukku. Lama.. lama sekaliii... seakan sebantar lagi dia yang akan meninggalkanku.



Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Setelah membuang banyak airmataku, aku merasakan mataku berkabut entah karena apa. ku rasakan sedikit demi sedikit aliran yang keluar dari hidungku. Saat penglihatanku kembali normal, ku angkat wajahku. Baru aku sadar, ketika melihat baju putih Tama merah. Pastinya karena... aku mengusap hidungku dengan jemariku.. darahku yang mengalir lebih banyak lagi dari sebelumnya.



“Liv- k-kamu..”



“Ya, penyakitku semakin hari semakin parah. Sepertinya usaha pengobatan selama ini sia-sia saja ku lakukan. Tidak berguna sedikit pun. Walaupun ada, itu hanya memperpanjang hidupku dan menambah kesakitanku..” ucapku diikuti dengan runtuhnya airmataku.



“Tuhan punya rencana yang baik untukmu. Mungkin, Tuhan menyayangimu, tak mau membuatmu lebih banyak dosa. Dan Tuhan pasti sudah menyiapkan tempat yang indah untukmu.” Tama mengulurkan ibu jarinya, mengusap hidungku yang masih penuh dengan tetesan darah.



“Jangan buat Dita sedih. Dia sahabatku. sahabatku satu-satunya.”



“Dia yang membuat rencana ini untuk aku, bukan aku yang mau.”



“Aku titip Dita sama kamu, apapun itu. tolong jaga di-aww...” kalimatku tertahan. Aku menjerit ketika kepalaku terasa sangat sakit. Sebelah tanganku mencengkram kepalaku sendiri, sebelahnya lagi aku biarkan berpegangan pada Tama agar aku tidak limbung dan jatuh.



“Liv- kamu coleps...” Tama menahan tubuhku yang sangat lemah. Sepertinya tubuhnya juga lemah saat itu, hingga dia terduduk dengan tubuhku yang masih berada dalam rengkuhannya. Dia meraih saku celananya mengambil sebuah benda mungil dan menekan beberapa tombol. Sebelum aku pingsan, samar-samar aku mendengar untaian kata keluar dengan terbata-bata dari mulutnya. Senyum tipis terukir di bibirku dan pandanganku menghilang... aku hilang kesadaran...



Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ



Tama mencegat sebuah taksi dari area parkir pantai. Kedua tangannya menggendong tubuh Livia yang terkulai lemah tak berdaya. Bekas darah yang sudah mengering masih berbekas jelas di wajahnya. wajahnya yang molek begitu terlihat pucat. Sepucat rembulan di malam hari.



Wajah Tama tak kalah pucat dengan Livia. Dia kaget berat ketika melihat Livia kesakitan seperti tadi. Tanpa berbikir lebih panjang lagi, Tama menelpon Alfar yang notabene-nya saat ini adalah pemilih hati Livia.

Livia memang menyukainya. Dan dia juga menyukai Livia. Itu benar! Sayangnya, sekarang bukan itu keadaannya. Melaikan sudah berbalik. Tidak seperti yang dia harapkan. Harapannya juga kandas. Harapannya untuk bisa bersama cewek ini juga tak terwujudkan. Bisa dibilang Livia dan Tama... SERI.



Setelah mendapatkan taksi, dia langsung masuk dan meninggalkan motornya di area parkir pantai.



“Rumah sakit pak!” katanya keluar dengan penuh penekanan dari mulutnya. tangannya membelai lembut rambut panjang Livia yang sudah tak terikat beraturan. “Kamu harus kuat Liv, demi orang yang menyayangimu. Demi cinta yang kamu miliki, dan demi aku...” dia rebahkan kepala yang lemah itu di bahunya.



“Pak bisa tolong ngebut pak! Teman saya udah mau mati, bapak masih nyetir dengan santai begitu?” Tama berusaha memerintah supir taksi yang menyettir mobil itu dengan lambat.



“Iya mas, ini juga sudah ngebut.” Ucap pak supir dengan sedikit dikeraskan.



Tama tak menyahut lagi, pikirannya hanya terfokus untuk cewek di sampingnya yang pucat pasi.



Dia pandangi terus wajah Livia. Matanya menatap cewek itu dengan tatapan sayu. Tak bersemangat. Mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Semuanya bagaikan mimpi buruk. Menyaksikan sakit yang teramat pada seseorang yang sejak lama dicintainya namun baru tersampaikan setelah tahu kalau Livia sakit hati karenanya. Menyesal. Itu yang dia rasakan. Seandainya dia tidak berpura-pura pacaran dengan Dita―sahabat Livia―dan langsung mengatakan perasaannya pada Livia sebelum didahului oleh orang yang baru saja masuk dalam hidup Livia, pasti tidak akan sesakit ini yang Livia rasakan. Tidak seberat ini beban hidup Livia. Menanggung sakit dalam tubuhnya juga menanggung sakit hati karena cintanya.



Sakit hati tentu bukan hal yang mudah untuk dilupakan. Karena dia juga merasakannya. Sakit hati karena cinta. Apalagi, cinta itu belum sempat terwujud dalam hidupnya. Pasti sangat menyakitkan.



Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ



Tama frustasi. Dia gelisah. Matanya tak beralih dari sosok yang kini terbaring di ranjang rumah sakit dengan banyaknya alat bantu yang menempel di tubuh cewek itu. Beberapa orang perawat dikerahkan untuk membantu sang dokter yang terus berusaha memacu detak jantung Livia.



Sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya. Gadis itu. akan meninggalkannya setelah dia tau apa yang dirasakannya. Pertahanan airmatanya pun tak bisa lagi dibendungnya.



“Harusnya aku tau sejak dulu..” gumamnya lirih.



Everybody fall in love and then falls down



And I’m feeling so high, I’m feeling so high



For you...



Everybody fall in love and then falls down



And I’m feeling so high, I’m feeling for you



Boy I’m feeling for you...



Don’t let the music die



Don’t have to feel alone



You have to learn to say



Will be OK tomorrow



Don’t let the music die



Don’t have to feel alone



I got love and many reasons to love



Reasons to love..



Every step that I take brings you closer



In my dream... (Inna ft Play and Win-Feeling For You)



Ξ-ξ-ξ-ξ-Ξ



Alfar merogoh sakunya. Setelah menerima telpon dari Tama beberapa menit yang lalu. Pikirannya terus berkabut. Dia sedang diperjalanan menuju Bandung untuk menjemput sepupunya yang baru saja akan pindah sekolah. Setelah ponselnya dia langsung menghubungi Tama. Ingin tahu keadaan Livia saat ini.



“Tama, bagaimana Livia sekarang?” tanya Alfar masih terus berusaha fokus pada setirannya.



“Kritis Far.” Sahut suara di seberang dengan lemah. Ikut tak berdaya.



“Kamu ajak kemana sih dia? bisa-bisanya kamu membuatnya seperti itu! kamu tau, Livia itu udah masuk stadium berapa?”



Desahan kembali terdengar dari seberang. “Sorry, but I just wanna she feel better with me..”



“Tapi, kamu udah buat dia sekarat tau!” bentak Alfar tak bisa menahan emosinya. Takut kalau terjadi apa-apa, dia tepikan mobilnya di tepi jalan raya yang semakin semakin padat karena sudah mulai larut malam. “Seandainya terjadi apa-apa sama dia! orang yang pertama kali aku temui itu kamu.” ucap Alfar lagi dengan geraman emosinya yang memuncak.



Cintanya yang baru saja bersemi dihatinya dan Livia akan menghilang. Tentu dia tidak mau. Dia pejamkan matanya, kemudian dia kembali menekan beberapa nomor di ponselnya.



“Pa, aku batal ke Bandung! Livia coleps..” Alfar menghela napas panjang sebelum akhirnya memutar balik mobilnya menuju Rumah sakit tempat Livia dirawat.



Dia tak mungkin membiarkan Livia sendiri dalam hidupnya! Meskipun dia akan ditinggalkan.. sebagai janjinya, bahwa Bunganya tak akan pernah layu, dia akan selalu hidup sampai kapanpun dihatinya! Dia akan menyayangi dan mencintai cewek itu selama cewek itu belum meninggalkannya dan terus menyayanginya sampai maut tiba untuk memisahkannya.



“Livia, I will be there for you know! You must be survived for me...” gumamnya dengan runtuhnya airmata dari pelupuk matanya...