FEELING...??[8]
Meskipun aku sudah berusaha memfokuskan pikiranku pada pelajaran, aku selalu tidak bisa. Pikiranku tertuju pada satu orang yang besok dan besoknya laginya menjauh dari hidupku. Beberapa kali guru pengajarku menegurku karena tertangkap basah sedang melamun. Alfar yang duduk di sampingku juga menegurku. Tapi, aku hanya menjawab aku tidak apa-apa. sepertinya mulutku terkunci untuk mengatakan kalau dia jangan menyerahkan tugasnya pada Tama. Aku sedih. Kenapa aku tidak bisa mengatakannya langsung.
Waktu istirahat tiba, tidak sengaja aku mendengar Alfar mengajak Tama bicara di depan ruang kelas. Kakiku terasa berat. Ingin rasanya aku beranjak dari situ. Sayangnya tidak bisa. Mungkin, Tuhan memang ingin aku mendengar pembicaraan mereka.
“Bisa kamu membantuku?” Alfar memulai pembicaraannya. Jantungku berdegup. Takut. Aku tidak melihat reaksi Tama. Dia hanya diam. ku rasa dia hanya memberikan jawaban lewat anggukan.
“Mulai besok, kamu gantikan aku menemani Livia khemo. Bisa?”
Alfar ternyata benar-benar serius dengan ucapannya pagi tadi. Aku tertunduk lemah mendengar permintaannya barusan. Hatiku sepertinya terluka. Karena saat ini aku merasakan perih yang teramat sangat sakit. Apa Alfar tidak akan menemaniku lagi?
“Hah? Kamu serius?” Tama terkejut.
Lagi-lagi aku harus berharap. Semoga.. Tama tidak menerima tawaran Alfar!
“Ya aku serius..”
“Kenapa?” tanya Tama.
“Aku tidak bisa menyebut alasanku. Apa kamu mau?” ucap Alfar terdengar ragu.
“Tapi...”
“Demi Livia...” Alfar memotong kalimat Tama. Apa-apaan dia? kenapa demi aku? Aku tidak suka. Bukannya tadi dia bilang karena sepupunya datang, makanya tidak bisa menemaniku khemo? Ah, apa maksudnya?
Aku merasakan mataku mulai perih. Pasti sebentar lagi, akan turun hujan lokal yang bakal membuat teman-temanku heboh. Aku benar-benar tidak mengerti maksud Alfar.
Jangan terima Tama, aku mohon, Tama jangan terima tawaran itu! itu hanya membuatku sedih. Aku membatin. Benar, hujan lokal sudah turun dengan mulusnya!
“Ehm, baiklah.. sampai kapan?” ohh tidak.. Tama menerimanya. Aku tidak mau! Sumpah! Aku tidak mau, aku hanya mau dengannya! Dengan Alfar, kalian tahu?
“Sampai mana kamu bertahan,” jawab Alfar. Apa maksud kalimatnya untuk selama-lamanya? Alfar, kenapa? Apa kamu bosan menemaniku? Aku tahu aku selalu kasar, aku tidak pernah bersikap lembut denganmu. Tapi.. kenapa kamu tidak jujur padaku?
“Apa maksudmu?”
“Jangan tanya apa maksudku, yang penting kamu mau sudah membuatku merasa tenang.” jawab Alfar.
“Baiklah, aku bersedia...”
Dadaku sepertinya tersumbat bebatuan hingga membuatku sesak napas dan terasa sakit seperti terhimpit dua beton. Oh, Liviaa bukanka harusnya kamu bahagia karena impianmu dulu akan tercapai. Bukankah waktu itu kamu mencintai Tama? Kamu berharap agar Tama selalu bersamamukan? Sekarang semuanya terjadi, harapanmu, impianmu dan obsesi mu akan bersamamu Livia...
Aku terus berusaha memikirkan hal positif. Tapi, itulah aku. Semuanya sia-sia. Alfar tidak akan menemaniku khemo lagi. harapanku beberapa detik yang lalu musnah. Hilang. dan bahkan bisa tidak kembali. Aku menarik napas panjang. Astagaa.. bukankah Tama tidak mengetahui penyakitku? Bagaimana bisa dia menemaniku khemo, dia saja bahkan tidak tahu aku punya penyakit seganas itu.
“Alfar, kamu bilang tadi khemo? Bukannya itu pengobatan untuk penyakit kanker?” tanya Tama seolah tersadar dari tidur panjangnya. Dia baru menyadari, ya Tuhan.
Alfar terlihat gugup. Dia menggigit bibir bawahnya. Hah, apa dia lupa kalau Tama tidak tahu masalahku? Ceroboh dasar Stupid boy. Ku seka airmataku yang masih membasahi pipiku. Kemudian berjalan mendekati Alfar.
“Kamu benar-benar stupid boy! Minta bantuan pada dia, dia kan tidak tahu masalahku, dasar bodoh.” bisikku setelah tepat berada di sampingnya. Dia menghela napas panjang, kemudian tersenyum dipaksakan untuk Tama.
“Ehm, Tam tidak jadi. Aku lupa kalau Livia sudah sembuh. Hehe kemaren dia memang sempat khemo katanya kepalanya sering sakit jadi aku bawa saja ke dokter spesialis -kanker, ternyata dia tidak mengidap penyakit kanker. Maaf, ingatanku akhir-akhir ini sedikit terganggu.” Jelas Alfar panjang lebar. Bahkan nyaris tanpa titik koma. Membuatku mengulum tawa yang ketika Alfar menarik tanganku, tawaku pecah.
“Kamu ceroboh Alfar,” celotehku. Dia menoleh dan merangkul pundakku. Menyunggingkan senyum manisnya. Yang bisa melumpuhkan saraf-saraf yang berkerja di tubuhku. Jalanku pun dibuatnya terhenti.
“Sepertinya kamu bahagia, aku tidak jadi menyerahkan tugasku.” Gumamnya.
“EH?”
“Tadi kamu memata-mataiku kan?” Alfar mengedipkan sebelah matanya padaku.
“Hiiy, untuk apa?”
“Buktinya kamu tahu kalau aku membicarakan hal itu pada Tama?”
Bagus. Ternyata dia mengetahui keberadaanku tadi. Aku mendesah pelan. “Oke, aku memang memata-mataimu. Tapi, kalau tadi aku tidak begitu, mungkin semua orang akan tahu penyakitku.” Kataku dengan suara serendah-rendahnya.
Dia kembali tersenyum dan sekali lagi mengedipkan matanya. Kali ini dengan tanda kutip, ‘genit’.
“Mmm.. apa ada alasan lain? Mungkin kamu sedih kalau aku menyerahkannya pada Tama?”
“Yaaaa... sejujurnya tidak ada alasan lain selain yang tadi ku ucapkan, tapi untuk membuatmu senyum meringis
lagi, ada.”
“Haha, kenapa tidak bilang saja kalau kamu menyukaiku?”
Ucapannya membuat aliran darahku semakin cepat. Degup jantungku tidak bisa kukendalikan lagi. Aku memang menyukainya... aku langsung salah tingkah. Tanganku menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak terasa gatal. Kemudian menggigit bibir bawahku. Heh ketahuan sekali groginya.
“Hah?? Mimpi apa aku semalam jadi aku mengatakan aku menyukaimu?” tukasku cepat. Wah, pasti sekarang wajahku seperti cabe rawit lagi. ditambah dengan sedikit tatapan matanya yang menjurus padaku. Aku jadi semakin
gugup.
“Ternyata tamu cantik ya!” gumamnya seraya memiringkan kepalanya dengan mata yang terus tertuju padaku. Aku meneguk ludahku. Mataku tak bisa berkedip lagi.
“Baru sadar?” tanyaku berusaha bersikap biasa tapi yang ada aku malah gugup sangat luar biasa.
“Tidak, sudah lama aku sadar. Sejak pertama kali aku mau menabrakmu waktu itu aku sudah sadar kalau kamu...” dia menggantungkan kalimatnya, dan ketika dia akan melanjutkannya, terdengar teriakan seseorang...
“Livia, Alfar...!!” teriak seseorang dari belakang kami. Hatiku menggerutu karena Alfar benar-benar menghentikan kalimatnya setelah orang itu memanggilnya. Kecewaa! Aku kan mengaharapkan kelanjutannya. Beberapa saat setelah orang yang memanggilku dan Alfar berhenti di depanku, aku hanya menatapnya bingung. Dan tentu saja kesal.
“Ada apa, Dit?” Tanyaku pada oarang yang kini berdiri di depanku. Sahabatku. Dita.
“Hehe, mau makan siomay bersama kami?”tanyanya menyeringai lebar. Hah? Cuma mau menyampaikan itu? dasar Dita, tidak bisa apa dia melihatku bahagia sekali saja?
Aku mendesah pelan, sebelum menjawab ajakannya. “Aku kenyang Dita,”
“Boleh, aku mau.” Jawab Alfar. Aku menoleh. Mengernyitkan keningku. Dia, menerima ajakan Dita.
“Ehm, cuma makan bertiga? Livia, kamu beneran tidak mau ikut?” tanya Dita sekali lagi. aku mengangguk ragu. Dengan senyum masam menghiasi wajahku. “Oke baiklah, bertiga juga tidak masalah.” Ucap Dita.
“Liv, aku antar kamu ke kelas ya.” Alfar kembali merangkulku.
“Al, tidak usah. Kamu makan saja, nanti kalau kamu mengantarku ke kelas dulu keburu bel lagi.” tolakku.
“Liv, kamu sekarang tanggung jawabku. Ibumu menyuruhku untuk menjagamu, kalau aku tidak menjalankan perintah ibumu aku tidak akan diizinkan lagi untuk menemuimu.” Alfar menjelaskan alasannya. Tak pernah terpintas di pikiranku kalau dia begitu tulus membantuku. Tapi di balik semua ini ada ibuku. Ibuku yang menyuruhnya. Dia melakukannya juga demi aku, ‘kalau aku tidak menjalankan perintah ibumu aku tidak akan diizinkan lagi untuk menemuimu.’ Suaranya terngiang ditelingaku.
“Alfar,” panggilku.
“Mmm..”
Apa yang kamu rasakan saat bersamaku? Tanyaku dalam hati. Aku tidak berani menanyakannya. Apa demi aku kamu melakukan semua ini?
“Terimakasih. Dan Maaf..”
“Terimakasihmu aku terima, tapi maaf? Untuk apa?” dia menarikku perlahan menuju kelas.
“Maaf sudah merepotkanmu,” jawabku.
“Tidak perlu, aku ikhlas melakukannya.” Ucapnya. “aku ikhlas, karena aku menyukaimu...” lanjutnya.
Aku mematung. Apa yang baru saja dia katakan padaku? Dia... dia menyukaiku? Airmataku seketika kembali meluncur. Aku yakin dari tadi mataku sudah tertutupi oleh butiran itu.
“Hah?”desahku tidak percaya.
“Ya, aku menyayangimu Liv...” ucapnya lembut, dia mengerti keherananku. “Apa kamu juga punya perasaan yang sama?” tanyanya. Langkahnya dia hentikan, dia hadapkan badannya ke arahku kemudian meraih kedua pundakku. Matanya yang tajam menatap mataku. Mencari jawaban di mataku. Karena... cinta bisa dilihat dari tatapan mata seseorang!
Aku tersenyum. “Tapi... hidupku tidak lama lagi Al,”
Dia membelai rambutku yang kukucir kuda. “Izinkan aku menyayangimu selama kamu masih ada di hidupku.” dia menghapus airmataku. “Jangan menangis, aku akan ada untukmu.” Ucapnya lagi. dia sunggingkan senyumnya, “Bunga hidupku, adalah kamu.”
“Terimakasih. Apa kamu tidak malu punya bunga yang sebentar lagi akan layu dan meninggalkanmu?”
Dia menggeleng, “Bungaku tidak akan layu. Selamanya, dia selalu ada di sini!” katanya seraya menepuk-nepuk pelan dadanya. “Selalu ada, Liv. Dan aku tidak akan pernah malu punya bunga setegar kamu, meskipun kamu akan meninggalkanku.”
Aku kembali tersenyum, “Apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu?” tanyaku lagi, kembali diiringi dengan tetesan lembut airmataku.
“Kamu juga menyayangiku pun sudah cukup untuk membalas semuanya.”
“Baiklah, aku akan menyayangimu selamanya. Meskipun aku sudah...”
“Tidak ada kata mati dalam menyayangi, kamu tahu?” dia memotong kalimatku. “Sudah, bungaku jangan lagi
bersedih di depanku. Jangan juga bersedih di belakangku. Kita akan selalu bersama, jadi selamanya aku tidak akan mengizinkanmu bersedih. Mengerti??”
“Oke, baiklah pangeran. Aku tidak akan bersedih lagi.” candaku. Alfar tertawa.
“Janji?” dia mengulurkan telunjuknya di depan wajahku. Aku mengerutkan dahiku. Maksudnya dengan telunjuk
apa? “Kata orang, telunjuk mampu mengaitkan segala sesuatu termasuk janji. Seperti ini!” dia mengaitkan kedua telunjuknya. Memberikan permisalan agar aku melakukannya padanya.
“Oh,, aku janji.” Ucapku tersenyum riang. Dan mengulurkan telunjukku di depan wajahnya. dia tertawa lagi, kemudian mengaitkan telunjuknya di telunjukku yang terulur padanya.
Janji ku dan dia. semua perasaan tidak akan pernah mati sampai sang pemilik pun pergi meninggalkannya. Perasaan, harapan, impian.. akan selalu ada sampai kapan pun!!
***
Hari ini cukup membuatku melompat kegirangan di tempat tidurku. Aku mendapatkannya.. yaa aku mendapatkannya.. senang rasanya. Diharapkan orang yang aku harapkan! Itu yang aku inginkan sejak dulu. Kali ini, tanganku tidak lagi sendiri, jika dia ingin bertepuk maka ada yang menyambutnya! Tidak ada istilah bertepuk sebelah tangan untuk hari ini! yeeaayy!!!
When my hope becomes a true and my reality becomes a hope
I just can only hope continues on and on...
Until the time came and on my side..
And until my time came pick me up, and took me into your embrace again!!
Aku tenggelamkan wajahku di balik selimut. Menahan tawa dan jeritan histeris kebahagiaan yang akan keluar sebelum waktuku tiba. Masih tidak bisa ku percaya, aku dan Alfar... oh aku sama sekali tidak akan pernah bisa melupakan dia. Aku begitu bahagia. Lebih bahagia dari sebelumnya. Apapun tidak akan bisa menghapus kebahagiaanku selain maut yang akan menjemputku.
Aku sudah merasa jengah dengan bibir yang selalu tersungging dimanapun aku berada. Mama sudah mulai menaruh curiga padaku. Jelas saja, sejak pulang sekolah Mama membukakan pintu untukku, aku sudah cengengesan, yang menurut mama tanpa sebab. Tapi, sebagai seorang Mama, Mama selalu tahu apapun yang terjadi pada sang buah hati. Sudah menjadi hukum alam. Tidak bisa dipisahkan. Mama kandung dan anak kandung itu seperti pohon dangan tanah. Tanpa tanah, pohon tidak akan ada. Begitu pula, tanah tanpa pohon tak akan berguna.
Aku duduk di samping mama. Sesekali mama melihatku dari ekor matanya. Sesekali pula mama menyesap air minumnya yang sudah tertinggal sedikit.
“Liv?” panggil mama sehabis mengusap mulutnya. Aku menoleh.
“Iya ma?” sahutku pelan seraya meneguk makanan yang dimulutku.
“Sepertinya kamu bahagia hari ini.” Mama menghadapkan wajahnya padaku.
Aku tersenyum simpul. Mengangguk kecil.
“Kenapa?”
Aku mengangkat bahuku kecil. Masih dengan senyum simpul di bibirku. “Tidak tahu.” Jawabku.
“Kamu punya pacar?”
Sesaat tenggorokanku terasa ada yang mengganjal. Aku tersedak. Mama dengan cepat menyodorkan segelas air putih untukku. Aku menyambutnya kemudian meneguk seteguk dan meletakkannya di depan piring makanku yang sudah
hampir habis.
Perlahan aku usah mulutku yang nyaris belepotan dengan sisa air putih. Kemudian mengembalikan wajahku
menatap mama di sampingku.
“Sudah baikan?” tanya mama seraya mengulurkan tangannya mengelus tengkukku. Aku tersenyum simpul. Menandakan kalau aku sudah merasa baikan.
“Sekarang cerita sama mama. Kamu punya pacar?” tanya Mama kembali menyunggingkan senyum menggoda padaku.
Pikiranku berkecamuk. Mereka berdebat. Apakah aku harus jujur atau... berbohong? Jujur bohong? Jujur bohong? Ah pusing. Tiba-tiba aku merasa ada sebuah benda yang tiba-tiba mendarat dikepalaku. Rasanya sakiiiit.. dan membuatku harus mendesis sakit di hadapan mama.
Mama menatapku khawatir. Senyumnya seketika hilang entah kemana. “Kepalamu sakit lagi?” tanya mama. Mama ulurkan lagi tangannya. Memijat-mijat kepalaku.
“Sedikit ma,” jawabku lirih.
“Kamu lagi memikirkan apa sayang? Kamu tidak lagi merenakan kebohongan untuk mamakan?”
Ughh.. kenapa mama bisa tahu?
“Ahh tidak ma, buat apa?” jawabku mengelak. Masih dengan pelan dan ragu dan juga gagal.
“Artinya, kamu mau menghindari pertanyaan mama, bahwa kamu sudah punya pacar kan sayang?” tebak mama. Tepat sekali! Mama benar-benar mengetahui ujung rombak pikiranku.
“Hehe...” aku hanya nyengir dengan polosnya mendengar tebakan mama yang sama sekali tidak salah dari
kenyataan.
“Kenapa mesti bohong sayang?”
Lagi-lagi yang aku tunjukkan hanya cengiran polos yang tidak ada artinya.
“Takut mama marah? Atau...”
“Iish.. tidak mama. Sama sekali bukan itu penyebabnya. Aku hanya malu kalau mama tahu aku sudah punya
pacar.”sanggahku cepat sebelum mama mengeluarkan prasangka buruknya untukku.
“Hahaha..” aku terdiam. Tawa mama menyentakku. Dan membuatku tertegun.
“Kenapa mama? Lucu ya kalau aku malu?” aku mulai memajukan mulutku beberapa senti kedepan karena ulah mama yang terbahak ketika aku mengungkapkan kejujuran kalau aku malu mengakuinya.
Mama menghentikan tawanya. Tercenung. Menunjukkan mata yang penuh dengan semburat kasih dan cintanya padaku.
“Mama hanya mengingat kala waktu mama berumur sepertimu. Sama persis!” kata mama. Senyum masih terlihat dikulumnya. Mungkin.. takut membuatku negative thinking..
“Sama persis? Maksud mama?” aku belum bisa mencerna ucapan mama tadi. Kepalaku masih pening.
Mama usap rambutku dengan lembut penuh kasih sayang. Senyum mama terukir manis di bibirnya. “Mama juga sama sepertimu, waktu eyangmu menanyai mama seperti mama menanyaimu tadi, mama juga berniat bohong padanya. Sayang, pikiran seorang ibu begitu peka pada anaknya. Jadi, mama gagal merahasiakannya.” Sejenak mama menghentikan cerita masa lalunya. Memberiku ruang untuk bertanya atau bereaksi lain tentang cerinya. Tapi, aku hanya diam.
“Eyang menebaknya dengan sangat tepat. Mama pikir kamu tadi juga punya pikiran yang sama dengan mama dulu. Dan benar! Tebakan mama ternyata tidak meleset.” Lanjut mama setelah yakin kalau aku akan diam dan tidak bereaksi sebelum beliau melanjutkan ceritanya.
Wajahku bersemu. Cerita mama membuatku sadar kalau memang kita tidak bisa berbohong pada orang tua.
“Ya, aku juga tahu mama akan sangat mudah menebak perasaanku.”
“Lalu, sekarang kamu mau menceritakan pada mama?”
“Tentu. Tapi...” aku menggantungkan kalimatku. “Tapi.. jangan tertawakan aku ya.”
“Mama akan mentertawakanmu kalau kamu berkata seperti itu.” ancam mama. Aku terkekeh pelan. “Cepat ceritakan!” desak mama seraya mengguncang bahuku pelan.
“Ma,”
“Mm..”
“Aku punya...”
“Pacar.. iya mama tau. Siapa?” potong mama. Aku melengos. Mama kalau sudah tidak sabaran selalu memotong pembicaraanku.
Senyum protesku ku keluarkan sejurus kemudian langsung ku arahkan pada mama. “Mama..” rengekku seperti anak kecil yang minta dibelikan balon.
“Oke.. mama diam. sekarang mulai.” Mama mengariskan jemarinya didepan bibirnya mengisyaratkan kalau bibirnya akan dia kunci dan tidak akan berbicara sebelum aku menyelesaikan topikku.
“Dia...” aku menggantungkan perkataanku karena ketika aku melirik mama, mama sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu atau yang lebih tepatnya memotong pembicaraanku, lagi!
Aku tersenyum lagi. senyum kali ini rada dipaksakan. Aku nyaris menyerah untuk menceritakan kisahku pada mama.
Aku melipat kedua tanganku di depan dada. “Dia..”
Terdengar suara bel didepan rumahku. “Dia.. ada tamu ma!”
“Huff.. kamu.. biar mama yang buka. Kamu tetap di sini. Oke.” Mama berdiri dan berjalan setelah aku menganggukkan kepalaku. Aku menghela napas lega. Aku masih bingung bagaiamana aku menagatakan nama pacaraku.
“LIVIAAA!!!” teriakan mama mengagetkanku.
“IYAA!!” balasku teriak. Aku malas kalau harus menyusul mama yang berteriak di depan tamu. Malu-maluin!
“SAYANG ADA TAMU BUAT KAMU...!!” teriak mama lagi. aku membuka otakku. Mencari jawaban siapa tamu yang membuat mama tidak berhenti untuk berteriak. Atau yang lebih tepatnya, siapa tamu yang membuat mama tidak mau beranjak dari depan pintu utama?
“Ah.. pasti dia!” gumamku seraya berjalan gontai meninggalkan ruang makan. Mama tersenyum penuh arti ketika aku berada di sampingnya. Aku balas dengan senyum yang sangaaat tidak maniiis!
“Sayang, dia mau ngajak kamu jalan!” ucap mama menarikku tepat di depan pintu rumah. Tubuhku menegang. Hanyut dalam ketidak sadaran.
“Hai Liv...” sapanya. Aku tercenung. Benar dugaanku... pasti dia yang sudah membuat mama tidak mau beranjak dari depan pintu. Aku hanya tersenyum kecut, kecewa atas kedatangannya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar