Powered By Blogger

Selasa, 21 Februari 2012

© Always Loving You © Prolog

© Always Loving You ©

Prolog Siang hari seperti biasa, panas, gerah dan penuh polusi menghiasi kota Jakarta. Kemacetan merajalela di sepanjang jalan. Arga sudah berada di dalam mobilnya yang sedang terjebak macet sejak kurang lebih satu jam yang lalu. Penuh dan sesak, itulah yang tergambar kian jelas di matanya. Beberapa kali, Arga menguap karena mulai bosan dan mengantuk. Tapi, tetap saja jalanan itu tidak akan pernah lenggang sampai kapanpun, sekalipun itu sudah larut malam. Detak jarum jam terdengar dari pergelangan tangannya. Dia melirik jam tangan stainless-nya yang baru saja ia dapat dari kerja kerasnya sendiri selama tiga bulan ini bekerja part time di perusahaan Ayahnya. Berhubung Ayahnya lagi keluar kota untuk mengadakan rapat tahunan, jadi dia terpaksa mau menggantikan posisi Ayahnya untuk sementara waktu, padahal usianya baru saja menginjak 17 tahun dua minggu yang lalu. Arga kembali fokus pada jalanan yang padat. Lagi-lagi dia menguap. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 20.12 wib. Biasanya, jam-jam seperti itu ia gunakan untuk kursus gitar dan piano. Tapi, akhir-akhir ini dia jadi membolos gara-gara bekerja sampai larut malam. sebenarnya bukan membolos, tapi meminta izin pada guru privatnya untuk tidak mengajar musik selama beberapa bulan ini. “Bisa mati di jalan kalo kayak gini.” Gumamnya sambil menyalakan tape mobilnya. Istrumental Kenny G—Loving You mengalun lembut memenuhi ruang mobil. “Yaah.. lumayanlah. Berasa ada yang nemenin gue kalo kayak gini.” Ucapnya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
 ©©©Ω©©©
 “Mas Avyn nggak tidur? Udah jam sembilan loh.” Seorang gadis kecil berumur sekitar 8 tahun masuk ke dalam kamar Avyn, seorang cowok ganteng yang dikenal pendiam itu. Avyn menoleh pada adik semata wayangnya itu. Riris biasa ia dipanggil. “Mas Avyn belum ngantuk, Ris. Riris sendiri nggak ngantuk?” Avyn menanyai balik adiknya sambil meletakkan kameranya dia atas tempat tidur. Riris tersenyum lalu naik ke atas tempat tidur sebelum ia duduk di sebelah Avyn, kakaknya. Riris merebahkan kepalanya dipangkuan Avyn, meminta Avyn untuk mengelus-elus kepalanya seperti kebiasaan yang memang sudah lama ia sandang. “Riris boleh tidur, sama Mas Avyn, nggak?” tanya gadis cilik itu sambil mendongakkan kepalanya menatap sang kakak yang terlihat sedang berfikir. Tak lama kemudian, Avyn tersenyum dan mengangguk. Riris tersenyum sumringah karena telah diizinkan tidur bersama kakak kesayangannya itu. Riris memang gadis kecil yang kian manja. Dia paling suka bermanja-manja dengan kakaknya, sejak kecil ia memang hidup bersama kakaknya. Sedangkan orang tua mereka sudah menetap lama di Pranciss. Mereka ingin anak mereka tumbuh dan besar di Indonesia, meskipun mereka hanya datang setengah tahun sekali, tapi tidak akan merubah keadaan kalau putra-putri mereka bisa tinggal dengan kehidupan yang sangat berkecukupan. “Mas Avyn lagi sibuk apa?” tanya Riris saat ia melihat Avyn mengutak-atik kameranya. “Riris boleh lihat?” tanya Riris lagi ketika Avyn tidak menjawab pertanyaannya. “Boleh. Tapi, sebentar ya. Mas perbaiki dulu gambarnya. Soalnya agak kusam, jadi kurang jelas.” Tanpa diminta Riris langsung bangun dari pangkuan Avyn. Dia duduk di samping Avyn sekarang. Kepalanya sedikit ia longokkan ke arah kamera yang masih berada di tangan Avyn. “Dia pacar Mas Avyn?” Riris terbelak ketika melihat foto seorang cewek seusia kakaknya terpampang di sana. Di fotonya, cewek itu sedang tertawa lepas dan terlihat sangat natural. Mata Riris kembali terbelak ketika melihat sebuket mawar putih di tangan cewek itu. “Pasti mawar itu kakak yang kasih ya?” tebak Riris yang membuat Avyn tertawa seketika seraya menenggelamkan kepala adiknya di bawah lengannya. Kadang Avyn merasa sangat geregetan ketika melihat Riris yang sok tahu. “Kok Riris tau, hah? Riris ngintip Mas pas beli itu bunga ya???” greget Avyn sambil terus mengacak-acak rambut adiknya. Riris tertawa diperlakukan seperti itu. ini yang ia sukai dari Avyn. Avyn yang memang sangat peyayang padanya, Avyn yang selalu membuatnya merasa bahagia meski tanpa kehadiran orang tuanya. “Hihihihi.. hahahaha.. nggak Mas.. ampuun.. Riris kan Cuma nebak aja hahaha..” jawabnya sambil terbahak ketika tangan Avyn menjalar menggelitik pinggangnya. Setelah itu, Avyn mengangkat tubuh mungil Riris ke pangkuannya, sambil memeluknya, Avyn meraih lagi kameranya. Mereka melihat banyak foto-foto di sana, terlebih foto cewek yang tadi. Sangat banyak! “Riris kalo udah besar, pengen punya pacar kayak Mas Avyn, yang penyayang, yang perhatian, dan yang selalu bikin Riris bahagia.” Harapan Riris keluar dari bibir mungilnya. Avyn menatap adiknya dalam diam. “iihhh.. Riris masih kecil kok udah bilang pacaran siiiih???” lagi-lagi Avyn menggregeti adiknya sampai Riris kembali terbahak. “Hahahahah... ampuuuun massss Avyyyyn...” jeritnya ditengah tawanya.
 ©©©Ω©©©
 “Gilaaaaa.... cowok emang BRENGSEK!” jerit seorang cewek dengan keras. Dia sudah mengurung dirinya di kamar sejak pulang sekolah tadi. Sudah tiga kali dia pacaran, tapi nggak pernah ada yang beres. Semuanya kacau dan berakhir dengan kata PUTUS tanpa alasan yang jelas. “Cowok terkutuk! Gue sumpahin lo jadi monyet biar nggak ada cewek lagi yang suka sama lo!” teriaknya lagi. “Rai... Rai.. kamu kenapa sayaang??” saking kesalnya sama mantan pacarnya itu, cewek yang kerap di sapa dengan Rai itu tidak mau membukakan pintu kamarnya untuk Mamanya. Padahal sejak beberapa jam yang lalu, mamanya sudah menggedor-gedor pintunya. “Hikss.. mamaaaa... Rai nggak apa-apa kok. Rai Cuma lagi kesel karena banyak tugas.” Sahutnya berbohong sambil menahan napasnya yang masih sesenggukan. “Kalo kenapa-kenapa kamu cerita aja sama Mama. Kali aja, Mama bisa bantu kamu, sayang.” Tawar Mamanya. Rai mengangguk tanpa suara. Tapi, Mamanya segera paham, kalau diam-diam Rai mengiyakan. Mamanya langsung beranjak dari depan kamar Rai yang terkunci rapat. Dan kembali bersendawa dengan suaminya, Papa Rai. “Niatnya pengen mutusin cowok duluan, eh taunya malah gue yang diputusin duluan. Geblek emang tu cowok...” dumelnya lagi sambil terus terisak.
 ©©©Ω©©©
 Arga melepas satu persatu kancing kemejanya, kemudian melemparkannya begitu saja ke atas tempat tidur. Setelah sampai di rumahnya, ia langsung masuk ke kamar tanpa menyapa Mamanya terlebih dahulu yang sudah menunggunya pulang sejak sore tadi. Cowok itu beranjak ke kamar mandi untuk membasuh badannya yang gerah. Setelah selesai mandi, Arga mengenakan t-shirt biru malam dan celana selututnya, kemudian berbaring di tempat tidurnya. Sambil rebahan, ia kembali mengingat-ingat kejadian di sekolah tadi, untuk seminggu ke depan, ia dipilih menjadi ketua ekskul Musik di sekolahnya. Mala petaka bagi Arga karena ia belum terlalu bisa dalam hal musik. Dia hanya bisa bermain Piano dan Gitar. Selebihnya, dia mana bisa. “Kalo gue tolak. Sayang juga kan? Tapi, kalo gue terima... gue udah kelas 3. Jam belajar gue terbagi dong?” gumamnya dengan mata menatap kosong ke langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda. “Tapi lagi... musikkan dunia gue. Kendalanya, gue nggak terlalu bisa nyanyi. Bisa-bisa adek kelas gue, kabur lagi.” “Arrghh... bodo. Yang penting gue tetep bergelut pada dunia musik. EGP sama kabur-kaburan.” Putusnya akhirnya. Semoga saja pilihannya untuk menjadi ketua ekskul musik sementara di sekolahnya adalah keputusan yang benar dan membawa keberuntungan untuknya. Seharian penuh Arga tidak ada beristirahat. Dan perlahan lahan ia mulai menutup matanya dan terlelap dalam hitungan detik.
 ©©©Ω©©©
 Ririn sudah terjaga dalam mimpinya. Sementara Avyn masih belum bisa memejamkan matanya. Dia masih ingin terus melihat wajah “pacarnya” yang tak pernah menganggapnya. Rasanya, ia tak akan pernah puas menatap wajah elok nan anggun yang ada di layar kameranya. Sudah beratus-ratus foto cewek itu ada di kameranya, tapi, dia masih saja ingin memotretnya dan mengabadikan wajah elok itu dalam benda kesayangannya. Mungkin, Avyn sudah menganggap kameranya itu adalah album hatinya. Setiap gerak-gerik cewek itu terekam jelas di sana—di hatinya maupun di kameranya. Dia enggan mematikan kameranya walau hanya sedetik. Karena baginya, kamera itu adalah bagian hidup “pacarnya”. Dia tersenyum-senyum sendiri ketika tangannya dengan perlahan menekan tombol-tombol kecil mengganti foto yang satu dengan yang lain. Berbagai macam pose tergambar di sana. Dari yang sedang merenung, menangis, tertawa, melompat, merangkul temannya, sampai berlari-larian. “Sampai kapan gue nggak berani nyamperin lo langsung?” tanyanya pada sunyi. Ia tersenyum lagi. “Sampai lo sadar kalo gue selalu ada bersama lo.” Ujarnya dengan yakin. Avyn meletakkan kameranya di atas meja lampu, dengan layar menghadap ke arahnya. Dia ingin, ingin, dan ingin terus menatap wajah cewek itu, sampai dia tak sadarkan diri lagi. anggap saja, cewek yang ada di dalam kameranya sedang menidurkannya.
 ©©©Ω©©©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar