Powered By Blogger

Kamis, 17 November 2011

FEELING...??[11] (ENDING)

Lemah. Sakit. Dingin. Kaku. Penat. Membaur jadi satu dalam jiwa ragaku. Tak ada yang dapat kulihat di sini. Putih. Terang. Silau. Menghiasi pandanganku. Sepi. Tak ada suara. Itulah yang terekam erat dalam kepalaku.
Tapi, tiba-tiba saja aku merasakan kehangatan di sekujur tubuhku. Entah dari mana itu berasal. Semilir angin berhembus terasa disekitar wajahku. Seperti ada yang meniupkan udara segar. Ingin rasanya aku membuka kelopak mataku. Melihat siapa dia. tapi tenagaku untuk itu tak cukup, maka terpaksa aku urungkan kehendakku. Tak lama, ku rasakan ada sesuatu yang basah mengalir kepermukaan kulitku. Apakah ini? airmata kah?
Tuhan, biarkan aku membuka mataku walau hanya sedetik. Melihat siapa dia? apakah Alfar... tanganku ada yang menggenggam. Tak salah lagi. ini Alfar. Aku kenal tangannya. Walaupun baru beberapa hari menjalin hubungan tapi, aku bisa mengenalnya dengan baik. Terlebih aku sudah mengenalnya belasan tahun lalu.
Ku kuatkan keinginanku untuk balas menggenggamnya. Berharap.. dan terus berharap. Akhirnya Tuhan memberikan kesempatan itu. meskipun dengan susah payah aku balas menggenggam tangan orang itu. tak lama, terdengar suara wanita yang sudah sangat aku kenal.. mama.. itu suara mama. Mama menyerukan nama itu. Alfar. Ternyata dia sudah disini sejak lama? Mama berkali-kali menyuruhnya keluar dan pergi menjauhiku, aku tak bisa. Aku tak mau jauh darinya. Pliis.. Tuhan, beri aku kekuatan lagi untuk menggenggam dan memberitahu Mama kalau aku tidak bisa berpisah dari Alfar. Aku juga mau, kalau Alfar tahu aku masih bisa bertahan sampai detik ini. tapi, tak bisa untuk detik berikutnya...
‘jangaan pergi, please.. katakan pada mama kalau kamu tidak bisa meninggalkanku...’ jeritku dalam hati. Sayangnya, kalimat yang kuinginkan tak dikeluarkannya. Dia malah akan pergi, dan akan meninggalkanku. Tak ayal, aku semakin mengeratkan cengkraman tanganku yang masih terlalu lemah untuk keadaanku.
‘Kamu mencintaiku, tolong.. aku mohon, jangan pergi.’ Aku terus menjerit meskipun dia tak bisa mendengarnya. Mustahil. Karena secara teori, mulutku masih tak bergerak. Ragaku mungkin akan menghilang, tapi.. hatiku dia masih merasakannya. Hati perasaan pikiran adalah tiga hal yang menjadi sebuah acuan hidup.
Tapi, kekuatanku justru tidak sebanding dengan kekuatan mama. Mama menarik Alfar hingga nyaris saja tubuhku terjatuh dari ranjang. Untungnya, Alfar memberi tahu mama kalau tangannya sekarang tengah aku genggam.
‘Thank’s..’
***
Hawa dingin menusuk menyeruak masuk ke dalam tubuhku. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku. Langit siang ini begitu indah. Pemandangan taman inipun tak berubah semenjak beberapa minggu yang lalu. Waktu pertama kali aku pergi ketempat ini ketika aku sedang bersama Alfar. Dia yang memperkenalkanku dengan pepohonan rindang di sini, hamparan rumput bak permadani, juga udara yang menyejukkanku.
Beberapa waktu lalu, setelah aku sadar dari tidur panjangku yang kulihat pertama kali adalah wajah mama, dan dia. Rupanya perasaanku yang semakin lama semakin besar ini kian tak terlepaskan dari hatiku. Aku memang akan pergi untuk selamanya mungkin, tapi sepertinya cintaku akan tetap disini. Cintaku tak akan ku biarkan ikut bersamaku. Bersama jasadku yang akan terpendam dalam kehangatan bumi dan dinginnya malam.
“Sayang, mau sarapan apa pagi ini?” aku menoleh keasal suara. Kulihat cowok itu sedang berjalan ke arahku lalu meraih pegangan kursi roda yang ku duduki saat ini. Ya, aku tidak lagi bisa berjalan seperti dulu. Aku hanya bisa duduk dalam diam di atas kursi roda bersama pacarku. Dia tersenyum hangat padaku, lalu memberikan kecupan diubun-ubunku.
Aku balas tersenyum pada Alfar. Dia tidak berubah. Tetap sama seperti yang dulu. Setelah kelulusan, dia memutuskan melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Hampir setiap hari dia menemaniku. Entah itu menemaniku yang masih rutin menjalani perawatan, menemaniku makan, bahkan ketika aku mengantuk pun dia masih setia menemaniku. Katanya sih, dia ingin selalu berada di dekatku sampai maut memisahkan. Sok romantis ya? Padahal mana pernah dia mengajakku ke tempat yang romantis. Kecuali, Pantai Pasir Putih itu dan taman cinta.
Oya, setelah hari kelulusan, aku dengar Tama dan Dita memutuskan untuk menjalin hubungan ke jenjang yang lebih tinggi. Taulah.. cinta itu kadang tidak bisa di tebak.. awalnya Dita memang tidak pernah punya rasa suka pada Tama, tapi.. setelah aku memutuskan untuk melupakan Tama dan usahaku tentunya berhasil, lama kelamaan Dita terpikat juga. Hahah, aku pikir dia tidak akan menjalin hubungan lagi eh ternyata..
“Mau Burger?” Alfar menyodorkan setangkup roti.
“Apanya yang Burger? Ini mah, roti selai!” aku terkekeh geli ketika Alfar memasukkannya ke mulutku hingga mulutku penuh dengan roti. Ah Alfar. Kalau soal kejahilan, dia tetap yang dulu. Si Stupid boy. Pacarku!
“Ini buatan kekasihmu, jadi kamu harus menghabiskannya.” Ucap Alfar sambil membusungkan dadanya. Kepala besarnya mulai lagi. Dasar! Aku menjitak kepalanya. “Eh sayang, kamu kok tegaan banget sih sama calon suami sendiri!” dia mendengus sembari mengelus-elus kepalanya yang sakit setelah aku menjitaknya.
“Mana mau aku jadi calon isterimu. Kamu jahilnya nggak ketulungan! Stupid Boy!” balasku. Aku tertawa pelan. “Oya, ngomong-ngomong, kok rotinya kayak ada rasa hangus ya?” tanyaku masih sambil mengunyah sisa-sisa roti yang masih menggumpal di mulutku. Dia mengernyitkan dahi.
“Masa iya?” dia menggigit satu gigitan roti yang berada ditangannya. “Nggak kok, perasaan kamu aja kali Yang.” Elaknya. Yee, jelas-jelas rotinya hangus malah dibilang perasaan aku. Ini nih yang tidak aku suka dari Alfar, dia sering kali tidak mau mengalah denganku.
“Ih, nggak lah. Ini tuh hangus, Alfar?” tandasku tak mau kalah. Enak saja kalau aku disuruh mengalah dengannya.
Dia memanyunkan bibirnya. “Masa sih yang?” lanjutnya. Ah ya, sekarang panggilannya berubah untukku. Aku geli mendengar penggilannya yang menurutku norak! Sayang lah, ayang lah, Yang, cintalah bla bla bla.. sumpah aku geli mendengarnya memanggilku dengan sebutan seperti itu. Errr~
“Coba deeh, di makan lagi. Eeh jangan-jangan indra perasa kamu gangguan lagi!”
“Yeee, nggak lah yang. Aku normal. Buktinya aku masih bisa merasakan indahnya cintaku bersamamu.” Gubrak! Gombal deh si Alfar... hueeks, masa pacarku segombal ini sih? Ini mah bukan pacarku Alfar yang dulu. Dulu dia malah dingin sama aku, kok sekarang gombal banget sih? Mana pake kata-kata begitu pula.
Aku bergidik. Lalu tertawa. “Kamu norak. Perasaan, dulu kamu nggak senorak ini deh Al.”
“Aku pengen berubah buat kamu, Cinta. Aku mau bikin kamu senyuuuum terus. Biar kita bahagia.” Ucapnya terdengar tulus. Aku tersenyum lagi. Kali ini senyumku ku usahakan semanis mungkin. “Ohya?” tanyaku pura-pura tidak percaya. Dia mengangguk beberapa kali.
“Iya dong, Cinta. Aku kan selalu cinta sama kamu, aku nggak mau cintaku sama kamu jadi sedih karena aku nggak berubah.” Nah loh? Kata-kata apalagi ini.
“Emang ada hubungannya?” aku mengernyitkan keningku.
“Ohh jelaaas. Pastinya ada dong sayang, cintaaku.” Eheeleeh, ini dia. Pacar gombalku.
“Apaan?”
“Adaa deeh, mau tau ajah kamu cintah.” Ih, gaya Syahrini pula. #Alhamdulillah yah?
“Udaahan deh, Al, gombalan mu itu basi, nggak berasa tau!” ucapku. Aku asik terkekeh dengan lelucon gombalan Alfar. Sampai terpingkal-pingkal aku tertawa. Dia malah memberengut memperhatikanku.
“Kenapa ketawa, Yang? Kamu suka yaah, sama gombalan aku? Katanya basi? Nggak berasa? Kok malah ngakak sih, yang?” hyaah... cukup Alfar. Sakit perut tauk akunya. Aku masih tak bisa menghentikan gelak tawaku.
Senyumnya perlahan merekah. Entahlah.. dia dengan lekat memperhatikanku. “Boleh minta sun, nggak?” tanyanya membuatku refleks menghentikan tawaku. Kali ini giliran dia yang terbahak! Sial, apa coba?
“Nah, berhentikan ketawanya. Oh jadi gitu toh cara menghentikan tawa si Cha-chaku ini?” ucapnya ditengah gelak tawanya yang masih terdengar. Aku manyun. Dasar Alfar!
“Udaaaah deeh, Al. Stop ketawanya...” rengekku seperti anak kecil. Ngambek.
“Eciee, ngambek nih, ayangku.. iyee, aku berhenti ketawa.” Dia mengulum tawanya. Aku tahu, dia bersusah payah menahan mulutnya agar tidak tertawa. Aku tersenyum puas telah berhasil membuatnya menahan tawanya yang jelas saja untuk mengejekku. Rasakan itu Alfar!!
***
Seperti biasa (kebiasaan baru) setiap malam, Alfar lebih memilih duduk-duduk di sampingku. Menatap langit malam yang cerah malam ini. Indah. Sangat indah malam ini. Berdua. Memandangi sang rembulan berbentuk sabit itu. Persis seperti tersenyum. Jaket yang membalut tubuhku ku eratkan. Aku memeluk kedua tanganku sendiri. Hawa dingin merasuk menusuk-nusuk tulangku. Sedangkan Alfar, dia terlihat santai, rileks. Wajahnya yang cerah bisa menerangi hatiku yang mungkin sedikit gelisah.
Sebelah tangan Alfar menggenggam erat tanganku. Erat sekali, seakan dia tak akan membiarkanku pergi. Ada kalanya, dia seperti ini. Menutupi semua kegombalannya yang sewaktu-waktu akan keluar seperti siang tadi. Ada pula kalanya ketika dia bersikap dingin dan membuatku hangat bersamanya.
Kepalaku kurebahkan dibahu kanannya. Dia menikmati saja. Sesekali dia menoleh dan menatap lekat wajahku. Sembari tersenyum, kemudian tangan kirinya terangkat menyelipkan sebagian rambutku yang terjatuh menutupi wajahku. Rambutku semakin menipis.
“Bagaimana rasanya?” ucapnya, masih dengan menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum. Kemudian menggeleng. “Kamu merasa lebih enakan?” aku mengangguk. Dia tersenyum lagi.
“Alfar,” sapaku setelah beberapa detik hanya diam yang menyelimuti kami.
“Mmm,”
“Kamu sayang aku?” tanyaku tanpa berani menatap matanya. Dia mengangguk. “Seberapa sayang?” lanjutku.
“Seluas samudera.”
“Bisa diukur dong?” tanyaku lagi. Kali ini kuberanikan menatap wajah tampannya. Dia menggeleng. “Terus?”
“Apa kamu bisa mengukur luas samudera?” dia bertanya balik padaku. Aku terdiam.
Hening.
“Nggak bisakan?” lanjutnya. Aku mengangguk.
“Apa benar?”
“Hmm..” dia mengangguk sekali lagi. “Kalau kamu?”
“Seluas jagat raya.” Jawabku sembari melemparkan pandanganku ke langit malam yang hitam kelabu dengan pantulan sinar rembulan.
“Sebesar itu?” tanyanya memastikanku. Aku mengangguk.
“Nanti, kalau kita ketemu lagi, aku akan kasih semuanya ke kamu.”
Alfar mengernyitkan keningnya. “Kenapa nanti?”
Aku diam. Sejenak aku menghela napas panjang. “Karena hidup aku nggak akan lama lagi.” Jawabku lemah. Dia menoleh ke arahku. Menatap mataku selekat-lekatnya, hingga aku bisa melihat guratan merah di matanya. Maafkan aku, Al, aku memang sangaat mencintaimu tapi, apalah sudah. Takdir sudah menentukan jalanku, jalanmu, jalan kita berdua. Kita memang tidak bisa bersama di sini, tapi yakinlah kalau kita akan bertemu lagi nanti. Di masa yang lebih kekal. Di tempat dimana kita bisa berkumpul dengan tawa, dengan keabadian, dengan senyum, tanpa perpisahan lagi. Kalau kamu percaya, maka hatiku akan semakin mencintaimu.
“Kenapa berkata seperti itu? Kamu tahu, Cha-cha yang dulu nggak pernah bilang kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Cha, yang tahu umur kita hanya Tuhan. Bukan aku, bukan kamu, bukan kita. Kalau Tuhan memang memanggilmu, aku tidak akan bisa membantah semuanya, karena itu takdir. Tapi, kalau kamu yang menginginkannya, aku akan membantah semuanya!”
Matanya yang hitam pekat itu, terlihat mulai bergelombang. Menangiskah dia?
“Al, kamu yakin akan takdir, bukan? Kalau kamu yakin, berarti kamu juga yakin kalau suatu saat nanti kita akan bersama.” Ucapku sembari berusaha mengukirkan senyum. Dia tak menjawab, kemudian memalingkan wajahnya menatap halaman rumahku yang lumayan luas. Tak jarang dia seperti menghela napas panjang, mungkin berusaha agar airmatanya tidak luruh ke permukaan wajahnya.
Aku melepaskan pelukanku yang merengkuh tanganku sendiri, kemudian ku ulurkan tanganku meraih wajah Alfar yang sedang menghindari tatapanku. Dia terus mengelak ketika tanganku mulai menghadapkan wajahnya untuk melihatku. “Alfar, lihat aku.” Ucapku penuh penekanan. Akhirnya dia menuruti penuturanku.
Aku tersenyum miris ketika mendapati matanya sudah basah. Dia menangis? Jangan bilang kalau aku yang sudah membuat pacarku sendiri menangis. Aku tidak mau kalau aku yang membuatnya lemah. Airmata itu menyakitkanku!
“Hmm. Kamu nangis? Kenapa? Sedih? Hey, kamu nggak melihatku di sini? Aku masih di sini, Al.” Ucapku dengan senyum lirihku yang ku usahakan agar terlihat tulus.
Dia tidak menjawabku. Matanya masih terlihat berkaca-kaca. Dia mendesah lalu menghapus airmatanya. Tiba-tiba, dia langsung memelukku. Aku terkesiap! Karuan saja, aku juga ikut menangis.
“Please, jangan bicara seperti itu lagi. Kamu yang sudah membuatku jatuh cinta, Cha. Kamu yang sudah membuatku merasakan segala keindahan cinta. Tapi, jangan buat aku merasakan kehilangan cinta itu. Sekali ini, aku mohon. Jangan biarkan aku terlihat lemah di depanmu. Jangan pernah, Cha.”
Aku tidak membalas pelukannya. Hanya diam mematung dalam pelukannya. Airmataku ikut terurai jatuh bersama tangis Alfar. Aku tidak pernah melihatnya menangis seperti ini. Ini adalah hal tersakit ketika aku melihat orang yang kucintai menangis di depanku. Aku tidak pernah menginginkan ini.
Tubuhku berguncang, ikut terbawa akan isakanku yang semakin menjadi. “Al, apa aku pernah bicara kalau aku akan meninggalkanmu? Aku hanya bilang kalau hidupku nggak akan lama lagi. Kamu mendengarnyakan, Al?” tanyaku. Sebisa mungkin agar suara tetap datar.
Kemudian dia melepaskan pelukanku. Dengan menyentuh pundakku, dia hadapkan wajahku untuk menatapnya. Menatap matanya yang masih terlihat sembab. Bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu untukku.
“Kamu memang bilang kalau hidupmu nggak akan lama lagi, tapi apa maksud terdalam dari kata-katamu itu? Kalau memang kamu ingin cepat pergi, pergilah! Jangan semakin membuatku sedih karena mendengar perkataanmu itu.” Dia menghela napas. “Kamu tahu bagaimana rasanya ketika kamu bilang seperti itu? Sakit. Sakit banget Cha.” Lanjutnya, tatapan matanya semakin menajam padaku. Menusuk-nusuk setiap helaan napasku. Melahirkan beribu tancapan luka di hatiku.
Aku tertunduk mendengar ucapannya. Begitukan sakitnya, Al? Baiklah, anggap ini yang terakhir aku mengatakan itu. Aku janji. Batinku. Lama kami saling diam. Tanpa tatap. Tanpa adanya tawa. Tanpa ada semuanya.
Masing-masing diantara kami sibuk dengan hati dan pikiran kami. Ingin menenggelamkan segala cemas, resah, gelisah yang menyeruak masuk dalam diri kami. Tapi, itulah takdir. Inilah jalanku. Jalan Alfar, jalan kami berdua. Siapa yang bisa mengubahnya?
Tak lama, aku merasakan pening di kepalaku. Pening yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Lebih sakit dari sebelumnya. Rasa itu menjalar ke semua saraf-saraf yang menyelimuti tubuhku. Semuanya tiba-tiba terasa sangat sakit. Aku sampai tak bisa mengeluarkan suaraku.
Alfar mungkin menyadari semua yang ku rasakan. Dia menoleh ke arahku yang tetap menunduk. Perlahan kurasakan ada tangan yang meraih daguku. Menghadapkan wajahku padanya. Setelah itu, terlihat matanya membulat melihatku. Entahlah, mungkin...
“Cha, kamu mimisan lagi?” ucapnya dengan suara bergetar, sembari mengusapkan ibu jarinya ke bawah hidungku. Benar! Aku mimisan lagi. Tuhan... apakah ini hari terakhirku bersamanya??
“Cha, ada yang sakit?” tanyanya dengan penuh rasa kekhawatiran. Terlihat lagi olehku matanya yang mulai berkaca-kaca. Seakan-akan aku memang tak punya kekuatan lagi, aku hanya bisa mengangguk sangat pelan. Dia langsung meluruhkan kedua tangannya untuk memelukku. Dia mengusap rambutku. Darah mimisanku mungkin sudah banyak menempel di kemeja kasualnya.
“Al-far.. sa-kit..” ucapku lirih. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Tanpa bisa kucegah, airmataku kembali luruh. Antara menahan sakitnya seluruh tubuhku dengan menahan perih hatiku. Tuhan.. jangan jadikan ini hari terakhirku. Aku mohon! Pintaku dalam hati. Aku menggigit bibir bawahku. Tanganku seakan sudah benar-benar mati rasa. Tak bisa digerakkan sedikitpun!
“Cha, kita ke kamar ya. Kamu harus istirahat sekarang!” Alfar melepaskan pelukannya. Kemudian menggendongku. Aku tak membantah. Bukannya tak mau, tapi tak bisa.
Setiba kami di kamarku. Mama masuk menyusul. “Livia kenapa, Al?” tanya Mama panik. Dan langsung berlari mendekatiku yang sudah terbaring di ranjang. Alfar duduk ditepi ranjang. Tangannya memegang obat-obat herbal yang digunakan untuk penahan rasa sakit. Dengan cepat dia memerintahkan padaku untuk segera meminumnya. Aku menurut saja. Tapi sepertinya obat-obat itu tak berfungsi lagi untuk tubuhku. Lantas aku masih saja merasakan sakit yang teramat sangat itu.
“Kamu istirahat sayang, tidurlah. Besok kamu akan merasa lebih baik.” Ucap mama seakan tak peduli lagi dengan keadaanku. Aku tahu, mungkin dia sudah tak sanggup melihatku kesakitan seperti ini. Sedang Alfar, dia masih terus berada disampingku. Mengusap hidungku yang masih meneteskan darah-darah segar dengan sapu tangan abu-abunya. Sesekali dia tersenyum miris ke arahku. Mengelus kepalaku, keningku, mataku... membisikkan kata-kata penguat untukku agar terus bertahan.
“Livia...” ada satu suara yang ku kenal memanggilku. Ku arahkan pandanganku ke ambang pintu, di sana ada Dita yang tengah menatapku dengan mata yang sembab. Di sampingnya ada Tama. Aku tersenyum tipis menyadari kehadiran mereka. Sahabatku. Terimakasih sudah menjengukku..
“Liv, kamu harus bertahan, okey..” ucap Dita. Dia langsung memelukku dengan derai airmatanya. Tama berjalan ke arah kami. Dia cowok yang dulunya adalah harapanku. Harapan semuku. Harapan yang tidak pernah ku gapai...
Dia tersenyum ke arahku. Tak perlu ditanya, akupun sudah tahu kalau senyum itu bukan senyum yang tulus. Melainkan senyum sakit yang di tahannya agar tak terlihat sakit! Dia mengangguk beberapa kali. Pertanda menyuruhku agar terus kuat. Jangan menyerah menentang penyakitku.
Aku mengangguk kecil. Semakin lama waktu berjalan, semakin sakit pula yang kurasakan.
“A-ku...i-ngi-n ti-dur...” ucapku terbata. Sungguhlah sudah, aku tak sanggup menahannya. Bagaimanapun mereka memberiku semangat, tetaplah aku tidak bisa. Sangat sakiit...
Alfar tak membantah lagi kali ini. “Istirahatlah, Cha, sayang..” balasnya. Namun tetap bergeming di sampingku. Sekuat tenaga, aku berusaha menggenggam tangannya. Aku tak mau meninggalkannya. Melihatku yang kesusahan menggenggam tangannya, dia membantuku. Dia balas menggenggam tanganku. Aku tersenyum, airmataku jatuh.
“Al-..”
“Iya, sayang?” balasnya. Ku dengar beberapa kali dia menarik napas panjang. Menahan sesak didadanya.
“A-ku.. men-cin-tai-mu..” ucapku lirih. Dia mengangguk. “Aku juga. Sudah, kamu istirahat saja, besok kita akan ke taman lagi. Kamu sehat ya!” pintanya. Aku tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Tam..” ucapku memanggil Tama dengan lirih. Dia mengangguk. Seakan tahu apa yang akan ku katakan dia mengagguk dan merengkuh Dita yang berada di sampingnya. Menenggelamkan tangis Dita yang sudah merebak. Aku ingin dia menjaga Dita, mencintai Dita sebagaimana dia pernah mencintaiku, bahkan lebih.
Aku tersenyum lagi. Senyum termanisku untuk semua yang mencintaiku. Aku mencintai mereka. Sangat mencintai mereka. Alfar mengangkat selimutku menutupi separuh tubuhku. Tangannya masih ku genggam erat. Erat sekali. Setelah itu... gelap. Mataku terpejam...
***
Alfar menunduk dalam diam. Dengan segala sesak yang menyeruak di dalam dadanya. Tama menepuk-nepuk pundak Alfar. Berusaha menabahkan temannya itu. Sedang Dita, dia langsung keluar. Tak tega melihat sahabatnya pergi meninggalkannya. Meninggalkan semuanya. Meninggalkan apapun yang pernah mereka jalin.
Perlahan, tangan Livia yang menggenggam tangannya dilepaskan. Ditatapnya wajah elok Livia yang baru siang tadi tertawa bersamanya. Bersenda gurau dengannya. Yang baru tadi, beberapa menit yang lalu duduk bersamanya menatap sang bulan sabit. Menangis bersama. Memeluknya. Mengatakan sesuatu yang tak mau di dengarnya... dan kenyataan memang dia tidak akan pernah mendengarnya lagi.
Senyum itu mengembang di wajah Livia. Senyum kelegaan yang selama ini tak pernah dilihat Alfar. Wajah pucatnya terlihat cerah malam ini, seperti cerahnya yang rembulan. Di wajahnya seperti tak pernah terlihat sakit seperti sebelumnya. Tak ada guratan yang menggambarkan kalau dia menderita meninggalkan semuanya. Dia malah terlihat bahagia melepasnya. Rupanya rasa sakit yang diterimanya selama ini adalah beban yang berat untuknya. Maka dari itu, dia memelih cepat pergi untuk menanggalkan semua bebannya.
Dan secepat itukan dia meninggalkannya?
“Kamu harus bahagia, Cha. Bukankah kamu ingin bersama kak Andine di sana? Tersenyumlah, Cha bersama mereka. Bersama kakakmu yang sangat kamu sayangi...”
***
Dengan segenap raga, seutuhnya jiwa. Cowok itu terus memandang luasnya tanah lapang yang menghijau. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantung celananya. Sesekali dia menarik napas. Lalu menghembuskannya.
Ada satu penyesalan yang masih menyesakkan perasaan cowok itu, seandainya dia tahu lebih awal kalau Livia mengidap penyakit mengenaskan itu setidaknya dia bisa membantu untuk mencarikan transplantasi sumsum tulang belakang untuk kekasihnya. Sayangnya, semaunya terlambat! Livia telah pergi meninggalkannya setelah semuanya menyebar ke aliran darah serta saraf-saraf dalam tubuh Livia. Livia pergi dengan satu janji yang akan ditagihhnya pada kehidupan kedua yang kekal dan abadi tanpa ada perpisahan lagi!
“Entah kapan, kita bisa bertemu lagi. Yang pasti, aku akan merindukan dan akan menunggu janjimu untuk memberikan semua cintamu kelak. I Love You, Cha-cha-ku.” Ucapnya lirih. Lalu berbalik dan meninggalkan taman cintanya.
Tak lupa secarik kertas yang ditemukannya di bawah bantal Livia tadi malam di lipatnya kembali dan dimasukkannya ke dalam saku celananya.
Surat Livia untuk Alfar :
Dear My Lovely Stupid Boy >u<
Taukah kau, kalau airmatamu itu menyakitkanku? Makanya, kau tak boleh meneteskannya untukku. Taukah kau, kalau senyum pahitmu itu menyiksaku? Makanya, kau harus tersenyum bahagia untukku. Taukah kau, kalau tawamu adalah kabahagiaanku? Makanya, teruslah warnai hari-harimu dengan tawa yang merekah untukku.Taukah kau, kalau hatimu juga tak mau kau bersedih? Makanya, buatlah hatimu bahagia, buatlah hatimu tersenyum, karena dihatimu ada aku!
Yakinlah, kalau suatu saat nanti kita akan bertemu, dan di saat pertemuan kita itu aku akan memberikan semua cintaku. Perasaan tak pernah luput. Meski tak bisa bersama di dunia, tapi kau harus tau kelak kita akan bersama.. selamanya! Tanpa ada perpisahan lagi. Aku sudah tersenyum untukmu. Sekarang giliranmu, tersenyum untukku!
Sampai Jumpa Alfar sayang.. you always become my Stupid Boy ^^

^^END^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar