Powered By Blogger

Rabu, 17 Agustus 2011

FEELING...? [7]

Pagi hampir menjelang, mataku sama sekali tidak bisa lagi kupejamkan. Terlalu sakit jika aku memejamkannya. Jarum jam masih berdetak, semuanya masih terpintas dibenakku tentang semua kejadian yang pernah menimpaku. Hingga aku bertemu dengan seseorang yang kuanggap dia bodoh. tapi, dia orang yang cukup bisa membuatku tenang.



“Liv, kenapa tidak tidur lagi?” tanyanya. Aku mengangkat wajahku menatapnya yang kini begitu dekat denganku. Semenjak, aku terbangun dari mimpi burukku, aku memintanya membawaku duduk di sofa ruangan VIP-ku. Dia menurut saja, dia merebahkan kepalaku di bahunya, merengkuh kedua pundakku dalam sebelah tangan kirinya. Dan kembali membuatku merasa bersama seseorang yang membawaku dalam sejuta ketenangan.



Aku menggeleng pelan, “Aku takut,” jawabku lirih.



“Tidurlah di sini, aku akan menemanimu sampai kamu terbangun lagi,” Alfar mengeratkan rengkuhannya.



Aku kembali menenggelamkan wajahku dibalik bahunya. “Terimakasih,”



“Sudah berapa kali kamu mengucapkan satu kata itu?”



“Kalau tidak mau aku bisa mengambil ucapanku tadi.”



“Oke, baiklah.. aku mau!” senyum tipis nan sendu terukir perlahan di kedua sudut bibirku.



Perlahan kelopak mataku kupejamkan, dan setelah itu aku tertidur dengan lelapnya direngkuhan Alfar.

Tidak pernah ku sangka, seseorang yang pernah tidak kuanggap kini begitu dekat denganku. Banyak pertolongan yang dia berikan padaku. Sejak hari itu, hari dia membawaku dengan paksa ke taman Rahasianya, dengan selalu menyudutkanku dengan pertanyaannya dan pikirannya yang keras kepala. Tidak ada lagi, kata stupid boy yang keluar dari mulutku, dia hanya tersenyum dan tidak pernah membantah setiap ucapan dan kemauanku. Tidak seperti ketika aku baru pertama kali bertemu dengannya. Selalu tercurah kemarahan, egoisme masing-masing, dan semua yang menjurus ke arah api kebencian.



Setiap kali aku memikirkan semuanya, ada pertanyaan yang belum bisa ku jawab dengan pasti..



Apa orang ini adalah malaikat yang diciptakan Tuhan untukku? Atau dua makhluk berbeda yang menjadi satu dalam jasad malaikat?



***



Jarum jam, sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mataku masih terasa berat untuk kubuka. Mungkin salah-satu efek khemo kemarin. Aku merasakan tangan Alfar masih merengkuhku. Dia ternyata menemaniku sampai aku terbangun, seperti janjinya.



Aku buka mataku dengan susah payah, tersenyum melihat orang itu masih mendekapku. Aku lepaskan tangan kirinya yang memegangi bahuku, secara pelan agar tidak membangunkannya. Tapi, tetap saja usahaku gagal, rupanya tidurnya tidak terlalu nyenyak.



“Eh Liv, sudah bangun?” tanyanya dengan mata masih separuh terpejam.



Aku hanya tersenyum simpul. “Tidur saja lagi,” kataku.



“Aku kan harus sekolah, bagaimana sih kamu.”



“Oh, iya. Lupa.” Jawabku sumringah.



“Heh, masih muda jangan pelupa!”



“Hehe maaf,”



“Sekarang jam berapa?” tanyanya seraya melepaskan pelukannya dan mencari-cari jam tangannya. “Hah? Jam tujuh? Wow aku telat Liv. Kamu sudah makan?”



“Kamu berangkat saja, aku bisa makan sendiri. Nanti Tama juga datang kan?”



“Ehm, meskipun Tama datang tapi aku merasa tidak enak denganmu, tugasku mengawasimu makan dan

membantumu dalam masalah pengobatan!”



“Oke.. oke.. aku makan, tapi kamu harus pergi. Nanti guru-guru malah marah lagi sama kamu.”



“Ciie.. perhatian sekali kamu? Suka sama aku ya?”



“Heh, benar begitukan keadaannya, nanti kalau kamu telat terus kena marah. Kamu kasih alasan jagain Livia bu,

kan akhir-akhirnya aku juga yang kena! Stupid boy!!” aku mendesah, mulai kan virusnya??



“Ya elah, sama calon pacar sendiri ngomelnya panjang banget!”



Aku mendelik, “Hah? Calon pacar? Ih siapa juga yang mau jadi pacar kamu, calonnya saja aku sudah tidak mau, apalagi pacar kamu?”



“Santai non Chandani..”



“Dasar stupid boy!” wajahku mulai menekuk. Sewot, tapi bahag..ooh tidak, aku tidak bahagia...



“Aku pulang ya, kamu harus makan dan minum obatnya, biar cepat pulih lagi!” katanya, perhatian sekali dia.



“Iya Tuan Devin...” jawabku sok manis. Dia tersenyum, dan terdiam sesaat tidak berapa lama, dia kembali melayangkan kecupan hangat di keningku―untuk kedua kalinya.



“Daah..” dia berdiri dan meninggalkanku.



Aku kembali tersenyum, senyum yang aku sendiri tidak mengerti artinya. Mungkin, senyum bahagia dan senyum perasaan yang masih dalam tanda tanya???



***



Siang ini, yang kurasakan hanya kesepian. Setiap detik. Setiap saat. Aku hanya bisa berharap agar hari ini menjadi hari yang sama indahnya dengan hari kemarin. Aku selalu berharap kalau waktu bisa kembali, kembali membuatku melayang. Kembali membuatku terbuai dalam keindahan. Sayangnya, itu hanya sebuah harapan yang tak akan bisa untuk di penuhi. Salahnya aku, semuanya telah ku sia-siakan. Kasih sayang, cinta dan semua rasa berusaha ku abaikan. Namun, semuanya tetap menghantuiku. Perasaan yang dulu, harapan yang pernah ku miliki, kebahagiaan yang dulu sempat ku gapai semuanya akan hilang dalam hitungan bulan, hari bahkan detik...



Mencintai.. sebuah perasaan yang berawal dari tatapan mata dan perasaan sayang kepada seseorang. Percayakah kamu akan satu hal yang di miliki cinta? Aku rasa aku percaya. Suatu hal yang begitu menyakitkan apabila kita memilikinya... apa lagi, kalau bukan harapan dan bayang-bayang. Perasaanku selalu berkata, berhentilah berharap karena itu hanya bisa menyiksa dirimu. Tapi tetap saja rasanya aku tidak bisa untuk membuatnya memudar dari kehidupanku. Karena bagiku, harapan akan menjadi sebuah kenyataan.. entah itu di dunia atau mungkin di tempat lain. Tempat di mana semuanya menjadi kekal.. tempat di mana semua impian menjadi nyata, tempat di mana sebuah harapan akan menemuimu dengan cintamu..



Memang, awalnya berharap sangat menyakitkan.. terlebih ketika seseorang yang kita beri harapan tidak peduli atau bahkan mengabaikan kita.. itu lebih dari menyakitkan.. sangat menyiksa diri bahkan batinku. Tapi, aku yakin dengan berharap maka artinya kita masih memiliki kesempatan untuk sesuatu yang kita harapkan.



Jika kalian di hadapkan dengan dua pilihan yang berbeda, mana yang kalian pilih? Orang yang mencintai kita kah? Atau orang yang kita cintai?



Aku akan memilih orang yang mencintai ku.. dengan begitu aku tidak akan merasa sakit hati... dia akan selalu bersama kita kapanpun dan apapun keadaan kita. Sedang ketika kita memilih pilihan kedua, aku yakin hal itu hanya akan membuatmu tidak betah dengan keadaanmu. Yakinlah!!



Tama... seseorang ku cintai tapi mungkin tidak mencintaiku... dia berpacaran dengan sahabatku. Setiap kali aku melihatnya bersama dengan Dita―sahabatku sekaligus pacarnya―jujur aku merasa sangat cemburu. Karena aku yang mencintainya... apalagi, ketika aku menatap matanya, dia seperti memberiku harapan... maka dari itu aku bisa berharap padanya... sayangnya, harapanku sampai saat ini belum terpenuhi. Meskipun, selama aku berada di rumah sakit, dia juga mengunjungiku dengan jadwalnya.. memperhatikanku, tapi aku hanya menganggap perhatiannya itu hanya sebatas perhatian kepada sahabat atau adiknya.



Alfar... seseorang yang selalu membuatku kesal, karena tindakannya yang kadang terlewat bodoh―meskipun itu sama sekali tidak bodoh, mungkin hanya anggapanku karena dia terlalu berlebihan―berlebihan dalam artian suka seenaknya. Dan karena kekeras kepalaannya yang membuatku tidak bisa berkutik ketika aku bersamanya, selalu membuatku tersudutkan dengan kalimat paksaan dan kalimat ancaman. Karena kekeras kepalaannya pula, akhirnya aku berkata jujur tentang diriku. Bahwa aku mengidap kanker... sejak itu.. perhatiannya padaku memuncak, setiap saat selalu ada untukku, menghiburku, membantuku, menenangkanku dengan caranya sendiri. Tapi, aku tidak tahu apa maksud di balik semua perilaku baiknya padaku? Mencintaiku kah? Atau juga perhatian sebatas teman? Belum bisa terjawab. Tapi.. cukup untuk membuatku beralih hati padanya...



Seringkali aku disergap oleh kebimbangan dengan adanya dua teman cowok ku. Berbeda tapi sama... entah dimana kesamaannya, aku tidak tahu! Mungkin sama-sama tampan, sama-sama baik, sama-sama perhatian.. tapi hatiku bilang bukan itu, jadi aku mengalah dengan perasaanku.



Sebuah bros terpampang di atas lemari makanan ruanganku, aku menjalankan kursi rodaku mendekati lemari makanan yang terletak di samping tempat tidur. Aku meraihnya, menggenggamnya di telapak tanganku dengan segenap jiwa ragaku. Bros ini selalu bersamaku, sesuai permintaan empunya.



“Apa maksudnya memberiku bros kecil ini?” aku bergumam pelan sambil tersenyum hambar. “Adakah dia mempunyai perasaan yang sama padaku?” aku tidak bisa menyembunyikan semua pertanyaan itu di dalam hatiku. Jadi, ku keluarkan saja. “Atau hanya sebuah kenang-kenangan karena aku akan meninggalkannya?”



Ooh Tuhan, Engkau adalah sutradara terhebat sejagad raya ini, penulis skenario kehidupan terbaik sealam semesta... bisakah Engkau memberiku sedikit kepastian tentang hidupku? Sediikiit saja... hanya tentang kisah hidupku, agar aku bisa menjalaninya dengan baik dan mudah.



Aku pasangkan bros yang ada di tanganku ke kemeja biru khusus patien yang menempel di tubuhku. Ku biarkan bros ini bersamaku, sampai aku tidak kuat lagi.



“Jangan menjauh....Tetaplah disini... bersamaku...” gumamku mengulang ucapan Tama ketika aku akan beranjak meninggalkannya di Pantai pasir putih nan indah.



***



Waktu memang tak pernah mau mengalah, dia tetap berjalan maju meskipun kita memintanya untuk berhenti sejenak untuk menghilangkan sedikit rasa lelah dan gundah yang menyelinap di hati.



Hari ini, hari pertamaku kembali masuk ke sekolah. Seperti biasa, Alfar lah yang selalu menjemputku. Dia terlewat baik untukku. Sangat baik. Aku tidak bisa menafsirkan kebaikannya. Terlalu sulit untukku.



“Selamat pagi, Azkadina Livia Chandani...” sapanya bersemangat. Aku tersenyum tipis.



“Pasti banyak tugas ya di sekolah?” tanyaku tidak bergairah.



“Em bagaimana ya? Kalau buatku sangat banyak tapi untuk mu―sangat sedikit―guru-guru memberimu keringanan dalam hal tugas.” Jelasnya. Aku termangu mendengan pernuturannya.



“Maksudmu?”



“Ya, aku memberi tahu guru-guru secara pribadi...”



“APA?” jeritku kaget dan setengah berteriak.



“Tenang dulu, ini demi kebaikanmu.”



“Tapi bukan untuk kebaikanku, kenapa kamu melakukannya?” adrenalinku mulai terpacu, aku tidak mau orang tahu tentang penyakitku, dia malah memberi tahu orang lain. Terlebih yang dia beritahu para guru-guru.



“Aku melakukannya untukmu, semuanya untuk kesehatanmu! Tidak lebih.”



“Tapi aku tidak butuh itu semua! Paham?” emosiku nyaris tak terkendali.



“Kamu membutuhkannya Liv,”



“Aku bilang tidak!! aku lebih suka hidupku tidak diketahui orang lain,” suaraku meninggi.



“Kenapa?” dia balas dengan suara yang setara dengan suaraku.



Aku terdiam. Entah kenapa kelimat itu mengalir dari mulutku. “Itulah aku,” jawabku singkat.



“Kalau begitu, aku mau hidupmu sekali saja diketahui orang lain!”



“Aku tidak mau!”



“Kalau aku mau?”



Sikap kekeras kepalaannya keluar. Sudah berapa kali dia memaksaku? Ini hidup yang buruk, sejak aku bertemu dengannya hidupku benar-benar berubah. Bukan dalam segi fisik ataupun batin. Bukan pula materi. Tapi semua yang bersangkutan dengan hal yang ada dalam diriku. Aku menjadi seseorang yang terbuka karena paksaan. Bukan keinginanku sendiri.



“Berapa kali kamu memaksaku?”



“Berapa kalipun itu tidak penting bagiku, yang penting semua ini demi kebaikanmu.”



“Harus kah aku selalu memenuhi kekeras kepalaanmu?”



“Ya,”



“Kenapa?”



“Sudah aku bilang, karena aku tidak mau kehilangan seseorang karena sesuatu yang sama dengan kakakku!”



Kepalaku kembali terasa pening mendengar kalimatnya. Dia sering berkata seperti itu. dan aku juga sering mendengar kata itu, tapi lebih sering dibanding dengan dia mengatakannya.



“Livi, kamu tidak kenapa-napakan?” suaranya merendah ketika matanya menangkap wajahku yang kurasa sudah mulai pucat.



“Aku tidak apa-apa,” jawabku singkat. Kerap kali sesuatu berputar di kepalaku. Tapi aku tidak tahu apa. rasanya, seperti kalimat yang barusan diucapkan Alfar padaku. Alfar menatapku seolah aku kembali sekarat.



“Kita berangkat sekarang,” dia membantuku berjalan mendekati mobilnya yang terparkir manis di depan rumahku. Dia bukakan pintu mobilnya untukku. Aku jadi merasa bersalah, sudah berkata kasar padanya. Kenapa tidak aku turuti permintaannya kali ini, aku akui dia benar dalam masalah pelajaran kalau aku terlalu banyak pikiran penyakitku akan semakin memburuk. Tapi, meskipun tidak tetap saja penyakitku juga akan memburuk dan tidak berbeda akhir-akhirnya aku juga akan mati.



Alfar masuk ke tempat kemudi, dia pasangkan selfbelt untukku. Beberapa saat dia memandangi wajahku yang memang pucat untuk kali ini.



“Kamu sakit lagi?” tanyanya penuh perhatian.



“Aku tidak apa-apa, sudahlah aku tidak mau meninggalkan pelajaran lagi. cukup sepuluh hari!” jawabku. Aku

yakin, seandainya aku tidak berkata seperti itu dia menyuruhku pulang dan istirahat di kamar.



“Kamu yakin, wajahmu pucat Liv?” tanyanya lagi, suaranya melemah bahkan nyaris tidak terdengar olehku. Dia uraikan jemarinya menyentuh wajahku. Jantungku kembali terpacu, perasaanku tidak menentu. Tuhaan.. ada apa ini? kenapa aku merasakan getaran itu? getaran yang dulu pernah aku rasakan ketika bersama Tama.



Aku tepis jemarinya pelan, “Ayolah Alfar, aku tidak apa-apa, aku yakin aku akan baik-baik saja.” Jawabku menenangkannya. Ya meskipun begitu aku memang merasa aku tidak akan baik-baik saja... karena kepalaku, perut begian bawahku kembali merasa nyeri. Persis sama seperti waktu aku akan khemo pertama kali.



“Liv...”



“Alfar.. cepatlah, sudah telat! Kamu mau diliburkan Pak Deni gara-gara telat?” susulku cepat sebelum Alfar benar-benar mengeluarkan jurus kekeras kepalaannya dalam hal menanganiku. Dia mengangkat bahunya kecil, kemudian menyalakan mesin dan langsung tancap gas.



Sebelumnya, pak Deni itu guru pelajaran Sosiologi. Dari jaman jahiliah mungkin beliau sudah dikenal dengan guru yang disiplin bahkan super duper disiplin. Apalagi kalau beliau lagi jaga alias piket jaga gerbang. Muridnya telat, pulang! Di liburkan―dengan catatan alfa―sama dengan bolos. Padahal beliau sendiri yang meliburkan dan melarang muridnya masuk!



“Oya Liv, besok kamu Khemonya di temani Tama saja ya.” Alfar membukakan pintunya untukku.



“Hah? Kenapa?” tanyanyaku spontan. Kaget. Kenapa Tama?



“Mm itu, soalnya besok sepupu aku mau datang jadi aku disuruh jemput dia.” jawabnya. Hmm.. aku tidak khemo sama Alfar dong besok? Aku membatin. Kenapa aku jadi sedih Alfar tidak menemaniku khemo? Harusnya aku bahagia, apalagi khemonya di temani oleh Tama. Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasakan bahagia atau kegirangan atau yang semacamnya ya? Aku merasa kehilangan! Hah? Apaan kehilangan? Tidak.. tidak.. kehilangan siapa? Alfar maksudku? Huaa ada apa dengan ku?



“Liv?” Alfar menyapaku. Aku masih bergeming di tempatku berdiri. Telingaku lagi error mungkin, karena aku tidak menjawab sapaan Alfar. “Helooo.. Chan!” sapanya lagi. di ikuti oleh lambaian tangannya di depan wajahku.



Aku tersentak. Wajahku terasa panas. Pasti sekarang warnanya kayak cabe rawit. Merah. “Eh, mm ada apa?” tanyaku.



Dia terlihat sedang mengulum tawanya. “Kenapa jadi gelagapan seperti itu?” tanyanya seraya melemparkan pandangannya ke wajahku.



“Seperti apa?”



“Seperti tadi? Sepertinya kamu tidak suka kalau bukan aku yang menemanimu khemo besok.” Tebaknya.



Aku mendelik padanya. “Eh enak saja, aku senang bukan kamu yang menemaniku khemo besok, jadi aku tidak lagi harus menuruti kamauan bodohmu seperti kemarin-kemarin!” aku berusaha mengelak tebakannya. Karena kalau sampai ketahuan, MATI lah aku!



“Oh begitu? Kalau begitu aku akan menyerahkan tugasku untuk menemanimu berobat pada Tama!!”



“Hah? Kenapa begitu?” tanyaku. Lagi-lagi dengan spontan. Dan terlihat sangat jelas kalau aku sangat terkejut. Ooh My God, sepertinya aku akan mati hari ini...



“Kenapa bertanya seperti itu? bukannya kamu senang kalau bukan aku yang menemanimu?” susulnya dengan tersenyum yang mampu memacu detak jantungku.



Pesonanya. Aku akui pesonanya begitu kuat! Dia mempunyai kharisma yang mendalam. Senyumnya. Tatapan matanya. Perhatiannya. Semuanya bisa membekukan sekaligus menghangatkan perasaanku. Mataku seolah menempel pada satu titik saat ini. satu titik yang terlihat jelas di mataku. Tapi... dia juga seakan menjadi semu untukku! Apa maksudku? Apa aku sudah berpindah hati? Secepat inikah? Apa dia pilihan hatiku? Yang benar saja? Oh tidak..tidak..



Tidak mungkiiiin!!!!



Aku tidak boleh berharap lagi.. cukup pada satu orang. Tama. Oke fokuskan hatimu pada harapan dan impianmu Livia!! Jangan ke lain lagi, jangan sampai! Ingat itu!!



“Oh tentu, aku senang bukan kamu, kapan kamu akan menyerahkan tugasmu?” tanyaku secepat mungkin.



“Besok.”



Secepat itukah, dia menyerahkan tugasnya? Apa aku kecewa?



“Mm.. besok?” tanyaku ragu.



“Ya. Dengan begitu, kamu bisa bahagia bukan? Dan dengan begitu juga, aku bisa menghabiskan masa kelas tigaku bersama sepupuku!” dia sepertinya senang melepas tugasnya. Asiiik..” serunya.



Bingung. Takut. Sedih. Bukan bahagia. Sekarang ada dalam hatiku. Apa dia serius dengan ucapannya? Kenapa tiba-tiba rasanya hatiku merapuh, apa memang hanya sebentar aku bahagia dengannya setelah hari-hari yang aku lalui di rumah sakit kemarin? Tertawa, tersenyum, bercanda, bahkan menangis dipelukannya. Apa itu hanya bisa ku rasakan kemarin?? Tidur di sofa seperti saat itu? bersama Alfar...



Mendengar kegirangan yang diucapkannya barusan. Aku hanya mengangguk dan membuang pandanganku ke jendela di sampingku. Mencoba menafsirkan isi hatiku. Mencoba memberikan setikit ketenangan pada perasaanku yang baru saja terasa menusuk karena di tusuk!



Well... sepertinya benar, aku sudah beralih hati...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar