Powered By Blogger

Jumat, 29 Juli 2011

FEELING...? [3]

Di sela keseriusanku dalam pertanyaan heboh tiba-tiba sebuah suara membuatku tersadar, “Aku duduk di sini ya?” buru-buru aku mengangkat wajahku mengarahkan ke asal suara. Dan tercengang melihatnya.

Astagaa, aku mendengus kesal sambil menatapnya. Dia lagi, dia lagi.. kapan hidupku bisa tenang.

“Kenapa kamu...” mataku mendelik padanya.

“Iya, aku sekolah di sini dan kelasku juga di sini.”

“Aku tidak bertanya seperti itu.” aku mengelak dari jawaban yang dia ajukan.

“Ternyata kamu pintar nge-les ya? Aku pikir kamu orang nya bodoh dalam segala hal.” Aku kembali mendelik pada cowok yang satu ini.

“Kamu mau cari masalah ya?” aku menggulung lengan seragamku. Dia mundur beberapa centi.

“Weiiits, ternyata kamu galak juga..”

“Grr, bisa diam tidak..” ucapku emosi melihat cowok di depanku yang sepertinya cukup tangguh dalam masalah adu mulut.

“Aku kehilangan kunci mulutku, kemana ya..” katanya membungkukkan badannya seakan benar-benar kehilangan kunci mulutnya. Aku hanya menghela napaaas
paaannnnjaaaaaang melihat tingkah cowok bodoh di depanku.

Dengan sigap, aku berdiri dan akan meninggalkan kelas. Tapi sayangnya, bel masuk berbunyi nyaaaariiiing, sampai-sampai aku harus membatalkan niat keluar kelas. Ketika aku membalikkan badanku ‘stupid boy’ itu berdiri tepat di belakangku hingga aku menabraknya dan kehilangan keseimbangan pertahanan kaki, akhirnya aku nyaris berciuman dengan cowok itu. Dia menahan tubuhku yang melayang ke arah tubuhnya. Perhatian di kelas langsung terarah pada kami berdua. Termasuk, Dita dan.. ya ampun.. Tama juga.. sesegera mungkin aku langsung melepaskan tangan stupid boy itu dari kedua pundakku.

“Jangan cari kesempatan!” kataku tajam. Menanggapi perkataan ku tadi cowok yang menangkapku hanya tersenyum manis. Hah? Apa tadi? Manis? Ahh tidak menurutku dia sama sekali tidak manis. Tapi.. dia sangat tampan.. eits apaan lagi nih.. tampan? Oh my God, aku bilang dia tampan? Cuiiih, itu juga tidak sama sekali.

“Boleh tidak aku duduk di sebelahmu?” tanyanya lagi. Aku tak menggubris pertanyaannya kali ini. Dengan tenang yang dipaksakan, aku kembali membuka buku kimiaku dan berusaha fokus ke sana.

***

“Perkenalkan nama saya, Alfarizal Athaa Davinza. Kalian bisa memanggil saya Alfar oke.. tapi terserah lah mau manggil saya apa.. yang penting tidak melenceng dari nama saya.” Ucap cowok yang bernama ‘Alfar’ itu di depan semua murid kelasku, membuat semuanya tergelak. Tapi, tentu saja aku tidak.

Dia sama sekali tidak bisa di bilang jelek, semua orang mengakui kalau cowok itu tampan. Tapi, apa aku juga termasuk ya??

“Saya pindahan dari Jerman.” lanjutnya setelah berhenti sejenak. Tak ada yang melontarkan pertanyaan, biasanya kalau mereka melihat cowok tampan pada klepek-klepek tuh.

Dia kembali duduk di samping ku. Setelah, ibu Ema menyuruhnya duduk tentunya. Ya, itu kesialan ku untuk hari ini. Pelajaran pertama ini, Dita duduk di belakang bersama pacarnya. Tau kan siapa? Dan yang semakin membuatku bingung, Bu Ema juga
membolehkan stupid boy itu duduk disebelahku.

“Kamu sudah tahu namaku, sekarang siapa namamu?”

“Livia,” jawabku singkat.

“Oo Azkadina Livia Chandani, bagus,” dia tersenyum jail. Loh? Kenapa dia tahu namaku? “Hehe, tuh di buku tulis kamu.” Lanjut Alfar menunjuk buku tulisku. Sekali lagi aku mendengus melihat stupid boy itu.

Bu Ema memulai pelajaran kimia. Dengan hati galau dan sebal dan dengan paksaan aku mempelajari pelajaran itu. Hingga pelajaran itu berakhir dengan kegemparan seisi kelas XII atau yang lebih tepat kelasku. Ibu Ema menutup pelajarannya dengan FT―Free Tes― yang soalnya susahnya minta ampun. Kalau tidak
membuka buku, dijamin tidak akan bisa menjawab soal dari beliau.

***

“Ikut ke kantin ya..” aku bergelayut manja di lengan Dita. Ya, apa boleh buat daripada bersama dengan stupid boy di kelas lebih baik ikut Dita makan di kantin... tapi bukannya lebih baik malah tidak lebih baik. Karena aku akan menyaksikan adegan pacaran di kantin.

Seperti biasa, aku mengekor di belakang mereka. Memuakkan. Aduh, mana betah aku seperti ini. Benar-benar seperti kulit kacang, setelah kacangnya dilahap habis kulitnya ya dibuang begitu saja. Aku memohon agar ada seorang teman yang menemaniku di sini, kecuali bukan...

“Haloo, boleh gabung kan?” ya ampuuun, benar-benar sinting!! Aku minta bukan stupid boy itu, tapi kok malah...

“Eh, Alfar. Boleh kok,” jerit Dita bersemangat.

“Eh jangaan, aku tidak mau dia gabung di sini.” Protesku menggema di kantin. Dan langsung menjadi pusat perhatian.

“Ya ampun, Cha-cha ini. Rupanya cewek di sampingku ini suka sekali ya marah?”

“Eh, apa katamu? Kamu memanggilku apa?”

“Cha-cha..”

“Hah Cha-cha? Kamu benar-benar mencari masalah dengan ku ya!”

“Aku membolehkan semua orang memanggilku dengan sebutan apa saja kan? Nah kalau begitu, kamu juga begitu.” Kata-katanya itu loh yang membuatku enek. Kenapa begitu??

“Aku setuju,” timpal Dita membuatku mendelik dan menatap Dita dengan sorot tak setuju. Dita hanya mengulum senyumnya.

“Aku tidak setuju..” tandasku setajam mungkin.

“Ini makananmu,” Tama datang dan menyerahkan seporsi mie ayam padaku. Membuatku melongo karena bengong dengan tingkahnya. Jelas saja aku bengong, mangkok mie ayam itu seharusnya untuk Dita kenapa dia berikan padaku. Padahal, jelas-jelas Dita ada di sana. Aneh!!!

“Buatku?” aku menatapnya untuk memastikan. Dia mengangguk dan duduk di depanku tepatnya di samping Dita.

“Dita?” aku memandangi Dita.

“Tuh,” Tama mengarahkan dagunya pada seorang pelayan kantin yang membawakan seporsi mie ayam untuk Dita, dan tentunya semakin membuatku bingung dan aneh.

Dita tersenyum. Senyumnya juga terlihat aneh.. astagaa,,, kenapa lagi???

“Aku minta,” Alfar meraih garpu di mangkokku dan menggulung mie ayamku, dengan cepat dia masukkan mie ayam yang melilit di garpu tadi ke mulutnya, hingga aku kembali mendelik padanya.

“Ini punyaku,”

“Aku kan cuma minta, mau ku ambil semuanya?” dia malah melontarkan pertanyaan yang membuatku menjauhkan mangkok mie ayamku dari hadapannya itu.

“Kamu tidak makan?” tanya Dita. Alfar diam, kemudian menggeleng.

“Kenyang,”

“Kenyang tapi malah ngembat punya ku,” aku menggerutu kesal, kemudian memakan sesendok demi sendok mie ayam yang ada dimangkok di depanku.

***

“Kalian pacaran udah lama ya?” Alfar menatap Tama dan Dita bergantian. Bukannya menjawab mereka malah saling melempar pandang. Tak berapa lama, Dita mengangguk cepat sedang Tama, dia tidak memunculkan reaksi apa-apa. Dan yang ada malah menimbulkan sedikit kecurigaan di hatiku.

“Oh, berapa lama?”

“Tiga bulan,”

“Dua bulan,” jawab Tama dan Dita serempak. Tapi, jawabannya berbeda. Apa-apaan ini?

“Kenapa berbeda?” timpalku. Keduanya langsung saling pandang dan Tama yang menyahut.

“Dua bulan, mungkin Dita kelupaan atau kelebihan menghitung bulan.”

“Oo,” dan kali ini giliran aku dan Alfar yang mengeluarkan kata-Oo serempak. Aneh, itulah yang terbaca oleh mata dan otakku. Ada yang tidak beres diantara keduanya. Pacaran, tapi tidak kompak kan aneh tuh? Lagian Dita juga selalu cerita kalau, mereka berdua sangat kompak, tapi kenyataannya malah bertolak belakang. Ckck’

“Dia?” sekarang bodohnya Alfar kembali muncul. Telunjuknya mengarah padaku.

“Aku?”

“Siapa lagi?” susulnya cepat.

“Kalau aku bilang sudah, kamu mau apa?”

“Ooh sudah.” Dia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Benar dia sudah punya pacar?” dan kelanjutannya yang membuatku melongo, dia bertanya pada kedua orang di hadapannya. Aku langsung melemparkan wajah memelasku pada kedua teman dihadapanku. Dan, mereka.... MENGANGGUK.. dan aku... sangaaaat bahagia.. tapi...

“Sejak kapan? Sama siapa? Kenapa tidak bilang padaku?” Dita memberondongiku pertanyaan, hingga aku tak bisa menyembunyikan rona mereh wajahku.

“Ow, baru dua hari yang lalu, sama.. ehm sama itu siapa namanya aku lupa, pacaran jarak jauh sih..” jawabku gugup, buseet ketahuan banget bohongnya. Haha.

“Arkh kamu bohong ya??” giliran Alfar lagi nimbrung.

“Tidak, aku tidak bohong..” elakku cepat. Dan sekali lagi, aku mengakui kalau aku tidak pandai berbohong masalah begituan.

“Kenapa mukamu merah begitu?”

“Aku, merah?” aku mengangkat tanganku dan melihatnya dengan seksama bukan hanya tanganku tapi seluruh badanku.

“Bukan badanmu, tapi mukamu.” Timpal Tama mengulum senyum. Halah, sialan.. kenapa jadi aku yang disudutkan.

“Ahh, tidak.” bohong lagi. dasaar pembohong. Aku menggerutu dalam hati.

“Kamu mau bukti?” Alfar menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan sesuatu dilayarnya. Apa?? Foto ku? Alfar sialaan... dia membuatku benar-benar merah eh salah, marah maksudku.

“Jangan ambil gambar ku sembarang, aku tidak suka.” Aku menggebrak meja kantin, hingga ketiga orang yang berada di dekatku terperanjat. Tiba-tiba saja emosiku naik, aku membenci kameraaa.. aku tidak suka itu? itu bisa menyiksa batinku... aku mohon, jauhkan kamera ponsel itu, jauhkan. Pintaku dalam hati, dengan cepat aku meninggalkan kantin. Dita, Tama juga Alfar hanya menatapku dengan bingung.

***

Ingatanku melayang kembali melampaui waktu masa kecilku. Masa ketika seharusnya setiap anak kecil berbahagia, dengan segala benda dan orang-orang yang mereka sayangi. Dengan segala keceriaan yang bisa diabadikan. Dengan semua keindahan yang disimpan dikotak kenangan dan ketika merindukan keindahan itu, kotak kenangan pun bisa dibuka kembali. Tapi, itu bukan pada diriku. Bukan pada seorang Livia. Bukan pada seorang Cha-cha kecil yang mengharapkan hal itu terjadi padanya.

Kakakku.. pergi karena sebuah kamera.. aku membencinya!!!!

Apa kalian bisa membayangkan, jika seseorang yang amat sangat kalian sayangi dan juga menyayangi kalian pergi sangaaat jauh dan tak akan kembali, hanya karena sebuah benda yang sama sekali tak ada harganya.. sama sekali tak ada artinya.. sama sekali tak ada istimewanya.. Dia, benda itu telah merenggut seseorang yang sangat berharga, yang sangat berarti dan sangat istimewa untukku...

***

“Apa kamu baik??” Alfar melemparkan senyum padaku. Aku tak menyahut, langsung duduk di kursiku tanpa mempedulikan pandangan Alfar padaku. “Cha, kamu baik?”

Aku menatap tajam Alfar, raut wajahnya terlihat khawatir tapi itu bukan urusanku. “Berhenti memanggiku Cha-cha..” dia tertegun.

“Dita, kamu harus bertukar tempat duduk dengan cowok ini,” jeritku. Dita yang sedang asik mengobrol dengan Tama terpaksa bangkit dan menghampiriku.

“Kenapa?”

“Tapi, kalau kamu tidak mau aku yang akan pindah tempat!” aku bangkit dan menyandang tas selempangku lalu beranjak dari tempatku menuju sebelah Hendra. Sebenarnya, Hendra itu bisa di bilang lebih buruk dari Alfar, tapi.. hanya dari segi ke-Playboy-annya.

“Aku duduk di sebelahmu mulai saat ini.” Kataku menggebrak meja dan langsung duduk di sampingnya. Hendra terkejut.

“Kenapa? Kamu naksir denganku ya?”tanyanya membuat bulu kudukku langsung bergidik. Hah? Buseet dah.. mimpi apa aku tadi malam?

“Tidak,” aku sudah duduk manis di samping Hendra.

“Tidak boleh.” Jawabnya singkat.

“Kenapa?”

“Ada seseorang menunggumu...”

“Siapa?”

“Tuh...” dia mengarahkan ujung mulutnya yang sedikit dia monyongkan ke arah tempat dudukku. Apaaaa??? Alfaar??? Aku melihatnya melambaikan tangan manis pada ku. Oh my God..

“Ooh.. tapi.. aku mohooon kamu harus memperbolehkanku duduk di sini.. oke untuk sementara saja.” Aku memasang tampang memelasku. Tapi..

“Oke, tapi kamu harus mau jadi pacarku..”

“APAAA???”

“Ehem..” dia mengangguk pasti. Ya ampun.. kenapa orang disekitarku jadi foolish semua ya???

“ehm, ahh kamu bercanda... kalau begitu aku duduk di tempatku saja.” Buru-buru ku raih lagi tas selempang beserta buku dan benda-benda milikku yang lain
dan aku tinggalkan Hendra.

“hahah... kenapa tidak jadi?” Alfar mempertawakanku, hiiiiiih dasaaar Livia kenapa kamu juga ikutan bodoh!

“Dia sama bodohnya kayak kamu.”

***

“Maaaa.. sakiit...” aku berteriak sekuat tenaga.. meskipun sudah berteriak begitu tetap saja rasanya kepalaku pecah. Sepulang sekolah, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke tempat tidurku. Kepalaku nyeri, semua anggota tubuhku rasanya sama sekali tidak bisa ku kendalikan.

“Mama panggil dokter dulu,” mama berlari panik keluar kamarku menuju ruang tamu.Tuhan, tolong jangan beri aku sakit seperti ini.. aku mohon, aku tak sanggup.. air mataku sudah tak bisa keluar lagi.

“Sebentar lagi, dokternya datang. Kamu yang kuat ya sayang...” mama membelai lembut rambutku. Mama meneteskan airmatanya. Aku tak bisa melihatnya menangis seperti ini. Aku tak boleh membuat mama menangis karena mengkhawatirkanku. Aku... tapi.. apa aku bisa? Apa aku bisa bertahan.. aku mohonn Tuhan, jangan biarkan mama mengkhawatirkanku. Aku tak mau membuatnya menangis seperti ini. Aku mohon..

Aku menarik napas panjang, kemudian aku usakan senyum manis terukir di bibirku. “Aku sudah tidak apa-apa ma,” desisku pelan. Meskipun semuanya bohong. Aku harap mama mempercayaiku.

“Kamu tidak menghibur mama bukan?”

“Aku jujur,” desisku lagi. mama mencium keningku. Maafkan aku ma.. aku tak mau melihat mama lebih sedih lagi.. batinku.

***

Aku tak mungkin membuat mama semakin sedih dan sakit lagi. Aku tak mau kejadian yang dulu terjadi lagi padaku. Aku tak mau membuat mama menangis karena kehilangan kedua anaknya. Aku tak mau itu...

“Aku membenci hidupku,” bisikku di sela isak tangis yang langsung keluar dari diriku. Aku, kakakku dan tempat ini... aku tak mau mengulanginya. Cukup sekali.. dalam hidup ku juga dalam hidup mamaku.

“KAKAAAAAKK....”
Teriakan itu selalu membayangi hidupku. Penyakitku... juga perasaanku.. kenapa harus aku??

“Apa kamu selalu menangis kalau datang ke sini?” suara itu? suara seseorang yang sangat aku harapkan kedatangannya.. aku menoleh.

“Kakak...” bisikku pelan. Dia tak tersenyum juga tidak menyahut.

“Kenapa kamu selalu menangis datang ke tempat ini??” tanyanya lagi. dia duduk di sebelahku. Dengan cepat aku sambar tubuhnya. Aku merindukannya. Merindukan setiap kasih sayangnya. Merindukan semua perlakuannya padaku. Merindukan semua yang telah hilang dari hidupku.

“Aku rindu kakak..”

“Jangan menangis... buat mama tersenyum karenamu..” dia balas memelukku. Aku harap ini tak akan hilang lagi.

“Kenapa kakak per...”

“Sst,” dia menurup mulutku dengan telunjuknya, “Aku tidak pergi, aku selalu ada di dekatmu..”

“Tapi, aku tak bisa menemuimu lagi,”

“Aku akan selalu bersamamu, aku hanya ingin kamu membuat mama tersenyum bukan seperti ku yang hanya bisa membuat mama bersedih.”

“Tapi, mama akan tersenyum jika kakak bersamanya. Jika kakak ada di sampingnya membantunya..” tangisku semakin menjadi-jadi.

Dia tersenyum, “Maka dari itu, jadi lah pengganti hidupku jadilah seseorang yang membuat mama bahagia.. jadilah hidup ku yang berbeda.. jangan sepertiku.”

Tiba-tiba tubuhnya menghilang. Dia.. kembali pergi.. menghilang dari pelukanku, lagi! menghilang dari hadapanku.. kakak,bukan sebuah perpisahan lagi yang aku inginkan.. aku hanya mau kakak selalu di dekatku selalu bersamaku kapan pun, selalu menghiburku, selalu membuatku bertahan menghadapi cobaan hidupku... aku mohonn kakak.. jangan pergi lagi...

***

“Kakak..” aku tersentak. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Mama menatapku khawatir.

“Kamu kenapa sayang?”

“Aku mimpi...” mama mendekatiku. Ada kegelisahan dimanik mata mama. “Aku merindukan kakak,” mama memelukku erat dan hangat. Airmatanya membasahi rambutku. Mama menangis, karena aku, lagi!

“Kakak mu sudah bahagia sayang, dia selalu bersama kita.” Bisik mama. Aku tahu, mama sangat sedih. Aku tahu mama hanya ingin membuatku tersenyum, mama hanya ingin menghiburku. Mana mungkin kakakku selalu bersamaku dan mamam. Buktinya, dia tak pernah menemuiku.

“Aku tak bisa memeluknya lagi, aku sangat merindukannya.”

“Mama juga sayang,” mama semakin terisak. Bukan ini yang aku mau...

“Apa aku boleh menemuinya, sekali saja..” Mama tertegun, dia melepaskan pelukannya dan memandangiku. Dengan pandangan yang sangat sulit untuk ku artikan. Kepalanya menggeleng pelan.

“Kalau kamu menemuinya, kamu akan meninggalkan mama.” Aku tahu ini adalah hal yang paling bodoh yang keluar dari mulutku.

***

Seminggu yang lalu aku terpaksa tidak hadir ke sekolah. Semua karena penyakitku yang ‘katanya’ sudah semakin parah. Hari ini, aku diberi kesempatan untuk kembali menginjakkan kakiku ke sekolahku lagi. Sebuah kebahagiaan tersendiri untukku.

“Lama sekali kamu baru masuk? Wajahmu pucat, kamu baik?” Alfar memberondongiku dengan pertanyaannya yang ‘sok’ perhatian.

“Aku tidak kenapa-kenapa. Mungkin kelelahan.” Jawabku duduk di sampingnya.

“Hidung mu.” dia menunjuk hidungku, tak lama dia menyeka sesuatu di sana. Suatu cairan berwarna merah melekat di ibu jari Alfar. “Darah...” dia mendesis.

“Kamu sehat?” dia terlihat begitu khawatir. Dan itu membuatku teringat akan seseorang. Dia, yang telah pergi.

“Aku sehat,” kataku merogoh tasku dan mengambil sapu tangan. Buru-buru aku mengusapkan saputanganku ke hidungku. Dan benar saja, darah langsung melumuri sapu tanganku yang berwarna pink. Ah sial, kenapa harus di sekolah? Batinku merutuki penyakitku sendiri.

“Kamu sakit ya?” Alfar masih menanyaiku tentang kesehatanku. Dan tentu aku akan menjawabnya tidak, dan tidak akan pernah aku menjawab ‘iya’. Ingat itu!!

“Harus berapa kali aku bilang, aku tidak sakit.” jawabku nyaris setengah berteriak membuat keadaan kelasku yang ramai, menjadi sunyi seketika.

“Maaf,” kataku menunduk. Sejenak, kelas masih terlihat hening, dan sedetik kemudian semuanya kembali riuh.

“Ikut aku,” Alfar meraih sebelah tanganku. Dan membawaku ke suatu tempat yang sama sekali aku tidak tahu di mana tempat itu.

Di belakang gudang sekolah, ternyata di tempat itu mempunyai pemandangan alam yang sangat indah. Tapi, entah kenapa aku baru tahu sekarang. Padahal sudah hampir tiga tahun aku sekolah di sini. Sedangkan Alfar, sebulan pun belum genap, dia sudah tahu ada tempat seindah ini di sekolah.

Pepohonan yang rindang, bunga yang di tata rapi dan dibuat seindah mungkin. Rerumbutan yang sama ratanya, semua dipangkas hingga seperti ada hamparan karpet yang menghijau.

“Kamu tahu tempat ini?” dia menatapku dengan senyum yang saat itu juga bisa membuat tubuhku membeku. Senyum yang hangat. Entah kenapa, kali ini hatiku mengatakan kalau dia tidak sebodoh yang aku pikir. Eh salah, maksudku pikiranku bahwa dia bodoh itu tidak sepenuhnya benar. Dilihat dari postur tubuhnya saja, semua orang langsung terpesona. Matanya yang tajam tapi menenangkan. Aroma parfum yang memancarkan suatu kehangatan. Bibirnya yang tipis dan merona, pertanda kalau orang ini tidak pengguna ROKOK. Dan itu...
Heh apa-apaan aku ini??? Aku tidak memuji, tapi aku hanya mengatakan yang orang katakan..

Back to basic... aku menatap kagum keselilingku. Benar-benar pusat keindahan. Taman kota pun kalah indahnya. Ckck’

Aku menggeleng pelan. “Aku baru tahu sekarang.” Dia meluruskan pandangannya dan menghirup udara yang sejuk ditempat itu.

“Tempat ini adalah peninggalan cinta kakakku...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar