Powered By Blogger

Rabu, 13 Juli 2011

FEELING...? [1]

FEELING...?

            Hari-hari ku yang lalu tidak akan pernah terulang lagi, begitu juga hari-hari kalian. Karena waktu akan terus berjalan maju dan bumi akan terus berputar pada satu poros. Aku bukan manusia sempurna yang setiap saat bisa tersenyum dengan hati yang penuh luka. Bukan juga manusia yang setiap saat bisa menahan amarah dan tentu saja aku juga bukan manusia yang selalu bisa menahan suatu perasaanku terhadap orang lain.

           “Livia,” panggil seseorang dari belakangku. Langkah kakiku langsung aku tahan kemudian aku menoleh ke arah asal suara yang memanggilku. Tama memanggil ku. Dia teman sekelasku, pindahan dari sekolah favorit di Surabaya. Dia setengah berlari untuk menghampiriku. Aku menunggunya sampai dia berada di sampingku.

            “Apa?” tanya ku sedikit ketus. Dia masih berusaha menyempurnakan napasnya yang tersengal karena berlari.

            “Aku butuh bantuanmu,” ucapnya membuatku mengerutkan kening. “Besok aku harus pergi ke Surabaya untuk menjenguk kakek ku. Dan besok juga aku harus mengikuti lomba cerdas cermat mewakili sekolah kita.” Dia menghela napas sejenak, “Bisa kau menggantikan ku untuk mengikutinya?” tanyanya mambuatku melongo habis-habisan.

            Yang benar saja, aku harus menggantikannya dalam lomba? aku berbalik, dan itu membuatnya kembali mengikuti
langkah kakiku yang semakin cepat.

            “Bagaimana Liv?” tanyanya memastikan. Aku belum berani menjawab permintaannya. Besok lomba dan sekarang aku belum belajar sama sekali untuk persiapan.

            “Kenapa aku?”

            “Karena, kata Hadi kau pintar dan cerdas”

            “Hah?”dia mengangguk.

            “Kau tau, aku tidak mungkin menghadiri keduanya dalam waktu yang sama.” Katanya, aku tetap berjalan lurus ke depan tanpa menggubris ucapannya. “Dan seandainya kau berada pada posisi ku kau juga akan melakukan hal yang sama bukan?” mendengar ucapannya, langkah kaki ku terhenti.

            “Aku tidak mungkin bisa, Tama”

            “Kenapa?”

            “Karena, aku belum ada persiapan sama sekali,” jawabku jujur. Dia terlihat berpikir. Kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya dan itu membuatku bingung.

            “Aku akan membantumu malam ini,” aku langsung melongo mendengarnya.

***

            Pukul 07.23,,,

            “Livia,” panggil mama dari depan kamar ku. Malas sudah menggerogoti ku, sudah hampir satu jam aku berguling-guling di tempat tidur. Pikiran ku tertuju pada permintaan Tama pulang sekolah tadi, untuk menggantikannya mengikuti lomba. Dengan gontai aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu yang ku kunci rapat.

            “Teman kamu ada yang datang,” ucap mama menyadarkanku. “Laki-laki,” lanjut mama kali ini dengan tatapan menyelidik. Bulu kuduk ku sampai merinding melihat mama menatapku seperti itu.

            “Dia teman sekelas ku ma,” kataku malas.

            “Oya?”

            “Iya,” tanpa menunggu pertanyaan yang membuatku kabur nantinya, lebih dulu aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Ternyata orang yang mama maksud itu Tama, dia sudah duduk manis di sofa ruang tamu rumahku.

            Aku menghempaskan badanku di sofa dekat dinding. Kemudian menatap Tama sebal. Dia balas menatap dengan sorot mata yang lembut dan memelas.

            “Baik lah” ucapku singkat, karena aku tahu dia akan memohon hal yang sama seperti di koridor sekolah tadi siang.

            Senyum cerah langsung mengembang, dan dia menyerahkan sebuah buku matematika tebal pada ku. Aku hanya memandangi buku yang sudah ku pegang dengan bengong.

            “Kita mulai pelajarannya,” ucapnya bersemangat...

***

            Waktu mengerjakan soal sudah berjalan lebih dari separuh waktu. Dan aku baru mengerjakan tujuh puluh soal dari jumlah seratus soal. Astaga.. ini benar-benar membuatku gila. Masih ada tiga puluh soal lagi yang harus aku selesaikan. Otakku sudah buntu, sama sekali tidak ada jawaban yang masuk akal di kepalaku.

            “Anak-anak, waktu kalian tinggal sepuluh menit lagi,”

            “HAAAHHH???” pekik semua anak dalam ruanganku. Aku diam, aku berusaha mengerjakan lebih cepat lagi. tanganku terus mencorat-coret kertas buram yang diberikan oleh pengawas ruang tadi pagi. Otakku juga terus berputar menemukan jawaban yang paling tidak ada sedikit masuk akal dalam pertanyaan soal.   

             Waktu terus berjalan, tanpa memperdulikan masalah yang aku hadapi, tanpa memberiku sedikit toleransi. Menyebalkan..

            “Sekarang, kumpulkan semuanya,” perintah pengawas ruang. Whaat?? Masih lima buah soal lagi pak pengawas.. batinku memekik. Aku tidak bergerak atau yang lebih tepatnya aku tetap ditempatku. Sampai akhirnya pengawas ruang menghampiriku dan mencoba menarik paksa kertas jawaban.

            “Biar aku silang dulu jawaban yang tersisa.” Ucapku, dengan cepat aku menyilang jawaban yang ku anggap paling tepat. Lalu aku menyerah kertas jawabanku dan stelah itu aku berdiri kemudian berlari keluar ruangan.

***

            “Bagaimana lombanya??” tanya seseorang membuatku memekik pelan. Tama berada di depanku sekarang. Bukannya dia bilang dia akan pergi ke Surabaya? Lalu kenapa sekarang dia bisa berada di sini?

            “Kau?”

            “Hehe, keberangkatan ku dibatalkan,” ucapnya tersenyum.

            “Kau hampir membuatku mati,” ucapku ketus lalu meninggalkannya yang terus menatapku dari belakang.

            “Setidaknya kau masih hidup sampai saat ini” teriaknya yang terdengar jelas oleh semua telinga ditempat itu.

             Dia sudah membuatku jadi orang paling bego sedunia. Bersusah payah aku mengerjakan soal itu ternyata dia enak-enakan diluar. Sialan.. umpatku dalam hati.

             Dengan penuh amarah aku berjalan menuju ruang kelas IX-IPA 6, itu kelas ku. Perasaan ku benar-benar kacau, hari ini merupakan hari yang paling sangat tidak menguntungkan untukku. Dengan cepat aku menghempaskan tubuhku di bangku kelas. Dita sudah menungguku, matanya seperti sedang menyelidik ke arahku. Jelas saja aku jadi salah tingkah sendiri ditatap seperti itu, emang aku penjahat apa?

            “Masalah lagi?”

            “Yup,”

            “Tama?”

            “Hu.umb.”

            “Apa?”

            “Dia seperti mengerjaiku.” Jawabku sambil menatap tajam ke arah pintu kelas. Dita menyadarinya dan tersenyum penuh arti. “Katanya dia akan berangkat ke Surabaya, dan aku disuruh menggantikannya.”

            “Aku yang menyuruhnya,”

            “Hah?” Dita mengangguk lalu tersenyum sambil merangkul bahuku, dia membisikkan beberapa kalimat ditelingaku dan membuatku nyaris kehilangan nyawa karena shok mendengarnya.

***
            Mobil pak Manaf berhenti di depan gerbang rumah, dengan sigap aku melompat turun dan berlari ke dalam. Mama sudah menungguku di dapur, sepertinya mama akan memberondongiku dengan pertanyaan yang membuatku mati berdiri karena tadi malam.

            “Livia,” panggil mama lembut selembutnya. Aku mengernyitkan dahi karena bingung dengan suara mama yang begitu lembut menyapaku. “kemari sayang.” Ucap mama lagi. dengan pertanyaan yang berkecamuk aku berjalan menghampiri mama yang duduk di salah satu kursi di depan meja makan.

            “kenapa ma?”

            “Tama itu anaknya pintar ya?” hah? Apa kata mama? Dia memuji Tama atau malah menyudutkanku. “Mama kagum sama dia,” lanjut mama. Aku duduk di samping mama dengan wajah bengong.

            “Maksud mama?”

            “Mama liat tadi malam waktu kalian belajar bersama matanya selalu tertuju padamu. Bukan bukumu.” Jelas mama. Sekali lagi yang aku lakukan hanya melongo dengan mulut menganga.

            “Aku belum mengerti ma,”

            “Sepertinya dia menyukaimu.”

             Aku tersentak mendengarnya. Kenapa semua orang berpikiran begitu pada Tama. Kenapa semuanya berpikiran kalau Tama menyukaiku, ini dunia masih utuh kan ya?

            “Mama, jangan berbicara yang aneh-aneh.” Kataku, kemudian berlalu dari hadapan mama. Mama terus menatapku sampai akhirnya aku menghilang dibalik pintu kamar.

***

            Di kelas ku, aku merasa kalau ada seseorang yang memperhatikanku. Entah Cuma sekedar perasaanku atau memang kenyataan yang aku alami. Aku berusaha tidak menghiraukannya tapi selalu tidak bisa. Sepertinya, mata yang menatapku itu tajam sehingga aku tidak bisa menghindari perasaan ku.

            Bel istirahat berbunyi, teman seisi kelasku sudah hampir keluar semuanya. Hanya tinggal aku dan Dita yang berada di dalam kelas. Dan satu orang lagi yang baru aku sadari kehadirannya. Tama. Setiap melihatnya rasanya aku pengen sekali menjotos hidungnya, bayangkan setiap aku bertemu dengan dia. Dia selalu memandangiku dengan pandangan yang seakan-akan aku adalah barang antik yang berada di sebuah museum. Bahkan lebih dari itu.

            “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku ketika aku sedang memergokinya memandangku di kelas. Dia terlihat gelagapan, gugup dan wajahnya langsung memucat.

            “hah? Melihat mu?” jawabnya terdengar kaget. Aku mengangguk penuh arti. Dia menggeleng cepat dan keluar kelas tanpa berani menatapku lagi.

            Aku mengembalikan posisi dudukku, menghadap ke atas meja. Lalu meneruskan aktivitas membaca novel di dalam kelas.

***
            Gramedia..

            Kegiatan rutin mingguan yang tak pernah aku lewatkan adalah nongkrong di gramedia sambil membaca novel terbaru atau bahkan membelinya dalam jumlah yang lebih dari lima buah novel setiap minggunya. Aku berjalan memasuki gramedia dengan langkah pelan. Sambil melihat-lihat pemandangan yang sudah mulai membosankan, karena pemandangannya hanya ada lampu dan orang banyak yang berkeliaran ditempat itu. aku malah berdoa agar sekali saja aku bisa melangkah dengan tenang tanpa melihat keramaian di sekitarku. Aku membenci keramaian tapi tidak bisa menghindari keramaian. Itulah diriku.

            Ketika aku sedang asyik-asyiknya mencari novel dan buku-buku fiksi lain, ternyata eh ternyata cowok tengik itu berada di sampingku. Oh My God..

            “Mencari ini?” tanyanya sambil mengacungkah sebuah novel favoritku. Mataku terbelalak kaget.

            “Kau lagi,” pekikku menatapnya tajam. Dia balas menatapku tapi tak ada sorot ketajaman seperti aku menatapnya.

            “Ini, aku sudah membacanya.” Katanya lembut seraya menyerahkan buku itu padaku. Hanya satu kata yang bisa aku ucapkan dalam ketertegunan. “Terimakasih.” Lalu berjalan menjauh darinya.

***
            Dua bulan kemudian...

            Entah yang keberapa kalinya aku meneplak jidadku sendiri, menggeleng-gelengkan kepalaku, sampai memukul-mukul kepalaku. Selama satu minggu terakhir, perasaanku berasa begitu aneh. Apalagi ketika aku berpapasan dengan Tama, rasanya jantungku berdetak sangat cepat. Wajahku memancarkan rona yang membuatku harus menunduk ketika bertemu dengannya. Bahagia dan menenangkan langsung merasuk dalam jiwa ragaku. Apa kah ini perasaan...C.I.N.T.A..???

            Aku berdoa semoga perasaan yang aku rasakan tidak berakhir sampai di sini. Aku ingin dia mengetahui semuanya meskipun bibirku tidak terbuka dan bersuara. Aku berharap agar perasaanku tidak hanya terjadi pada diriku sendiri tapi juga dia.

            Sayangnya, semua yang aku harapkan, hancur dalam waktu kurang dari satu minggu. Aku sakit dan harus berobat keluar kota selama lima hari. Terpaksa aku tidak bisa bertemu ataupun berpapasan dengannya. Dan ketika aku datang ke sekolah, aku mendengar desas-desus para murid yang perlahan sampai ke telingaku. Tama jadian Dita sahabatku. Diam, diam dan diam itulah yang aku lakukan di dalam kelas. Aku pikir, Tama menyukaiku ternyata bukan aku yang dia sukai melainkan, Dita sahabatku. Rasanya hatiku sudah pecah menjadi kepingan kecil yang tidak bisa disatukan lagi. aku ingin menangis tapi aku tahan, aku tidak boleh mengecewakan sahabatku. meskipun aku sudah membohongi perasaanku sendiri.

            Aku akui, aku memang salah. Aku tidak menceritakan semua perasaan ku pada siapapun. Just me, ya hanya aku dan Tuhan yang tahu. Selain itu no other.. aku memendamnya sendiri, menahan perasaanku sendiri dan menyembunyikan semuanya sendiri.

            Oke, setelah kejadian itu hubungan ku dengan Tama merenggang. Dia tidak pernah lagi menguntitku. Aku tahu selama ini yang sering menguntitku adalah dia. Dita yang bilang padaku. Aku heran kenapa Dita memberi tahukan ku tentang masalah itu. Jujur aku merasa sangat kesepian sekarang, sangat bahkan lebih dari sangat...

            Setiap waktu istirahat dimulai, yang aku lakukan mengekor di belakang keduanya (Tama dan Dita), sangat menyakitkan. Dan ketika di kantin aku seperti benar-benar IDIOT karena mereka. Tapi, setelah aku menyadari sesuatu perasaan yang menyejukkan kembali merasuk. Entah kembali itu hanya perasaanku atau bahkan...

            Dia masih memperhatikanku melewati ekor matanya. Aku kaget, aku shok bahkan aku terkesima menyadarinya.

***
            Mama menungguku di teras rumah, kemudian tersenyum lembut. Apa mama mengetahui masalahku? Itulah pertanyaan yang langsung muncul dikepalakuu. Aku hanya balas tersenyum simpul.

            “Kamu punya masalah?” tanya mama menggandengku masuk ke dalam rumah. Aku menoleh kemudian menggeleng. Karena aku tidak mau membuatnya bingung dan kecewa. Aku harus bahagia di depannya. Dan kembali membohongi perasaanku.

            “Tidak ma,”

            “Lalu kenapa sorot matamu begitu sayu tadi pagi?” tanya mama lagi.

            “Lagi banyak tugas sekolah, setelah aku tidak masuk lima hari yang lalu.” Jawabku berbohong. Mama mengangguk lalu memebelai kepalaku lembut.

            “Kalau begitu, kau istirahat saja.” Usul mama, kemudian berjalan mendahuluiku dan masuk ke kamarnya. Aku terus memandang mama dengan tatapan meminta maaf. Dan aku juga berjalan memasuki kamarku.

            Aku hempaskan tas di atas meja belajarku, memilukan adalah perasaan hatiku saat ini. Seandainya bisa memutar waktu aku akan memutarnya kembali ketika Tama belum pindah ke sekolahku. Agar aku tidak mencintainya karena tingkahnya yang aneh dengan tatapan matanya yang juga begitu aneh terhadapku.

            “Why me?”
            Tanyaku, kemudian membentangkan tangan lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Waktu tak akan pernah
mundur. Dan itu semakin membuatku patah hati because of love...

***
            “Livia, kau tahu aku dan Tama kemarin...”

            “Maaf Dit, aku lagi tidak enak badan. Nanti saja ya kau cerita!” kataku memotong ucapan Dita. Sengaja, aku bosan mendengar cerita bisunya. Cerita hampa, cerita kosong dan tanpa makna darinya. Setiap hari, setiap waktu selalu dia ceritakan tentang Tama. Apa tidak ada cerita lain yang bisa menenangkan perasaanku?

            “Oh baik lah, mau ku antar ke UKS?”

            “Tidak, terimakasih. Aku akan pergi sendiri.” Jawabku berdiri dari tempat dudukku. Dan berjalan menuju pintu luar kelas, tak sengaja aku berpapasan dengan Tama. Ada tatapan yang membuatku bergetar di matanya. Tapi, segera aku tepis karena sekarang Tama adalah milik Dita.

           Apakah aku sanggup menahannya?

           Apakah aku bisa membendungnya?

           Apakah aku akan bertahan dalam keadaan seperti ini?

           Apakah aku akan merasakan kebahagian dengannya seperti dia merasakannya sekarang?

           Bagaimana jika aku gagal menyimpannya dan semua akan menjadi masalah besar bagiku...

***
            Kenaikan ke kelas XII...

            Sudah hampir setahun, perasaan itu menggantung tanpa terjatuh membentur perasaan orang lain. Sudah hampir setahun juga aku terus memendam perasaan ini tanpa ada yang tahu. Hampir setahun pula, aku selalu membohongi diriku, dirinya dan diri orang lain. Aku merasa hidup dalam kebohongan semata dalam dunia ini.

            “Peringkat pertama jatuh kepada...” kata kepala sekolah yang akan mengumukan juara kelas kenaikan tahun ini. “Livia Annisa Putri.” Sorak menggema di ruang aula sekolah. Aku berdiri dan tersenyum pada semuanya yang mengucapkan selamat padaku. Dan berjalan mendekati panggung.

            “Peringkat kedua jatuh kepada...” ulang kepala sekolah lagi, “Tama Rendra.” Sorak riuh kembali terjadi, setelah itu Tama berjalan menuju panggung dan berdiri di sampingku. Peringkat ketiga inilah yang membuatku sangat shok dan nyaris terhuyung. Dita Yunita. Astaga.. yang benar saja, ketika ujian semesteran dia meraih peringkat ke duapuluh dari empat puluh siswa dikelas ku.

            Setelah menerima hadiah dan piagam penghargaan aku turun lebih dulu dan langsung berjalan keluar aula. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, akupun pulang ke rumah dengan hati kepenuhan kapasitas.

***
            “Apa dia benar-benar tidak mengerti perasaanku?” aku menggerutu di dalam mobil. Pak Manaf menatapku lewat kaca spion mobil.

            “Siapa mbak?” tanya Pak Manaf tersenyum penuh arti, aku tertegun. Aku baru sadar kalau aku tidak sendirian berada di dalam mobil.

            “Orang gila pak.” Jawabku. Beliau terus menyunggingkan senyum padaku sampai aku jadi salah tingkah sendiri.

***
            “Mama,” aku langsung menghampiri mama yang terduduk lemas di sofa ruang tamu. Mama menoleh, dan menyerahkan selembar surat padaku. Aku tidak mengerti dengan apa yang mama lakukan. Mama duduk di sofa dengan mata berkaca-kaca.

            “Apa ini ma?”

            “Surat buat mu,”

            “Buat ku?” mama mengangguk lalu tersenyum miris. Perlahan tanganku membuka kertas surat yang terlipat yang mungkin saja baru mama lipat kembali setelah mama membacanya.

            SURAT KETERANGAN DOKTER, membaca kalimat awalnya saja tubuhku serasa melemah. Aku tak sanggup membacanya, aku tahu itu adalah hasil diagnosa penyakitku. Aku takut jika hasilnya membuatku semakin tak bisa bertahan.

            “Aku tidak bisa membacanya ma,” buru-buru aku melipatnya dan meletakkannya di atas meja. Lalu beranjak dari ruang tamu. Mama terus menatapku dengan tatapan iba dan menyakitkan.

***

            “Kau baik?” tanya Dita ketika aku sedang melamun di teras belakang rumahku. Aku tersentak dan menoleh padanya. Dita tersenyum tipis.

            “Ya, aku baik.” Jawabku singkat, kemudian balas tersenyum. Dita menyerahkan selembar surat yang tadi siang aku terima dari mama.

            “Aku mohon, lebih baik kau baca surat ini.” Pinta Dita. Aku menggeleng, aku tidak mau membacanya. Karena aku tahu isinya. “Kenapa?”

            “Aku takut,”

            “Penyakitmu akan sembuh, jika kau lebih cepat membacanya,”

            “Maksudmu?”

            “Kalau kau tahu penyakitmu lebih awal, pasti pengobatannya akan segara di lakukan,”

            “Memang kau tahu apa penyakitnya?”

            “Ya, mamamu memberitahuku...”

            “Apa?” aku bertanya dengan berat dan pelan tanpa berani manatap matanya.

            “Kanker,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar