FEELING...?? [2]
Mendengar jawaban Dita sekujur tubuhku melemas, bahuku berguncang pelan, tak berapa lama airmataku tumpah.
“Apa?” Dita memelukku, dia berusaha menenangkanku. Mungkin dia tahu apa yang aku rasakan. “Kanker?” bisikku pelan. Dita mengangguk, mengiyakan. Aku tertegun, cobaan apa lagi yang menghampiriku...
“Kau harus sabar, Livia.” Ucapnya membuatku semakin tersedu-sedu. Aku menggeleng masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Dita baru saja. “Tuhan mempunyai rencana yang indah buatmu.”
Sekarang, besok dan akan datang apa aku harus bertahan dalam penyakitku? Harapanku yang kemarin belum bisa aku gapai, dan sekarang aku harus membuka harapan baru. Ini hal terlalu berat untukku. Apa aku sanggup?
“Livia, Dita.” panggil mamaku dari belakang kami. Aku menoleh dengan tatapan sendu, mama menghampiriku dan Dita.
“Mama.” Aku meluruhkan pelukanku pada mama, mama balas memeluk sambil membelai lembut rambutku. “Aku tak mau,”
“Kamu harus bertahan, anakku.”
“Apa Tuhan membenciku?”
“Ssstt,” mama menutup mulutku dengan telunjuknya. “Tuhan selalu memberikan yang terindah untuk umat-Nya.” Ucap mama.
“Tante, aku permisi, aku harus pulang.” Dita berdiri dan melemparkan senyum pada mama dan aku. Aku tak membalas, kemudian dia mengelus bahuku sejenak lalu berjalan meninggalkan aku dengan mama.
***
Aku berjalan menyusuri trotoar ditepi jalan. Pikiranku sama sekali tak terfokus pada tujuanku, yang aku pikirkan sekarang hanya penyakitku yang akan menggerogoti seluruh tubuhku.
Kakiku terus melangkah menyeberangi Zebra cross, pelan dan seperti tanpa tujuan. Mataku kembali basah, mengingat yang telah menimpa ku. Penyakit dan perasaan hampa. Dua-duanya menyiksaku.
Tiiiiiiiiiinnn.... tiiiiinnn.. suara klakson menggema di tempat sekitar aku berjalan di jalan raya. Aku merasa sangat bodoh, yang ku lakukan bukannya lari atau kabur dari jalan raya itu. Melainkan diam ditempat dan menatap kosong ke segala arah, aku menyadari ditempat itu banyak orang yang meneriakkan kata-kata menyuruhku untuk segera menjauh tapi semuanya terasa sangat pelan hingga tak sanggup menembus pendengaranku.
“Nona minggir, menjauhlah dari tempat itu!!!!” suara teriakan itu sama sekali tak terdengar olehku.
Chiiiitt... kurang setengah meter lagi, sebuah mobil akan melemparkanku ke suatu tempat. Untungnya pengemudi mobil itu lekas mengijak remnya.
“Heh kau,” teriak seseorang dari dalam mobil melewati jendela kaca mobil yang terbuka, “Kau itu bodoh atau gila?” aku tak menggubris, dan hanya diam di tempat. Ketika melihat aku diam, dia turun dengan setengah emosi. Cowok
yang berpostur tubuh tinggi sekitar 170-an keluar dan menghempaskan pintu mobil begitu saja dia menghampiriku.
“Kau gila,” ucapnya membuatku semakin terisak.
“Ya, aku gila.” Jawabku tanpa menggunakan otakku. Dia terkesima mendengar jawabanku. Setelah itu aku berlari meninggalkan tempat itu, tanpa memperdulikan tatapan mata yang menatapku dengan kesal.
***
“Dita, apa Livia ada di rumahmu?” Dita mengerutkan keningnya. Mama Livia menelponnya dan menanyakan hal seperti itu.
“Tidak tante, Livia tidak datang ke rumahku.” Jawab Dita, “kenapa tan?”
“Livia hilang, Dit.” Desis mama Livia, suaranya bergetar.
“Apa????”
***
Aku menyandarkan tubuhku di salah satu pohon di tepi jalan, rasanya aku sudah kehilangan semangat hidup. Masa depanku akan hancur, aku akan mati. Semua harapanku akan hilang begitu saja. Aku akan kehilangan seseorang yang aku cinta, aku akan kehilangan mamaku, aku akan kehilangan sahabatku, dalam jangka waktu yang tidak lama lagi.
“Ternyata aku salah,” ucap seseorang menyadarakanku, buru-buru aku menghapus airmata yang terus mengalir. “Aku salah tidak menabrakmu.” Lanjutnya. Aku mengangkat wajahku dan mendelik pada cowok yang berdiri dihadapanku. Aku mengenalnya, dia adalah orang yang hampir saja menabrakku.
“Kau?”
“Ya, aku yang tadi akan menabrakmu.” Aku tersentak. “Kaget melihat ku bisa berada di sini?”
“Tidak,” jawabku ketus. Aku berdiri tapi dia tahan, dia berjongkok di hadapanku dengan bertumpu pada lututnya.
“Aku hanya penasaran,” katanya membuatku menatapnya tajam, “Ada seorang cewek yang mau bunuh diri dengan cara yang bodoh.”
“Apa maksudmu?”
“Ternyata selain caramu yang bodoh, kau juga bodoh.” dia menyunggingkan senyuman sinisnya padaku. Hingga aku semakin menajamkan sorot mataku.
“Siapa kau? Aku tak kenal denganmu dan kau juga tidak kenal denganku. Kenapa kau berkata seperti itu?” tanyaku heran tak mengerti. Dia tidak mengenalku, dan seenaknya saja dia bilang kalau aku bodoh.
“Aku? Siapa? Kau tidak kenal dengan ku,hah?” dia merespon ku dengan kembali tersenyum sinis. eh?? Dia malah memberondongiku dengan pertanyaan seperti itu. kurang ajar...
“Apa aku harus mengenalmu?”
“What? Are you stupid girl..” balasnya. Lagi-lagi dia mengataiku bodoh.. grrr.
“Heh, aku tidak mengenalmu bukan berarti aku bodoh.” tandasku setajam mungkin. Dia kembali tersenyum. Masih sama sinis, aku berusaha menahan emosiku yang sudah memuncak. Hati batu.. geramku dalam hati.
“You’re stupid...”
Plakk.. tamparanku mengenai sasaran dengan mulus. Aku sudah kehabisan kesabaran. Dia yang bodoh bukan aku, siapa dia? Apa hubungannya denganku? Apa haknya mengatai aku dengan sebutan bodoh.
Dia meringis sambil mendesis pelan menahan perih di pipi tepat di sudut bibirnya. Ada sedikit aliran darah segar di sudut bibirnya. Rupanya, tanganku menamparnya dengan sangat keras, hingga dia terluka.
“Kau yang bodoh..”
“Hey, apa kau pikir orang yang mau bunuh diri itu pintar? Apa aksi seperti itu bisa menyelesaikan masalah? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, ibu dan keluargamu, apa yang mereka rasakan ketika kau pergi?” ucapnya dengan memberikan tekanan pada setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku tertegun. “Sekarang, kau mengerti kenapa aku mengataimu dengan sebutan bodoh?” tanyanya tanpa ada penekanan lagi, membuatku tersentak.
“Jadi, kau mengataiku bodoh karena itu? lalu apa hubungannya dengan aku tidak mengenalmu?” tanyaku, setelah tersadar oleh ketersimaan.
“Tidak ada.” Jawabnya singkat.
“Tidak ada? Artinya kau juga bodoh,”
“Hah? Kenapa?”
“Karena, pembicaraanmu melenceng. Apa kau tidak berpikir, kalau aku tidak mengenalmu dengan aksi bunuh diriku itu tidak ada kaitannya?” tanyaku, “Sama sekali..” lanjutku tajam.
Dia tersentak, “Oh tidak ada?” tanyanya kemudian, yang membuatku sebal dia mengucapkannya dengan intonasi yang santai.
“Iya,”jawabku ketus.
“Lalu?”tanyanya membuatku semakin yakin kalau cowok di hadapanku saat ini benar-benar bodoh.
“You’re stupid boy..” ucapku dengan penuh kemenangan.
Dia terdiam, dalam waktu yang cukup lama kami terdiam. Ucapan terakhirku tidak dijawabnya dan artinya aku menang. Dan terbukti, bukan aku yang bodoh tapi DIA.
***
“Aku pulang,” ucapku ketika akan memsuki rumah, tapi aku langsung menghentikan langkah kakiku tepat di depan pintu rumahku. Ada tiga orang duduk di sofa ruang tamu, Mama, Dita dan yang satu lagi...
“Mama, Dita, dan kau...” mata ku tertuju pada seorang cowok yang duduk dengan manatapku kuatir. “Kenapa kau di sini?” tanyaku menyelidik pada cowok yang masih menatapku.
“Livia,” mama berlari menghampiriku dan langsung memelukku. “mama mengkhawatirmu sayang.” Ucap mama menangis.
“Memang kenapa ma?”
“Livia, tadi mamamu menelponku, katanya kau pergi dari rumah.” Dita menjelaskan seraya berjalan menghampiriku.
“Lalu kenapa dia di sini?” tunjukku pada cowok yang masih duduk dan sebalnya dia masih menatapku.
“Aku menelpon Tama, dia bersedia membantu ku untuk mencarimu.”
Hah? Mencariku? Aku masih saja tidak mengerti maksud perkataan sahabatku yang satu itu. untuk apa mereka
mencariku, aku tidak mati, oops salah ralat.. aku tidak jadi mati.
“Oo,” mulutku hanya membentuk lingkarang dan berkata Oo..
“Kau istirahat saja, Liv.. mama kuatir padamu.” Mama melepaskan pelukannya dan menggandengku ke kamar. Aku jadi teringat dengan ucapan cowok bodoh tadi. Perkataannya ada benarnya juga, kalau aku pergi semuanya akan mengkhawatirkanku.
“Kalau mau pergi, seharusnya kau bilang dulu pada mama, biar mama bisa menemanimu.” Kata mama duduk di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum tipis kemudian mengangguk. Aku merebahkan tubuhku yang kembali terasa nyeri, setelah posisiku dalam keadaan pe-we, mama berdiri dan membuka pintu kamar untuk keluar.
“Ma,” panggilku menoleh ke arah mama. Mama balik badan, dia memandangiku dengan hangat. “maaf, sudah membuat mama kuatir.” Kemudian mama mengangguk dan keluar kamar dengan meninggalkan senyum.
Tak berapa lama setelah mama keluar dari kamarku, terdengar suara ketukan pintu, aku memerintahkannya masuk. Tama berdiri di ambang pintu kamarku.
“Boleh masuk?” tanyanya. Aku tak menyahut. Aku bingung harus menyahut apa padanya. Dia masuk dan menutup pintu. Berjalan mendekat ke tempat tidur ku.
Tak ada yang bisa kulakukan, aku bahkan tak berani menatap matanya, jangankan matanya, menyadari bahwa
aku sedang tidak bermimpi pun aku tak berani. Ini bukan sebuah khayalan ini kenyataan. Perasaanku yang dulu kembali datang dan hinggap dibenakku lagi. ingin rasanya aku manatapnya dalam-dalam, tapi aku tak bisa. Jangan-jangan nanti yang ada aku malah menangis tanpa sebab.
Dia menatapku, Tama, jangan tatap aku seperti itu, kalau memang kau tidak memberiku harapan, hentikan caramu menatapku.. aku membatin. Dia tak pernah mengerti, bagaimanapun aku meminta dia tak akan pernah memahami perasaan ku.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku tak bisa menahan.
“Aku, senang kau kembali.”
Syuuutt.. seakan ada kesejukan dihatiku mendengar ucapannya. Apa yang kau rasakan saat ini Tama??? Aku kembali bertanya tapi hanya pada hatiku. Apa kau memberiku harapan untuk bisa memilikimu? Tanyaku lagi. Tapi, percuma.. dia tidak akan mendengarnya.
“Terimakasih.” Sahutku singkat. Aku memalingkan wajahku menghadap ke arah lemari yang berada di samping kananku, menghindari tatapan itu. dia berbalik, mungkin dia akan meninggalkanku. Tama, jangan pergi dulu.. aku masih mau kau di sini.. hanya sejenak.. please.. lagi-lagi aku hanya bisa membatin. Kalian tahu, saat ini lah perasaan yang sangat menyakitkan. Ketika seseorang yang kita sukai berada di samping kita, tapi tak ada yang bisa kita lakukan. Karena, dia telah menjadi milik seseorang.
Tapi, tiba-tiba tubuhnya kembali berbalik dan dia langsung mengecup lembut keningku, kecupan yang singkat tapi mampu membuatku membeku, aku tertegun, aku kaget, hingga butiran bening menggumpal di pelupuk mataku. Tama mengecup keningku, suatu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, suatu yang ku anggap tak mungkin terjadi.
“Kau...” belum sempat aku mengeluarkan kata-kata dia sudah keluar tanpa menoleh ke arahku lagi. seketika juga, air mataku langsung tumpah. Entah perasaan apalagi yang aku rasakan sekarang. Sedih, bahagia, bahkan takut.. aku takut jika dia memberikan itu maka aku akan semakin mencintainya dan membuatku tak bisa melupakannya. Aku benar-benar takut.
“Aku membenci seseorang yang memberiku harapan..” ucapku di sela isakan tangis yang mulai membuatku berguncang.
“Apa dia bisa memahami rasa sakit hatiku hah?” gumamku lagi. “Apa dia hanya bisa memberiku sebuah harapan kosong? yang membuatku tak berdaya dan membuatku lemah menghadapi perasaanku?”
“BERHENTI MEMBERIKU HARAPAN...” jeritku menahan semua perih di hatiku.
***
“Sayang, makan ya?” mama membuka pintu kamarku dengan sebuah nampan berisi makan malam untukku. Aku menoleh.
“Ma,” panggilku. Mama duduk di tepi tempat tidurku lalu membelai kepalaku.
“Iya sayang?” mama tersenyum hangat membuatku merasa tenang.
“Kenapa waktu itu mama bilang, kalau Tama menyukaiku?”
“Karena dari sorot matanya, mama bisa melihat bahwa ada sebersit kasih sayang ketika dia menatapmu.” Jawab mama lembut membuatku tertegun.
“Lalu, apa mama yakin dengan perasaan mama?”
Mama mengangguk pelan tapi pasti hingga membuatku kembali tertegun, “Ya.”
“Tapi, dia sudah punya pacar ma” kataku tenang.
“Siapa?”
“Dita,” jawabku singkat seraya memalingkan wajahku agar mama tidak bisa mendapati kegalauan yang langsung menyergapku. Mama tidak menunjukkan raut wajah terkejut atau semacamnya.
“Kau cemburu?” aku tergagap, dan langsung menggeleng. “Mama mengandungmu selama sembilan bulan sepuluh hari. Mama yang membesarkanmu, mama yang merawatmu hingga kau beranjak dewasa seperti sekarang, sayang. Jadi,
kalau kau merasakan kesedihan yang membuatmu sakit hati.. mama juga seakan merasakan hal yang sama.”
“Aku sama sekali tidak cemburu, aku bahagia..” ucapku mengelak.
“Apa kau jujur pada perasaanmu?” mama terlihat sedang mencari kebenaran di mataku. “Jika kau membohongi hatimu, maka kau juga yang akan merasakan sakit itu sayang.” Lanjut mama.
Mama benar. Dan artinya, mama benar-benar mengerti perasaanku. Karena ikatan seorang ibu sangat berasar terhadap anaknya.
“Sekarang kau makan.” Mama menyodorkan sesendok makan nasi lembek dan sayuran pada ku. Aku pun dengan senang hati melahapnya.
“Terimakasih ma.” Kataku setelah selesai makan. Mama mengangguk dan tersenyum.
“Kau istirahat lagi, oke.”
Setelah merenung beberapa saat, akhirnya aku bisa terlelap dalam tidur malamku. Meskipun dalam keadaan galau, sedih dan bimbang aku harus bisa bertahan.
***
Embun pagi menetes membasahi dedaunan. Semburat sinar matahari membuatku terbangundari tidur malamku. Tadi malam, aku lupa menghidupkan jam beker milikku, hingga aku jadi bangun kesiangan. Apa? Kesiangan?? Buru-buru aku bangkit dan memandangi jam tanganku yang terletak di samping bantalku.
Aku langsung mendelik melihatnya, jam enam?? Astagaa.. aku telat. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan langsung mengguyur badanku. Setelah selesai, aku bergegas mengenakan baju seragam putih abu-abu sekolahku. Dan merapikan buku―kebiasaanku kalo pagi baru nyiapin buku―yang akan aku bawa ke sekolah.
“Livia, makan.” Panggil mama ketika aku membuka pintu kamarku. Mama berdiri dengan masih mengenakan celemek.
“Ma, aku telat,” ucapku memelas. “aku makan di sekolah saja,” kataku meraih tangan kanan mama dan menciumnya lalu berlari keluar rumah. Tanpa menghiraukan panggilan mama yang terdengar hingga satu kompleks rumahku.
***
Taksi yang ku naiki berhenti sepuluh meter dari gerbang sekolahku, dengan malas dan menahan perutku yang mulai keroncongan aku berjalan. Setibaku di depan gerbang sekolah, mataku langsung memanas, ralat maksudku mataku terasa sakit melihatnya. Apa-apaan coba, pacaran di tempat parkir? Bikin aku mau muntah saja melihatnya. Mereka benar-benar tidak mengerti perasaanku. Dan yang paling aku bingung, kenapa Dita bisa seperti itu. bukannya dia pernah bilang padaku kalau, Tama menyuk... ahh untuk apa aku mengingatnya. Sudah jelas-jelas Tama tidak menyukaiku, malah bilang begitu. Tapi, apa maksud kecupan kemarin sore? Apa dia... bodoh banget sih aku, cowok itu kan bermuka dua atau malah bermuka lima hmm, jadi sudah seharusnya aku mewajari perbuatan mereka..
“Benarkan, kau itu bodoh..” aku menoleh, dan aku mendelik. “hai..” katanya membuatku semakin tersadar kalau aku sekarang tidak sedang bermimpi.
“Kau lagi..” ucapku berjalan tak menggubris lambaian tangannya. Dia mengikutiku.
“Hei, kau sekolah di sini ya stupid girl?” tanyanya membuat telingaku seketika memerah. Aku menoleh lagi, sedangkan dia hanya tersenyum simpul tanpa merasa berdosa sama sekali telah mengataiku dengan sebutan ‘stupid girl’.
“Bisa berhenti mengataiku dengan sebutan itu, stupid boy??” tekanku pada cowok yang sedang berjalan mengejarku juga dengan sebutan yang sama.
“Kau itu, dari kemarin sukanya marah terus ya? Sungguh pertemuan yang buruk.” Ucapnya hingga aku merem langkah kakiku mendadak.
“Aku tidak mau bertemu dengan mu.” ucapku memberi penekanan.
“Oo, kalau beitu keputusanku kemarin ternyata masih salah.”
“Apa?”
“Untuk tidak menabrakmu.” Aku tertegun.
“Itu salahmu, kenapa kau tidak menabrakku saja?” kataku melanjutkan langkah kakiku.
“Karena, aku kasihan melihatmu.” Maksudnya??? Aku hanya bisa bengong mendengar pernyataan cowok itu. entah apa maksud dari kata-katanya. “Sekarang, aku mau kau membantuku.” Hah? Apa? Membantunya? Maksudnya?
Hah.. aku benar-benar bodddoooh.. kenapa jadi telmi begini?
“Aku tak mau.” Kataku menaiki tangga menuju kelasku.
***
Tama berjalan memasuki kelas dengan tangan kanan menggandeng tangan Dita. saat tatapan kami bertemu, buru-buru aku memalingkan kepalaku ke buku tulis Latihan Kimia yang sedang aku corat-coret mengerjakan tugas.
Aku benci tatapannya!!!
Tatapan itu membuatku sakit, aku MEMBENCINYA, kecamkan itu baik-baik...
“Livia, aku pinjam buku catatan Fisika ya.” Dita meletakkan tasnya di meja sebelahku. Aku mengangguk dan mengeluarkan buku catatan yang diminta Dita kemudian menyerahkannya dengan senyum dipaksakan.
“Ehm, sementara aku duduk di samping Tama. Aku memintanya untuk mengajariku. Nanti setelah bel berbunyi aku akan kembali.” Dia balik badan dan menghampiri Tama yang terus menunduk di kursinya.
Apa katanya? Meminta Tama untuk mengajarinya? Dia anggap aku apa? Biasanya juga aku yang mengajarinya? Kenapa sekarang tama? Apa hubungannya coba sama Tama?
“Aku duduk di sini ya?” aku mengangkat wajahku mengarahkan ke asal suara. Dan tercengang melihatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar