“Tempat ini adalah peninggalan cinta kakakku...” ucapnya datar. Aku tidak terkejut, hanya sedikit aneh mendengar pengakuan yang sedikit tidak asing ditelingaku. Bayangan wajah kakakku, seorang perempuan cantik dan begitu murah hati membahana dikepalaku.
Tempat yang begitu indah, rumput hijau yang membentang, bunga seperti sedang berada pada musim semi.
Aku menghirup udara disana. “Cinta?” bisikku memastikan. Benar saja, Alfar mengangguk. Kenapa harus ada cinta?
“Kamu sakit?” katanya tiba-tiba mengembalikan topik pembicaraan kamu semula yang membuat semua urat ditubuhku menegang. Liv, kamu tidak akan memberi tahu siapa pun tentang penyakitmu bukan? Batinku mulai mengingatkan.
Aku menatapnya tajam, “Aku tidak sakit,”
“Oya?”
Aku mengangguk, dan berkata singkat dan berbohong tentunya (lagi!), “Ya.”
“Lalu?” katanya pelan tapi cukup membuat bulu kudukku bergidik semua. “Mimisan, muka pucat, dan rambut...” dia menyebutkan semua yang terjadi padaku lalu jemarinya meraih beberapa helai rambutku yang menempel diseragam sekolahku dengan menggantungkan kalimatnya. Apa??? Rambutku... aku segera merebut paksa helaian rambutku disela jemari tangannya.
“Itu...” aku mulai gemetar, tapi aku tidak akan pernah mengakui penyakit gila yang akan menggerogoti hidupku. “Itu rambut rontok, karena aku belum keramas dua hari..” ah jelas sekali bohongnya.
“Belum keramas dua hari?” tanyanya sama sekali tidak memunculkan reaksi terkejut atau bahkan menyindir. Sedikit menimang jawabanku, dan “Rambutmu basah begitu, masa belum keramas dua hari?” GUBRAAKK.. Livia bodoh.. ternyata kamu benar-benar bodoh seperti yang Alfar bilang!!
“Oke, dan kamu berbohong padaku..” telak. Aku kalah sangat telak. Dia mengetahui kebohonganku. “Kamu pikir aku tidak tahu gejala penyakitmu itu?” tanyanya membuatku membeku. “Kakakku meninggal, karena penyakit yang mempunyai ciri yang sama seperti mu!!” plaakk.. tepat sasaran. Dia menghujam seluruh tubuhku dengan perkataannya.
“Menginggal?”
“Iya, penyakit jahat itu sudah mengambil kebahagiaannya!!” jawabnya pelan dan tajam. Lagi-lagi aku seperti pernah mendengar penjelasan yang sama, tapi mendadak kepalaku sakit sehingga otakku tidak bisa berpikir jernih untuk mengingatnya.
“Apa hubungannya dengan ku?” aku berusaha tidak menghiraukannya. Acuh tak acuh. Tapi, aku sangat ingin mendengarnya.
“Aku hanya minta kamu mengakuinya.” Ucapnya memandangiku dengan seksama hingga aku harus menundukkan kepalaku kalau tidak mau ketahuan berbohong. Sampai kapanpun aku tidak akan mengakuinya, dasar bodoh. Mana ada minta pengakuan dengan cerita yang menakutkan, aneh!
“Apa aku harus mengakui hal yang tidak terjadi padaku?” aku bertanya santai, seolah benar-benar penyakit itu tidak ada pada diriku.
Dia terdiam, kemudian “Oke, kamu tidak harus mengakuinya.. tapi aku akan mencari tahunya sendiri,” hah?? Dia membuatku mati. Apa haknya? Dia bukan kakakku, bukan temanku, bukan saudaraku dan bukan siapa-siapaku? Tanpa mengajakku pergi dari tempat itu, dia berlalu meninggalkanku yang tercenung sendirian.
Cukup lama. Sampai akhirnya aku teringat tentang... “Obatku.. astaga!” secepat mungkin aku berlari meninggalkan tempat itu, menuju pintu belakang gudang dan segera melesat keluar gudang sekolah. Itu tempat memang beneran aneh, masuk gudang sekolah yang terletak di samping kantor kepala sekolah, lalu di dalam gudang itu terdapat pintu tepat di belakang, kemudian keluar barulah kita bisa sampai ke tempat yang begitu indah. Aneh kan?? Bukan tempatnya yang aneh, tapi orang yang membuatnya begitu rahasia hingga aku pun yang sekolah di sana selama hampir tiga tahun, baru tahu ada tempat seindah itu di sekolahku. Aku yakin, selain dia dan aku tidak ada yang tahu lagi. karena tempat itu benar-benar rahasia!!
Aku merogoh tasku, dan benar saja.. obatku!! Dan aku langsung menoleh ke arah Alfar yang menatapku tajam. Apa-apaan ini? Dia menatapku tajam dan menghunus.. seakan ingin membunuhku.
“Kau minum obat ini?” tanyanya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku mendelik dan ingin merebutnya. Itu obatku, botol kecil dengan label berwarna hijau. Itu obat herbal yang diberikan karyawan pada mama, untuk meredakan rasa sakitku.
Beberapa saat hening, kemudian ponselku bergetar menandakan ada SMS masuk. Dilayar bertuliskan, Luvly Mom..
Syg, obtmu ketinggalan,mama akan segera mengantarnya.
Sedikit kelegaan akhirnya menghampiriku, meskipun sedikit terkejut dengan adanya obat yang sama persis dengan obat milikku.
Secepat mungkin aku membalas SMS mama, yang berisi satu kalimat singkat, yang cukup menyerukan bahwa aku tidak perlu. “Tidak usah ma” singkat bukan. Dan kemudian mama kembali membalas, “Nanti penyakitmu kambuh bagaimana?” rupanya mama sangat mengkhawatirkanku. Tak kalah cepat aku kembali membalas, dengan kalimat yang mungkin tidak menjamin kekhawatiran mama akan mereda. Sampai bel masuk berbunyi nyaring, aku masih berdebat SMS dengan mama. Anak bandel! Itu kalimat terakhir yang tertera dilayar ponselku dan tertanda, Luvly Mom. Halaah..
***
“Berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak meminum obat itu?” darahku sudah mendidih gara-gara mendengar pertanyaan yang membuatku sakit kepala. Dasar Alfar, dia orangnya benar-benar pantang menyerah.
“Hai sayang...” terdengar teriakan dari belakangku, biasa Dita. Dia menyelami hobi barunya dengan berteriak sekeras-kerasnya pada Tama. Dengan menyerukan kata yang membuat telingaku memerah seketika. Apa tidak bisa, volume suaranya itu dikecilkan sediiikit saja, biarkan aku menuju jalan hidupku tanpa mendengar dan menyebut nama Tama lagi.
“Haai..” Tama pun ku pikir sudah mempunyai hobi baru, selain duduk di perpustakaan dengan buku tebal ditangan ternyata dia juga ‘punya’ hobi baru. Sama seperti Dita. membosankan.. Mereka saling melempar senyum dan setelah berhadapan mereka saling merengkuh satu sama lain. Kecuali, kalau Tama sedang bad mood, mungkin jadi seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Jadi, malas melihatnya.
“Ayolah, apa susahnya untuk berkata jujur Liv,” Ampun deh, ni orang beneran cari ribut sama aku tahu tidak. Seharian di sekolah, sampai pulang les tambahan menyongsong Ujian dia masih saja memaksaku untuk berkata jujur tentang penyakitku.
“Apa susahnya? Hey, aku sudah Jujur, kenapa masih kamu paksa untuk berkata jujur?” timpalku sebal. Ubun-ubunku rasanya sudah mengeluarkan alarm kebakaran. Panas! Dan berasap! “Kamu mau aku menjawabnya berbohong ya?” susulku cepat. Dia menggidikan bahunya dan menggeleng. “Ya sudah kalau begitu, jangan tanya lagi.” aku segera meninggalkannya. Dan setengah berlari menuju taksi yang terparkir di tepi jalan raya. Kemudian masuk.
***
Sepertinya doaku yang waktu itu, terkabul. Aku meminta agar Tama berhenti memberiku harapan. Dan.. setelah dua minggu terakhir, juga setelah kejadian pertanyaan Jujur paksa itu lewat tentunya. Tama benar-benar meninggalkan harapan itu... dalam artian, dia sudah tidak terlalu menimbulkan harapan yang semu untukku tapi dia sudah membuatku gila. Karena, dia tidak pernah menyapaku lagi. dan kalian tahu apa yang dia lakukan di kelas? Dia hanya duduk dan bergurau dengan Dita seorang. Dan ternyata itu semakin membuat aku tersiksa olehnya! Lebih menyakitkan dari yang ku bayangkan. Aku pikir setelah Tama berhenti memberikan respectnya padaku aku akan merasa nyaman dan tenang. Ternyata pemikiranku salah total, aku malah pusing sendiri memikirkannya. Tidak ada tegurannya, tidak ada senyumnya, tidak akan makan mie ayam bersama... dan tidak ada belajar bersama lagi!
Miss U Tama..
“Hyaaaaaaaaa... aku muak dengan semuanya!!!” teriakku menggema di dalam kamarku. Mama langsung membuka pintu kamarku dan mendapatiku yang menyeringai ketika menyadari kedatangannya.
“Kenapa Livia??” tanya Mama mengelus dadanya, mungkin terkejut mendengar teriakanku yang sumpah, nyaring banget!
Aku kembali menyeringai lebaar, lalu menggeleng. “Tidak,”
“Fiuuh,” Mama mengusap keningnya yang mulai basah karena keringatnya, “Jangan ulangi teriakan itu, kamu bikin mama khawatir!” Braak, pintu ditutup keras. Hoh, aku hanya ingin melepas kegalauanku ma!! Please, biarkan aku sedikit menenangkan perasaanku.
Ponselku berdering, dan namanya membuatku terlonjak karena kegirangan, Tama. Tamaaa.. Tamaaa menelpooon ku.. aku tidak sedang bermimpi kan?? Plaak, tamparan melayang dipipiku, “Adoowh..” sesegera mungkin aku mengelusnya. Dan memencet tombol hijau, aku diam. Dia juga diam. Aku mau bilang haloo, malah dia juga mau bilang halooo..
“Ada apa?” tanyaku tanpa basa basi.
“Ee, kamu ada di rumah?” haaa.. aku melompat ke tempat tidurku. Mendadak jantungku dag dig dug tidak karuan. Aku jauhkan ponselku sejenak dari telingaku, kemudian tertawa tentu saja tidak menggunakan volume tinggi. Kalau pakai volume tinggi bisa ketahuan nanti! Ogaah! Gengsii dong?? “Liv..?” terdengar samar suara diseberang memanggil namaku. Kembali aku dekatkan ponsel ke telingaku. Berdehem menahan tawa sejenak. Menarik napas.
“Iya? Eem ada, kenapa Tam?” tanyaku, terdengar jelas kalau aku sedang gugup. Hembusan napas yang menyejukkan terdengar dari sana.
“Aku mau ke rumah mu bol..” aku menjauhkan ponselku lagi tanpa mendengarkan kalimat lanjutannya.. hyaaaaaaa... aku kembali melompat kegirangan. Yes yes yes,, belum juga satu jam aku mengharapkan hal ini, eh udah kejadian. Senangnya!!
“Ehm, gimana ya? Kenapa ke rumahku?” ahh sok jual mahal banget ya?? Ahh tidak apa lah, yang penting aku harus tahu alasannya dulu untuk apa dia ke rumahku? Betul??
“Engg.. mau minta bantuan tugas Fisika,”
Yahh.. tugas lagi.. kenapa sih setiap kali dia ke rumahku harus ada kata TUGAS di sela pembicaraannya? Apa tidak ada kata lain yang lebih nyaman di dengar di telingaku?
“Oo, boleh.. tapi jangan lama-lama ya, aku harus ke rumah temanku masalahnya!” gedubrakk.. bohong, yah apa boleh buat, rupanya gengsiku sama sekali tidak bisa di tawar lagi harganya!
“Oke, lima menit lagi aku sampai!” suaranya terdengar kegirangan. Apa? Kegirangan? Ya ampun, artinya dia.. dia bahagia aku mengizinkannya datang ke rumahku. Wkwkwk senaaaangnya hatiku..
“Oo, lima menit? Oke.. baiklah..” klik.. sambungan terputus. Aku beranjak ke kamar mandi dan mandi dengan speed yang terhitung sangat cepat untuk ukuran cewek berumur 17 tahun. Sekitar tiga menit aku sudah siap dengan celana jeans dan baju kaus berwarna merah marun berlengan pendek. Menyisir rambut, memoleskan sedikit bedak dan let’s going to living room..
Satu menit, satu setengah menit dan dua menit.. teng.. lima menit sudah berlalu. Dan suara sebuah motor yang sudah sangat ku kenal terdengar dari halaman rumahku. Aku memandangi diriku, rasanya aku terlalu berlebihan.. kayak orang mau jalan-jalan aja, padahalkan Cuma mau mengerjakan ‘tugas’. Ah masa bodoh, emang sekarang otakku lagi rada bodoh-bodohnya..
Oo God.. dia melepas helm yang bertengger dikepalanya, kemudian turun dan melangkah menuju pintu gerbang rumahku. Setelah, membuka pagar rumahku dia maju dan siap-siap Livi, sebentar lagi dia akan mendekat.. jreng jreng.. gedebak gedebuk.. aduuh, jantungku manis, bisa tidak kalau menendang dadaku tidak usah kencang-kencang nanti Tama dengar lagi suara kamu..
Sumpah, Sweaar dan benar deh nih, aku merasa sangat tidak karuan di rumahku sendiri. Beberapa detik kemudian dia melempar senyum ke arahku. Aku tertegun, terpana, terenyuh.. buseet gila.. aku benar-benar seperti di dalam mimpi langkaku.
Seorang pangeran datang dan memancarkan senyuman maut untukku, hingga aku terbuai ke dalam mimpi yang terlalu membuatku berbunga-bunga. Seandainya, aku di Jepang.. aku mau kejadian ini terjadi di bawah keteduhan pohon Sakura, ketika dia tersenyum tiba-tiba tubuhku melayang ke arahnya karena tidak bisa menahan degup jantungku dan menahan keseimbangan kakiku, dia menangkapku dan kemudian bunga-bunga sakura berjatuhan ke arah kami.. Ooo soo Sweeet..
Terlihat olehku bayang-bayang lima jari seseorang melambai tepat di depan wajahku, dengan cepat aku mengedipkan mata dan kembali ke kenyataan. Tama melambaikan tangannya padaku. Aku tersentak. Dan tak bisa menyembunyikan rona merah wajahku.
“Hai.. Liv, kamu baik?” tanyanya. Ya ampun, berapa lama aku menghayal?
“Ehm ba.. baik.. o kamu sudah datang rupanya,” jawabku refleks. “Masuk,” aku mengajaknya masuk ke ruang tamu. Dan ketika aku balik badan, mama ternyata sudah berada di belakangku. Dia tersenyum yang sangat sulit tuk dimengerti, tapi dibalik senyum mama terdapat suatu kebahagiaan yang tersirat di matanya. Entah apa maksud kebahagiaannya itu..
“Nak Tama, sama siapa?” mama membuatku tertegun mendengar pertanyaannya. Lembut dan hangat, lagi-lagi aku tidak bisa menangkap signal kebahagiaan mama.
Tama berjalan menghampiri mamaku, dia menyalami mamaku dengan adab sopan santunnya, membuat keyakinan hatiku semakin bertambah kalau dia adalah cowok yang benar-benar baik. Maksudku, bukan sembarang cowok.
“Sendiri Tan,” jawabnya. “Tante apa kabar?” lanjutnya bertanya. Perhatian sekali dia sama mamaku?
Mama masih menyunggingkan senyumnya, “Baik, kamu?” eh kok malah mereka berdua yang ngobrol?
Tama balas tersenyum, “Baik Tan,” oooh.. mungkin aku sudah tidak terlihat rupanya, ckckck badanku sebesar ini mereka anggap apa? Huh aku kan masih hidup, umurku masih panjang, kecuali kalau penyakitku memintaku untuk mati, barulah aku mati..
“Ehem..” aku berdehem memecah keheningan yang menyelimuti batinku, seperti suara drum rasanya... “Tugas yang mana?” tanyaku to the point pada Tama. Mama mengerlingkan mata menatapku ketika Tama memandangiku ‘heran’.
Tama menatapku, dan menjawab, “Yang itu, ehm tugas yang kemarin di berikan Pak Mahmud, masa kamu lupa??” eh, bukannya tugas pak Mahmud sudah dikumpulkan tadi siang ya? Wah ada yang aneh sama cowok ini, atau akunya yang tidak ‘ngeh’ ya??
“Hah? Pak Mahmud kan memberikan tugasnya sudah tiga hari yang lalu, dan perasaan tadi siang sudah dikumpulkan.” Aku mengernyitkan keningku karena ternyata aku yang kurang ngeh.
“Hah? Sudah dikumpulkan? Kapan? Kenapa aku belum? Kamu sudah ngumpul?” tiba-tiba pertanyaan yang bertubi-tubi keluar dari mulutnya. Arkkh, dia yang salah sangka dan untungnya bukan aku yang kurang ngeh!! Yihaa...
Aku mendelik ke arahnya, tidak mengerti melihat reaksi pertanyaannya. Apa jangan-jangan dia sudah tertular virus Foolishia milik Alfar lagi.. heleeh, membingungkan.
“Jangan bertanya banyak begitu, aku pusing mendengarnya!”
“Oke maaf, aku ulangi satu-satu,” dia menghela napas panjang, dengan perlahan dia mengutarakan pertanyaannya padaku. Sampai aku mencerna dengan baik apa yang dia tanyakan. Ternyata dia belum mengumpulkan tugasnya karena dugaanku yang itu, dia tertular virus Alfar. Gara-gara Alfar bilang mengumpulnya minggu depan, dan Tama belum bisa menalar maksud Alfar makanya dia menurut. Padahal maksud Alfar, dia hanya bercanda.. benarkan kataku, dia juga ikutan stupid kan...
“Salah sendiri, sudah tahu Alfar begitu masih saja bertanya padanya...” aku mengumpat. Dia hanya melemparkan senyuman miris karena sudah terjebak oelh gombalan Alfar.
Alhasil, belajar mengerjakan tugas Fisika kami batal. Dan aku sama sekali
tidak keberatan, karena dengan batalnya tugas kami maka...
“Aku boleh mengajakmu jalan-jalan??” itulah pertanyaan yang membuat hatiku melompat kegirangan untuk yang kesekian kalinya. Dan tanpa memperdulikan statusnya yang sudah punya ‘pacar’, aku pun menyetujuinya.
***
Bukan harapan yang semu, tapi sebuah impian yang suatu saat akan terwujud...
Aku mengalaminya, awalnya dia hanya sebuah harapan untukku. Tapi, entah kenapa hari ini aku merasa harapan itu menjadi sebuah mimpi yang menandakan bahwa dia bukan hanya sebuah harapan tapi akan menjadi sebuah mimpi yang terwujud kelak. Meskipun aku tidak tahu kapan mimpi itu akan menjadi nyata.. yang pasti aku akan menjalani hidupku, melewatinya dengan segala perasaan.
Aku membonceng di belakang Tama, duduk berhimpit naik motor.. memang aku sedikit tidak menyukai naik yang namanya motor. Terlalu menyiksa untukku. Rambutku rusak karena angin, kalaupun pakai helm akan semakin rusak karena rambutku bisa jadi seperti ekor bebek yang mencuat naik pada bagian ujungnya. Selain itu, kalau terjadi kecelakaan―hanya sebuah perumpamaan bahaya naik motor―tubuh pengendara bisa langsung terlempar dan bisa-bisa dia harus.. ahh tidak hanya perumpamaan.. lalu, kalau naik motor juga bisa mengakibatkan masuk angin, apalagi kalau tidak pakai jaket karena sekarang rasanya perutku bergejolak, sepertinya isi perutku minta dikeluarkan.
Belum juga sampai ditempat tujuan, aku malah minta turun. Mau tau alasanku? Dan menurutku tidak usah tahu, karena cukup memalukan! Masa orang naik motor mabuk?? Kan aneh??
“Kamu tidak kenapa-kenapa kan?” Tama menghentikan motornya di tepi jalan raya. Dia bertanya dengan nada khawatir yang sangat menusuk tulang rusukku. Apa dia benar-benar mengkhawatirkanku? Apa hanya sebuah perhatian karena dia temanku? Ahh bodoh, sekarang perutku mual―hanya mual karena masuk angin.. hueekss..
“Aku tidak kenapa-kenapa, kamu bawa air?” tanyaku mengelus tenggorokanku yang rasanya tercekat sebuah cairan. Sepertinya aku mau muntah...
Tama membuka jok motornya dan mengeluarkan sebotol air mineral, “Ini,” dia menyerahkannya padaku.
Gleekk.. legaaa, aku bernapas dengan tenang, tak berapa lama, aku merasa hidungku mulai basah.. aku usap dengan telunjukku. Dan benar saja, lagi-lagi kenapa harus dilingkungan luar.. darah menetes lagi. Dengan cepat aku merogoh saku celanaku dan mengambil sapu tangan berwarna abu-abu yang aku bawa selagi di rumah tadi.
“Liv, wajahmu pucat..” Tama membuyarkan lamunanku. Apa yang harus aku katakan, aku tidak mau berbohong pada orang yang aku sukai, tapi aku juga tidak mungkin berkata jujur padanya. “Kamu baik?” dia meraih kedua pundakku, menghadapkan badanku ke arahnya. Matanya sepertinya terfokus pada wajahku, langsung ku tundukkan kepalaku menhindari tatapan matanya yang membuatku bergidik.
“Aku baik, bisa antar aku pulang?” kata-kata itu meluncur dari mulutku, aku menyesal telah mengatakannya, bukannya apa.. tapi ini suatu kesempatan langka yang akuu dapatkan dari seseorang aku sukai. Benarkan?
“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang..”
“Eehm Tam, tidak jadi.. lebih baik kita lanjutkan perjalanannya, aku mau tahu kamu akan mengajakku kemana?” ralatku. Suaraku sedikit parau mungkin karena sedikit dari darah yang mengalir di hidungku kembali ke tenggorokanku.
Dia menatapku khawatir,“Tapi wajahmu pucat begitu, aku tidak yakin aku bisa membawamu dengan aman,”
“Sudahlah, aku tidak apa-apa, hanya mimisan kecil..” terpaksa aku berbohong. Lebih baik aku sakit dari pada melihat yang orang itu tersakiti karena aku.
Dia masih belum yakin, “Tapi..”
“Tama, please.. aku tidak apa-apa.” kataku memotong kalimatnya, dengan sedikit nada paksaan yang tersirat dikalimatku. Dia menghela napas panjang dan mengangguk. Akhirnya, aku tidak jadi membuang kesempatan langkaku...
***
Sepanjang perjalanan menuju keindahan, Tama selalu memegangi tanganku dengan tangan kirinya, tanganku aku lingkarkan dipinggangnya. Bukan kemauan ku, dia yang menyuruhku. Dia takut terjadi sesuatu padaku. Apa dia mempunyai perasaan yang sama sepertiku? Ahh tidak, dia sudah punya pacar, mana mungin dia menyukaiku...
Dia menghentikan motornya, entah dimana tempat itu. “Sampai, ayo turun,” perintahnya lembut. Aku turun, dan melepas jaket Tama yang menyelimuti tubuhku. Aku kembalikan jaketnya. Dia menyambut dan tersenyum. Itulah, sebuah kenangan manis yang tidak akan aku lupakan.
“Dimana?” tanyaku seraya melemparkan pandangan ke seluruh sudut ditempat itu.
Dia tersenyum, “Pantai.” Jawabnya. Pantai?? Hehe mataku yang salah lihat apa telingaku yang salah dengar??
Tama meraih tanganku, dia menarikku halus menuju tempat yang katanya ‘pantai’, yang aku lihat dan aku rasakan sekarang hanya pepohonan rindang, dan hembusan angin yang bersemilir lembut menerpa rambutku. Selain itu, tidak ada lagi...
Setelah beberapa langkah ke depan, baru aku tersadar... ternyata, tempat ini benar-benar pantai.. sangat indah. Meskipun sepi, tapi tidak mengurangi keindahannya. Pantai itu terletak sekitar seratus meter dari tempat Tama memarkir motornya. Hanya terdapat jalan setepak menuju Pantai sesungguhnya. Setelah melewati pepohonan rindang, dan melewati jarak yang bisa dibilang cukup dekat itu, aku baru percaya bahwa tempat ini adalah pantai...
“Wow,”sorot kekaguman memancar dari mataku, begitu juga mulutku. Ombaknya, warnanya, dan pemandangannya begitu menawan.
“Suka?” tanya Tama membuyarkan kekagumanku. Aku hanya menganggukkan kepala, dan berkata dalam hati, “Sangat indah Tama, seperti hatiku saat ini...”
Tak berselang waktu lama, dia kembali menarik tanganku. Aku sempat terkejut, tapi sepertinya dia tidak menyadari keterkejutanku. Entah apa sekarang yang ada dipikiran cowok di sampingku. Wajahnya lebih terlihat tenang dan bahagia. Tidak setenang ketika kami berada di sekolah. Juga tidak ada sorot kebohongan ketika aku melihatnya di sekolah. Mataku tak lepas dari sosok yang berjalan lurus menuju deburan ombak putih.
Pasir di pantai itu putih, bebas dari sampah dan kotoran kuda. Air lautnya juga membiru. Ah tidak bisa dilukiskan dengan tulisan kata-kata... sangat indah!!
Tama menghentikan langkahnya, hingga aku juga ikut berhenti, “Kalau kamu mau lebih lama di sini, kamu bisa melihat matahari terbenam,” Tama berujar. Matanya tertuju pada ujung pantai, di mana tempat biasa terbenamnya matahari.
Ya, sepertinya kata Tama benar. Dari sini kami bisa melihat matahari terbenam. Langit pun sudah mulai memerah. Tanda bahwa sebentar lagi penghuninya akan segera kembali dari hunian sementaranya. Seperti menyemburatkan rasa malu, atau karena dia sedang bahagia dan tersenyum padaku. Seakan langit sore juga merasakan bahagiaku, dia mengucapkan selamat atau terimakasih sudah berkunjung dengan seseorang yang aku sayangi. Haha khayalanku tinggi sekali ya..
Aku tersenyum padanya, “Boleh,” jawabku. “Tapi, kamu harus meminta izin dulu pada mamaku,” lanjutku membuat sepasang matanya menatapku dan terkekeh.
“Seperti anak kecil saja,”
Aku mendelik, “Eh, kalau tidak mau, kita pulang sekarang,” ancamku akan berbalik badan.
“Tidak bisa,” susulnya cepat sambil mencekat tanganku. “Baiklah, aku akan minta izin pada mamamu, mana ponselmu?” dia mengulurkan tangannya padaku memintaku untuk menyerahkan ponselku.
Aku menatapnya bingung, “Ponsel ku?”
“Ya, ponsel siapa lagi?”
“Tidak bisa begitu, kamu yang mau minta izin kenapa harus pakai ponselku?” aku mengeluarkan jurus protes yang sering aku pakai atau yang lebih tepatnya jurus protes andalanku.
“Kalau bukan ponselmu, aku dapat nomor rumahmu dari mana?” ya ampun.. bener juga. Ah Livia lagi-lagi kamu mengeluarkan kebodohanmu di depan orang yang kamu sukai.
“Kan bisa langsung minta nomornya padaku!!” jawabku menjerit karena kesal.
Tama memalingkan wajahnya, “Kalau tidak mau, ya tidak usah!” huaaa.. cepat banget dia menyerah, kenapa tidak menggunakan ungkapan yang ada di lagu D’masiv yang judulnya ‘Jangan Menyerah’ huh dasar Tama, dari dulu sukanya begitu!!
“Baik, aku pulang saja kalau begitu.” Aku balik badan dan...
Tama menarik tanganku, seketika tubuhku sudah berada dipelukannya. Aku terkejut, aku shok, aku takut... perasaanku tak karuan sama persis ketika Tama mengecup keningku waktu itu. Jantungku berdegup sangat kencang, darahku serasa mengalir sangat deras. Aku mengedipkan mata beberapa kali, untuk memastikan ini bukan mimpi atau khayalanku.
Harapan itu.. apa harapan itu kembali menjemputku? Apa perasaanku saat ini? Bagaimana dengan perasaannya? Hah.. kenapa terjadi lagi??
“Aku akan meminta izin pada mamamu,” bisiknya tepat ditelingaku. Bulu kudukku langsung bergidik. Hangat, lembut dan err.. membuat sekujur tubuhku membeku.
“Tama, lepas...” desisku mendorong lembut tubuhnya agar melepaskan pelukannya. Dia tak menggubrisku, malah semakin mengeratkan pelukannya. Apa maksudmu Tama?? Kenapa kamu memelukku?
“Jangan menjauh... tetaplah di sini... bersamaku...”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar