Selasa, 09 Agustus 2011
FEELING...? [6]
Minggu pagi...
Ini hari pertama aku akan menjalani khemoterapy di rumah Alfar. Pagi-pagi sekali aku sudah dibangunkan oleh mama. Aku bercerita pada mama, kalau minggu ini aku mulai menjalani khemo ditemani Alfar. Mama sepertinya tidak keberatan dengan keputusan yang aku ambil, ya meskipun dengan sedikit paksaan dari Alfar. Jadi, Alfar cukup untuk membuatku takut ketika dia mengeluarkan jurus andalannya padaku tentang penyakit ini. apalagi jurusnya kalau bukan, jurus ‘keras kepalanya’.
Meskipun begitu, dia lebih sering bersikap bodoh didepanku. Berbeda ketika dia mengeluarkan jurusnya.
Bel rumahku berbunyi cukup keras, dengan tergopoh-gopoh aku berlari menuju pintu depan rumahku. Begitu pintu dibuka, seorang cowok yang sudah lumayan aku kenal berdiri. Sosoknya yang mempunyai postur tubuh cukup tinggi, ya sekitar 178cm itu berdiri dengan kaos berwarna coklat polos, kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana jeans-nya yang berwarna hitam.
Dia tersenyum, “Sudah siap?” tanyanya.
Aku mengeluarkan sedikit anggukan kecil, “Ya, semoga.” Jawabku lemah. “Masuk dulu,” ujarku lagi dengan melebarkan sedikit pintu yang sudah aku buka setengah dari ukurannya.
Dia mengangguk dan berjalan masuk, “Sudah pamit dengan Mama-mu?”
“Aku akan ke kamarku, kemudian aku akan pamit dengan Mamaku.” Jawabku. Buru-buru aku berjalan meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarku. Aku terduduk sebentar. Degup jantungku rasanya aneh, tapi segera aku tepis semua itu sejauh mungkin. Menarik napas panjang dan kembali berdiri. Tak lama, aku pun mengetuk pintu kamar Mama. Mama keluar dengan senyum tersungging di kedua sudut bibirnya. Aku meraih tangan kanan Mama dan pamit untuk pergi khemo bersama Alfar.
Mama terlihat bingung, “Kenapa tidak sama Tama?”tanya Mama, aku terdiam. Rasanya, perasaanku jadi aneh lagi.
“Dia sibuk ma,” elakku berbohong. Tentu saja aku tidak tahu kenapa bukan dia yang mengantarku, dia bukan siapa-siapa ku, meskipun aku menyukainya tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk kebahagiaanku dan untuk perasaanku.
“Ya sudah, hati-hati ya.” Mama ikut berjalan seraya merangkul pundakku menuju ruang tamu.
Terlihat Alfar sedang sibuk dengan ponselnya. Kemudian langsung memasukkannya ke dalam saku celananya ketika melihat kami berjalan ke arahnya. Dia berdiri dan menyalami mamaku.
“Siang tante.” Sapanya. Mama tersenyum simpul.
“Siang,” jawab mama simple.
“Ma, aku berangkat dulu ya.”
“Iya sayang, hati-hati. Alfar, jaga Livia baik-baik ya.”
Alfar mengangguk patuh, “Baik tante, permisi.”
***
You know this.. my feeling nd my heart...
Land Cruiser milik Alfar melaju memecah kepadatan kota. Pagi minggu yang cerah terasa sangat panas entah apa penyebabnya. Aku merasakan aura aneh ketika berada di samping Alfar. Hari ini, dia terlihat lebih banyak diam dibanding hari-hari biasanya. Mungkin sedang berkonsentrasi penuh menyetir mobilnya.
Aku pun tidak mau mengambil pusing, aku juga ikut diam dari pada terkena virus bodohnya. Anehnya lagi, jurus keras kepalanya juga tidak keluar, dan itu jadi salah satu beban pikiranku. Ahh aku apa-apaan sih? Sejak kapan aku peduli dengannya?
Biasanya, kalau sifat bodohnya tidak keluar pasti dia mengeluarkan jurus keras kepalanya. Karena bagiku, kalau dia sedang bersifat bodoh, malah bisa membuatku sedikit rileks ketika aku bersamanya. Tapi kali ini... aku merasa tegang dan tidak bisa bersikap seperti biasa. Aku malah mengharapkan agar dia bisa mengajakku bicara, tidak lebih. Uuggh.. apa jangan-jangan aku merindukan sifat bodohnya ya? Oo My.. please, what happen with him?? Aku menunggu dirinya bicara atau sekedar mengerjaiku seperti biasa.
Liviaaa.. kamu juga kenapa sih? Pikirkan Tama, fokuskan pikiran mu pada orang yang kamu sukai Liv.. come on.. aku menghela napas panjang, rasanya dadaku jadi sesak. Kemudian menghembuskannya kuat-kuat, begitu seterusnya selama beberapa menit. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhku. Kepalaku pening, dan rasanya perutku terasa kram.. kenapa ini..
“Livia, kamu tidak apa-apa kan? Sakit lagi ya?” Alfar menepikan mobilnya. Dia menatapku seolah aku akan sekarat detik ini juga.
Aku kembali menarik napas, kemudian menoleh ke arahnya, “Aku baik,” jawabku singkat. Dia menyentuh jemari tanganku, hangat menjalari disekujur tubuhku yang terasa sangat dingin.
“Badanmu panas Liv, kita ke rumah sakit ya.” Ujarnya terdengar panik.
Aku tersenyum tipis, “Jangan ke rumah sakit, aku tidak apa-apa Al,” aku berusaha menenangkannya. Meskipun aku tidak yakin dengan ucapanku sendiri.
“Liv, hidungmu..” bisiknya. Seraya mengusapkan ibu jarinya tepat di bawah
hidungku. Merah.. lagi! segera, aku merogoh tas selepang yang selalu ku bawa ke mana-mana, sapu tangan abu-abu langsung aku usapkan ke hidungku.
Tenggorokanku tercekat, darah yang mengalir kali ini lebih banyak di banding hari-hari sebelumnya. Aku menundukkan kepala, berusaha menahan tangisku yang sudah tidak bisa ku tahan. Sakiiiit sekali, rasanya aku ingin menjerit sekencang mungkin... tapi, tidak bisa.. tangan kiriku meraba perut bagian bawah, semakin sakit, Tuhan.. apa semakin hari penyakit ini akan benar-benar membuatku tersiksa?
“Liv, jangan membual lagi, sekarang juga kita ke rumah sakit!” dengan gesit Alfar menginjak pedal gas Land Cruiser-nya hingga membuatku terlonjak dari tempat dudukku.
Aku memejamkan mataku, airmataku akhirnya menetes juga. “Sakiit...” jeritku dengan menggigit bibir bawahku. “Aku tidak kuat Al, please.. tolong aku..”
Alfar tercenung tapi masih berkonsentrasi penuh dengan kecepatan mobilnya yang melonjak semakin cepat. Seperti denyut nadi dan detak jantungku saat ini.
“Livia tenang, tahan ya.. sebentar lagi kita sampai rumah sakit,” ucapnya tegang. Matanya serta seluruh anggota tubuhnya tercurah penuh untuk kondisi jalan pagi minggu ini. jalanan yang penuh membuatnya terlihat kesulitan menghindari rentetan mobil dan kendaraan lain.
“Auuuggghh..” aku meremas perut bagian bawahku yang terasa seperti tertindih benda yang berukuran sangat besar.
“Apanya yang sakit Liv?” tanyanya panik dan menoleh padaku sekilas, kemudian kembali pada jalan raya. Aku tak bisa menjawab, terlalu sakit untuk hal ini. tanganku melemah, begitu pula dengan anggota tubuhku yang lain. Tiba-tiba pandanganku buram, semuanya terlihat samar. Sama sekali tidak jelas, hingga akhirnya menjadi hitam semua... dan akupun tidak sadarkan diri...
***
Ku rasakan aliran hangat yang menjalar disetiap pori kulitku yang juga bisa membuat jantungku berdegup lebih cepat. Aku merasa ada seseorang yang menggenggam tanganku, perlahan dengan susah payah aku berusaha membuka mataku. Kembali kepalaku dibuatnya pening. Ruangan bercat biru mudah berpadu dengan wallpaper berwarna yang sama dengan motif bunga-bunga mungil. Pendingin ruangan yang terletak disamping tempatku berbaring. Mataku mengitari ruangan itu, sampai akhirnya aku menyadari ada seseorang yang tertidur lelap di sampingku dengan kepala ditengkulupkan menyamping menghadap kearahku. Tangannya menggenggam tanganku.
Aku berusaha duduk dari posisi rebahan, tapi tubuhku sepertinya masih terlalu lemah. Jarum infus terpasang di punggung tangan kiriku. Dengan ragu aku menarik tanganku yang digenggam orang yang belum bisa aku kenali siapa orang itu. dan ternyata dengan menarik tanganku orang itu malah terbangun. Aku langsung kembali pura-pura tidur. Saat ini mungkin dia mengangkat wajahnya memandangiku. Kembali aku merasa tangan seseorang membelai lembut pelipis hingga kepala bagian atasku.
“Cepat sadar, Liv.” Gumamnya. Aku terkejut mendengar suaranya.. suara itu...aku mengenal suara itu.. siapa.. ayoo Livia. Auugh.. sakitt.. jeritku dalam hati sambil mendesis pelan menahan rasa sakit yang kembali menjalari tubuhku.
“Livia..” panggilnya terdengar takut. Aku membuka mataku. Aku terejut dengan seseorang yang kini sedang menatapku khawatir.
“Tama...”
***
Sudah hampir seminggu aku berdiam di rumah sakit. Diam di tempat tidur dan sesekali keluar dengan ditemani Alfar maupun Tama yang bergantian menengokku. Tama sempat bertanya aku sedang sakit apa, tapi aku selalu bilang hanya demam biasa. Aku tidak mau dia tahu penyakitku. Cukup Alfar, Dita dan mama yang tahu aku sakit apa.
Mereka sudah membuat jadwal untuk membesukku. Dan hari ini giliran Alfar, karena dia sudah berjanji padaku untuk membawaku khemo untuk ke tiga kalinya. Akhir-akhir ini aku malah lebih dekat dengan Alfar di banding Tama, orang yang aku sukai. Bahkan, untuk seminggu terakhir perasaan ketika aku berdekatan dengan Tama biasa-biasa saja, tidak seperti waktu aku sangat antusias menyukainya.
“Hay Chandani,” Alfar masuk dengan membawa bunga-bunga segar. Dia ternyata punya kebiasaan yang sama sekali tidak aku duga. Setiap hari dia punya kebiasaan membeli dan mengganti bunga yang layu di kamarnya ataupun ditempat yang dianggapnya
nyaman.
“Jangan panggil aku Chandani, Al,” tegurku lemah.
“Aku akan membawamu ke taman tengah, tapi setelah aku mengganti bunga-bunga ini ya,” ucapnya sumringah. Semangat sekali dia?
“Okelah..” sahutku pasrah.
Tidak berselang waktu lama, dia mengambil kursi roda di depan lemari makanan ruanganku. Dan dengan segera membantuku berdiri. Lalu, aku sudah duduk di kursi roda yang sudah menjadi temanku.
Alfar menjalankan kursi roda secara pelan, “Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanyanya disela mendorong kursi rodaku.
Aku mendongak, “Tumben peduli.” Aku tersenyum. Entah kenapa, perasaanku ketika bersamanya jadi terasa berwarna. “Biasanya juga enggan kamu peduli dengan ku?” lanjutku setengah bercanda.
“Heh, aku membawamu ke rumah sakit seminggu yang lalu, dan membesukmu setiap dua hari sekali bahkan satu hari sekali, itu karena aku peduli. Kalau aku enggan mempedulikanmu, mana mau aku membantumu, menemanimu sampai mendaftarkanmu menjadi patien khemoterapy ayahku.”
Aku tertawa mendengar ocehan panjangnya.
“Oya Liv, kenapa kamu tidak marah-marah lagi padaku?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak, “Kamu mau aku marah padamu ya? Heh, kalau aku memarahimu, jangan-jangan nanti biaya pengobatanku tidak gratis lagi..” candaku. Dia tertawa mendengar ucapanku.
“Kamu matre juga ya ternyata?”
“Haha, jaman sekarang cewek kan modelnya pada matre semua. Jadi kalau aku tidak mengikuti model cewek kayak gitu, aku bisa ketinggalan jaman dong.”
“Cielaah.. kamu sekarang pinter bikin lelucon ya? Perasaan sebelum kamu berteman denganku, kamu cuek, jutek, suka marah-marah tidak jelas, dan banyak hal yang bikin aku jadi bertanya-tanya, ‘apa cewek ini stress??’ haha” aku menatapnya sambil mendongakkan kepalaku, “Dan setelah kamu berteman denganku―yang kamu bilang ‘stupid boy’―kamu malah sering bikin aku senyum. Jangan-jangan kamu tertular virusku ya?” lanjutnya. Aku melongo, serya mencubit pergelangan tangannya sampai dia menjerit.
“Virus? Pantatmu ireng!!” seruku kembali membuatnya tertawa. “Eh, nama panjang kamu siapa kemarin? Aku lupa,” dia menatapku, mata kami bertemu. Hening. Kemudian saling melempar ke tempat yang nan jauh di sana entah dimana...
“Kenapa jadi menanyakan namaku? Mau memanggilku dengan sebutanmu sendiri ya?” aku tertawa lagi, entah kenapa setiap kali aku bersamanya aku lebih sering tertawa dibandingkan ketika aku hanya sendirian yang lebih banyak membuang waktu dengan meratapi nasibku.
Alfar membelokkan kursi roda menuju taman tengah. “Ya, kamu juga memanggilku dengan sebutanmu sendiri kan?”
“Haha, copas nih ceritanya?”
“He.eh.”
“Ahh tidak mutu,”
“Terserahku dong, ayo sebutkan siapa namamu?” paksaku.
“Oke, dari pada dapat tendangan maut.. aku kasih tahu tapi dengan imbalan! Mau?”
Aku mendengus. “Heh, kamu mau jadi kurirku ya? Imbalan terus?”
“Kapan aku minta imbalanmu? Baru sekali ini.” protesnya. “Ayolah, imbalan untuk semuanya. Mau ya.. pliiis..” bujuknya lagi.
“Mau berapa? Satu juta? Lima juta? Atau berapa?”tantangku.
“Hmm, kalau uang sepertinya kamu tidak bisa membayarnya.” Dia tampak berpikir keras. Kemudian menatapku dengan mata berbinar-binar. “Ini..” katanya setelah tiba di taman tengah. Dia berlutut di samping kursi rodaku. Lalu menepuk-nepuk pipinya dengan jemarinya.
“Mau minta jotos?” tanyaku.
Dia mendengus, “Hah? Bodoh ya kamu? Benarkan kataku kalau kamu tertular virusku?”
Aku tertawa kecil, dia menatapku lekat-lekat. Aku jadi terdiam dan entah kenapa rasanya aku tidak bisa memalingkan wajahku. Aku hanya balas menatap matanya.
Dia menyentuh pipiku kemudian menyelipkan helaian rambutku yang menutupi separuh wajahku ke sela-sela telingaku. Dia usap wajahku dengan penuh perasaan. Lembut. Takut membuatku merasa sakit karena sentuhan tangannya. Sedikit demi sedikit dia dekatnya wajahnya, aku pejamkan mataku sejenak, dia tundukan kepalaku lalu setelah itu kecupan hangat melayang dikeningku. Aku tertegun. Lama dia mengecup keningku, hingga hanya ada diam diantara kami dan hanya terdengar degupan jantungku yang semakin cepat. Perasaan apa ini? Tama, maafkan aku..
Kemudian dia mulai menjauhkan wajahnya, aku mengembalikan posisi wajahku. Dia masih menatapku. Kedua sudut bibirnya menyunggingkan senyum hangat yang baru dua kali aku lihat. Aku hanya tersenyum simpul, dan membuang wajahku agar tidak terlihat semburat kemerahan karena malu di kedua pipiku.
“Sesuai janji, aku akan menyebutkan namaku didepanmu sendiri secara pelan dan perlahan, jadi jangan buang kesempatan ini!” ucapnya. Aku memutar bola mataku, melihat tingkahnya yang mampu membuatku terjatuh ke dalam jurang cintanya.
“Dengar baik-baik...” dia memberiku aba-aba, aku mulai memfokuskan pendengaranku, “Alfarizal Athaa Davinza,” ucapnya diiringi oleh semilir angin.
“Oke, aku mendengarnya! Terimakasih..” kataku tersenyum jahil seraya menepuk-nepuk bahunya. “Sepertinya, aku akan memanggilmu Devin.."lanjutku tanpa menatapnya. “Kalau saja boleh huruf ‘n’ di belakang nama Devin itu aku rubah, pasti sudah aku rubah!Dan huruf 'D' di depannya aku hilangkan, pasti sangat mengerikan!!” gumamku lagi diikuti deraian tawaku. Dia menatapku jengkel dan mengacak-acak rambutku dengan kasar tapi tidak menyakitkan. Aku semakin mengeraskan tawaku.
***
Khemo hari ini berjalan lancar.. ya sangat sakit untuk ukuran cewek berusia 17 tahun sepertiku. Alfar dengan sabar menunggu bahkan menemaniku di dalam ruangan. Aku kagum padanya.
“Sekarang kamu wajib istirahat! Besok, giliran Tama yang membesukmu. Good night!!” katanya menutupi badanku yang terbaring ditempat tidur dengan bad cover yang dia bawakan untukku dari rumahnya.
“Alfar,” panggilku pelan. Dia menoleh. Dan tersenyum. “Terimakasih lagi, untuk hari ini,” ucapku tulus.
“Sama-sama,” sahutnya dan meninggalkanku sendiri dalam ruangan VIP-ku. Aku tersenyum lagi melepas kepergiannya. Dia terlihat begitu tulus. Selamat Malam Alfar! Aku membatin kemudian memejamkan mataku untuk beristirahat menghilangkan penat di hati dan penat di sekujur tubuhku.
***
“Dia meninggal karena penyakit ganas itu!!”
“Dia meninggal karena penyakit ganas itu!!”
Suara itu menggema di telingaku. Kakak... kakakku.. berhenti mengucapkan kalimat itu..
“Dia akan baik-baik saja kak.. dia akan baik-baik saja!”
“Aku akan mati.. aku akan menyusulnya, Cha..”
“Jangan Kak.. jangan pergi, aku tidak mau kakak pergi!”
“Selamat tinggal, adikku sayang...”
“Tidaaaaak.. kakaaaaaaaaaaakk...”
Jeritanku, tangis kakakku.. bunuh diri itu, tempat itu...! aku membenciinya.. kameraa, kilatan kamera, semuanya.. membuat ku sakit dan sedih.. orang itu, yang membuat kakakku meninggalkanku.. jangan pergi kakak.. aku sayang kakak...!! kak Andin... aku menyayangi kakak...
***
“Kakak...” aku terbangun dari mimpi burukku. Mimpi itu selalu membayangiku. Kakakku...
“Livia, kamu tidak apa-apa?” tiba-tiba suara itu menyadarkanku. Lampu ruangan dinyalakan. Alfar. Ya dia disini..
“Alfar...” bisikku. Dia menghampiriku yang duduk di tempat tidur. Pipiku basah, aku mengigau lagi..
“Tadi malam, aku tidak yakin meninggalkanmu sendiri disini, jadi aku tidur di sini.” Katanya. Perlahan tangannya terulur memelukku. “Jangan menangis,” bisiknya.
“Aku takuut,”
“Jangan takut, aku ada disini...” katanya. Aku terisak sambil menenggelamkan wajahku didadanya.
“Kakakku.. aku merindukannya,”
“Kamu punya kakak?” tanyanya tidak mengerti. Aku mengangguk pelan.
“Dia meninggal,”
“Sstt.. aku juga senasib dengan mu, jangan menangis lagi. karena itu bisa membuat kakakmu sedih di sana.”
Dia eratkan rengkuhannya padaku. Aku balas memeluknya. Kemudian berkata dengan sangat pelan dan lirih.
“Jangan tinggalkan aku, aku takut sendiri...”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar