Senin, 08 Agustus 2011
FEELING...? [5]
“Jangan menjauh... tetaplah di sini... bersamaku...”
Bisikan itu, membuatku terdiam dan tak berani memberontak pelukannya lagi. Sebelah tangannya terangkat, kemudian membelai rambutku. Aku masih tak percaya dengan perlakuannya padaku. Tak mengerti apa maksud pelukannya, tak mengerti maksud perkataannya, tak mengerti dengan semua yang ada pada dirinya...
“Boleh aku bertanya?” tanyanya, masih memelukku. Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa. “Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Buusshh...
“Aku tidak tahu...”
Dia melonggarkan pelukannya, kemudian meraih wajahku dengan kedua telapak tangannya, dia arahkan wajahku untuk menatap matanya. Keteduhan ada dikedua sorot mata pemiliknya, bola matanya yang coklat, alis matanya yang tebal menghiasi wajahnya.
“Apa kamu bohong?” tanyanya, seakan tak percaya dengan semua yang aku katakan. Aku menggeleng. Dan memang benar aku tidak berbohong dengannya, karena saat ini, detik ini aku benar-benar tidak mengerti dengan perasaanku. Sama sekali, tidak bisa aku pahami...
Dia melepaskan tangannya dari wajahku, merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
“Untukmu,” katanya menyerahkan sebuah benda mungil berbentuk seperti salju yang ukurannya diperbesar. Berwarna perak, dan banyak mutiara kecil menempel di sana.
Keningku berlipat, tak mengerti. “Apa?”
“Bros,” jawabnya seraya melemparkan senyum. Aku tertegun. Kemudian ikut
tersenyum. Apa lagi maksudnya?
“Untuk?”
Dia tersenyum kemudian meletakkan tangan kanannya diatas dadanya, menandakan bahwa bros yang dia berikan untuk dipasang di baju. “Pakai terus ya...” pintanya kemudian. Aku menerima bros yang dia berikan dan memasangkannya di bajuku, di dadaku. Tempat jantungku berdetak.
“Hanya sebuah kenang-kenangan kan?” tanyaku lagi. berusaha mencari sesuatu yang tersembunyi di balik tingkahnya. Berharap mendapatkan jawaban ‘tidak’ tapi mungkin bukan jalanku kalau dia mengatakannya.
“Nanti kamu akan tahu..”
Jawabannya diluar perkiraanku. Lega. Akhirnya, meskipun bukan itu yang aku mau tapi, dengan begitu bisa memberiku sedikit harapan lagi. Aku aneh ya.. kemarin aku memintanya untuk berhenti memberiku harapan, tapi kenapa sekarang aku malah memintanya untuk kembali memberiku hal itu. padahal jelas-jelas, menunggu harapan dan berharap itu sangat menyakitkan.
Melewati senja bersama seseorang yang aku sukai, cukup membuatku bahagia dan melupakan semua masalahku untuk saat ini. Dia sudah membuatku terbang ke tempat yang paling indah di dunia ini. Membawaku melayang bersamanya menuju sebuah impian. Impian yang sekarang belum bisa untuk diwujudkan menjadi sebuah kenyataan, tapi impian yang kelak semoga bisa menjadi sebuah kenyataan yang membahagiakan.
Dia duduk dibentangan pasir putih mengahadap ke barat. Wajahnya tampak memerah karena terkena pancaran matahari senja. “Tama,” panggilku membuatnya menoleh dan tersenyum tanpa suara. “Apa Dita tahu kamu membawaku jalan-jalan?” tanyaku. Dia kembali memalingkan kepalanya ke tempat semula.
Kemudian menggeleng, dan lagi-lagi tersenyum. “Tidak,” jawabnya santai dan lebih terdengar tanpa beban ataupun terkejut. Aneh.. dia kan punya pacar, pacarnya sahabatku lagi.. awas saja kalau dia berani mempermainkan perasaan Dita. Pikiranku sudah melayang ke hal-hal negatif ini, feeling ku bilang kalau Tama begitu.
Dahiku berlipat, “Eh jangan macam-macam sama sahabatku ya.. awas kamu..”
ancamku. Dan senyumnya itu loh yang membuat aku kesal, bukannya panik kek, terkejut kek apa kek. Ini malah senyum tanpa beban.
“Aku tidak macam-macam,” jawabnya.
“Terus?”
Dia melongo, “Terus apa Liv?”
“Terus apa maksudnya? Kamu kan pacaran sama dia. Harusnya kalau memang kamu sayang sama dia, kamu jangan mengajakku jalan-jalan tanpa izin darinya. Gitu-gitukan dia juga cewek yang punya perasaan. Lagipula apa susahnya bilang sama dia, izin bentar mau ngajak Livia jalan-jalan liafftt...” penjelasan panjang lebarku terhenti. Jari telunjuknya menempel dibibirku hingga aku tidak bisa lagi melanjutkan.
“Livia bisa tidak sehari saja kalau aku lagi sama kamu jangan bawa-bawa nama Dita??” katanya mentapku. Aku jadi salah tingkah, nah apa maksudnya coba? Aku lagi telmi banget nih sekarang. Aku bengong sendiri akhirnya.
“Kenapa? Diakan pacar kam..” lagi-lagi kalimatku dia hentikan. Dasar Tama, kebiasaan apa ya? Kali ini dengan melemparkan jari telunjuk tangan yang sebelahnya lagi ke mulutnya sendiri. “Jangan bicara lagi.. okee Livia? Jadi cewek itu jangan bawel. Kalau bawel nanti cowok tidak ada yang naksir sama kamu lagi!!” huaaaaahhh... Tama.. kamu jago ya buat aku gondokan.
Aku melepaskan jari telunjuknya yang sekarang sedikit menjauh dari bibirku, “Bisa tidak jangan pakai cara nempelin telunjuk ke bibir orang??” tanyaku sambil menatapnya tajam.
“Tidak bisa, itu sudah jadi kebiasaan kalau lagi sama cewek bawel!”
“Heh, aku bukannya bawel tap...”
Cup.. kecupan hangat kembali melayang dikeningku. Aku kembali tertegun, tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku langsung bungkam seribu bahasa.
Tubuhku membeku (lagi!). ini yang kedua kalinya aku mendapatkan sesuatu yang tidak terduga. Pikiranku kembali ketika aku berada di kamarku dan Tama mengecup keningku.
Kecupan yang sama dari orang yang sama. Hanya saja, kecupan kali ini terasa lebih lama dan tidak mengejar waktu. Tepat ketika itu, matahari menenggelamkan dirinya, hingga kami berdua terkena pantulan sinarnya.
***
Kakiku berjalan memasuki ruang kelas, seperti biasa Tama diam ditempat duduknya. Yang aku benci, dia tidak menyapaku sama sekali seakan kemarin tidak terjadi sesuatu antara aku dengannya. Aneh sih jelas sangat terlihat, bahkan orang yang tidak tahu menahu pun akan tahu bahwa dia terlihat aneh hari ini. Entah apa yang ada di pikirannya. Andai saja waktu bisa di undur aku mau kembali ke waktu kemarin sore, aku ingin bertanya dengan apa yang dia rasakan padaku. Aku ingin tahu tentang perasaannya. Aku ingin tahu tentangnya, tentang semua yang ada pada dirinya.
“Hai Chandani..” suara itu melenyapkan semua keingintahuanku. Ya siapa lagi kalau bukan Alfar―stupid boy yang punya hobi manggil nama orang seterah dia eh salah terserah dia, yang menurutnya bagus dan menarik. Dia hempaskan tasnya di meja sebelahku. Aku hanya menoleh dan mentapnya geram. “Pagi Chan,” sapanya lagi.
Tuh kan, namaku kayak nama orang China. Masa aku dipanggil ‘Chan’. Kemarin dia sudah bikin ribut di koridor utama, gara-gara manggil nama cewek yang naksir dia―belum sampai sebulan dia sekolah di sekolahku sudah bejibun cewek yang daftarin diri buat jadi ceweknya―pakai sebutan Frog―Fero Gracia―siapa coba yang tidak gondokan dipanggil Frog. Bodoh banget kan dia?
“Masih belum jera rupanya kamu,” sindirku. Dia tidak menoleh. Tangannya merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa buah buku. Kemudian menyerahkan buku-buku itu padaku.
Aku menatapnya tidak mengerti, “Apa ini?” tanyaku tanpa menyambut buku-buku yang dia sodorkan padaku.
“Buku pengobatan tradisional penyakit Kanker,” jawabnya berbisik. “Buku milik kakakku.” Lanjutnya, dengan suara yang kembali normal.
Aku terkejut mendengar kalimatnya, “Hah? Kanker?”
Dia mengangguk, “Yup.”
Tiba-tiba tubuhku langsung menegang, entah kenapa aku juga tidak tahu. Mungkin karena perkiraannya benar. Tanganku gemetar meraih buku-buku yang Alfar sodorkan. Meskipun ragu tapi aku harus membukanya. Karena itu memang aku butuhkan.
“Benarkan dugaanku?” lagi-lagi aku menunjukkan bahwa dugaannya benar.
Rasanya mataku sudah dipenuhi oleh genangan air mata.
“Itu,” jawabku ragu, “Tidak benar.”
Dia menggidikkan bahunya, dan meraih sebelah tanganku. “Ikut aku,” katanya.
Aku tahu dia akan membawaku kemana. Ke tempat rahasia yang sangat rahasia!
“Aku tidak mau,” sergahku menarik tangan kiriku dari genggaman tangan Alfar.
“Kalau kamu tidak mau, semua akan tahu penyakitmu!” katanya pelan tapi langsung menembus ulu hatiku. Dia mengancamku atau apa sih? Tangannya kembali meraih tangan kiriku. Kemudian berdiri dan menarikku keluar kelas.
Aku tidak bisa menghindari tatapan aneh teman sekelasku, mungkin Tama juga menatapku. Karena dari ekor mataku aku bisa melihat dengan jelas kalau Tama melirikku.
“Bisa tidak jangan menggandeng tanganku?” pintaku pada Alfar yang masih mencengkram pergelangan tanganku. Alfar tidak memperdulikan permintaanku, tanganku yang dicekalnya cukup erat berusaha memberontaknya tapi nihil. Alfar semakin mengencangkan cekalannya. Dan akhirnya aku hanya pasrah dengan tanganku yang memerah karena sakit.
***
Begitu bel pulang berbunyi, aku langsung berdiri dan membenahi buku-bukuku yang berserakan di atas meja. Setelah itu memasukkannya ke dalam tasku. Sejenak aku memaku di tempatku, merasakan aliran rasa sakit yang menyebar di sekujur tubuhku. Kakiku sampai gemetar karena nyaris tidak kuat dengan rasa sakit yang aku rasakan. Alfar berdiri memandangiku.
“Sakit lagi ya?” tanya Alfar dipenuhi dengan nada kekhawatiran. Aku mendesis pelan sambil menahan rasa sakit yang sudah dua kali menyerangku hari ini. Dia menyentuh pundakku pelan, kemudian tanpa aba-aba aku langsung kembali terduduk lemas di bangkuku.
“Jangan bilang ini pada ayahmu,” pintaku serak. Dia tertegun. “Juga jangan bilang pada ibuku.” Lanjutku lirih.
Kelasku sudah sunyi senyap. Hanya ada aku dan Alfar di dalam. Tama dan Dita sudah pulang lebih dahulu, begitu juga dengan anak-anak yang lain.
“Kamu bercanda,” Alfar tertawa sinis, “Leukimia akut, kalau tidak segera di kemo bisa menyebar dengan cepat!” lanjutnya. Matanya yang tajam menatapku dalam.
“Kalau kamu bicara hal ini pada mamaku, beliau pasti mengkhawatirkanku lagi.” tambahku. Seraya memegangi kaki ku yang sakitnya semakin menjadi-jadi.
“Aku tidak mau tahu masalah itu, yang penting kamu harus secepatnya menjalani khemotherapy,” ujarnya tegas. Aku tertegun. Sebesar itukan perhatian Alfar padaku?
“Kenapa kamu begitu ngotot menyuruhku mengikuti pengobatan itu?” tanyaku pelan. Matanya terus menatapku dengan sorot yang tidak bisa aku lukiskan maknanya.
“Karena aku tidak mau ada seseorang yang meninggal karena penyakit yang sama dengan kakakku...” jawabnya lirih. Aku merinding mendengarnya. Sesuatu kembali berkelebat di benakku. Ada sesuatu yang pernah di ucapkan seseorang persis sama
seperti yang di ucapkan Alfar barusan. Tapi, kembali kepalaku terasa sangat sakit
ketika aku berusaha menjelajahi pikiranku.
“Livi,” panggilnya. Memastikan kalau aku baik-baik saja. Aku menoleh. “Aku antar kamu pulang,” lanjutnya kemudian. Dia berdiri dan berusaha membantuku berdiri dan berjalan. Kenapa ada seseorang yang sama sekali tidak aku sangka datang secara tiba-tiba dan secara tiba-tiba pula dia memberikan perhatian lebih padaku. Aku sama sekali tidak menaruh rasa padanya, tapi kenapa dia memperlakukanku seperti ini? bahkan orang yang aku sukaipun tidak pernah memperhatikanku sajauh ini.
Alfar menuntunku dengan sabar menuju parkiran mobil. Tidak seperti biasa, kerjanya Cuma membuatku sebal. Tapi kali ini, dia begitu lembut hingga membuatku semakin yakin kalau cowok ini tidak bodoh. dia malah begitu pintar dan cerdas.
Meskipun kadang-kadang ada tingkah yang membuatku naik darah, salah satunya dia terlalu keras kepala.. seperti pagi tadi, tiba-tiba memberondongiku dengan pertanyaan, kemudian memaksaku untuk jujur dengan tiba-tiba dia menarikku ke taman Rahasianya. Dan di sanalah awal aku mengerti kenapa dia begitu keras dan tegas terhadap penyakitku. Dari sanalah aku berkata jujur padanya, karena dia memang mengetahui seluk beluk gejala penyakitku, bagaimanapun aku membohonginya dia tahu saja kalau aku berbohong. Karena penyakit ini adalah penyakit yang sama dengan penyakit yang di derita kakaknya. Hingga dia tidak mau ada orang terdekat kedua-nya―entah sejak kapan Alfar menganggapku sebagai orang terdekatnya―yang meninggal karena penyakit yang sama. Mungkin karena itu juga aku merasa nyaman di dekatnya. Tapi, bukan berarti aku menyukainya, aku hanya kagum dengannya yang begitu antusias menasehatiku tentang penyakit leukimia yang aku derita. Satu kata yang ku ucapkan untuknya dengan tulus dari lubuk hatiku, terimakasih Alfar!!
Dia membukakan pintu mobilnya untukku. Kemudian mendudukkanku dengan penuh perasaan hati-hati. Setelah itu, dia pun mengelilingi mobilnya dan masuk ke tempat kemudi.
“Alfar,” panggilku. Dia menoleh dan tersenyum hangat, senyum yang selama ini tersembunyi dibalik semua perilakunya padaku. “Terimakasih,” lanjutku tersenyum. Dia mengangguk dan kembali berkonsentrasi pada jalan raya yang begitu padat.
“Besok, aku akan mendaftarkan namamu di daftar patient ayahku,” ucap Alfar. Aku tercenung. Lagi-lagi dia menunjukkan sifat keras kepalanya untuk penyakitku.
“Bagaimana kalau tidak berhasil?” tanyaku menerawang. Alfar menoleh terkejut, kemudian menggeleng pelan.
“Kalau tidak berusaha bagaimana mau berhasil? Kamu terlalu pesimis,” jawabnya. Aku tertawa mendengar tuturannya. Dibalik semua sikapnya padaku yang terlalu sering membuatku marah ternyata dia mempunyai sifat dimana bisa membuatku tertawa. Baru kali ini aku merasa nyaman di dekat sang Stupid boy.
“Tapi...”
“Apa lagi?” tanyanya memotong kalimatku.
“Biayanya?” tanyaku ragu. Dia kembali tersenyum.
“Itu masalah kecil, aku bisa bilang pada ayahku kalau kamu pacarku, trus biayanya gratis deh!” heh? Tuh kan mulai lagi..
“Hah? Pacarmu? Aku tidak sudi..” tandasku cepat.
“Mau gratis tidak??”
“Kalau pakai cara begitu lebih baik aku mati saja,” aku memalingkan wajahku keluar jendela. Alfar tertawa melihat reaksiku. Selalu begitu, disaat aku serius pembicaraannya selalu melenceng dari maksud kalimatku.
“Benar ya? Tidak menyesalkan sudah bilang begitu? Bagaimana kalau tiba-tiba kamu jatuh cinta padaku?” tanyanya. Aku kembali menoleh padanya, kemudian mendelik. Lagi-lagi dia tertawa... Alfaaaaar.. dasaar stupid boy!!
“Berhenti bilang seperti itu padaku, ahh apa jangan-jangan kamu ya yang sudah menyukaiku?” susulku cepat. Dia menoleh dan hahahah... lucu sekali, wajahnya jadi benar-benar kayak orang bodoh. Dia salah tingkah dan merubah suasana hatiku menjadi bahagia karena aku menaaang.. yiiihaa...
Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya. Tapi tiba-tiba dia melemparkan ciuman kecil dipipiku. Hingga aku terdiam sambil menatapnya tak mengerti.
“Kamu..” aku mengerutkan keningku tidak mengerti. Dia tersenyum dan menggidikkan bahunya. Dia kembalikan posisinya menghadap jalan raya. Dan kemudian diantara kami hanya dikabuti oleh diam dan aku tidak berani angkat biara lagi.
Herannya, Alfar kenapa dia tahu rumahku? Dia menghentikan mobilnya tepat di depan rumahku. Aku kembali melemparkan tatapan tak mengerti padanya.
“Bisa turun sendirikan?” tanyanya lembut. Aku mengangguk. “Jangan heran kalau aku tahu rumahmu, waktu kecil ayahku kan sering mengajakku ke sini? Lagian, mungkin kamunya aja yang lupa..” katanya seakan mengerti maksud tatapan mataku.
“Livi,” panggilnya ketika aku akan membuka pintu mobilnya. Aku menoleh. “Terimakasih untuk hari ini di sekolah,” aku mengerutkan keningku. Kata-katanya hari ini cukup membuatku jadi orang bodoh. “Terimaksih sudah mau menjadi temanku hari ini.” lanjutnya. Aku tertegun. Apa lagi maksudnya, okke, aku terima kata permintaan terimakasihnya meskipun aku masih tidak mengerti maksudnya.
Aku hanya menganggukkan kepala dan berusaha tersenyum. “Terimakasih juga,” sahutku. “Terimakasih sudah membuatku sadar arti kekeras kepalaanmu hari ini.” lanjutku dengan deraian tawa yang tiba-tiba keluar dari mulutku.
“Mumpung besok libur, aku akan menemanimu khemo seharian.” Ujarnya.
“Terimakasih,” ucapku lagi tanpa menghiraukan ajakannya untuk besok minggu. Kemudian aku turun dan masuk ke dalam rumahku.
***
Aku mengambil surat dokter di dalam laci meja belajarku. Surat itu sempat aku baca sekilas, hanya untuk memastikan penyakitku. Dan hari ini, aku akan membacanya dengan cermat. Di sana di jelas beberapa macam jenis kanker darah atau yang sering disebut dengan leukimia dalam kedokteran.
Yang pertama adalah Leukimia Limfositik Akut―suatu penyakit yang berakibat fatal, dimana sel-sel yang dalam keadaan normalberkembang menjadi limfosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang―biasanya leukimia jenis ini sering terjadi pada anak-anak, dan jenis ini merupakan 25 persen dari semua jenis kanker yang mengenai anak-anak di bawah 15 tahun.
Yang kedua adalah jenis Leukimia Mieloid Akut―penyakit ini juga berakibat fatal, dimana mielosit yang dalam keadaan normal berkembang menjadi granulosit dan berubah menjadi ganas―penyakit ini bisa menyerang segala usia, tetapi yang lebih serang menyerang orang dewasa. Dan menurut diagnosa dokter, leukimia jenis inilah yang menyerang tubuhku. Entah bagaimana cara menyembuhkannya yang jelas menurutku penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa menunda waktu kematian saja.
Selanjutnya, ada jenis LeukimiaLimfositik Kronik―jenis ini ditandai dengan adanya sejumlah limfosit matang yang bersifat ganas dan pembesaran kelenjar getah bening―dan jenis ini menyerang lebih dari ¾ penderita berumur lebih dari 60 tahun dan 2-3 kali lebih sering menyerang laki-laki.
Yang terakhir yang tertera di brosur ini adalah jenis Leukimia Mielositik Kronik―suatu penyakit dimana sebuah sel di dalam sumsum tulang berubah menjadi ganas dan menghasilkan sejumlah besar granulosit yang abnormal―penyakit ini bisa mengenai semua kelompok umur, baik laki-laki maupun perempuan, dan jarang ditemukan pada anak-anak yang berumur kurang dari 10 tahun.
Aku menghela napas panjang membacanya, kali ini aku benar-benar takut dengan penyakitku. Tapi, aku hanya seorang manusia biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa, berusaha dan pasrah dengan keadaanku.
Aku membentangkan kedua tangaku di tempat tidurku, aku teringat sesuatu tentang Alfar. Ketika dia menceritakan tentang keluarganya yang benar-benar lemah, ketika kakaknya di serang penyakit yang sama denganku, ayahnya yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis kanker gagal menyelamatkan nyawa kakaknya. Ayahnya sempat frustasi karena menyesal atas keterlambatannya mengobati anaknya, hingga akhirnya Alfar berhasil membangkitkan semangat ayahnya untuk membayar semua hutang keterlambatan ayahnya dengan cara harus berhasil menyelamatkan nyawa orang lain. Mungkin itu menjadi semangat tersendiri bagi ayah Alfar yang telah kehilangan satu anak sulungnya. Dengan begitu, dia berhasil memulihkan keadaannya dan bangkit dari penyesalannya. Karena, penyesalan memang selalu tidak berguna, bukan?
Oya, aku juga teringat dengan ucapannya di mobil tadi. Dia sering ke rumahku waktu dia kecil? Itu artinya kalau dia pernah kenal dengan ku, tapi kenapa aku sama sekali tidak ingat hal itu ya? Apa ini pengaruh penyakitku yang sudah menjalar ke pusat ingatanku hingga aku menjadi blank seperti sekarang?
Atau, ayahnya pernah mengenal papa dan mamaku? Tapi kapan?? Ah lebih baik aku tanyakan saja pada mamaku, pasti beliau tahu lebih banyak tentang masa-masa ketika dr. Zakky Armany Sp.K, ayahnya Alfarizal Athaa Davinza teman sekelasku sering datang ke sini.
Aku bangun dari tempat tidurku, kemudian berdiri dan membuka pintu kamarku. Terlihat mama sedang berjalan mendekatiku. Mama tersenyum, kemudian menyerahkan beberapa bungkus pil dan obat-obatan herbal lainnya padaku.
“Mama dari rumah dr. Zakky, dia menyerahkan ini untukmu, di minum yang teratur ya,” jelas mama. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Iya ma,” jawabku sopan. Mama kembali hendak meninggalkanku, tapi segera aku cegat mama. “Ma,” panggilku. Mama menghentikan langkah kakinya dan menoleh.
“Ada apa sayang?” tanya Mama lembut.
“Boleh aku bicara sama mama?” tanya ku pelan dan ragu. Mama mengangguk.
“Bicara tentang apa?” tanya mama.
“Di kamar aku, boleh ya ma.” Aku bergelayut manja dipergelangan tangan Mama. Beliau hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang segera beranjak dari usia 17 tahun.
Setelah masuk ke kamarku, aku pun segera duduk di tepi tempat tidurku begitu pula mama. Aku menarik napas panjang, kemudian memaksakan bibirku untuk tersenyum.
“Ma,” aku mulai membuka percakapan. “Apa mama dan dr. Zakky sudah lama berteman?”
Seketika, setelah mendengar pertanyaanku raut wajah mama berubah sendu. Entah apa penyebabnya. Mama masih diam, aku jadi semakin bingung.
“Ma,” aku mencoba menyadarkan mama dari ketertegunannya.
Mama tersentak, “Ya,” tanya Mama refleks. Aku semakin tidak mengerti dengan tanggapan yang mama berikan.
“Mama tidak apa-apakan?” tanyaku khawatir.
Mama menggeleng, kemudian tersenyum tipis dan terlihat menyakitkan. “Mama capek, bicaranya nanti saja ya sayang,” ucap mama, kemudian berdiri. Aku mengerutkan kening, dan langsung mengangguk pelan dengan penuh pertanyaan yang bergelayut di pikiranku. Mama keluar dengan meninggalkan sesuatu yang mengganjal di hatiku. Kenapa mama jadi seperti tegang ketika mendengar pertanyaanku, apa masalah mama sesungguhnya, dan ada hubungan apa sih mama sama dr. Zakky, ayahnya Alfar. Ahh pertanyaan itu, membuat kepalaku pusing tiba-tiba!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar